Sabtu, 20 Desember 2014

BAHAN PA DAN RENUNGAN KEMANDIRIAN JEMAAT

























BAHAN PA DAN RENUNGAN IBADAH EVANGELISASI

Bahan PA Minggu ke-3 Oktober  (Teologi Kerja)
Bacaan           :      Kolose 3:18-25
Nats/Thema   :      Memberi Arti Terhadap Kerja

A. Pengantar.

Perikop bacaan hari ini merupakan berintisarikan tentang ajaran yang benar bahwa Kristus sanggup memberikan keselamatan yang begitu perfec atau sempurna. Keselamatan itu bukan saja pada soal-soal spiritual atau rohani, tetapi juga Kristus sanggup untuk menyediakan berkat untuk semua orang dalam berbagai aspek kehidupannya termasuk berkat atas segala sesuatu yang dikerjakan, asal saja itu dilakukan dengan benar berdasarkan ajaran serta kehendak Kristus.  Segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan faham-faham atau ajaran dunia akan membuat seseorang semakin jauh dari Kristus, yang pada akhirnya, berkat yang disediakanNya juga akan semakin jauh.
Melalui Kristus Allah menciptakan dunia ini, melalui Kristus pula Ia menyelamatkan dan memberkatinya. Paulus menekankan tentang betapa pentingnya kedisiplinan, baik dalam keluarga (Ayat 18-21), kedisiplinan dalam hubungan sosial (Ayat 22) maupun dalam melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kerja. Inilah kaidah-kaidah praktis – Alkitabiah yang disampaikan oleh Paulus dalam perikop ini, maka dengan demikian umatNya akan benar-benar diberkati. Sebaliknya bagi orang-orang yang tidak memiliki disiplin dan melakukan kesalahan dalam menjalani praktek kehidupan, mereka akan menanggung kesalahan itu. Siapapun dia yang melakukan kesalahan akanmenerima konsekwensi atau akibat dari setiap kesalahan yang dilakukannya tanpa terkecuali apapun status serta kedudukan orang itu. Paulus dalam firman Allah menegaskan bahwa Tuhan tidak memandang orang, Allah tidak pilih kasih dan memandang muka (Ayat 25).


B. Pertanyaan Diskusi.

1.  Mengapa kita perlu bekerja?

2.  Apakah bekerja merupakan sebuah hukuman?

3.  Apakah arti atau makna kerja yang selalu kita lakukan di bidang kita masing-           masing dalam kaitan dengan Iman Kristen?



Keseriusan kita dalam mengerjakan sesuatu seringkali memang ditentukan oleh makna yang kita berikan pada pekerjaan tersebut. Konsep inilah yang melatarbelakangi nasihat Paulus kepada jemaat di Kolose dalam nas hari ini. Secara khusus, Paulus memberikan penjelasan mengenai pekerjaan para hamba. Ia menasihati mereka untuk memaknai pekerjaan mereka sebagai pelayanan kepadaTuhanyangpastiakan dibalas-Nya dengan upah surgawi. Paulus percaya bahwadenganpemaknaan ini, mereka akan mampu mengerjakan pekerjaan merekadenganberintegritasdantulushati.

Pemaknaan semacam itu bukan hanya berlaku bagi para hamba, namun juga bagi kita semua dalam mengerjakan tugas apa pun. Tugas harian kita sebagai petani, pegawai, wiraswasta, pedagang, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya kadang terasa melelahkan, bahkan menyebalkan atau bahkan membosankan. Adakalanya kita melakukannya dengan bermalas-malasan. Akan tetapi, kalau kita memaknainya sebagai pelayanan yang berharga di mata Tuhan, niscaya kita akan terdorong untuk terus berusaha mengerjakannya dengan segala sukacita dan sebaik mungkin. Inilah konsep kerja yang benar. Kerja bukanlah hukuman atau malapetaka. Kerja dan pekerjaan adalah anugerah Tuhan yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Kita bekerja bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi lebih dalam dari bahwa ketika kita bekerja dengan baik, kita melakukan kebaikan untuk Tuhan. Kita percaya bahwa dengan bekerja sebaik-baiknya berarti kita menunaikan sebagian dari tanggung jawab Kristen kita. Kita juga percaya bahwa kerja yang baik akan mendatangkan upah yang baik dari Tuhan. Upah yang dimaksud adalah upah atas kerja yang kita lakukan hari ini dan juga upah sukacita pada akhir zaman. Ini janji Tuhan bagi kita semua. Kita tahu bahwa janji Tuhan itu adalah ya dan amin, janji itu berlaku untuk selama-lamanya bagi kita, 

MEMAKNAI TUGAS SEBAGAI PELAYANAN KEPADA TUHAN MENGGUGAH KITA UNTUK MERAIH KEUNGGULAN. Amin.





Renungan Minggu ke-4  Oktober  (Kerja, Menuju Kemandirian Dana)
Bacaan           :   Yosua 18:1-10
Nats/Thema   :   Mau Berkat? Bekerja Keraslah

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Jika kita membaca peristiwa Eksodus dalam kitab Keluaran; bagaimana Allah membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dengan janji akan kehidupan baru yang lebih baik di tanah yang berlimpah susu dan madunya yakni tanah kanaan, maka mungkin saja kita akan mengatakan bahwa Allah terlalu bermurah hati dan bangsa Israel adalah bangsa yang tinggal tahu terima beres. Mungkin juga kita akan mengatakan bahwa Allah terlalu memanjakan umatNya dan tidak mendidik mereka untuk berusaha keras dalam memperjuangkan sesuatu. Tetapi jika kita membaca serta menganalisa perikop bacaan kita hari ini secara baik, maka Klaim bahwa Allah memanjakan umatNya, Israel adalah bangsa yang hanya tahu beres adalah sebuah Klaim yang sama sekali keliru. Allah bukanlah Allah yang suka memanjakan. Allah adalah Allah yang maha suka mendidik umatNya. Jika Ia menjanjikan untuk menyediakan berkat dalam bentuk apapun, Ia mau supaya umatNya juga bekerja dan berusaha keras untuk dapat memperoleh berkat-berkat itu. Dalam perikop bacaan hari ini begitu jelas, bahwa Allah mendidik umatNya untuk berusaha keras dalam meraih berkat tanah pusaka yang telah dijanjikanNya bagi mereka.  Kenyataannya bahwa setiap suku Israel harus berjuang dan berusaha keras untuk bisa menduduki tanah Perjanjian itu. Memang, bagi mereka masing-masing telah ditentukan bagian pusaka yang akan menjadi milik mereka. Tuhan telah telah menentukan wilayah-wilayah mana yang akan menjadi milik pusaka dari masing-masing suku, tetapi mereka tidak bisa tinggal diam, mereka harus berjuang untuk merebutnya. Allah yang mendidik umatNya untuk berjuang menjadi semakin tampak nyata Ketika bangsa Israel masih belum juga melakukan apapun untuk merebut tanah pusaka itu. Dengan keras dari Tuhan,  Yosua menegur mereka “berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan Tuhan Allah nenek moyangmu?” (ay 3). Apakah teriakan ini terlalu kejam? Apakah teriakan ini tidak berperikemanusiaan? Atau Apakah teriakan ini telah menyinggung perasaan seseorang atau bahkan satu bangsa?
Bagi orang-orang  yang anti-edukasi atau anti terhadap didikan, teriakan ini akan dianggapnya sebagai sebuah teriakan penghinaan! Bagi orang-orang yang membenci didikan serta berpola hidup manja dan hanya suka mendengar yang enak-enak saja, teriakan ini akan dianggapnya sebagai sebuah teriakan yang mengoyak harga dirinya. Dengan teriakan ini iamerasa ditindas dan orang yang menyampaikan teriakan itu akan segera diklaim sebagai sosok yang tidak berperikemanusiaan.

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Teriakan orang fasik sangat berbeda dengan teriakan Tuhan. Teriakan Tuhan adalah teriakan yang mendidik, teriakan yang menyadarkan supaya umatNya kembali kepada jalan yang benar, jalan yang memberinya kehidupan, jalan yang mengembalikan martabat kemanusiaannya. Sedangkan teriakan orang fasik adalah teriakan yang menghancurkan! Ketika Tuhan berteriak melalui mulut hambaNya, itu berarti ada sesuatu yang kurang beres! Perjuangan umatnya yang semakin melemah karena kemalasan dalam mencapai apa yang telah disediakan Tuhan harus dipanaskan, dibangkitkan dan dikobarkan  kembali. Dalam teks dan konteks bacaan kita menggambarkan bahwa memang berkat Tuhan sudah disediakan, Tuhan sudah tentukan, dan Tuhan juga telah memberi jaminan bahwa itu akan mereka terima, tetapi itu tidak akan datang dengan sendirinya, mereka harus berjuang untuk bisa meraihnya.
Sering kali, dalam kehidupan bergereja, sebagai umat pilihan, umat yang percaya kepada Tuhan, kita menyalahartikan kasih dan berkat Tuhan. Banyak orang cenderung berpikir bahwa sebagai umat pilihan, tentu Allah telah menyediakan berkat yang melimpah. Pemikiran ini Tentu ini tidak salah. Tetapi pandangan seperti ini sering menggiring kita pada pemahaman “asal percaya pada Tuhan semua akan aman, asal beriman kepada Tuhan maka semua akan dicukupkan, Tuhan akan menyediakan segala sesuatu, dan  umatNya tinggal meminta saja.  Banyak orang berpikir bahwa dengan beriman kepada Tuhan maka secara otomatis hidup akan bahagia”. Pemahaman inilah yang dikatakan oleh Yakobus sebagai Iman yang mati yaitu iman yang hidup tanpa perbuatan adalah mati atau sia-sia (Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati).
Pandangan seperti ini adalah pandangan yang keliru, ini adalah bentuk iman yang buta. Makanya tidak sedikit orang percaya yang menganut pandangan ini menjadi stress berat, menjadi  rapuh imannya, ketika menyadari bahwa hidupnya tidak lebih baik dari kehidupan orang-orang yang tidak percaya. Jika pandangan seperti ini dibiarkan berkembang maka kita akan menjadi orang-orang yang malas, berdiam diri, hanya mampu bertadah tangan, dan tidak mau berusaha keras untuk memperjuangkan kehidupan meraih berkat Tuhan.
Paulus dalam pelayanannya pernah menghadapi kehidupan jemaat yang seperti ini, yang hanya mau menerima tanpa mau bekerja keras. Terhadap orang-orang seperti ini Paulus dengan tegas berkata “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”(2 Tes 3:10). Ini berarti bahwa setiap orang yang mau menikmati kasih karunia dan berkat Allah tidak bisa hanya berdiam diri dan bermalas-malasan apalagi hanya bertadah tangan untuk menerima sesuatu dari orang lain. Umat Tuhan dipanggil untuk terus-menerus menindaklanjuti doa dan permohonannya dengan usaha dan kerja keras. Kekristenan tidak mengajarkan seseorang untuk hidup malas dan tidak mau berjuang. Umat Tuhan jangan pernah menyalah artikan kasih karunia Allah. Ia memang menyediakan berkat dan kelimpahan yaitu tanah yang subur, susu dan madu bagi umat Israel, tetapi mereka harus berjuang untuk mendapatkannya. Allah memang menyediakan kelimpahan berkat bagi setiap orang, tetapi kelimpahan berkat itu harus diperjuangkan dengan tekun. Allah telah menyediakan masa depan yang cerah bagi setiap orang yang percaya kepadaNya, Allah telah menjamin bahwa hidup setiap orang yang berharap kepadaNya akan terpelihara, Allah juga berjanji bahwa ada banyak berkat tersedia bagi mereka yang beriman kepadaNya, hanya ingatlah satu hal bahwa semua yang Allah sediakan itu tidak akan menjadi milik kita jika kita hanya berdiam diri dan bermalas-malasan saja. Jika anda ingin berkat, maka mintalah kepada Allah lalu bekerjalah dengan giat untuk meraihnya. Amin.



Renungan Minggu ke-5 Oktober   (Teologi Pengharapan)
Bacaan           :   2 Raja-raja 5:1-14
Nats/Thema   :   “Allah Itu Luar Biasa”

A. Pengantar Perikop.

Relasi atau hubungan bangsa-bangsa yang bertetangga tidak selamanya berjalan baik. Hal serupa juga sedang dialami oleh bangsa Israel dengan bangsa Aram dalam kitab Raja-raja, di mana saat ketika peristiwa dalam perikop ini terjadi, hubungan politik Israel dan Aram rupanya sangat kurang harmonis. Peperangan demi peperangan masih terus berlanjut. Nabi Elia telah terangkat ke sorga, dan sebagai gantinya munculah Elisa yang memiliki roh Elia (2:15). Pasal-pasal awal dalam 2 Raja-raja menceritakan perbuatan Elisa yang menunjukkan kenabian serta kemampuannya dalam melakukan berbagai perkara sebagai abdi Allah. Secara khusus, 2 Raja-raja 5:1-14 mengangkat kisah tentang Naaman, panglima tentara Aram yang badannya putih karena kusta (bdk. 5:27). ‘Kusta’ dalam berbagai cerita Perjanjian Lala ada kalanya dipakai untuk menjelaskan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya dan berhubungan dengan sesuatu yang gaib. Perlu diperhatikan di sini, bahwa bagi orang-orang Israel, kusta adalah penyakit yang najis dan seorang yang sakit kusta harus dilenyapkan atau diasingkan dari masyarakat (Im. 13, 14). Tetapi rupanya Naaman yang sakit kusta itu dapat menghadap Rajanya (2 Raja-raja 5:4). Tidak disebutkan nama Raja Aram saat itu, tetapi kemungkinan adalah Benhadad, sedangkan raja Israel yang berkuasa adalah Yoram, yang naik tahta setelah kematian Ahazia (bdk. 2 Raja-raja 1:17). Ada kemungkinan perbedaan pemahaman mengenai kusta bagi orang Israel dengan orang Aram sehingga Naaman diperbolehkan berada di istana, atau hal itu terjadi karena kedudukan Naaman sebagai panglima yang ‘terpandang … dan  sangat   disayangi’  oleh Raja Benhadad, dan mungkin  juga Naaman begitu berjasa bagi negaranya, bangsa Aram ketika itu (5:1).

B. Pertanyaan Diskusi.

1.  Adakah sesuatu yang menarik dari Kisah kesembuhan Naaman dalam           Perikop Bacaan kita tadi?

2.  Bagaimanakah sikap kita jika kita diminta untuk melakukan sesuatu yang     kelihatannya tidak mungkin dalam kehidupan kita?

3.  Dalam hal-hal apa saja kita bisa menyaksikan bahwa Allah itu Luar biasa?


C. Tafsiran – Aplikasi.


Dalam suasana politik yang tegang, kisah sakitnya Naaman menjadi menarik, bahwa kesembuhan didapatkan di ‘negeri musuh’. Benhadad, Raja Aram, bahkan mengeluarkan surat diplomasi untuk Raja Israel agar menyembuhkan Naaman. Naaman pergi dengan membawa barang-barang pemberian bagi Israel berupa sepuluh talenta (sekitar 340 kg) perak, enam ribu syikal (sekitar 68,5 kg) emas, dan sepuluh potong pakaian. Ini merupakan pemberian yang sangat besar. Dalam peperangan, jumlah ini merupakan biaya perang yang besar. Kedatangan Naaman ke Israel rupanya menimbulkan keterkejutan Raja Israel. Berbeda dengan sang gadis pelayan yang kemungkinan mendengar cerita rakyat mengenai kehebatan Elisa dan bagaimana Tuhan menyertainya, rupanya keyakinan Raja Israel tidak sebesar itu. Raja berkabung dan berpikir permintaan tersebut merupakan akal-akalan Benhadad. Kesedihan raja diketahui oleh Elisa yang meminta Naaman dikirim ke rumahnya. Umum di kalangan Timur Tengah waktu itu bahwa kusta dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan sesuatu yang gaib, karenanya Naaman berpikir bahwa Elisa akan mengadakan semacam pengusiran setan atasnya (ay 11). Tetapi Elisa hanya menyuruhnya mandi di Sungai Yordan. Naaman yang awalnya menolak melakukannya, diyakinkan oleh para pegawainya, sehingga ia menuruti ucapan Elisa, dan terbukti, ia menjadi tahir. Terbukti bahwa seketika Naaman Menjadi sembuh.

Perhatikan panjangnya urusan kesembuhan yang melibatkan banyak orang ini : gadis pelayan à sang nyonya à Naaman à Raja Aram à Raja Israel à Elisa à pegawai Naaman à kesembuhan Naaman. Urusan kesembuhan ini melibatkan : orang-orang sederhana (gadis pelayan dan pegawai) sampai para raja; mereka yang percaya kepada Allah dan yang tidak; mereka yang mengenal Elisa dan yang tidak. Tetapi mereka semua tanpa saling mengetahui, ternyata telah membuat suatu jalinan kerja sama dalam meyembuhkan Naaman.
Ketidaktahuan manusia tentang betapa luar biasanya Allah sekarang terungkap. Peristiwa yang melibatkan berbagai karakter membuktikan bahwa Allah itu luar biasa. Ia sanggup melakukan segala sesuatu, segala perkara yang sering tidak mampu kita pikirkan. Ia menyatakan kuasanya kepada semua orang, kepada semua golongan, kepada orang yang percaya kepadaNya maupun yang tidak percaya kepadaNya. Ini maksudnya supaya Allah dikenal dan keberadaanNya diakui oleh semua orang. Oleh karena itu, jika Tuhan meminta kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan namaNya, mungkin apa yang kita mau lakukan itu tidak masuk akal kita, tidak mungkin terjadi. Tetapi Jika Tuhan yang meminta, mari kita mengerjakannya. Sebab dengan mengerjakan apa yang Tuhan minta, maka kita akan melihat, mengetahui, memahami bahwa Allah itu Luar Biasa, Amin.


PA Minggu ke-1 November   (Pembangunan SDM)
Bacaan      :   Mazmur 141:1-10
Nats/Thema   :         Mazmur 141:3

Jemaat Yang diberkati Tuhan.....
Semua orang di dunia ini memiliki mulut, di mana mulut memiliki fungsi yang begitu vital dan penting bagi manusia. Dengan mulut, seseorang dapat berbicara atau berkomunikasi. Dengan mulut seseorang dapat menikmati makanan sehingga keberlangsungan kehidupan masih tetap ada. Dengan mulut                              seseorang dapat mengungkapkan perasaan serta isi hatinya. Dengan mulut orang bisa menciptakan perang. Dengan mulut, kedamaian dapat diciptakan. Dengan mulut orang bisa menangis, dengan mulut orang bisa tertawa. Dengan mulut, kita bisa memuji Tuhan, dengan mulut pula seseorang dapat melakukan dosa dan menghujat Tuhan.
Ada sebuah Pepatah yang mungkin agak sedikit asing bagi kita. Pepatah ini mengatakan : "Mulutmu Harimaumu". Pepatah ini mungkin cukup ekstrim atau kurang enak kedengaran di telinga kita. Betapa buas dan kejamnya pepatah ini. Lalu ketika kita memikirkan lebih jauh, mungkin kita akan mengatakan bahwa betapa berbahayanya mulut, yaitu salah satu organ tubuh yang kita miliki ini. Sebagai orang percaya, kita tidak serta-merta mengatakan bahwa pepatah : “Mulutmu Harimaumu” sebagai sebuah pepatah buruk. Dari sudut pandangan positip, pepatah yang kedengarannya ekstrim ini sebetulnya mengajarkan kepada kita bahwa perkataan yang  keluar dari mulut ini harus mampu dikendalikan. Jika kita tidak sanggup mengendalikan mulut kita dalam berkata-kata, maka saat itulah perkataan itu menjadi ‘galak’ seperti harimau yang bisa menerkam balik kepada kita. Mulut adalah media untuk mengartikulasikan atau mengucapkan segala sesuatu yang ada di dalam pikiran dan hati seseorang.
Dalam Perjalanan serta pengalaman kehidupan Daud sebagai penulis Mazmur ini, begitu terlihat bahwa ia bergumul hebat dengan mulut yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Terlihat sangat jelas bahwa pemazmur menyaksikan banyak hal-hal negatip dan buruk terjadi karena mulut. Ada begitu banyak kefasikan ataupun kejahatan yang disaksikan oleh Pemazmur di mana salah satu penyebabnya adalah karena mulut dipergunakan untuk mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan. Dalam Mazmur 141:1-10 tergambar bahwa salah satu sumber dosa adalah ketika seseorang salah dalam mempergunakan mulut yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Oleh karena itu, pepatah : “Mulutmu Harimaumu” ini ingin mengingatkan bahkan mengajarkan kepada kita untuk selalu mengendalikan mulut kita. Mengendalikan setiap ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita. Maksudnya adalah jangan sampai mulut yang adalah karunia Tuhan itu akan merusak seluruh tatanan kehidupan kita.

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Kalau dikatakan bahwa kita harus mengendalikan mulut kita, sekarang muncul sebuah pertanyaan : “Dengan apakah kita mengendalikan mulut kita?”
Pemazmur dalam Mazmur 141:3 sebetulnya sangat jelas mengajarkan kepada kita, bahwa untuk menyaring perkataan yang keluar dari mulut kita, itu tidak cukup hanya dilakukan dengan usaha, kesanggupan serta kekuatan sendiri. Mengendalikan mulut hanya dapat dilakukan dengan berdoa dan memohon pertolongan dari Tuhan. Ketika Daud dengan segala kekuatannya tidak lagi sanggup menguasai mulutnya, Dengan penuh pergumulan ia berdoa kepada Tuhan : “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku.”  
Jika kita memperhatikan doa ini, maka kita akan semakin disadarkan oleh sebuah kenyataan bahwa : Betapa liar dan berbahayanya mulut kita. Berdoa adalah perlawanan yang paling tepat terhadap perkataan yang kotor dan jahat. Karena begitu besarnya pengaruh serta kekuasaan mulut, sampai-sampai Dalam doanya pada waktu petang, Daud berseru kepada Tuhan, meminta Tuhan melindungi dan memampukannya untuk hidup bagi kemuliaan-Nya. Permohonan ini begitu penting sehingga Daud berharap agar Tuhan menolongnya dalam pergumulan melawan berbagai bentuk pencobaan. Ia meminta Allah mengontrol perkataan, pikiran, dan tindakannya.
Kerinduan orang percaya adalah hidup kudus dalam setiap aspek kehidupannya. Dosa dalam berbagai bentuk akan berusaha menyimpangkan setiap kerinduan umat Tuhan untuk hidup dalam kekudusan. Iblis dapat saja menggunakan Yang berupa perkataan, misalnya, kita mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan orang lain. Iblis juga menggunakan kata-kata yang penuh dosa supaya seseorang menghujat serta menyakiti hati Tuhan. Padahal, kita seyogyanya mengucapkan kata-kata yang penuh kasih dan membangun orang lain. Seyogyanya mulut kita dipergunakan untuk terus memuji dan memuliakan Tuhan yang telah berkarya dengan penuh kuasa dalam hidup kita. Selaku anak-anak Allah, kita perlu dan seharusnya terus berdoa meminta tuntunan Tuhan. Kuat dan liarnya mulut kita tidak dapat kita kalahkan dengan kekuatan kita sendiri, Sebab kita begitu lemah dalam menjaga mulut serta perkataan-perkataan kita. Yang mampu mengalahkan dan mengendalikan kekuatan mulut kita hanya sesuatu yang lebih kuat dari itu, Dialah Tuhan yang berkuasa atas segala kuasa.   Dengan berdoa, kita menaklukkan diri kepada Allah hingga terhindar dari dosa karena mulut kita.
Jika kita terus berdoa dan meminta Tuhan mengendalikan mulut kita, maka Tuhan pasti akan menjaga dan mengawasinya. Jika Tuhan yang menjaga dan mengawasi mulut kita, maka kita akan dimampukan untuk mempergunakan mulut kita untuk menghadirkan suasana tenteram, suasana damai sejahtera, dan terlebih-lebih lagi mulut kita akan kita pakai untuk terus memuji Tuhan, Amin.



PA Minggu ke-2 November   (Pembangunan SDM)
Bacaan           :   Galatia 6:1-16
Nats/Thema   :    “Saling Membantu Sebagai Keluarga Allah”

A. Pengantar-Tafsiran Perikop.

Perikop ini merupakan bagian terakhir dari surat yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat-jemaat di Galatia, yaitu Jemaat-jemaat yang sedang meragukan kebenaran Injil dan sementara berhadapan dengan tradisi Yahudi. Disamping itu, Jemaat-jemaat di Galatia juga sedang meragukan kerasulan Paulus. Konteks ini tentu tidak muncul secara alamiah, tetapi persoalan ini muncul karena ada para pengajar sesat yang mengajarkan hal-hal yang membingungkan Iman Jemaat. Di akhir tulisannya, Paulus menekankan kepada jemaat untuk hidup saling bertolong-tolongan dalam menanggung beban mereka (ay 2). “Menanggung beban” dalam Bahasa Yunaninya basta,zete = Bastazete  berkaitan dengan “memikul” yang mengingatkan kita akan peristiwa pemikulan salib Krsitus. Beban apa yang dimaksud?  Jika  Mengacu kepada ayat 1, maka beban itu adalah beban dosa. Serta memperhatikan berbagai nasihat Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya, maka beban itu juga berarti hambatan dan tantangan dalam jemaat, khususnya dari orang-orang yang ingin ‘menyesatkan’ (mengajarkan tentang sunat (5:2-3) sebagai tanda keselamatan, hidup dalam perhitungan hari-hari Yahudi (4:10), membedakan hubungan antara orang bersunat dan tidak, bahkan meragukan kerasulan Paulus. Beban ini merupakan tantangan dari dalam diri masing-masing dan sebagai jemaat. Karenanya, menjadi penting bahwa setiap orang juga ‘menguji’ diri mereka masing-masing, apakah mereka sudah benar dan setia kepada ajaran yang telah mereka dapatkan, sehingga mereka berhati-hati agar tidak menyesatkan jemaat. Pada akhirnya walaupun jemaat dapat disesatkan oleh para pengajar-pengajar sesat, tetapi Allah mengetahui segala yang terjadi. Setiap hal apapun yang dilakukan, pasti ada akibatnya bagi diri mereka sendiri. Bagi orang-orang yang hidup sesuai ajaran yang benar, maka damai sejahtera dan rahmat Allah akan turun atas mereka. Demikian pula sebaliknya, bagi orang-orang yang hidup tidak sesuai dengan ajaran yang benar, maka damai sejahtera akan jauh dari kehidupan mereka. Sehubungan dengan menguji diri sendiri, Paulus juga mengingatkan dalam Suratnya (Galatia 6:3) supaya setiap orang jangan merasa dirinya sebagai orang penting atau “Merasa Bisa”. Keadaan serta sifat seperti ini adalah sesuatu yang sangat memalukan, sebab jika pada akhirnya ternyata diketahui bahwa dia bukan orang penting, maka itu berarti ia menipu dirinya sendiri. Orang yang merasa bisa dan merasa penting dalam Jemaat tanpa menguji dirinya sendiri berdasarkan firman Allah, biasanya cenderung menyesatkan Jemaat. Karena itu Paulus mengingatkan supaya Jemaat di Galatia tidak berlaku seperti itu.

B. Bahan Diskusi.

1.  Apakah dorongan Paulus supaya Jemaat bertolong-tolongan menanggung    beban dosa diartikan  kita harus berkompromi dan berkoalisi dengan dosa?

2.  Apakah dalam konteks bergereja saat ini masih ada pengajar-pengajar sesat yang sering kali mengguncangkan Iman Jemaat?

3.  Bagaimana sikap kita sebagai warga Gereja supaya Gereja dapat bertumbuh             dengan baik?

C. Aplikasi/Penerapan.

Sanksi sosial dan sanksi Rohani akibat dosa tetap ada. Orang yang melakukan dosa pasti merasa bersalah dalam lingkungan sosialnya dan juga merasa bersalah di hadapan Allah. Ini berlaku bagi orang-orang yang menyadari diri sebagai orang berdosa. Tuhan memang mengampuni orang-orang berdosa yang mau dibimbing kepada pertobatan, tetapi akibat-akibat dosa tetap saja tidak dapat terhindarkan. Jika Paulus mendorong Jemaat untuk saling tolong-menolong dalam menanggung beban dosa, itu tidak berarti bahwa orang-orang yang tidak melakukan dosa, lalu berkompromi dan berkoalisi dengan dosa. Paulus sudah mengingatkan : Supaya setiap anggota Jemaat yang menasehati orang lain yang jatuh ke dalam dosa, pada saat yang sama juga harus menjaga dirinya supaya jangan jatuh ke dalam dosa yang sama (Ayat 1).
Berbicara tentang ajaran-ajaran sesat, masalah ini memang tidak akan pernah habis, sebab waktu belum berujung apalagi berakhir. Ajaran-ajaran sesat akan terus ada. Sadar atau tidak, begitu sering ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah muncul dalam kehidupan bergereja masa kini. Ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan firman Allah begitu banyak berkembang. Oleh karena itu, firman Allah harus senantiasa menjadi pegangan dan alat uji bagi kita dalam mengahadapi ajaran-ajaran sesat. Belajar terus tentang firman Tuhan adalah penangkal utama terhadap serangan dari ajaran-ajaran sesat.
Gereja adalah ibarat sebatang pohon yang terus bertumbuh dan harus menghasilkan buah-buah yang baik. Sikap kita sebagai warga Gereja supaya Gereja terus bertumbuh adalah turut mengambil bagian, bertolong-tolongan menanggung berbagai hal yang berkaitan dengan kebutuhan yang membuat Gereja bisa bertumbuh dan berbuah. Dalam kaitan dengan Gereja yang bertumbuh, ada sebuah ungkapan yang mengatakan  “Kita Jangan “Merasa Bisa”, tetapi kita harus senantiasa mengembangkan sikap serta pikiran “Bisa Merasa” Artinya peka terhadap hal-hal yang baik yang seharusnya kita lakukan. Niscaya Gereja akan bertumbuh dan berbuah, Amin.





Khotbah Minggu ke-3 November  (Pembangunan SDM)
Bacaan         : Galatia 6:2
Nats/Thema : “Rantai Kebaikan”

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Minggu yang lalu kita merenungkan Firman Allah dari Perikop Bacaan yang sama melalui sebuah diskusi Pemahaman Alkitab (PA). Meskipun Perikop bacaan kita minggu ini sama dengan perikop Minggu yang lalu, tetapi saat ini kita melihat perikop ini dari sudut pandang yang berbeda dan metode Pemberitaan Firman yang berbeda. Kali ini kita merenungkan satu ayat saja dari firman Allah yaitu Galatia 6:2. Metode Perenungan kita saat ini adalah dengan merenungkan sebuah Ilustrasi, tetapi Ilustrasi ini lebih kepada sebuah realita kehidupan seseorang yang bernama Bryan Anderson.

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan dipinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil wanita itu dan keluar menghampirinya.
Mobilnya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan kurang baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu.Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat!
Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson." Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut usia seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari - jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu. Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya. Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, Dan ingatlah kepada saya." Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu ingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja. Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil,dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan disekitar tempat itu sangat asing baginya. Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan. Setelah wanita itu menyelesaikan makannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100 (Seratus Dolar). Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.'"
Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 (Seratus Dolar) lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik dengan lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!  Kita sudah diberkati Tuhan pada saat kita benar-benar membutuhkan berkat dan pertolonganNya.
Ada pepatah lama yang berkata,"Berilah maka engkau diberi."
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6 : 2)

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Bukankah kita juga sering mengalami pengalaman yang sama seperti apa yang dialami oleh Keluarga Anderson? Pengalaman seperti itu pastilah bukan hanya satu atau dua kali kita rasakan. Pengalaman seperti itu terlalu sering terjadi. Ketika dalam saat-saat kritis kehidupan yang kita hadapi, seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi pada saat di mana kita benar-benar membutuhkan sesuatu Tuhan bertindak dan menolong kita. Tuhan benar-benar tahu dan mengerti apa yang sedang kita butuhkan. Kunci pertolongan Tuhan yang tepat pada waktunya bagi keluarga Anderson tidak terletak pada kekuatiran akan apa yang mereka butuhkan, tetapi justru terletak pada optimisme mereka dalam berbuat baik kepada orang lain. Kebaikan hati mereka tertular begitu hebatnya kepada orang lain dan pada akhirnya kebaikan itu kembali kepada mereka.
Tuhan memenuhi kebutuhan keluarga Anderson dengan cara yang tidak dapat diselami oleh akal pikiran kita, tetapi itulah yang terjadi dan dialami oleh keluarga ini. Kehidupan yang suka menolong orang lain tanpa pamrih adalah sebuah bukti bahwa kehendak Allah berlaku atas hidup kita. Setiap anak-anak Allah dipanggil supaya senantiasa hidup saling menolong, sebab cara hidup seperti ini adalah cara hidup yang memenuhi hukum Tuhan. Berbuat baik tidak akan pernah merugikan para pelakunya. Firman Allah mengatakan bahwa orang yang menabur kebaikan, pasti pada akhirnya akan menuai kebaikan-kebaikan dalam hidupnya. Siapa yang mengerjakan kebaikan itu bagi mereka? Jawabannya adalah Tuhan yang adalah sumber kebaikan itu sendiri. Bagi orang-orang yang suka berbuat baik dan suka menolong orang lain, Firman Allah ini berlaku bagi mereka : Pengkhotbah  3:11 “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”  Oleh karena itu jangan pernah memutuskan rantai kebaikan, supaya kebaikan itu terus menular dan merambat kepada semua orang. Berbuat baiklah senantiasa dengan hidup saling menolong. Berilah, maka kamu akan diberi. Terpujilah nama Tuhan, Amin.




PA Minggu ke-4 November  (Pembangunan SDM)
Bacaan         :   Efesus 5:22-23
Nats/Thema : Kasih Adalah Pengikat Keluarga”

A. Pengantar Diskusi.

Permasalahan keluarga menjadi salah satu hal terpenting dalam keberagaman permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia. Permasalahan keluarga yang dihadapi juga ternyata begitu banyak atau beraneka macam bentuknya. Mulai dari masalah pasang-surutnya ekonomi keluarga sampai kepada permasalahan posisi siapa yang dipimpin dan bagaimana memimpin serta siapa yang penolong dan bagaimana menjadi penolong yang baik.
Ada satu hal yang perlu diingat kembali; bahwa impian seluruh keluarga adalah hidup dalam keharmonisan, hidup dalam damai sejahtera.
Kita menyadari bahwa Era ini semakin jelas menunjukkan bahwa masalah keluarga bukanlah masalah yang asing terdengar oleh telinga kita. Kecil besarnya masalah itu  tergantung bagaimana anggota keluarga menyikapinya. Kalau masalah yang sering dihadapi dalam keluarga tidak menemui jalan yang baik maka dapat dapat dipastikan bahwa hal itu akan berimplikasi pada perpecahan dan kehancuran keluarga itu sendiri. Pilihan terakhir dari setiap masalah keluarga  yang paling fatal ialah terjadinya perceraian. Padahal sebagai umat perjanjian Allah, sebagai anggota keluarga kerajaan Allah, perceraian sangatlah tidak berkenan dihadapan Allah. jadi sebagai orang-orang Kristen perlu melihat bagaimana sebenarnya formasi yang harus dibangun menuju keharmonisan keluarga, supaya perjalanan hidup keluarga dapat berjalan sesuai dengan maksud-maksud serta rencana Allah yang tertuang dalam firman-firmanNya.
Untuk mewujudkan cita-cita tentang Idealnya sebuah Rumah Tangga, kita memiliki begitu banyak akses atau jalan masuk. Banyak teori-teori bahkan pengalaman praktis yang sudah dilalui oleh orang-orang sukses dalam Berumah Tangga dapat kita jadikan sebagai contoh yang baik serta bermanfaat dalam membangun kehidupan Rumah Tangga kita. Dalam konteks sebagai orang percaya, Alkitab merupakan pegangan serta penuntun yang begitu baik bahkan yang terbaik dan berharga dalam hal kita membangun kehidupan Rumah Tangga yang berkwalitas  dan berkenan di hadapan Tuhan. Petunjuk-petunjuk Alkitab tentang bagaimana membangun Rumah Tangga yang baik ini telah dipergunakan sejak zaman purbakala. Bagi mereka yang menjadikan Alkitab sebagai pedoman serta pegangan dalam kehidupan berumahtangga, maka mereka akan dimungkinkan untuk menikmati kehidupan Rumah Tangga yang Indah dan bahagia. 

B. Pertanyaan Diskusi.

B.1.  Apakah makna kata “Tunduk” kepada suami dalam ayat 22 bacaan Alkitab                Hari ini?

B.2. Suami yang seperti Apakah yang harus dihormati oleh Istri dalam sebuah                 Rumah Tangga?

B.3. Mengapa Istri harus “tunduk” kepada suami?


C. Aplikasi – Penerapan.

Dalam perikop bacaan kita hari ini firman Allah mau berbicara kepada kita tentang bagaimana Rumah Tangga itu dibangun dengan fondasi yang kuat dan kokoh, sehingga badai tidak mudah merobohkannya. Firman Allah tidak pernah mengatakan bahwa jika Sebuah Rumah Tangga dibangun dengan fondasi, dasar yang kokoh, lalu Rumah Tangga itu akan bebas dari berbagai goncangan yang berupa tantangan atau persoalan. Tetapi firman Allah mau mengatakan bahwa jika Fondasi atau dasar sebuah Rumah Tangga berada dalam keadaan kokoh, maka Rumah Tangga itu akan sanggup bertahan, meskipun badai dan prahara mengguncangkannya. Ia tidak akan hancur apalagi menjadi puing-puing yang rusak begitu parah.
Kata “Tunduk” dalam bacaan Alkitab hari ini secara fisik mengandung pengertian: Menghadapkan wajah ke bawah, kepala yang dicondongkan ke depan dan ke bawah. Pengertian ini menunjuk pada rasa hormat dari seorang istri terhadap suaminya, di mana keadaan ini muncul karena rasa kasih yang mendalam, dan kasih yang mendalam terhadap suami tersebut menggiring seorang istri menghormati suaminya. Secara spiritual atau dalam pengertian Rohani, “Tunduk” berarti Patuh atau menurut, karena demikianlah seharusnya hal yang dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya. Rasa “Patuh” yang dinyatakan oleh istri terhadap suaminya harus dilakukan sebagaimana ia patuh terhadap Tuhan. Jika kita membaca sepintas ayat bacaan kita, mungkin para istri akan mengatakan bahwa ayat ini sangat semena-mena terhadap perempuan yang berstatus istri. Perintah untuk menghormati bahkan tunduk seakan-akan hanya berlaku bagi suami. Dalam ayat 23 bacaan kita sangat jelas bahwa istri harus tunduk kepada suami, istri harus menghormati dan menghargai suami sebab suami memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan Rumah Tangga. Sebab ia bertanggung jawab atas kehidupan rumah tangganya, peranan suami diibaratkan seperti peranan Kristus yang menyelamatkan Jemaat. Seorang suami bertanggung jawab atas seluruh keberadaan Rumah Tangga. Ia menyelamatkan kehidupan Rumah tangga dari berbagai ancaman, baik ancaman yang bersifat fisik maupun Rohani. Secara fisik seorang suami bertanggung jawab melindungi keluarganya dari segala macam bahaya. Seorang suami bekerja keras supaya kehidupan Rumah Tangga senantiasa berkecukupan, memberikan rasa aman terhadap semua anggota-anggota Rumah Tangga. Di bawah pengayoman suami, Rumah Tangga dan semua anggota-anggotanya mengalami rasa aman, tenteram dan menikmati damai sejahtera. Seorang suami bertanggung jawab melakukan tanggung jawabnya dan menghindarkan keluarga dari ancaman kemiskinan, kelaparan, menyiapkan apa yang dibutuhkan keluarga untuk memelihara kesehatan dan sebagainya. Sebagaimana Kristus melakukan semua itu bagi Jemaat, demikianlah seorang suami melakukannya bagi Istri dan semua anggota Rumah Tangganya. Secara Rohani, seorang suami bertanggung jawab dalam membangun kehidupan Rohani dari semua anggota-anggota keluarganya. Singkatnya Ia adalah seorang Imam dalam Rumah Tangga yang terus-menerus memimpin Rumah Tangga supaya hidup sesuai dengan Kehendak Tuhan. Sebagaimana Kristus telah menjadi Imam, memberikan korban bahkan mengorbankan hidupnya untuk keluarga Kerajaan Allah, demikianlah pengorbanan suami terhadap seluruh anggota-anggota keluarganya. Kepada seorang suami yang seperti ini, Alkitab memerintahkan supaya istri “Tunduk” menghormati dan menghargai mereka. Banyak istri yang telah menyaksikan suaminya bekerja keras, melaksanakan tanggung jawab secara penuh dalam rumah Tangga, tetapi kepala mereka bukannya condong ke depan dan ke bawah untuk menghormati serta menghargai suaminya. Mereka justru mengangkat muka sambil condong ke depan untuk menantang suaminya. Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang sering membuat kehidupan Rumah Tangga menjadi hancur. Ada juga suami-suami yang tidak bertanggung jawab terhadap anggota-anggota keluarganya, sehingga anggota-anggota keluarga harus terlantar tanpa perhatian.
Firman Allah yang kita Pelajari hari ini mengingatkan kita supaya masing-masing anggota-anggota dalam keluarga melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Saling menghargai, saling melindungi dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan. Jika semua yang dilakukan dalam keluarga dan untuk keluarga dilandasi oleh kasih, maka kehidupan rumah tangga akan kokoh. Badai tidak akan sanggup menghancurkannya. Ketika badai datang, ia akan terus berdiri kokoh sampai badai pencobaan itu benar-benar berlalu.  Kasih adalah Pengikat dan perekat yang paling ampuh buat Rumah Tangga kita, Amin.





Khotbah Minggu ke-5 November   (Pembangunan SDM)
Bacaan        :   Yohanes 6:60-69
Nats/Thema : Murid Yang Bertanggungjawab”

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Seorang guru yang sejati tidak akan pernah berniat menjatuhkan masa depan muridNya. Guru yang sejati akan selalu menunjukkan apa saja yang harus dilakukan oleh muridnya agar mereka selamat, Agar mereka berhasil, agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik. Keberhasilan dan kebahagiaan yang diharapkan oleh seorang guru terhadap murid-muridnya bukan saja keberhasilan di dunia fana ini, tetapi seorang guru juga sangat merindukan di mana murid-muridnya bahwa suatu saat melalui pengamalan ilmu dengan baik, mereka  bisa meraih dan menikmati kehidupan yang baik di dunia akhirat.
Seorang guru yang baik, akan selalu berupaya mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi murid-muridnya. Guru yang baik tidak segan-segan menerapkan kedisiplinan bagi murid-muridNya demi masa depan yang lebih baik dari orang-orang yang diajar dan dididiknya. Untuk itu ia juga rela mengorbankan hidupnya untuk sebuah pengabdian sebagai seorang guru.
Demikian pula seorang murid yang baik. Dalam statusnya sebagai murid, ia akan terus berusaha keras untuk belajar dari sang guru, ia akan belajar dengan sabar untuk menghadapi semua konsekwensi, mentaati serta mengikuti semua disiplin yang diterapkan oleh gurunya. Sebab jika ia takut dengan konsekwensi, gagal dalam berdisiplin, maka ia tidak akan pernah tamat dalam melewati proses sebagai seorang murid. Ketika ia menyelesaikan proses menjadi murid, selanjutnya ia akan tamat dan diperlengkapi  dengan pengetahuan, pengalaman, disiplin dan berbagai hal yang dibutuhkan untuk meraih suatu masa depan yang berpengharapan. Jika seorang murid bersedia melewati proses-proses kemuridan, maka suatu saat ia pasti bisa memberi dan membawa manfaat bagi dirinya sendiri terlebih-lebih bagi orang lain.
Tuhan Yesus adalah Guru sejati. Banyak harapan akan masa depan yang baik ditawarkan oleh-Nya, tetapi kemudian yang menjadi persoalan adalah  : apakah kita sanggup menjadi murid serta siap menjalani disiplin kemuridan serta menerima konsekuensi ketika menjadi murid Tuhan?

1.   Pada umumnya manusia senang dengan pemberian Cuma-Cuma, gratis, tanpa bekerja. Itu sebabnya bila kita ingin disenangi oleh banyak orang, berbuatlah royal, gampang dan secara membabi-buta suka memberi tanpa pertimbangan-pertimbangan yang baik. Namun penghormatan yang diperoleh karena sikap royal sebetulnya hanyalah seumur harta kita. Begitu harta kita habis, maka habis pula penggemar kita atau simpatisan kita. Selain itu pemberian Cuma-Cuma yang terus-menerus  berikan kepada seseorang tanpa tujuan mendidik, itu tidak akan membuat orang itu mandiri, melainkan membuat dia terus-menerus hidup dalam ketergantungan kepada orang-orang lain.

2.   Peristiwa yang hampir sama ternyata pernah dialami oleh Yesus dari Nazareth. Ia tampil di muka umum dengan membuat mujizat, “mengubah air menjadi anggur”, menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan orang mati. Tentu hal ini membuat banyak orang terpikat oleh-Nya dan mau menjadi pengikut-Nya. Namun Yesus menyadari, bahwa ia datang ke dunia bukan sekedar mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Tuhan Yesus sadar bahwa kehadiranNya bukan semata-mata menjadi pembuat Mujizat. Sebetulnya setiap Mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sangat memiliki orientasi Aducatif atau Pendidikan kepada banyak orang bahwa Dialah Juruselamat yang sudah datang itu. Tetapi orang banyak justru tidak memahami tujuan-tujuan dari setiap Mujizat yang dikerjakanNya.  Ia datang bukan untuk pamer kuasa dan kemampuan. Ia datang untuk menyelamatkan manusia. Dengan tindakan-tindakan Mujizat yang dilakukanNya, Tuhan ingin supaya orang banyak menjadi :
-      Percaya bahwa Dia adalah sungguh-sungguh utusan Allah (Yoh.    6:29).
-      Percaya dengan sungguh-sungguh kepada setiap sabda atau firman yang diucapkanNya (Yoh. 6:35).
-      Percaya bahwa apa yang dilakukanNya  merupakan suatu bukti bahwa   itu merupakan  kehendak Allah yang dinyatakan kepada dunia (Yoh.            5:30).
3.   Rupanya ketika syarat itu ditawarkan kepada para murid-Nya, mulailah mereka menggerutu. Mengapa harus repot-repot  ? Mereka ingin dan mau menjadi murid tanpa harus dibebani apa-apa. Diam boleh, santaipun jadilah.
     Tetapi Yesus tidak mau, lalu Ia menggertak mereka : Siapa yang mau pergi ?
                 Silahkan pergi ! ( Yoh.  6 : 67).
         Banyak yang tidak berani mengemukakan pendapat. Mereka diam dan saling baku pandang. Mereka malu sebab ketahuan isi hatinya yang hanya mau santai dan mendapat banyak pemberian.
4.   Petrus rupanya bersikap lain. Ia yang telah mengalami pahit getirnya hidup, yang telah lama bergulat mencari arti hidup  menemukan semua itu dalam diri Yesus gurunya. Maka ia menjawab : Kepada siapa kami harus pergi ? (Yoh. 6:68). Dan murid semacam inilah yang kelak dipercaya untuk memegang puncak pimpinan Gereja.
5.   Apakah relevansi firman ini dengan kehidupan berjemaat di Klasis kita ?
Relevansi atau hubungan firman Allah ini bagi kita adalah :
Pertama :    Menjadi murid Tuhan tidak hanya sekedar masuk menjadi anggota komunitas belajar untuk beberapa waktu ketika kita masih merasa senang dan nyaman di tempat itu. Ketika setiap orang memilih untuk menjadi murid Tuhan, itu berarti mereka siap untuk menjalani kerasnya proses dalam menjadi seorang murid. Di sana ada disiplin yang harus di taati, di sana ada konsekwensi-konsekwensi logis maupun tidak logis harus kita jalani. Ketika seseorang tidak siap dengan syarat-syarat kemuridan ini, maka ia akan segera Drop Out (D/O) atau keluar dari lingkungan kemuridan itu. Sebab hanya murid-murid yang berkualitas dan mau mengembangkan kwalitaslah yang layak dan siap memberi pengaruh bagi dunia ketika ia bisa lolos dan setia dalam memenuhi tanggung jawab kemuridannya. Dalam kaitan dengan dampak keselamatan bagi dunia, hanya murid-murid yang taat dan setialah yang akan mampu membawa dan memberi dampak keselamatan itu bagi dunia. Sedangkan murid-murid yang tidak setia justru akan Menjadi “batu Sandungan” dan membuat eksistensi atau keberadaan dunia akan menjadi semakin gelap.

Kedua, Menjadi murid Tuhan bukan sekedar menjadi simpatisan. Sebab Tuhan tidak membutuhkan para simpatisan dalam pekerjaanNya. Yang Tuhan butuhkan adalah murid-murid yang mau bekerja keras dalam memikul tanggung jawab. Hal-hal spektakuler atau luar biasa sehubungan dengan mujizat-mujizat yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, dalam kehidupan orang lain bukan bertujuan supaya dari mujizat-mujizat itu kita bisa mendapat sesuatu untuk kepentingan pribadi kita, tetapi supaya sebagai murid, kita percaya bahwa apa yang kita lihat adalah bukti bahwa Allah benar-benar berkarya, dan kita dipanggil untuk percaya pada karya-karya itu, lalu bergiat dengan segala potensi yang kita miliki meneruskan karya-karya Allah itu kepada orang lain melalui pelayanan kita. Menjadi seorang murid membutuhkan pengorbanan, tidak mudah, sebab Guru kita, Tuhan Yesus Kristus sudah lebih dahulu korbankan diriNya supaya Ia bisa memperoleh murid-murid yang juga rela berkorban banyak hal demi pelayanan GerejaNya. Pengorbanan dalam pelayanan Gereja bukan hanya dinyatakan dalam kerangka toretis melalui kesanggupan-kesanggupan Retorika (Berbicara), tetapi melalui tindakan nyata, di mana setiap orang dipanggil untuk mengorbankan waktu, harta benda, pikiran, perasaan bahkan seluruh kehidupan. Dalam Pelayanan dan menjalani proses kemuridan, jangan pernah bertanya : Apa yang Tuhan sudah berikan untuk saya, tetapi bertanyalah : Apa yang saya sudah berikan untuk Tuhan, Guru dan Juruselamat saya yang sejati? Amin.




PA Teologi Parousia
Bacaan        :   I Tesalonika 5:1-11 (Minggu Advent 1)
Nats/Thema :   “Berjaga-jaga dalam Iman, Kasih Dan Pengharapan”


A. PENDAHULUAN

Masa penantian atau Advent dialami oleh segenap Warga Gereja ketika menyongsong peringatan dan perayaan Natal setiap tahun. Tetapi Advent  juga mengandung pengertian menyongsong “Natal Yang sempurna”, yakni kedatangan Kristus untuk kali yang ke-2. Untuk itu Warga Gereja diajak dan diingatkan untuk senantiasa menyiapkan diri (dalam iman dan perilaku) untuk menyongsong Peristiwa Natal yang sesungguhnya. 

B. PENJELASAN PERIKOP/TEKS.

Teks 1 Tesalonika 5:1-11 menyampaikan berita tentang Hari Tuhan atau hari kedatangan Kristus ke-2. Tentang waktu kapan kedatangan Kristus kedua tersebut, penulis Kitab Tesalonika tidak mengetahui, bahkan secara tersurat mengatakan”tidak perlu kutuliskan padamu” (ayat 1). Hal demikian bukan berarti Penulis Tesalonika tahu waktunya, tetapi tidak perlu menyampaikannya kepada jemaat. Namun yang ingin disampaikan adalah waktu kedatangan Kristus ke-2 tidak perlu menjadi perdebatan dan silang pendapat antar warga Gereja, karena hal demikian memang bukan menjadi urusan manusia. Meski tidak diketahui waktunya, tetapi kedatangan Kristus ke-2 diyakini terwujud, bukan sekedar ucapan atau tulisan semata. Kedatangan Kristus yang ke-2 tidak diketahui waktunya itu diibaratkan dengan kedatangan pencuri, yang dimengerti dengan tidak diketahui oleh siapapun kapan kedatangannya (ayat 2 dan 4).
Ibarat atau symbol dalam teks yang disampaikan berikutnya adalah Warga Gereja sebagai anak-anak siang atau anak-anak terang (ayat 5). Hal demikian menunjuk pada pengikut Kristus sebagai orang-orang yang tahu tentang jalan Tuhan, perintah Tuhan, serta melakukannya dengan bersungguh-sungguh hati. Hal yang benar dan bertanggungjawab, sebagai anak-anak terang tidak akan melakukan perbuatan gelap atau malam. Perbuatan yang memberi arti kejahatan, kedurhakaan, perseteruan maupun tindakan tidak susila.
Panggilan yang disampaikan kepada warga jemaat selaku orang-orang siang adalah:
1.  Berjaga-jaga dan sadar dalam kehidupan ini, agar keselamatan dalam Yesus Kristus tetap ada sampai Kristus datang untuk kali yang ke-2 (ayat 6,8).
2. Saling memberi nasehat dan membangun, sehingga segenap warga jemaat    terjaga   dan sadar setiap waktu, tidak terjatuh pada perbuatan gelap atau             perbuatan malam         (ayat 11)

C. DIALOG PEMAHAMAN.

Berikut ini disampaikan percakapan 2 orang Bapak, yang membicarakan atau mempercakapkan tentang Hari Tuhan atau kedatangan Kristus untuk Kali yang ke-2. Mari kita Simak Percakapan mereka :
Bambang  :    Pak Sumo,  apakah  Bapak sudah mendengar berita tentang kedatangan Yesus Kristus yang ke                            dua?
Sumo        :  Mendengar beritanya sih, sudah, tetapi kedatangan-Nya khan                   belum terjadi. Manusia tidak tahu kapan kedatangan-Nya yang                       ke-2 kali tersebut. Bukankah firman yang sering kita dengarkan                 bahwa kedatangan Kristus kedua kali seperti pencuri. Kapan               datangnya  si-pencuri  kan pemilik rumah tidak mengetahui                        waktunya. Bisa jadi ketika pemilik rumah terlena, tidak waspada,                 si-pencuri tersebut datang dan menyatroni rumahnya.
Bambang  :    Kalau kita tidak tahu kapan kedatangan Kristus kedua, terus kita              harus bagaimana? kalau   kita  bekerja,  siap  terus menerus,               waspada, kan bisa jadi jenuh. Seperti di TV itu, kita bisa jadi               pusiii…ng.   Berbeda   bila   kedatangan   Kristus sudah jelas                      waktunya,  tentu   kita    bisa   mempersiapkan  diri dengan                     sungguh - sungguh,  serius  dan  total.  Kalau  seperti ini kan                      membingungkan!
Sumo        :    Apakah   kita   memang   perlu   tahu   kapan   kedatangan                     Kristus?   Bukankah semuanya itu ditangan kuasa allah bapa                    sendiri. Bagi kita warga gereja,  bukankah yang kita lakukan                 adalah mempersiapkan iman, iman yang kukuh dan penuh                      harapan  di   dalam   Kristus.  Serta    etika    Kristiani    yang                         bertanggung jawab. Berkenaan dengan hari atau waktunya,                         mengapa kita harus pusing memikirkannya. Pak bambang tidak               perlu  pusing.
Bambang  :    Hal yang lain, Pak. Beberapa waktu yang lalu terjadi banyak                   bencana dinegeri kita ini. Termasuk juga sampai saat ini banyak              terjadi tindak kejahatan, tindakan asusila yang dilakukan oleh                   orang tua, orang muda, maupun anak di bawah umur. Apakah          semuanya itu tanda-tanda atau petunjuk bahwa Hari Tuhan                    segera tiba atau Kristus segera datang kedua kali?
Sumo        :    Kalau sebagai tanda atau petunjuk, jawabannya bisa ya atau                   sebaliknya tidak. Ya , artinya  hal   itu   sebagai  tanda yang                       mengawali, atau petunjuk dari tuhan bahwa Ia akan datang.               Atau sebaliknya  tidak,  karena  hal-hal tersebut merupakan                      peristiwa alam, yang bisa murni pengaruh alam atau sebaliknya               keteledoran   manusia.  Disisi  yang lain, bukankah manusia               memang tidak tahu masa atau waktu kedatangan Kristus ke-2.                       Untuk itu manusia tidak perlu mereka-reka kapan datangnya.
Bambang  :    Kalau seperti itu, terus apa bedanya kita orang percaya dengan                orang yang tidak percaya kepada Kristus. Semua orang khan                       sama-sama tidak tahu waktunya.
Sumo        :    Itulah yang menjadi pergumulan kita. Kita sebagai warga Gereja              yang percaya kepada Kristus, serta menjadi milik Kristus. Apa                         bedanya orang percaya dengan orang yang tidak percaya dalam                       menerima atau “menyongsong” kedatangan Kristus kedua, perlu                        kita bicarakan bersama. Untuk itu mari kita melanjutkan                 pembicaraan kita dalam PA saat ini.
Bambang  :    Ayo, Pak Sumo. Saya siap, Mari kita berPA sekarang...

D. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

1.  Warga Gereja dipanggil untuk berjaga-jaga dan siap menyongsong   kedatangan hari Tuhan di dalam Iman, kasih dan pengharapan (ayat 6 dan          8). Bagaimana pengertiannya, jelaskan!
2.  Warga Gereja dipanggil untuk saling menasehati dan saling membangun       (ayat 11). Apa manfaat dari tindakan ini secara sosiologis (persekutuan),          maupun paedagogis (pendidikan)? Apa isi nasihat dan sikap membangun   tersebut?
3.  Apa yang dapat kita lakukan kepada orang-orang malam atau orang-orang kegelapan dalam konteks advent ini?


E. APLIKASI – PENERAPAN.


Tidak seorangpun tahu, kapan dan di mana Tuhan Yesus datang untuk kali yang terakhir. Dia sendiri juga tidak pernah mengatakan apalagi menentukan secara tepat kapan hari kedatanganNya untuk kali yang kedua atau yang terakhir. Tetapi yang jelas, Tuhan Yesus pasti akan datang. Sebab Ia sendiri telah berjanji untuk itu. Mungkin kita protes: Tuhan kok tidak blak-blakan saja mengatakan kapan hari kedatanganNya? Tetapi justru di sinilah letak kehebatan Tuhan. Dengan tidak menyebutkan waktu kedatanganNya, Ia mau supaya setiap anak-anak Tuhan, warga Gereja belajar untuk percaya dan terus berharap bahwa satu Saat Tuhan akan kembali. Seandainya Tuhan telah mengatakan kapan saat kedatanganNya, pasti masa antara kedatanganNya akan diwarnai oleh keadaan yang benar-benar kacau, sebab setiap orang mungkin akan hidup dalam dosa, lalu sehari sebelum kedatangan Tuhan, semua Gereja penuh, Masjid penuh, Pura dan tempat-tempat Ibadah akan penuh. Dalam sehari semua orang akan bertobat, sebab besok Tuhan Yesus akan segera datang. Dengan tidak menyebutkan saat kedatanganNya, warga Gereja bahkan semua orang dipanggil supaya setiap saat berjaga-jaga, hidup dalam Iman, hidup saling mengasihi, hidup saling menasehati, hidup saling membangun maksudnya supaya kapanpun Tuhan datang, umatNya sedang berada dalam keadaan siap dan tetap hidup saling membangun antara satu dengan yang lain. Mereka saling membangun Iman antara satu dengan yang lain. Jika ada yang jatuh, yang lain mengangkat dan menasehatinya lalu kembali ke jalan yang benar. Di Minggu Advent Pertama ini, kita terus berjaga-jaga, kita terus saling menasehati, kita terus dapat menjadi contoh bagi orang-orang gelap atau anak-anak malam dalam hal melakukan kebaikan. Apabila Kristus benar-benar datang, kita di dapati dalam keadaan tidak bercela, tetap setia dan menyenangkan hati Tuhan, Amin.