Thema
Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu,
08 Maret 2015
Bacaan : Matius 11:1-30
Nats :
Jemaat Yang diberkati Tuhan.
Pada hari ini
kita berada pada Minggu sengsara yang ke-4 dalam tahun – kalender Gerejawi.
Pada minggu-minggu sengsara ini seluruh warga Gereja diajak untuk
berkontemplasi atau masuk ke dalam perenungan pribadi yang mendalam tentang
arti dan makna penderitaan Tuhan Yesus bagi kita. Pada Minggu-minggu sengsara
yang berjumlah 7 (Tujuh) Minggu ini seluruh warga Gereja dipanggil untuk masuk
pada proses belajar dan memahami dengan sungguh-sungguh tentang mengapa Tuhan
kita harus mengalami penderitaan yang sedemikian berat di mana penderitaan itu
berpuncak pada peristiwa penyalibanNya di atas bukit Tengkorak atau bukit Golgota.
Jika melihat
relitas yang teramat sulit dalam kaitan dengan penyelamatan umat manusia oleh
Allah ini, Mungkin kita akan melontarkan berrbagai pertanyaan mendasar :
“Mengapa Tuhan menggunakan cara-cara yang terlalu sulit untuk menyelamatkan
umat Manusia dari perhambaan dosa?”,
“Tidak adakah cara lain yang lebih mudah untuk membebaskan umat manusia
dari kuasa dosa?”
Mengenai pertanyaan-pertanyaan ini
Alkitab dalam Yohanes 3:16 menjawab : “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia
ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang
yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.
Tindakan
penyelamatan yang dilakukan oleh Allah bagi umat manusiadengan menempuh cara
yang tidak mudah ini menunjukan kasih
Allah yang kadang-kadang tidak sanggup diselami oleh akal pikiran kita. Tetapi
apakah benar bahwa tindakan Allah ini sama sekali tidak terselami oleh pikiran
kita? Sekiranya Roh Kududs bekerja di
hati seluruh warga Gereja, maka setiap insan yang mencoba memahami isi hati
Allah akan dengan mudah dapat mengerti mengapa Allah menempuh cara yang teramat
sulit dan berliku-liku dalam menyelamatkan umat manusia, menyelamatkan saudara
dan saya.
Allah tidak mau
menempuh cara yang mudah, Ia menempuh cara yang sulit, cara yang penuh dengan
pengorbanan bahkan pengosongan diri sebagai Allah dan menjadi serupa dengan
kita. Jika Allah menempuh cara yang mudah dalam menyelamatkan kita, maka itu
tidak akan memberi kontribusi apa-apa dalam kehidupan Kristiani kita. Keselamatan
yang dari Allah akan dipandang sebagai “Anugerah yang Murah” bahkan tidak ada
artinya sama sekali. Allah mengasihi kita dengan cara yang sangat sulit
sehingga kita belajar mengimani bahwa ternyata kasih dalam pandangan Kristiani
bukanlah “Kasih yang bersifat murahan”,
Kasih dalam pandangan Kristiani adalah kasih yang sangat mahal, di mana
kasih itu menuntut pengorbanan, pengosongan diri dari setiap orang yang ingin
mengalaminya. Kasih sayang Allah dalam kaitan dengan keselamatan kita adalah
kasih yang sarat – penuh dengan Pendidikan. Kasih Allah bagi kita adalah kasih
yang tidak diperoleh dengan gampangan. Sebab apabila kita memperoleh Sesuatu
dengan gampangan, maka dapat dipastikan bahwa kita tidak akan pernah begitu
menghargainya, tetapi apabila kita memperoleh sesuatu dengan cara yang sangat
sulit, maka sangat besar kemungkinan bahwa kita akan menghargai apa yang kita
peroleh, memelihara dan menjaganya dengan baik. Kasih Allah yang dinyatakan
melalui proses yang teramat sulit itu merupakan pendidikan yang berharga bagi
kita agar kita tidak memandang kasih Allah sebagai kasih yang murahan saja.
Kasih Allah mendidik kita untuk mempraktekan kasih dengan cara serta pemahaman
yang benar sesuai dengan maksud-maksud Allah. Terkadang untuk memahami kasih Allah
itu kita harus mengalami penderitaan, pendidikan yang keras dari Allah supaya kita benar-benar
mampu untuk menghargai kasih itu.
Jemaat Yang
Diberkati Tuhan.
Dalam perikop
bacaan Matius 11:1-30 Tuhan Yesus menggambarkan tentang orang-orang yang datang
kepada Tuhan Yesus dengan tujuan untuk melihat tentang seperti apa rahmat
Allah, kasih Allah yang dinyatakan kepada umat manusia. Ada yang berpikir bahwa
sosok yang menyatakan kasih Allah itu sebagai seorang yang muluk-muluk,
indah-indah, enak-enak dan seterusnya. Malah ada yang datang kepada Tuhan Yesus
dengan pikiran bahwa orang yang menyatakan kasih Allah yang sedemikian
menggemparkan itu adalah sosok yang berpenampilan mewah, berpakaian dengan
dandanan ibarat pejabat duniawi yang sering mereka lihat (ayat 7-8).
Tuhan Yesus
menepis semua pandangan orang-orang yang datang untuk melihatnya secara dekat
dengan tujuan-tujuan serta pemahaman yang salah. Bahkan Tuhan Yesus mengecam
orang-orang yang dengan sengaja salah dalam
memahami tentang pola, bentuk, metode dan cara yang ditempuh oleh Tuhan
dalam menyatakan kasihNya untuk menyelamatkan umat manusia dari cengkeraman
dosa (ayat 11-24). Tuhan Yesus tahu bahwa banyak orang yang datang kepadaNya
bukan datang untuk mendengar tentang kasih yang sesungguhnya dari Allah. Mereka
datang hanya ingin melihat, kalau-kalau kasih dan model kehidupan beriman yang
salah bahkan mereka terapkan dan praktekan selama ini sama dengan apa yang
diterapkan dan dipraktekan oleh Tuhan Yesus.
Penekanan kasih pada poros pementingan diri sendiri ternyata berbeda
dengan apa yang dipraktekan oleh Tuhan Yesus yang menekankan tentang kasih dan
kehendak Allah yang rela berkorban dan mengosongkan diri bagi kepentingan serta
kebaikan orang banyak. Orang-orang yang tidak sungguh-sungguh memahami kasih
dalam praktek serta pandangan ini pasti akan kecewa dan meninggalkan Tuhan.
Tetapi Tuhan Yesus sudah mengingatkan bahwa : “Berbahagialah orang yang tidak
menjadi kecewa dan menolak Aku”.
Jemaat Yang
diberkati Tuhan.
Pada bagian
akhir perikop bacaan (ayat 27-30) Tuhan
Yesus menyatakan bahwa diriNya adalah sosok perwujudan Allah yang sangat
mengasihi semua orang. Ia Mengasihi orang-orang yang letih, lesu dan berbeban
berat karena dosa. Ia memanggil orang-orang itu untuk datang kepadaNya dan menerima
rahmat pengampunan dari Allah supaya kuk atau beban yang lama dilepaskan. Kuk
atau beban lama yang dipasang oleh Iblis adalah ibarat Bom waktu yang ketika
dipikul akan meledak dan menghancurkan, memporakporandakan kehidupan
orang-orang yang memikulnya.
Lalu apakah
ketika kita datang kepada Tuhan untuk menerima kasih dan rahmatNya kita tidak
lagi memikul kuk? Dengan gamblang dan
jelas Tuhan Yesus mengatakan : “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah
pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat
ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."
(Ayat 29-30).
Ketika seseorang
memikul kuk yang berisi bom waktu, ia akan tidak akan pernah merasakan
ketenangan. Jiwanya berada dalam ketakutan sebab setiap saat ia terancam mati
oleh sang bom waktu dan hidupnya menjadi sia-sia. Inilah yang membedakan antara
kuk yang dipasang oleh Iblis dengan kuk yang diberikan oleh Tuhan Yesus sebagai
wujud kasihNya. Kuk yang dipasang oleh Iblis adalah kuk perbudakan yang sarat,
penuh dan berat dengan beban-beban yang menghancurkan kehidupan. Tetapi kuk
yang diberikan oleh Tuhan bagi orang-orang yang memahami dengan benar tentang
kasihNya adalah kuk yang ringan, kuk yang bermuatan panggilan serta tanggung
jawab untuk memikulnya sebagai jawaban atas kasih dan rahmat yang terlebih
dahulu telah dinyatakannya bagi mereka yang dengan rela mau memikulnya. Kuk itu
ibarat berisi barang-barang berharga emas, perak, berlian yang memberikan
kehidupan dan bukan kehancuran.
Saudara dan saya
adalah orang-orang yang sedang memikul kuk tanggung jawab dan bukan kuk
perbudakan dosa. Kuk itu adalah simbol tanggung jawab yang harus kita kerjakan
sebagai anak-anak Allah. Kuk yang diberikan kepada kita adalah simbol bahwa
kita sedang mengaplikan kasih kita kepada Tuhan dan sesama melalui penderitaan
dan sengsara Tuhan kita Yesus Kristus. Kasih Allah dinyatakan kepada kita
dengan pengorbanan yang tiada taranya. Sebagai umat Tuhan, marilah kita memikul
tanggung jawab itu dengan baik. Pada Bulan Pendidikan ini kita diarahkan untuk
berkorban untuk dunia pendidikan Kristen sebagai wujud tanggung jawab kita
dalam memberitakan kasih Tuhan dalam dunia pendidikan. Tuhan menghendaki bahwa
melalui kesengsaraannya kita memperoleh pendidikan yang baik bahwa Tuhan sudah
berkorban dan kitapun dipanggil untuk berkorban. Tetapi pengorbanan yang kita
lakukan tidak sia-sia. Pengorbanan itu adalah wujud bahwa kita sungguh-sungguh
menjawab Ya dan Amin atas pengorbanan Tuhan bagi Kita. Amin.
Pdt. Wayan:
Boleh dikembangkan lebih luas sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum Bulan
Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Bahan Khotbah Minggu, 15 Maret 2015
(Alternative 1)
BACAAN : KISAH
PARA RASUL 26 : 24 – 32
Thema Khusus : “Kejarlah ilmu dan raihlah hikmat yang
menuntun kepada Kehidupan“.
A.
Pemahaman
Teks.
Kisah Para Rasul 26 mengisahkan pengadilan atas Paulus di Kaisarea. Dalam
kasus penahanan dan pengadilan atas diri
Paulus di Kaisarea itu (Kisah Rasul 21 –
28 ), kita menemukan sosok-sosok yang berpengaruh (dan tentunya
terpelajar/berilmu) yang menangani kasusnya. Mereka itu antara lain :
1. Mahkama
Agama (MA) atau Sanhedrin, yang beranggotakan
71 orang dibawah pimpinan Imam Agung atau Imam Kepala. Mereka
orang-orang terpandang dan terpelajar dari tiga golongan : Para Penatua (wakil rakyat
yang paling terhormat dan tidak berasal dari keturunan imamat), Para
Mantan Iman Agung, dan Para ahli Kitab Suci (kebayakan
dari golongan orang-orang Farisi). Pada
zaman Prokurator Romawi, MA menjadi alat
kekuasaan administrasi maupun keadilan yang tertinggi; mengatur soal-soal
keagamaan secara bebas. Hanya soal politik saja
yang dilarang. Mereka bersekongkol
untuk membunuh Paulus,
tetapi mereka tidak punya wewenang, kecuali jika sudah disahkan oleh seorang Prokurator.
2. Felix
dan penggantinya, Festus. Keduanya adalah Prokurator Roma di Yudea dan
sekitarnya. Sebagai
Prokurator yang ditunjuk langsung oleh Kaisar Romawi, mereka bukan orang sembarang. Mereka
adalah kaum terpelajar, yang dipandang cakap menangani masalah pemerintahan disalah satu wilayah
kekaisaran Romawi. Festus menggantikan Felix, menjadi gubernur Romawi atau
Yudea pada tahun 60 – 62 SM. Untuk
mengambil hati orang Yahudi, ia membiarkan
Paulus tetap dalam penjara (Kis. 24:27). Festus, menangani perkara Paulus yang
nyaris dibunuh dalam persekongkolan para imam.
3. Agripa,
lengkapnya Herodes Agripa II. Selain sebagai raja, ia
juga “ahli” mengenai adat istiadat dan masalah orang Yahudi (Kis. 26:3). Ia
beserta saudara perempuannya, Bernike berkesempatan mendengar kesaksian Paulus
ketika melakukan kunjungan kehormatan kepada Festus pada waktu diadakan upacara
resmi menyambut Festus sebagai wali negeri Yudea yang baru, menggantikan Felix.
Setelah mendengar pembelaan Paulus, ia tahu bahwa sebenarnya Paulus tidak
bersalah; kesaksiannya sesuai dengan adat istiadat Yahudi, sehingga dapat
dibebaskan seandainya Paulus sendiri tidak “memperpanjang” masalahnya dengan
naik banding kepada kaisar.
Menghadapi para
petinggi kala itu, tidak mudah bagi Paulus untuk bersoal jawab dengan mereka
seandainya ia tidak memiliki (ilmu) pengetahuan yang tinggi. Paulus adalah
seorang sarjana Yahudi. Ia adalah murid Gamaliel (Kis. 22:3), Seorang anggota
Mahkama Agama. Argumentasinya di hadapan para pendakwa dan penguasa kala itu
menunjukkan ke dalaman pengetahuan Paulus akan adat istiadat dan keyakinan
keyahudian kala itu, tetapi juga akan struktur kemasyarakatan dibawah kendali
Romawi. Permintaannya untuk naik banding kepada Kaisar menunjukkan kejelian
Paulus memanfaatkan prosedur birokrasi kekaisaran untuk menjadi sarana
pemberitaan injilnya, ketimbang dikembalikan kepada bangsa Yahudi yang semata
hendak membunuh dia untuk mematikan pemberitaannya. Festus sendiri mengakui
betapa dalamnya pengetahuan Paulus (ayat 24).
Jangan lupakan
pula salah satu tokoh terpelajar yang berada di “balik layar” dalam menuturkan
kisah Paulus ini, yakni : Lukas. Lukas adalah penulis Kitab Kisah Para Rasul
dan Injil Lukas (Lihat: Kis. 1:1 dan Lukas
1:1-4). Lukas bukan orang Yahudi, ia kira-kira sesuai dengan Paulus dan
menjadi kawan tetap Paulus selama 20
tahun terakhir dari kehidupan Paulus. Ia
seorang dokter dan sarjana yang berbakat, dan dari dalam kehidupan kristennya
terpancar sifat-sifat yang terpuji seperti kebaikan, kesetiaan, iman dan
sukacita. Kedua suratnya ini ditujukan kepada Teofilus (yang berarti kesasih
Allah). Tidak begitu jelas siapa Teofilus, namun dari sapaan Lukas kepadanya
sebagai “yang mulia” (Lukas 1:1) nyatalah bahwa dia seorang terpandang.
B.
Hal-hal
yang dapat dikembangkan dalam khotbah :
1.
Para pendakwa Paulus
adalah orang-orang terpelajar tetapi tidak berhikmat. Mereka menggunakan
kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri.
2.
Paulus seorang yang
berilmu, tetapi menggunakan ilmunya dibawah terang hikmat Allah.
3. Ilmu
pengetahuan makin berkembang, tetapi kualitas kehidupan manusia makin merosot.
Oleh ulah manusia yang berilmu itu, dunia justru makin mengarah pada
kehancuran. Manusia, karena tidak berhikmat, makin berilmu tapi makin biadap
pula.
4. Sudah
saatnya perkembangan peradaban manusia di masa dating dikendalikan oleh orang
yang tidak saja berilmu tetapi juga berhikmat.
5. Ilmu
pengetahuan pada dasarnya baik, tetapi bila ia dimiliki oleh orang yang tidak
memiliki hikmat (Allah), ia dapat menjadi alat yang sangat berbahaya bagi
kehidupan/kemanusiaan.
Pdt. Feri Sentje, STh, Mohon
dikembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum Bulan
Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Bahan Khotbah Minggu, 15 Maret 2015
(Alternative 2)
BACAAN : Ratapan 3 : 1 – 25
Thema Khusus : Di
balik Sengsara ada didikan
Tuhan
Pengantar
Saudara – saudara yang dikasihi Tuhan Yesus.
Mungkin ketika kita mendengar “ Dibalik Sengsara
ada didikan Tuhan ” kita akan sedikit
tergelitik untuk tertawa; dan sesumbar
berkata : “mana ada sengsara yang bertujuan mendidik manusia, sepengetahuan saya yang namanya sengsara pasti
indikasinya adalah penderitaan dan kesusahan”.
Benarkah demikian?
Sepintas lalu argumen ini dapat
dibenarkan karena ketika seseorang berada pada situasi dan kondisi yang
sengsara, menderita karena makan tidak lagi sesuai dengan seleranya, berhubung berbagai
penyakit yang dideritanya mengharuskan dia untuk membatasi mengkonsumsi makanan kesukaannya,
atau karena permasalahan dalam keluarga, anak – anak yang tidak
mampu lagi dikendalikan, ekonomi
keluarga yang senin – kamis, relasi atau hubungan dengan sesama yang
kurang baik, dan seterusnya; yang akan muncul tinggal “
keluhan yang berkepanjangan “ mengapa hal ini terjadi, apakah salahku, mengapa
Tuhan membiarkan hal ini terjadi ; kapankah persoalan ini berakhir dan seterusnya.
Analisa Teks
Saudara – saudara yang dikasihi Tuhan
Penulis Kitab Ratapan yang baru saja
kita baca saat ini juga diperhadapkan dengan kesengsaraan. Rangkaian
kesengsaraan yang dialaminya begitu jelas diungkapkannya, antara lain :
Ø Tuhan
seolah membawanya dalam dunia kegelapan.
Ø Ia
merasa dipukul berulang – ulang sepanjang hari.
Ø Disekelilingnya
hanyalah kesedihan dan kesusahan.
Ø Dan
karena beratnya penderitaan yang ia alami, dagingnya terasa menyusut dan tulang
– tulangnya seperti terasa patah.
Ø Bahkan
dalam komunitasnya ia dianggap sudah mati.
Ø Dan
masih banyak lagi yang dapat kita simak
dari pasal ini.
Sungguh pengalaman pahit yang
sesungguhnya tidak dapat dipikul seorang manusia biasa, tetapi kemudian ia
menyadari bahwa dibalik semua itu, ia tiba pada sebuah pengakuan dan keyakinan
bahwa : “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis rahmat-Nya.
Selalu baru tiap pagi” ( ayat 22 )
Lalu apa artinya ini saudara....
Aplikasi
1. Penderitaan
dan kesusahan memang tidak memilih siapa dan bagaimana situasinya tetapi hal
tersebut tidak akan berlangsung lama. Sebagaimana Pengkhotbah katakan “ untuk
segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
(
Bnd. Pkh. 3 : 1 )
2.
Memang ketika seseorang
diperhadapkan dengan masa – masa sulit / masa – masa sengsara, rasanya amatlah
berat tetapi hendaklah diyakini bahwa dengan hadirnya penderitaan tersebut
sebenarnya Tuhan Allah sementara membentuk dan mendidik pribadi seseorang
sebagai manusia yang tangguh dan kuat
dalam menghadapi berbagai persoalan hidup ini, karena untuk mencapai kehidupan
yang kekal tidaklah semudah yang kita bayangkan. Sebagaimana untuk memperoleh
Emas yang Murni harus melalui dapur peleburan; demikian halnya hidup ini dihadapan
Tuhan.
3.
Tuhan Allah tidak
pernah berjanji bahwa hidup ini akan selamanya baik, tetapi Tuhan Allah
berjanji akan memberikan kekuatan dikala masa – masa tersulit itu akan dihadapi
oleh manusia dan hal ini ditegaskan-Nya dalam Injil Matius 28 : 20b “ Dan
Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.
4.
Untuk sampai pada
keyakinan bahwa Tuhan Allah itu benar – benar Maha Pengasih dan penyayang,
diperlukan pengalaman iman yang langsung dialami oleh seseorang, baik berupa
pengalaman yang manis maupun pengalaman yang pahit. Kadangkala kita baru dapat
memahami bahwa kasih setia Tuhan Allah yang tidak pernah berubah dan selalu
menopang hidup kita justru ketika masa – masa sengsara atau pergumulan itu
telah berlalu.
Amin.
Pdt. Harun Dike, STh ; Renungan
ini masih boleh dikembangkan sesuai situasi dan kondisi jemaat masing – masing.
Thema Umum Bulan
Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Bahan Khotbah Minggu, 22 Maret 2015
BACAAN : Matius
21:1-11
Thema Khusus :
Jemaat Yang Diberkati
Tuhan.
Kalender
Gerejawi merupakan sebuah rentetan peristiwa yang sangat kronologis atau
berurutan antara peristiwa penting yang satu dengan peristiwa penting lainnya. Rentetan
Kronologi atau urut-urutan dalam Kalender Gerejawi kita berisi tentang bagaimana
Allah menyatakan dan mewujudkan proses-proses penyelamatan bagi dunia yang
dimulai dari tahap yang satu ke tahap yang lainnya.
Masih begitu
terang dalam ingatan kita tentang beberapa waktu yang lalu di mana kita merayakan
peristiwa Natal. Ada sukacita, kebahagiaan di mana kita memperingati kelahiran
Tuhan Yesus Kristus. Pohon dan lampu-lampu Natal menambah meriahnya suasana
memperingati peristiwa kelahiran Kristus. Tetapi saat ini kita sudah berada
pada peristiwa Minggu-minggu yang penuh dengan keprihatinan. Gereja menyebut
Minggu-minggu yang sedang kita lewati saat ini sebagai Minggu sengsara Tuhan
Yesus. Perayaan Minggu-minggu sengsara ini tidak terputus dengan peristiwa
Natal yang baru saja kita lewati. Minggu-minggu Sengsara merupakan kelanjutan
dari peristiwa Natal, di mana setelah Tuhan Yesus Lahir, Ia melanjutkan Misi
Allah dalam rangka menyelamatkan dunia dan manusia dari perhambaan dosa. Kita
tidak bisa membayangkan jika Tuhan Yesus hanya lahir lalu tidak melanjutkan
pekerjaan penyelamatan itu. Jika Misi penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus
hanya sampai pada peristiwa kelahiran, maka karya penyelamatan itu tidak akan
tuntas.
Tuhan Yesus
Lahir, melayani, memasuki Masa-masa sengsara, ditangkap, disalibkan, mati dan
dikuburkan dan sampai pada klimaksnya di mana Ia dibangkitkan dari antara orang
mati merupakan totalitas peristiwa penyelamatan sempurna yang dikerjakan oleh
Allah bagi dunia dan manusia, bagi saudara dan saya. Di dalam rentetan
peristiwa tersebut ada dua sisi kehidupan penting yaitu peristiwa suka dan
duka.
Jemaat Yang
diberkati Tuhan.
Dalam perikop
bacaan Matius 21:1-11, penulis Injil Matius dengan sangat tajam menangkap dan
menjelaskan tentang dua sisi kehidupan itu. Sisi kehidupan yang dituliskan oleh
Injil Matius adalah sisi kehidupan Yesus yang penuh sukacita pada satu pihak
dan sisi kehidupan Yesus yang sangat memprihatinkan pada pihak yang lain.
Pertama : Ayat 2-6
menunjukan sisi kehidupan seorang Raja yang sangat memprihatinkan. Ketika Yesus
memasuki kota Yerusalem untuk dinobatkan sebagai seorang Raja oleh orang
banyak, seharusnya Ia menggunakan kereta kebesaran atau mungkin kereta perang
yang melambangkan kebesaran seorang Raja. Karena demikianlah pada umumnya
terjadi ketika Raja-raja dunia melalui seremonial saat-saat penobatannya sebagai seorang Raja.
Segala kebesaran perangkat istana serta fasilitas yang baik akan diberikan
kepadanya.
Ketika Tuhan
Yesus memasuki kota Yerusalem dan dielu-elukan sebagai seorang Raja, Dia tidak
menggunakan semua perangkat sebagaimana layaknya seorang Raja dunia. Seorang
Raja yang bernama Yesus, Juruselamat hanya mengendarai seekor keledai betina
yang masih muda! Sebuah alat transportasi yang hanya biasa digunakan oleh
rakyat jelata! Maksud apa sebetulnya
yang terkandung dari peristiwa ini?
Maksud yang terkandung dalam seluruh peristiwa ini adalah Simbol
kesederhanaan, kerendahan hati serta ketulusan yang mendalam untuk melakukan
tanggung jawab. Tindakan Mesianik atau Penyelamatan yang dikerjakan oleh Tuhan
Yesus senantiasa berlandaskan kesederhanaan, kerendahan hati serta ketulusan (Dapat
dikembangkan).
Kedua : Serentak pada
saat yang sama sebuah sisi kehidupan yang sangat kontras dengan yang pertama
muncul. Ayat 8-11 menerangkan dengan jelas tentang sisi sukacita yang sangat
luar biasa terjadi di Yerusalem ketika Tuhan Yesus memasuki kota itu. Dalam
peristiwa itu ada kemuliaan serta keagungan yang dialami dan dirasakan oleh
Tuhan Yesus. Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaian
mereka di jalan. Sebagian orang lain lagi memotong ranting-ranting dari pohon
palem dan menebarkannya di jalan-jalan. Orang banyak di kota Yerusalem
berteriak-teriak dengan suara nyaring : “Hosana Bagi Anak Daud!”! Kata-kata seruan ini dapat diartikan dengan :
“Selamatkanlah Kami ya Anak Daud, sebab begitu lama kami menderita!”. (Dapat
dikembangkan)
Kedatangan Tuhan
Yesus di kota Yerusalem membuat kota itu gempar. Ia disambut bukan saja sebagai
seorang Raja biasa, tetapi Ia disambut sebagai seorang Mesias, Juruselamat yang
akan membebaskan Israel dari perhambaan Imperium atau kekuasaan Romawi dan
menegakan kembali tahta kekuasaan Daud. Ketika peristiwa itu terjadi, penulis
Injil Matius tidak menyebutkan adanya Protokoler, Koordinator Lapangan, seksi
pengerahan massa yang bertugas menggerakan massa yang sangat besar jumlahnya.
Semuanya terjadi secara spontan.
Jemaat Yang
diberkati Tuhan.
Pada
Minggu-minggu sengsara dan bulan pendidikan ini beberapa catatan atau pokok penting
yang perlu kita digarisbawahi untuk direnungkan dan dipraktekan, terutama dari
perikop bacaan Matius 21:1-11 yaitu :
1.
Hidup ini penuh
dengan suka dan duka. Apapun situasi kehidupan yang kita alami, mari kita lalui
bersama dengan Tuhan. Tidak satupun sisi-sisi dan pengalaman hidup kita lepas
dari rencana Tuhan.
2.
Peristiwa masuknya
Tuhan Yesus ke Yerusalem sebagai seorang Raja dan Juruselamat mendidik dan
mengajarkan kepada kita tentang betapa pentingnya praktek-praktek kehidupan
yang sederhana, rendah hati dan tulus dalam melakukan tugas-tugas panggilan
kita dalam pelayanan Gereja Tuhan.
3.
Peristiwa masuknya Tuhan Yesus ke Yerusalem mendidik kita
sekalian umatNya untuk tidak menjadi angkuh, arogan atau sombong ketika kita
diberkati dengan kemuliaan, harta benda, pengetahuan dan sebagainya.
4.
Peristiwa masuknya Tuhan Yesus di Kota Yerusalem sebagai
Raja mendidik umatNya untuk tidak “Merasa berkuasa” ketika kita diberikan
tanggung jawab baik dalam pekerjaan umum maupun dalam pelayanan Gereja. Kita
tidak boleh Menindas yang lemah, yang terlihat bodoh dan tidak berdaya.
5.
Peristiwa masuknya Tuhan Yesus sebagai Raja di Yerusalem
dalam kesederhaanNya merupakan kerelaan untuk berkorban dan menyangkal diri dan
memberi diriNya untuk orang lain. Mendidik orang lain untuk mengikuti
teladanNya. Di Minggu-minggu Sengsara
Tuhan ini, Ia memanggil kita untuk menanggalkan keangkuhan, memberikan
perhatian bagi program-program Pendidikan, program-program Penginjilan yang
identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Kerelaan kita berkorban untuk
memperhatikan bidang-bidang seperti Pendidikan dan Penginjilan akan memberikan
ruang di mana dunia akan menjadi lebih baik. Dunia dan seluruh umatNya akan
diselamatkan dan merasakan serta mengalami keselamatan itu dalam sukacita,
Amin.
Pdt. Ar.
Baleona, SmTh; Renungan ini dapat dikembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN
PENDIDIKAN”
Bahan
Khotbah Minggu, 29 Maret 2015
BACAAN : YOHANES 15 : 9 -17
NATS : AYAT 13
Thema Khusus : “BERKORBAN :
KASIH YANG TERBESAR”
A.
Pemahaman teks.
Perikop bacaan
ini berada dalam sebuah bagian besar injil Yohanes, yakni pasal 14 – 17 yang berisikan kumpulan nasehat dan
doa Tuhan Yesus, yang disampaikan khusus kepada murid-murid pada saat-saat
akhir menjelang kematianNya. Maksudnya jelas, yakni memberikan sebuah dasar
pengharapan dan teladan sikap yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan
para pengikut Kristus. Atau dengan kata lain, Kristus sedang mengajarkan sebuah
karakter hidup yang seharusnya dimiliki oleh setiap pengikut-Nya.
Salah satu ciri
penting dari pengikut Kristus sebagaimana yang dikemukakan dalam perikop ini,
adalah hidup di dalam kasih. Oleh sebab itu kepada murid-murid-Nya, Tuhan Yesus
mengatakan : “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi,
seperti Aku telah mengasihi kamu” (ay.
12). Bahkan lebih dari itu, perintah kasih inipun kemudian dijelaskan lebih
lanjut dalam sebuah bentuk nyata, yakni kesediaan untuk berkorban bagi
saahabat-sahabatnya (Yunani : Philoi, secara harafiah bisa berarti “orang yang ia cintai”). Maksudnya jelas, yakni kasih bukanlah
sebuah konsep yang abstrak dan tak terwujud. Tetapi Sebaliknya,
kasih haruslah terwujud dalam sebuah sikap yang bersedia untuk berkorban.
Dalam
uraian di ayat-ayat selanjutnya, perintah Kasih ini memang lebih jauh merupakan
sebuah karakter hidup yang begitu penting sehubungan dengan gelar baru yang
diberikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-muridNya, yakni sahabat : Kamu adalah
sahabat-Ku jikalau kamu berbuat apa yang kuperintakan kepadamu (ay. 14). Dikatakan demikian, sebab dalam
gelar “sahabat” ini memang terlihat adanya transformasi ( Perubahan ) hubungan antara Yesus dengan murid-muridNya. Jika
sebelumnya, mereka adalah hamba yang tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh
tuannya, maka kini mereka adalah sahabat yang bisa mengerti apa yang diperbuat oleh
tuannya, maka kini mereka adalah sahabat yang bisa mengerti apa yang diperbuat
oleh Tuhan Yesus. Hanya saja
transformasi ( Perubahan ) hubungan
mereka dengan Kristus juga harus disertai dengan sebuah sikap, yakni kesediaan
untuk hidup dalam kasih yaitu kasih dalam perspektif atau pandangan Tuhan Yesus.
B.
Pokok
– pokok yang perlu dikembangkan :
1. Tanpa
pengorbanan kita tidak bisa memahami kasih yang
sejati.
2. Kasih
tidak bisa hanya diucapkan. Perikop bacaan menjelaskan
bahwa kasih dalam pandangan (perspektif)
Allah
adalah kasih yang terwujud dalam sebuah realitas di mana setiap umat Tuhan siap berkorban untuk
kemuliaan Tuhan.
3. Kasih
adalah identitas para murid Yesus
dan juga Identitas atau ciri khas yang harus dimiliki oleh umat Tuhan (band Yohanes
21:15-17)
!
Pdt. Hertince Dondo, SPAK, Mohon
dikembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan April : Pertobatan Dan Pengampunan
Bahan
Khotbah Minggu, 12 April 2015
Bacaan : Hosea
2:1-7
Thema : “Allah Mencari Umat
Yang Tidak Setia”
Apa
yang dialami Hosea merupakan sebuah ilustrasi hidup agar dalam pelayanan Hosea:
1. Merasakan
kasih Allah ditengah ketidaksetiaan umat.
2. Merasakan
kehebatan dosa.
3. Merasakan
kasih Allah yang mencari manusia.
Kisah nyata kehidupan pelayanan Hosea merupakan
gambaran/symbol hubungan Allah dengan Israel sama dengan hubungan kita dengan
Allah. Gomer istri Hosea adalah gambaran kehidupan Gereja/orang percaya/umat
yang telah memberontak dan meninggalkan Tuhan.
------------Pdt.A.Y.Sapasuru
STh---------
Mohon dikembangkan sesuai konteks Jemaat
Thema Umum
Bulan April : Pertobatan Dan Pengampunan
Bahan
Khotbah Minggu, 19 April 2015
Bacaan : 1Korintus
15:1-15
Thema Khusus : “Pengampunan
Yesus Kristus dan pertobatan Paulus”
A.
Pendahuluan
1
Korintus 15:1-15 secara umum memuat tentang kebangkitan Yesus dari perspektif
Paulus. Tetapi dalam tulisan paulus ini tersirat bagaimana Ia yang adalah
seorang penganiaya jemaat, sehingga ia menyebut dirinya sebagai yang paling
hina di antara semua rasul. Karena itu penting pada bagian ini untuk memberikan
sedikit latar belakang pemanggilan Paulus
B.
Isi
Inti
dari renungan ini adalah memberikan gambaran kepada jemaat bagaimana kasih
pengampunan Yesus Kristus. Ia tidak menghukum Paulus tetapi mengampuninya, sehingga
Paulus tiba pada titik pertobatan dan kemudian menjadi rasul yang luar biasa.
C.
Aplikasinya
Allah
telah memberikan pengampunan itu bagi kita, siapkah kita menerimanya? Menerima
pengampunan berarti sampai pada titik pertobatan. Dan pertobatan akan memberi
ruang kepada Allah untuk memakai kita secara luar biasa.
Pdt. Onesimus Lantigimo, MTh, Mohon
dikembangkan Sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan April : Pertobatan Dan Pengampunan
Bahan
Khotbah Minggu, 26 April 2015
Thema Khusus :
A.
Pemahaman Teks.
Perikop bacaan Roma 6:1-6
berkaitan erat dengan perikop sebelumnya Roma Pasal 5 yang berbicara tentang
betapa besarnya kasih karunia Allah bagi orang-orang percaya bahkan bagi dunia.
Tetapi Kasih karunia Allah yang begitu besar itu bukanlah sebuah alasan di mana
seseorang dapat berbuat dosa (Yunani, teks asli : a`marti,a = amartia =dosa) dengan sesuka hatinya. Rasul Paulus menekankan bahwa orang-orang
yang telah menerima kasih karunia dan pengampunan justru tidak boleh lagi
bertekun atau suka hidup dalam dosa-dosa masa lalu (ayat 1-2). Paulus
menekankan tentang hidup baru. Menurut Paulus jika seseorang telah bersatu
dengan Kristus dalam kebangkitanNya, maka ia selanjutnya akan mengalami dan
mempraktekan sebuah kehidupan yang sama sekali baru. Orang yang sudah percaya
kepada Kristus berarti ia telah berdamai dengan Allah, dan Roh membebaskan dia
dari kuasa dosa dan kematian. Inilah yang disebut sebagai Pertobatan dan
Pengampunan. Mereka yang bertobat akan menerima pengampunan, sesudah menerima
pengampunan, mereka akan hidup berdamai dengan Allah dan
selanjutnya mereka akan hidup dan menikmati kasih karunia Allah.
B.
Penekanan Khotbah.
1. Dalam Iman Kristen betapa pentingnya arti pertobatan.
Melalui pertobatan maka pintu anugerah pengampunan dan kasih Allah akan berlaku
atas kehidupan yang mengalami pertobatan itu.
2. Kematian dan Kebangkitan Kristus merupakan puncak dari
kasih karunia Allah yang dinyatakan bagi umat Manusia. Tidak akan pernah lagi
ada korban seperti itu untuk menyatakan kasih dan pengampunan Allah.
3. Kebangkitan Kristus sebagai puncak penyelamatan Allah
harus menjadi landasan untuk membangun sebuah kehidupan yang baru. Kehidupan
yang dituntun (Didrive) oleh kehendak Allah.
C.
Aplikasi-Penerapan.
1. Pertobatan sejati
dari orang Kristen akan nyata melalui setiap tindakan dan perbuatan nyata dalam
kehidupan setiap hari. Pertobatan sebagai jawaban atas kebangkitan Kristus
tidak hanya diucapkan dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan serta perbuatan
yang baik.
2. Orang-orang yang bersatu dengan Kristus dan
kebangkitanNya, akan sepenuhnya percaya pada kuasa kebangkitan itu. Mereka
tidak lagi mempercayakan hidupnya, pergumulannya dan segala persoalannya pada
kuasa dosa. Mereka tidak lagi membawa segala persoalan hidup dan penyakitnya
kepada kuasa-kuasa gelap, okultisme (praktek-praktek perdukunan). Mereka akan
selalu hidup bergantung kepada Tuhan, sebab segala kuasa telah takluk dibawah
kakiNya.
Pdt. I Wayan
Norsa Adiwijaya, Mohon dikembangkan sesuai konteks Jemaat
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Bahan
Khotbah Minggu, 03 Mei 2015
Bacaan : Kisah Para Rasul 2:41-47
Thema Khusus : Peranan
Roh Kudus Dalam Pelayanan
Hal
terpenting dalam merayakan hari Pentakosta adalah diingatkannya kembali karya
Roh Kudus yang harus dominan dalam pelayanan pekerjaan Tuhan, sebab
tanpa Roh Kudus maka gereja kehilangan kuasa sama sekali. Tanpa Roh Kudus
gereja akan lumpuh total.
Roh
Kudus memberi kuasa bagi pelayanan keluar atau penginjilan, maupun pelayanan
kedalam. Gereja yang tidak menggantungkan pelayanannya kepada kuasa Roh Kudus,
dan tidak merasa membutuhkanNya dan tidak menghormati-Nya, maka gereja itu
tidak akan bertumbuh.
Pelayanan
keluar, Roh Kudus memberi kuasa untuk bersaksi dan mengadakan tanda-tanda yang
luar biasa. Secara ringkas berdasarkan yang tertulis dalam Kisah Rasul peranan
Roh Kudus dalam pelayanan dapat dijelaskan sebagai berikut,
pertama Roh Kudus penyebab utama dan
satu-satunya bertumbuhnya gereja secara kualitas (mutu) dan kuantitas (jumlah)
(Kis. 2:1-40). Kualitas menunjuk pada pendewasaan rohani jemaat semakin
serupa dengan Tuhan Yesus. Sedangkan kuantitas menunjuk pada jumlah
anggota jemaat yang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan menjadi
anggota gereja. Dalam hal ini kualitas yang harus mendapat tekanan dan
prioritasnya.
Tehnik-tehnik
organisasi dapat menumbuhkan kuantitas jemaat, tetapi tidak bisa menumbuhkan
kedewasaan rohani atau iman.
Kedua, Roh Kudus menciptakan kehidupan
berjemaat yang sehat (Kis. 2:41-47). Tentu saja Pentingnya Peranan Roh
Kudus. Hal ini bisa terwujud kalau
setiap anggota jemaat memiliki Roh yang sama yang menuntun mereka dalam
kehidupan setiap hari. Pertikaian dalam gereja berakar pada keadaan
dimana setiap jemaat memiliki “spirit” yang berbeda sehingga terjadi konflik
horisontal. Roh Kudus akan memberikan “spirit” atau gairah yang sama dalam
kehidupan.
Ketiga,
Roh Kudus juga memberikan segala karunia yang berguna bagi pertumbuhan
jemaat (1Kor. 12-14). Karunia-karunia Roh memiliki pesona kuat, sehingga orang
kafir bisa ditarik masuk ke dalam gereja dan orang yang sudah percaya menerima
penguatan. Tetapi perlu dicatat di sini bahwa karunia tidak signifikan
menumbuhkan kedewasaan, sebab Firman Tuhanlah yang memperbaharui pikiran dan
dimatangkan oleh keadaan atau peristiwa kehidupan setiap hari. Akhirnya Roh
Kudus memberikan kemampuan atau keberanian untuk berbicara (Luk 12:12). Dalam
Kisah Para Rasul dapat kita lihat perbedaan pelayanan Petrus sebelum diurapi
Roh Kudus dan sesudahnya. Dari keberanian berbicara ini (setelah diurapi Roh
Kudus), Petrus memenangkan banyak jiwa dan menjadi kesaksian di hadapan para
penguasa atau pemimpin agama pada waktu itu.
Jadi Roh Kudus memegang peranan penting dalam pelayanan pekerjaan Tuhan.
Tanpa
kuasa Roh Kudus tidak ada pelayanan dan kehidupan yang dapat berjalan dengan
baik.
Pnt. Yulce Moningka, SPAK, Mohon dikembangkan sesuai
konteks Jemaat
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Bahan
Khotbah Minggu, 10 Mei 2015
Bacaan : Keluaran 17 :
8 – 16
Nats :
Thema Khusus : Melayani
Dalam Kebersamaan
Berbagai
persoalan dan tantangan menerpa bangsa Israel dalam perjalanan ke Mesir menuju
tanah Kanaan. Ternyata cara Israel menghadapi persoalan seperti peristiwa Mara,
Elim, Masa dan Mariba menunjukkan kualitas iman Israel yang memprihatinkan,
tetapi dipihak lain Allah tetap menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya menolong
Israel.
Di
Rafidim, umat Israel menghadapi tantangan baru, yakni untuk pertama kalinya
harus berperang dengan orang-orang Amalek yang dating menyerang Israel. Menarik
untuk disimak, apa yang dilakukan oleh Musa di puncak bukit ; Sementara Yosua
memimpin peperangan, Musa di puncak bikit mengangkat tangan dan yang terjadi
adalah Israel lebih kuat, tetapi ketika tangan Musa diturunkan, pihak orang
Amalek menjadi lebih kuat.
Kesan
yang didapat adalah kedudukan Musa menjadi “ penentu “ bagi kemenangan umat
Israel sekalipun dibantu oleh Harun dan Hur. Musa adalah seorang yang penuh
keteguhan, juga penuh semangat yang luar biasa sehingga menghasilkan daya tahan
bagi fisiknya yang membuahkan kemenangan bagi umat Israel.
Selain
sebagai tokoh pemimpin yang mempunyai keteguhan dalam kisah di Rafidim ini,
Musa juga bekerja dengan melibatkan orang lain dan hal ini ternyata sangat
menolong dalam melaksanakan tugas-tugas Musa yang berat. Terbukti dengan
bekerja sama, dimana Harun dan Hur menopang tangan Musa, maka Musa dapat terus
mengangkat tangan sampai matahari terbenam, juga dengan keterlibatan Yosua
dalam memimpin perang, maka Amalek mengalami kekalahan. Musa berkata, “ Tangan
di atas panji-panji Tuhan ! Tuhan berperang melawan Amalek turun temurun.” (
Keluaran 17 : 16 ).
Pertanyaan
bagi kita untuk menyusun aplikasi khotbah :
1.
Dalam
melaksanakan tugas pelayanan di jemaat, apakah teladan yang dapat kita petik
dari perikop di atas ?
2.
Musa
percaya bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang berperang melawan orang Amalek. Apakah
kita yakin betapa pun berat dan besarnya tantangan pelayanan, sesungguhnya
Tuhan ada dipihak kita ?
Pdt. Margaretha Tandumai, STh, Dapat
dikembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Bahan
Khotbah Minggu, 17 Mei 2015
Bacaan : Matius 3:13-17
Nats :
A.
PENJELASAN
TEKS
Pada waktu itu,
terjadi gerakan pembaptisan Yohanes, Yohanes mengajak orang di sekitar
Palestina untuk bertobat dalam rangka menantikan Mesias. Yohanes sedang
mempersiapkan suatu umat kudus. Ketika itu Yesus juga datang ke sungai Yordan,
menggabungkan diri dengan umat kudus. Pembaptisan atas Yesus merupakan
pemunculan-Nya di depan umum, sebagai tanda persiapan-Nya melakukan Pelayanan.
Yesus tidak perlu bertobat, tetapi Dia menyamakan diri dengan orang berdosa
yang sedang mempersiapkan Mesias. Dia mau berada bersama umat Allah yang baru
yang taat. Ketika itu Roh Allah turun atas-Nya dan tidak kepada orang lain. Roh
itu bentuknya seperti burung merpati. Mengapa burung merpati? Karena hanya
burung merpati yang boleh dipersembahkan di Bait Allah dari semua jenis burung.
Pernyataan suara dari sorga, merupakan proklamasi bahwa Yesus adalah Anak
Allah. Ini adalah Pengurapan-Nya.
B.
RENUNGAN
Seseorang yang akan memulaikan pekerjaan
pasti mempersiapkan dirinya dan segala sesuatu yang penting bagi dirinya untuk
pekerjaan itu. Yesus juga sedang mempersiapkan diriNya untuk memulaikan
pelayanan-Nya. Pemunculan-Nya di sungai Yordan merupakan EPHIPHANIA Yesus setelah
pemunculan_nya pada usia 12 tahun di bait Allah. Pembaptisan Yesus memiliki
makna yang berbeda dengan pembaptisan orang-orang lain yang datang di sungai
Yordan. Yesus tidak hendak bertobat, sebab Dia tidak berdosa. Tetapi Dia
menyamakan diri dengan orang yang berdosa dan bergaul dengan mereka kecuali
dalam hal berdosa. Ia mau solider dengan umat Manusia. Yesus mau dekat dengan
manusia untuk memahami keberadaan manusia yang sudah berdosa itu. Dengan
demikian Dia mengetahui cara untuk menyelamatkan mereka. Sebenarnya yohanes
menolak membaptiskan Yesus, tetapi kata Yesus: “Biarlah hal itu terjadi, karena
demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” ayat (15). Ini
adalah ciri khas Yesus, yaitu menggenapi seluruh kehendak Allah. Kehendak Allah
yang paling agung ialah menebus, memerdekakan, menyelamatkan manusia dan dunia.
Untuk memulaikan misi Allah ini, Yesus mempersipkan diri dengan sebaiknya.
Pembaptisan atas Yesus di sungai Yordan
adalah salah satu syarat pembasuhan. Dalam tradisi Yahudi, seseorang yang mau
melakukan tugas mulia dalam rangka penebusan, harus membasuh dirinya. Dengan
demikian Yesus menempatkan diri-Nya sebagai Imam yang siap melakukan pelayanan
penebusan. Hal yang berbeda ialah, Yesus tidak membawa anak domba untuk
disembelih sebagai korban penghapusan dosa. Dia membawa darah-Nya sendiri
sebagai korban penghapus dosa. Darah yang tidak bercacat cela itu menjadi
jaminan keselamatan orang banyak. Dari sungai Yordan, Yesus sudah tahu bahwa
Dia akan mengalami banyak penderitaan dalam rangka penebusan dosa itu. Secara
mental, spiritual dan kesiapan fisik dipersiapkan dengan baik agar rencana misi
Allah terlaksana dengan sempurna.
Jemaat Yang diberkati Tuhan.
Pada saat ini pula kita diperhadapkan
dengan situasi yang hampir sama dengan situasi karya pelayanan Yesus bahwa
dalam mempersiapkan karya misi Allah yaitu pekerjaan pelayanan tentunya kita
mempersiapkannya dengan baik dan melibatkan Tuhan dalam rencana pelayanan kita.
Dalam sepanjang hari pada tahun 2015 ini
masih merupakan misteri pada kehidupan kita dan tentunya pula pada setiap karya
pelayanan kita. Kita tidak bisa menebak apakah yang terjadi pada hari esok di
kehidupan kita dan pelayanan kita. Apakah itu berjalan baik atau menemui
berbagai tantangan-tantangan atau pun persoalan-persoalan. Secara mental,
spritual, dan kesiapan fisik haruslah dipersiapkan dengan baik untuk
menghadapinya.
Pada saat ini kita berjumpa dengan Tuhan
Yesus yang merencanakan misi Allah bagi kita. Kita patut
meletakkan misi kita dalam rancangan Allah yang mulia itu, supaya kita bisa
berhasil. Perjalanan pelayanan kita sepanjang tahun ini masih misteri, mari
kita letakkan dalam misteri Allah. Selamat menikmati hari-hari pelayanan kita
yang penuh berkat dan penyertaan Tuhan. Amin.
Pdt. Doni Semuel Randabunga, STh; Dapat
dikembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Bahan
Khotbah Minggu, 24 Mei 2015
Bacaan : Filipi 2:1-18
Nats :
A. Pemahaman
Perikop.
Surat Filipi
merupakan bagian kitab yang termasuk dalam
kelompok Surat-surat dari Penjara. Disebut demikian karena surat ini
memang ditulis oleh penulisnya yaitu Rasul Paulus ketika ia meringkuk dan
mendekam dalam penjara karena pekerjaan pelayanan yang sedang dilakukannya. Lokasi penjara tempat Paulus dikurung tidak
diketahui dengan pasti. Muncul beberapa dugaan bahwa Paulus mungkin
ditempatkan di penjara Roma, Kaisarea atau Efesus.
Namun, bila mengacu pada Filipi 1:22,
yang menyebutkan tentang 'istana kaisar' maka besar kemungkinan penjara yang
dimaksud adalah penjara di kota Roma
Salah satu
penekanan Paulus dalam suratnya ini adalah tentang bagaimana seharusnya orang
Kristen dalam memerankan kehidupannya. Orang-orang Kristen harus memiliki ciri
khas dan ciri khas kekristenan itu harus membedakannya dengan ciri-ciri
kehidupan yang sedang dinampakan atau yang sedang dilakoni atau diperankan oleh
“orang-orang lain” yang tidak mengenal Tuhan. Dalam perikop bacaan Filipi
2:1-18 tersirat bahwa kebanyakan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan suka
mempraktekan kehidupan yang suka berselisih, terpecahbelah, egois atau suka mementingkan diri sendiri. Hati
dan Pikiran mereka bengkok artinya suka memikirkan hal-hal yang jahat dan
kehidupan mereka sesat dan tidak menuruti jalan Tuhan.
Paulus
mengingatkan Jemaat di Filipi agar supaya mereka tidak seperti orang-orang
kebanyakan itu. Paulus mendorong Jemaat agar mereka rendah hati sama seperti
Kristus, yang walaupun memiliki kuasa dan sifat keAllahan, tetapi Ia rela mengosongkan
diriNya bahkan taat sampai di kayu salib. Jemaat dibentuk oleh kuasa Roh Kudus,
Roh pemersatu untuk mempersatukan Jemaat dengan Kristus dan mempersatukan
anggota jemaat yang satu dengan anggota
jemaat yang lain. Jemaat dipersatukan, dipersekutukan untuk melakukan
tujuan-tujuan yang sama dan mulia yaitu menunaikan tugas-tugas Pelayanan untuk
kemuliaan Tuhan. Jemaat tidak boleh terpecahbelah dan hanya memperhatikan
kepentingan-kepentingan pribadi, Jemaat tidak boleh dikuasai oleh sifat-sifat
angkuh dan sombong, sebab tugas pelayanan hanya mungkin dapat berjalan dengan
baik apabila semua anggota Jemaat benar-benar memberikan hidupnya untuk
dituntun oleh Roh Kudus (Rasul Paulus menyebut ini dengan istilah persekutuan
Roh).
Perikop ini juga
berisi dorongan dari Paulus kepada Jemaat agar supaya mereka tetap kuat dalam
mempertahankan Iman percayanya kepada Tuhan. Mereka harus berani menghadapi
setiap kesukaran oleh karena Iman mereka dengan sukacita, seperti apa yang juga
sedang dialami oleh Paulus (ayat 17).
B.
Isi Khotbah/Renungan – Aplikasi.
1. Warga Jemaat terbentuk hanya karena kasih karunia Allah
oleh dan di dalam Roh Kudus. Karena itu Kehidupan Jemaat harus senantiasa
memberikan tempat bagi Roh Kudus untuk bekerja dan menuntun perjalanan
kehidupan Jemaat.
2. Roh Kudus adalah Roh Pemersatu, Jemaat harus senantiasa
diikat oleh persatuan dan persekutuan yang erat antara satu dengan yang lain.
Tepo asoa (Padoe, Karunsie dan Tambee), Sintuwu Maroso (Pamona) dan Misa Kada
(Toraja) dalam dalam terang serta perspektif (Pandangan) Kristen harus terus
dibangun agar tugas-tugas pelayanan Gereja untuk tujuan-tujuan mulia dapat
terlaksana dengan baik dan dunia menjadi percaya dan bertekuk lutut dihadapan
Kristus.
3. Jika Jemaat senantiasa memberi diri dituntun oleh Roh Kudus,
maka warga Jemaat tidak boleh mengembangkan sifat-sifat kesombongan, angkuh dan
Arogansi. Tidak ada kelas-kelas atau stratifikasi sosial dalam Gereja – Jemaat.
Semua anggota-anggota Jemaat memiliki status yang sama dalam Jemaat bahwa
mereka hanyalah penerima anugerah Allah dan semua Jemaat dipanggil untuk saling
melayani dan juga memperhatikan kehidupan orang lain yang berada diluar Jemaat.
Ini adalah ciri khas orang Kristen yang membedakannya dengan orang lain. Jemaat
harus mengikuti teladan Kristus yang hidup dalam ketaatan.
4. Warga Jemaat harus kuat dan dengan penuh sukacita dalam
menghadapi segala kesulitan oleh karena Imannya. Banyak panggilan serta
tanggung jawab yang harus dilakukan, bukan hanya sekedar ibadah-ibadah kosong,
tetapi Ibadah-ibadah Jemaat haruslah berdampak pada tindakan nyata yang dapat
dirasakan oleh orang lain.
Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, STh;
kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Bahan
Khotbah Minggu, 31 Mei 2015
Bacaan : Kisah Para Rasul
4:23-31
Nats : Kisah Para Rasul 4:31
A.
Pendahuluan.
Suatu hal yang
sangat khas dan penting dalam kitab Kisah Para Rasul adalah tentang pekerjaan
Roh Allah (Teks asli Yunani = pneu,matoj, Pneumatos = Roh
Allah, Roh Kristus atau Roh Kudus yang datang dengan kuasa ke atas orang-orang
percaya di Yerusalem pada hari Pentakosta atau pada hari keturunan Roh Kudus
(Kis 2:1-4). Seluruh peristiwa yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul
menyatakan bahwa Pneumatos atau Roh Allah, Roh Kristus, Roh Kudus, terus-menerus memimpin, menuntun,
menyertai dan menguatkan Gereja serta para pemimpin Gereja dalam melaksanakan
tugas-tugas pelayanannya (Ayat 31). Belenggu, kungkungan penjara dan
penganiayaan yang terus mengancam tidak membuat spiritualitas, semangat dan keberanian
para pemimpin Gereja dan seluruh warga Gereja dalam melayani menjadi kendor
atau berkurang. Dalam bimbingan dan pertolongan Roh Kudus, orang-orang percaya
benar-benar bertumbuh dalam pelayanan. Seluruh warga jemaat aktif dalam
melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan memberitakan firman. Di tengah-tengah
situasi yang sulit bahkan mengancam kehidupan Jemaat, Injil justru semakin
tersebar ke mana-mana dan jumlah orang Kristen bukannya semakin berkurang,
tetapi justru di tengah-tengah kesulitan dan ancaman hukuman mati, jumlah
orang-orang Kristen malah bertambah banyak jumlahnya.
Setelah Petrus
dan Yohanes dilepaskan dari persidangan Mahkamah agama Yahudi (Ayat 23), mereka
bukannya manjadi takut untuk memberitakan Injil, tetapi yang mereka lakukan
adalah kembali kepada teman-teman seiman. Petrus dan Yohanes adalah golongan
pemimpin jemaat mula-mula. Dalam perikop bacaan ini tergambar sangat jelas
tentang adanya ikatan kasih, ikatan bathin dan ikatan persekutuan antara
pemimpin dan warga Jemaat. Ikatan persekutuan itu sangat nyata ketika mereka
berdoa bersama-sama, mereka saling mendoakan dan saling mendukung dalam iman
untuk pekerjaan pelayanan bersama yang sedang mereka lakukan. Warga Jemaat
tidak pasif, mereka tidak hanya memikirkan keselamatannya sendiri-sendiri dalam
menghadapi ancaman. Mereka saling mendukung dalam doa. Mereka memberikan
hidupnya masing-masing untuk ikut memikirkan, menggumuli sekaligus terjun dalam
pelayanan bersama (ayat 24-30). Kunci keberhasilan pelayanan mereka adalah : PERSEKUTUAN,
SALING MENDOAKAN DAN MEMBERIKAN HIDUP MEREKA
UNTUK MELAYANI. Semua akta kehidupan Jemaat ini menyebabkan Roh
Kudus semakin kuat dan luar biasa mau
berkarya ditengah-tengah Jemaat. Roh Kudus senantiasa datang menggoncangkan dan
melepaskan rantai-rantai kemalasan dalam melayani, Roh Kudus atau Pneumatos
senantiasa memberikan semangat baru dan keberanian (Teks Yunani : parrhsi,ajÅ Parresias= Berani, Confidence,
Boldness, kepada
Jemaat untuk melayani Tuhan (Ayat 31).
B.
Pokok-Pokok Khotbah/Renungan – Aplikasi.
1. Untuk menjadi Jemaat
yang bertumbuh dalam
pelayanan, dibutuhkan akta
kehidupan Jemaat yang aktif memberikan
hidupnya untuk melayani.
2. Ikatan bathin dan Persekutuan yang sungguh-sungguh dari warga Jemaat dengan
para pemimpin dalam Jemaat (Pendeta, Majelis, Pengurus-pengurus Kategorial dan
perangkat pelayanan lainnya) akan membuat pelayanan dapat berjalan dengan baik.
3. Mendoakan pekerjaan pelayanan Jemaat bukan hanya panggilan khusus bagi para
pemimpin dalam Jemaat. Seluruh warga Jemaat terpanggil untuk menggumuli
tugas-tugas pelayanan Gereja secara bersama-sama. Hanya dengan cara ini, maka
Roh Kudus, Roh Allah, Pneumatos akan terus bekerja, berperan dan menolong
Gereja dalam melaksanakan tugas pelayanannya. Hanya dengan kunci-kunci ini maka
Roh Kudus akan menggoncangkan bahkan melepaskan belenggu-belenggu kemalasan
yang kerap kali muncul dalam pelayanan bersama.
Selanjutnya Roh Kudus akan memberikan Parresias atau keberanian
bagi Jemaat untuk menghadapi setiap tantangan pelayanan.
Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, STh;
kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Juni : Keluarga Kristen Membangun
Komunikasi
Bahan
Khotbah Minggu, 07 Juni 2015
Bacaan : Efesus 4 :
17- 32
Thema Khusus : Perkataan
Yang Menjadi Berkat
A.
Latarbelakang
Surat
Efesus merupakan surat
Paulus kepada jemaat di
Efesus yang masih melakukan penyembahan
berhala . Surat ini ditulis pada saat
Paulus dalam penjara. Surat ini menggambarkan adanya kerinduan Paulus
agar jemaat Tuhan dapat hidup dalam Kristus. Perikop
Efesus 4:17-32 merupakan
penjelasan bagaimana seharusnya hidup dalam Kristus, Paulus ingin agar jemaat memiliki
iman dan kerohanian yang
kuat baik dalam kehidupan pribadi maupun
persekutuan.
B.
Pendahuluan khotbah
Keluarga dan gereja merupakan wadah yang dibentuk oleh Allah
untuk menyampaikan keinginan hati-Nya
bagi umat-Nya, keduanya memiliki peran untuk mengajarkan kebenaran
tentang Allah. Paulus ingin agar umat
Tuhan menjadi manusia yang baru, baik
dalam perkataan maupun tindakan. Baik
tidaknya sebuah persekutuan dalam jemaat
sebetulnya sangat dipengruhi oleh
kualitas persekutuan dalam sebuah keluarga, ini berarti bahwa pengenalan akan Allah seharusnya dimulai
dari sebuah persekutuan dalam keluaraga
.
C.
Inti Khotbah
Keluarga adalah persekutuan kecil umat
Tuhan yang membutuhkan pembinaan
kerohanian. Orang tua merupakan alat Allah
untuk menyampaikan firmanNya
melaui pendidikan yang benar. Bagian
ini juga merupakan salah satu cara
dalam mendidik anggota keluarga yaitu mendidik melaui perkataan dan
tindakan. Perkataan dan tindakan yang dipraktekan dan dilakukan oleh orang tua
merupakan pendidikan yang nyata bagi anak.
Sikap seorang anak yang paling menonjol adalah sikap suka
meniru akan hal-hal yang baru dan yang sering mereka lihat dan dengar. Oleh sebab itu orang tua haruslah
berhati hati dalam berkata-kata dan dalam
hal melakukan sebuah tindakan.
Setiap keluarga pasti merindukan sebuah kedamaian dan sukacita dalam
keluarga. Hal ini dapat kita peroleh
melaui cara yang diajarkan oleh Paulus dalam pembacaan kita secara khusus pada
ayat 25 dan 29 yaitu membuang dusta dan berkata benar, menghindari perkataan- perkataan kotor / busuk / sia-sia yang dapat
menjadi pendidikan yang buruk bagi anak serta dapat
merusak karakter seorang anak. (Dapat
Menyebutkan Contoh-contohnya ) Bnd Mazmur 34 :
14 dan Amsal 18 : 21 .
Firman Tuhan mengajarkan agar orang dewasa atau orang tua seharusnya senantiasa mengucapkan atau melontarkan kata –kata yang membangun yang dapat
meneguhkan iman Bnd
Mazmur 39 : 2 (Menyebutkan
Contoh ), agar anak-anak yang
melihat dan mendengar dapat memperoleh berkat.
Dengan demikian maka perkataan dan perbuatan kita telah dan akan membawa
berkat bagi keluarga.
Terkait dengan tema bulan ini “
Membangun komunikasi yang Kristiani dalam Keluarga”
Komunikasi merupakan sarana yang tepat
dalam pendidikan baik melalui perkataan
maupun tindakan. Cara hidup atau teladan
hidup yang benar merupakan cara berkomunikasi
kepada anak dan anggota keluarga lainnya. Demikianlah seharusnya karakter anak
dan karakter keluarga Kristen dibentuk.
D.
Penutup
Pendidikan yang dimulai dari perkataan kemudian
diwujudkan dalam sebuah tindakan
merupakan pendidikan yang akan memberikan pengaruh yang besar bagi diri anak.
Orang tua yang adalah orang terdekat dengan diri anak-anak akan menjadi
teladan hidupnya baik sejak kecil maupun ketika seorang anak menjadi
dewasa. Oleh karena itu dalam konteks
ini, maka orang tua dituntut agar
memiliki kehidupan yang baru di dalam Kristus agar ia memiliki keteladanan hidup yang benar dan baik melalui perkataan maupun
perbuatan. Sehingga dengan demikian setiap anggota keluarga memperoleh
berkat atau memperoleh kasih karunia
dari Allah yang adalah kepala utama dalam keluarga dan Gereja. Bnd Amsal
15 : 4 dan 1 Yoh
3 : 18
“ Perkatan yang
berkualitas adalah perkataan yang diwujudkan melalui tindakan yang
mampu memberikan berkat bagi sang pemberi dan penerima pendidikan itu ”
Silva, SPAK ; Dapat dikembangkan sesuai
konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Juni : Keluarga Kristen Membangun
Komunikasi
Bahan
Khotbah Minggu, 28 Juni 2015 (Alternative 1)
Bacaan : Efesus 6 : 1 -4
Nats :
A.
PENDAHULUAN.
Melalui media cetak /
media elektronik kita membaca / mendengar berbagai kasus / persoalan yang
berkaitan dengan kehidupan keluarga. Ada kekerasan dalam rumah tangga, di mana
ayah melakukan tindak kekerasan terhadap isteri dan anak-anak. Ada pula
anak-anak yang menyandera ayahnya karena sang ayah tidak memberikan sejumlah
uang kepada sang anak untuk membeli obat-obat terlarang. Tentu berita tentang
perceraian, suami meninggalkan isteri dan anak-anak, isteri meninggalkan suami
dan anak-anak , menghilang dari rumah orang tua, tidaklah asing bagi kita.
Kita dapat menyebutkan
lebih banyak lagi kasus-kasus / persoalan-persoalan dalam keluarga yang terjadi
disekitar kita .
Pertanyaan adalah :
Ø Mengapa
semuanya ini terjadi ?
Ø Siapakah
sebenarnya yang salah dalam hal ini ?
B.
TAFSIRAN.
Surat kepada jemaat di
Efesus ditulis oleh Paulus untuk mengungkapkan kemuliaan tujuan Allah di dalam
Yesus Kristus dan tanggungjawab gereja untuk mengumumkan dan mewartakan tujuan
Allah ini melalui pemberitaan dan melalui kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, surat
ini di dalam konteks bacaan Efesus 6 : 1 – 4, inginmemberikan gambaran yang
nyata, bahwa Allah di dalam Yesus Kristus sungguh-sungguh menginginkan agar
semua keluarga Kristen memahami bahwa institusi keluarga di mana mereka
tergabung, haruslah sungguh-sungguh merupakan perwujudan yang riil dari
kesatuan kasih dan kesucian sehingga kemuliaan Allah dapat dinampakkan di sana.
Artinya keluarga Kristen adalah kesatuan yang utuh dan yang tidak
terpisah-pisah yang dibangun di atas dasar ketaatan semua anggota keluarga
kepada Allah, di mana kasih maejadi tali pengikat yang kuat untuk
mempertahankan kesucian ini di hadapan Allah, sebagai suatu bukti nyata, bahwa
kita sungguh-sungguh mau meneladani Yesus Kristus yang sangat taat kepada
Allah, Bapa.
Pada ayat 1, penekanan
yang ditonjolkan oleh rasul Paulus adalah masalah ketaatan mutlak seorang anak
kepada orng tuanya. “ Hai anak-anak taatilah orang tuamu di dalam Tuhan “. Ayat
ini mau mengatakan kepada kita, bahwa di dalam keyakinan kita selaku orang
Kristen yang percaya kepada Allah di dalam Yesus kristus adalah : seorang anak
dalam keluarga wajib hukumnyauntuk menaati orang tuanya. Menaati di sini
adalah “ patuh “ dan “ menurut “ kepada
orang tua yang juga telah menunjukkan dalam hidupnya dan dalam keluarganya ( disaksikan
oleh anak-anaknya ) suatu kepatuhan dan yang selalu menurut kepada Allah di
dalam Yesus Kristus.
Ayat 2 -3 ( bacakan ).
Memberikan penghormatan kepada seorang ayah dan sang ibu bagi seorang anak yang
takut akan Tuhan merupakan syarat untuk menikmati umur yang panjang di bumi.
Secara implicit Allah menjanjikan adanya jaminan umur yang panjang di bumi
sebagai balasan dan kekuatan sang anak kepada orang tuanya.
Ayat 4 , Paulus
menuliskan sesuatu yang pada intinya memperingatkan para orang tua ( terutama
bapak-bapak ) agar mereka tidak ( sengaja atau tidak ) membengkitkan amarah di
dalam hati anak-anaknya. Mengapa perintah ini ditujukan mutlak kepada
bapak-bapak ? Bengel berkata “ ada semacam bakat kesabaran yang dimiliki
seorang ibu, sedangkan bapak-bapak lebih mudah terbawa oleh kemarahannya.”
Dalam pasal 3 : 31, Paulus selengkapnya menegaskan, “ Hai bapa-bapa, jangan
sakiti hati anak-anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Menurut Bengel, yang
merupakan malapetaka bagi kaum muda umumnya adalah “ patah semangat “
disebabkan oleh Kristik dan omelan yang berkepanjangan serta disiplin yang
terlalu ketat. Sementara menurut David Smith pengalaman ini dialami juga oleh
Paulus dalam keluarganya.
Kemarahan seorang anak
dalam keluarga akan muncul, ketika mereka menyaksikan bahwa orang tua mereka
dalam hidupnya tidak mampu secara konsisten, menunjukkan suatu teladan
kepatuhan kepada Allah, pada hal anak-anak disuruh untuk patuh tanpa syarat.
Atau anak-anak menyaksikan bagaimana ayah dan ibu mereka, ternyata tidak mencerminkan
suatu kepatuhan kepada Allah dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang
memalukan hati anak-anak. Kemarahan yang muncul di hati anak-anak akan merambat
pada hadirnya pemberontakan anak-anak yang pada akhirnya menjadi tidak taat dan
tidak menurut lagi kepada orang tuanya.
C.
APLIKASI.
1.
Keluarga kristen harus
meneladani keharmonisan antara hubungan Yesus sebagai
anak dan Allah Bapa
yang ada di sorga ( Yohanes 4 : 10; 10 :
30). Melalui doa Yesus terus membangun komunikasi dengan Allah Bapa.
2.
Keluarga Kristen adalah
keluarga yang hidup beribadah, taat dan patuh pada Allah di dalam Yesus
Kristus. Masing-masing unsur di dalam keluarga ayah, ibu, anak-anak tahu tugas,
kewajiban, fungsi dan tanggung jawabnya di dalam keluarga.
3.
Komunikasi timbal balik
yang positif dan konstruktif antara orang tua dan anak anak, anak-anak dan
orang tua, suami dan isteri, hanya akan tercipta apabila keluarga dibangun di
atas dasar kasih Yesus Kristus. Jika tidak, maka yang akan timbul adalah
komunikasi negatif di mana kata-kata kasar, sering menuduh, curiga /tindak
kekerasan menjadi model berkomunikasi.
Pdt. Yarman
Mosau, STh; Mohon dikembangkan sesuai konteks Jemaat.
Bahan
Khotbah Minggu, 28 Juni 2015 (Alternative 2)
Bacaan : 1
Samuel 2:22-26
Thema Khusus : Tanggung
Jawab Orang Tua Bagi Iman Keluarga
Jemaat Tang diberkati Tuhan.
Pada zaman ini
terdapat trend pemahaman yang mengatakan bahwa keluarga yang bahagia adalah
keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak yang ditunjang oleh
kebutuhan-kebutuhan hidup yang serba terpenuhi, cukup bahkan berkelimpahan.
Pendapat ini
tidaklah sepenuhnya salah. Tetapi dalam konteks Kristiani perlu dipahami bahwa
keluarga yang dapat dikatakan utuh dan bahagia adalah keluarga yang dibangun di
atas kebenaran-kebenaran Firman Allah. Firman Allah menjadi dasar dari seluruh
perilaku dan tindakan keluarga. Pemberlakuan gaya hidup seperti ini tidak saja
dipraktekan pada saat keluarga mengalami
saat-saat baik dan bahagia, tetapi itu harus berlangsung setiap saat bahkan
ketika kehidupan keluarga, Rumah Tangga berada dalam keadaan kritis sekalipun.
Kitab 1 Samuel
2:22-26, terutama setelah ayat-ayat sebelumnya menjelaskan tentang kejahatan
anak-anak Imam Eli. Dalam perikop ini kita melihat tentang bagaimana sikap Imam
Eli yang sudah tua itu terhadap perilaku anak-anaknya. Hofni dan Pinehas tidak
saja merampok korban bakaran untuk Tuhan, tetapi mereka juga tidur dengan
perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu pertemuan.
Sebagai seorang
Imam sekaligus dalam perannya sebagai orang tua Hofni dan Pinehas, Imam Eli
seharusnya memiliki beban Moril yang sangat besar dan berat. Pada satu pihak,
bahwa sebagai publik figur dikalangan umat Israel, Imam Eli dituntut untuk
menjadikan keluarganya sebagai teladan, tetapi dipihak lain, Imam Eli tidak
berani secara gamblang bahkan kelihatannya tidak memiliki ketegasan serta niat
yang besar untuk menegur perbuatan dosa yang dilakukan oleh anak-anaknya. Dalam ayat 23 Imam Eli hanya sekadar menegur
anak-anaknya dengan perkataan : “Mengapa kamu melakukan hal yang begitu?
Janganlah begitu anak-anakku...”.
Ucapan-ucapan
Imam Eli yang sekadar menegur anak-anaknya ini sama sekali jauh dari sikap
tegas, padahal perbuatan anak-anaknya sangat jelas-jelas telah menyakiti hati
Tuhan dan menyakiti umat Israel.
Perkataan yang bernada lemah dan seolah tidak berkuasa ini tidak
menimbulkan reaksi positif yang mengakibatkan anak-anaknya berubah dan selanjutnya
menjadi anak-anak yang lebih baik di mata Tuhan dan masyarakat bangsa Israel.
Sejak masa mudanya Imam Eli tidak menggunakan “Power” tenaga, pikiran dan
kekuatannya untuk mendidik anak-anaknya dengan benar supaya menjadi teladan
yang baik bagi orang lain. Imam Eli
membiarkan tingkah laku brutal anak-anaknya sejak mereka masih kecil, maka
akibatnya Imam Eli harus menuai bencana ketika anak-anaknya sudah dewasa dan
pada saat-saat Imam Eli justru sudah menjadi tua di mana tenaga dan pikirannya
sudah sangat terbatas.
Jemaat Yang
diberkati Tuhan.
Tragedi,
Malapetaka dan bencana kehidupan Rumah Tangga yang dialami oleh Imam Eli memberikan
catatan-catatan penting bagi kita :
1.
Selagi Masih ada waktu, kesempatan, tenaga, sebelum
anak-anak kita menjadi dewasa dan menjadi lebih kuat dari orang tua, maka
didiklah mereka sejak masa anak-anak bahkan sejak dari dalam kandungan
(Jelaskan tentang Pendidikan Anak dalam kandungan). Berikan teladan yang baik
bagia anak-anak bahkan seluruh anggota keluarga sehingga mereka mengikuti
teladan itu.
2. Pendidikan
terhadap anak-anak dan keluarga merupakan tanggung jawab yang berlangsung
terus-menerus dalam siklus kehidupan. Membangun kehidupan Rumah Tangga dengan
pendidikan yang baik dan benar sesuai Firman Tuhan tidak hanya berlaku ketika
mereka dikatakan sudah mengerti (Seperti dikatakan banyak orang). Nanti kalau
sudah mengerti baru diajar, dia masih anak-anak kecil jadi biarkan saja dulu
dia nakal dst. Pandangan ini merupakan pandangan yang sangat keliru dan
bertentangan dengan Firman Allah. Amsal 29:17 mengatakan : “Didiklah
anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan
sukacita kepadamu”.
Konsep
pendidikan anak dalam teks Amsal ini tidak mengenal batasan waktu artinya dia
berlaku setiap saat. Bahkan dalam keadaan yang paling kritis, penulis Amsal
mengatakan : “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau
menginginkan kematiannya.” (Amsal 19:18).
Dalam
konteks kehidupan Kristen, banyak kegagalan-kegagalan yang terjadi dalam proses
pendidikan bagi anak-anak kita. Kegagalan-kegagalan itu dapat saja disebabkan
oleh beberapa faktor yaitu :
1. Orang tua tidak lagi mampu menjadi teladan bagi semua
anggota keluarga dan anak-anaknya. Kegagalan ini menyebabkan bahwa setiap
ucapan yang bertujuan mendidik anak-anak tidak lagi memiliki kuasa untuk
membentuk karakter yang baik bagi anak-anak kita.
2. Orang tua lalai dalam memainkan perannya dalam keluarga
baik sebagai Imam maupun sebagai seorang edukator (Pendidik). Melihat
pendidikan dan pembentukan karakter yang baik bagi anak-anak sebagai sesuatu
yang kurang penting, maka akibatnya anak-anak tumbuh menjadi anak-anak yang
brutal dan mengecewakan bagi Tuhan, keluarga dan masyarakat. Akibatnya orang
tua dan anak-ana banyak yang harus mati
secara dini karena perilaku mereka sendiri. Suami, istri dan anak-anak harus
saling mendukung dalam proses-proses pendidikan di tengah-tengah keluarga.
3. Memanjakan anak-anak secara berlebihan. Tindakan ini
sangat berbahaya, sebab perilaku salah sekalipun yang dilakukan oleh anak-anak
akan dipandang benar oleh orang tua, orang tua begitu sayang untuk mengajar dan
menegur anak-anak manja ini. Maka sebagai akibatnya anak-anak tidak lagi dapat
membedakan yang benar dan yang salah dalam kehidupannya. Ini mengakibatkan
kehancuran masa depan keluarga. (Kemukakan contoh-contoh Misalnya Begal Motor
dsb).
Selagi
masih ada waktu, setiap warga Gereja harus memenuhi panggilannya untuk mendidik
anak-anak dan membangun kehidupan Rumah Tangga yang takut akan Tuhan. Kelalaian
Imam Eli dalam mendidik anak-anaknya telah mengakibatkan murka Tuhan atas
keluarganya. Dalam konteks ini benarlah firman Allah dalam Amsal 29:17 yang
mengatakan :
“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan
ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu”.
Pdt. Nurlian Wati Lengka, STh; kembangkan sesuai
konteks Jemaat.




