BAHAN PA DAN RENUNGAN IBADAH EVANGELISASI
Bahan PA Minggu ke-3 Oktober (Teologi Kerja)
Bacaan : Kolose 3:18-25
Nats/Thema : Memberi Arti Terhadap Kerja
A. Pengantar.
Perikop bacaan
hari ini merupakan berintisarikan tentang ajaran yang benar bahwa Kristus
sanggup memberikan keselamatan yang begitu perfec atau sempurna. Keselamatan
itu bukan saja pada soal-soal spiritual atau rohani, tetapi juga Kristus
sanggup untuk menyediakan berkat untuk semua orang dalam berbagai aspek
kehidupannya termasuk berkat atas segala sesuatu yang dikerjakan, asal saja itu
dilakukan dengan benar berdasarkan ajaran serta kehendak Kristus. Segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan
faham-faham atau ajaran dunia akan membuat seseorang semakin jauh dari Kristus,
yang pada akhirnya, berkat yang disediakanNya juga akan semakin jauh.
Melalui Kristus
Allah menciptakan dunia ini, melalui Kristus pula Ia menyelamatkan dan
memberkatinya. Paulus menekankan tentang betapa pentingnya kedisiplinan, baik
dalam keluarga (Ayat 18-21), kedisiplinan dalam hubungan sosial (Ayat 22)
maupun dalam melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kerja. Inilah
kaidah-kaidah praktis – Alkitabiah yang disampaikan oleh Paulus dalam perikop
ini, maka dengan demikian umatNya akan benar-benar diberkati. Sebaliknya bagi
orang-orang yang tidak memiliki disiplin dan melakukan kesalahan dalam
menjalani praktek kehidupan, mereka akan menanggung kesalahan itu. Siapapun dia
yang melakukan kesalahan akanmenerima konsekwensi atau akibat dari setiap
kesalahan yang dilakukannya tanpa terkecuali apapun status serta kedudukan
orang itu. Paulus dalam firman Allah menegaskan bahwa Tuhan tidak memandang
orang, Allah tidak pilih kasih dan memandang muka (Ayat 25).
B. Pertanyaan
Diskusi.
1. Mengapa kita perlu bekerja?
2. Apakah bekerja merupakan sebuah hukuman?
3. Apakah arti atau makna kerja yang selalu kita
lakukan di bidang kita masing- masing
dalam kaitan dengan Iman Kristen?
Keseriusan kita
dalam mengerjakan sesuatu seringkali memang ditentukan oleh makna yang kita berikan
pada pekerjaan tersebut. Konsep inilah yang melatarbelakangi nasihat Paulus
kepada jemaat di Kolose dalam nas hari ini. Secara khusus, Paulus memberikan penjelasan
mengenai pekerjaan para hamba. Ia menasihati mereka untuk memaknai pekerjaan mereka
sebagai pelayanan kepadaTuhanyangpastiakan dibalas-Nya dengan upah surgawi.
Paulus percaya bahwadenganpemaknaan ini, mereka akan mampu mengerjakan pekerjaan
merekadenganberintegritasdantulushati.
Pemaknaan semacam itu bukan hanya berlaku bagi para hamba, namun juga bagi kita
semua dalam mengerjakan tugas apa pun. Tugas harian kita sebagai petani,
pegawai, wiraswasta, pedagang, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya kadang
terasa melelahkan, bahkan menyebalkan atau bahkan membosankan. Adakalanya kita melakukannya
dengan bermalas-malasan. Akan tetapi, kalau kita memaknainya sebagai pelayanan
yang berharga di mata Tuhan, niscaya kita akan terdorong untuk terus
berusaha mengerjakannya dengan segala sukacita dan sebaik mungkin. Inilah
konsep kerja yang benar. Kerja bukanlah hukuman atau malapetaka. Kerja dan
pekerjaan adalah anugerah Tuhan yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Kita bekerja bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi lebih
dalam dari bahwa ketika kita bekerja dengan baik, kita melakukan kebaikan untuk
Tuhan. Kita percaya bahwa dengan bekerja sebaik-baiknya berarti kita menunaikan
sebagian dari tanggung jawab Kristen kita. Kita juga percaya bahwa kerja yang
baik akan mendatangkan upah yang baik dari Tuhan. Upah yang dimaksud adalah
upah atas kerja yang kita lakukan hari ini dan juga upah sukacita pada akhir
zaman. Ini janji Tuhan bagi kita semua. Kita tahu bahwa janji Tuhan itu adalah
ya dan amin, janji itu berlaku untuk selama-lamanya bagi kita,
MEMAKNAI TUGAS SEBAGAI PELAYANAN KEPADA TUHAN MENGGUGAH KITA UNTUK MERAIH
KEUNGGULAN. Amin.
Renungan
Minggu ke-4 Oktober (Kerja, Menuju Kemandirian Dana)
Bacaan : Yosua 18:1-10
Nats/Thema : Mau Berkat? Bekerja Keraslah
Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Jika kita
membaca peristiwa Eksodus dalam kitab Keluaran; bagaimana
Allah membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dengan janji akan kehidupan
baru yang lebih baik di tanah yang berlimpah susu dan madunya yakni tanah
kanaan, maka mungkin saja kita akan mengatakan bahwa Allah terlalu bermurah
hati dan bangsa Israel adalah bangsa yang tinggal tahu terima
beres. Mungkin juga kita akan mengatakan bahwa Allah terlalu
memanjakan umatNya dan tidak mendidik mereka untuk berusaha keras dalam
memperjuangkan sesuatu. Tetapi jika kita membaca serta menganalisa perikop bacaan
kita hari ini secara baik, maka Klaim bahwa
Allah memanjakan umatNya, Israel adalah bangsa yang hanya tahu beres adalah
sebuah Klaim yang sama sekali keliru. Allah bukanlah Allah yang suka
memanjakan. Allah adalah Allah yang maha suka mendidik umatNya. Jika Ia
menjanjikan untuk menyediakan berkat dalam bentuk apapun, Ia mau supaya umatNya
juga bekerja dan berusaha keras untuk dapat memperoleh berkat-berkat itu. Dalam
perikop bacaan hari ini begitu jelas, bahwa Allah mendidik umatNya untuk
berusaha keras dalam meraih berkat tanah pusaka yang telah dijanjikanNya bagi
mereka. Kenyataannya bahwa
setiap suku Israel harus berjuang dan berusaha keras untuk bisa menduduki tanah
Perjanjian itu. Memang, bagi mereka
masing-masing telah ditentukan bagian pusaka yang akan
menjadi milik mereka. Tuhan telah telah menentukan
wilayah-wilayah mana yang akan menjadi milik pusaka dari masing-masing suku, tetapi mereka tidak bisa tinggal
diam, mereka harus berjuang untuk merebutnya. Allah yang
mendidik umatNya untuk berjuang menjadi semakin tampak nyata Ketika
bangsa Israel masih belum juga melakukan apapun untuk merebut tanah pusaka itu.
Dengan keras dari Tuhan, Yosua
menegur mereka “berapa lama lagi kamu
bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan Tuhan Allah
nenek moyangmu?” (ay 3). Apakah teriakan
ini terlalu kejam? Apakah teriakan ini tidak berperikemanusiaan? Atau Apakah
teriakan ini telah menyinggung perasaan seseorang atau bahkan satu bangsa?
Bagi
orang-orang yang anti-edukasi atau anti
terhadap didikan, teriakan ini akan dianggapnya sebagai sebuah teriakan
penghinaan! Bagi orang-orang yang membenci didikan serta berpola hidup manja
dan hanya suka mendengar yang enak-enak saja, teriakan ini akan dianggapnya
sebagai sebuah teriakan yang mengoyak harga dirinya. Dengan teriakan ini
iamerasa ditindas dan orang yang menyampaikan teriakan itu akan segera diklaim
sebagai sosok yang tidak berperikemanusiaan.
Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Teriakan orang
fasik sangat berbeda dengan teriakan Tuhan. Teriakan Tuhan adalah teriakan yang
mendidik, teriakan yang menyadarkan supaya umatNya kembali kepada jalan yang
benar, jalan yang memberinya kehidupan, jalan yang mengembalikan martabat
kemanusiaannya. Sedangkan teriakan orang fasik adalah teriakan yang
menghancurkan! Ketika Tuhan berteriak melalui mulut hambaNya, itu berarti ada
sesuatu yang kurang beres! Perjuangan umatnya yang semakin melemah karena
kemalasan dalam mencapai apa yang telah disediakan Tuhan harus dipanaskan,
dibangkitkan dan dikobarkan kembali.
Dalam teks dan konteks bacaan kita menggambarkan bahwa memang
berkat Tuhan sudah
disediakan, Tuhan sudah tentukan, dan
Tuhan juga telah memberi jaminan bahwa itu akan mereka terima, tetapi itu tidak
akan datang dengan sendirinya, mereka harus berjuang untuk bisa meraihnya.
Sering
kali, dalam kehidupan bergereja, sebagai umat pilihan, umat yang percaya kepada
Tuhan, kita menyalahartikan kasih dan berkat Tuhan. Banyak orang cenderung
berpikir bahwa sebagai umat pilihan, tentu Allah telah menyediakan berkat yang
melimpah. Pemikiran ini Tentu ini tidak salah. Tetapi pandangan seperti ini
sering menggiring kita pada pemahaman “asal percaya pada Tuhan semua akan aman,
asal beriman kepada Tuhan maka semua akan dicukupkan, Tuhan akan menyediakan
segala sesuatu, dan umatNya tinggal
meminta saja. Banyak orang berpikir
bahwa dengan beriman kepada Tuhan maka secara otomatis hidup akan bahagia”. Pemahaman
inilah yang dikatakan oleh Yakobus sebagai Iman yang mati yaitu iman yang hidup
tanpa perbuatan adalah mati atau sia-sia (Yakobus
2:26
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa
perbuatan-perbuatan adalah mati).
Pandangan
seperti ini adalah pandangan yang keliru, ini adalah bentuk iman yang buta.
Makanya tidak sedikit orang percaya yang menganut pandangan ini menjadi stress
berat, menjadi rapuh imannya, ketika
menyadari bahwa hidupnya tidak lebih baik dari kehidupan orang-orang yang tidak
percaya. Jika pandangan seperti ini dibiarkan berkembang maka kita akan menjadi
orang-orang yang malas, berdiam diri, hanya mampu
bertadah tangan, dan tidak mau berusaha keras untuk
memperjuangkan kehidupan meraih berkat Tuhan.
Paulus dalam
pelayanannya pernah menghadapi kehidupan jemaat yang seperti ini, yang hanya
mau menerima tanpa mau bekerja keras. Terhadap orang-orang seperti ini Paulus
dengan tegas berkata “jika seorang tidak
mau bekerja, janganlah ia makan”(2 Tes 3:10). Ini berarti bahwa setiap
orang yang mau menikmati kasih karunia dan berkat Allah tidak bisa hanya berdiam diri dan bermalas-malasan apalagi hanya bertadah
tangan untuk menerima sesuatu dari orang lain. Umat Tuhan
dipanggil
untuk terus-menerus menindaklanjuti
doa dan permohonannya dengan usaha dan kerja keras. Kekristenan tidak
mengajarkan seseorang untuk hidup malas dan tidak mau
berjuang.
Umat Tuhan jangan pernah menyalah artikan kasih
karunia Allah. Ia memang menyediakan berkat dan kelimpahan yaitu tanah
yang subur, susu dan madu bagi umat Israel, tetapi mereka harus berjuang untuk
mendapatkannya. Allah memang menyediakan kelimpahan berkat bagi setiap orang,
tetapi kelimpahan berkat itu harus diperjuangkan dengan tekun. Allah
telah menyediakan masa depan yang cerah bagi setiap orang yang percaya
kepadaNya, Allah telah menjamin bahwa hidup setiap orang yang berharap
kepadaNya akan terpelihara, Allah juga berjanji bahwa ada banyak berkat
tersedia bagi mereka yang beriman kepadaNya, hanya ingatlah satu hal bahwa
semua yang Allah sediakan itu tidak akan menjadi milik kita jika kita hanya
berdiam diri dan bermalas-malasan saja. Jika anda ingin berkat, maka mintalah
kepada Allah lalu bekerjalah dengan giat untuk meraihnya. Amin.
Renungan
Minggu ke-5 Oktober (Teologi
Pengharapan)
Bacaan : 2 Raja-raja 5:1-14
Nats/Thema : “Allah Itu Luar Biasa”
A. Pengantar
Perikop.
Relasi atau
hubungan bangsa-bangsa yang bertetangga tidak selamanya berjalan baik. Hal
serupa juga sedang dialami oleh bangsa Israel dengan bangsa Aram dalam kitab
Raja-raja, di mana saat ketika peristiwa dalam perikop ini terjadi, hubungan politik
Israel dan Aram rupanya sangat kurang harmonis. Peperangan demi peperangan
masih terus berlanjut. Nabi Elia telah terangkat ke sorga, dan sebagai gantinya
munculah Elisa yang memiliki roh Elia (2:15). Pasal-pasal awal dalam 2
Raja-raja menceritakan perbuatan Elisa yang menunjukkan kenabian serta
kemampuannya dalam melakukan berbagai perkara sebagai abdi Allah. Secara
khusus, 2 Raja-raja 5:1-14 mengangkat kisah tentang Naaman, panglima tentara
Aram yang badannya putih karena kusta (bdk. 5:27). ‘Kusta’ dalam berbagai
cerita Perjanjian Lala ada kalanya dipakai untuk menjelaskan penyakit yang
tidak diketahui penyebabnya dan berhubungan dengan sesuatu yang gaib. Perlu
diperhatikan di sini, bahwa bagi orang-orang Israel, kusta adalah penyakit yang
najis dan seorang yang sakit kusta harus dilenyapkan atau diasingkan dari
masyarakat (Im. 13, 14). Tetapi rupanya Naaman yang sakit kusta itu dapat
menghadap Rajanya (2 Raja-raja 5:4). Tidak disebutkan nama Raja Aram saat itu,
tetapi kemungkinan adalah Benhadad, sedangkan raja Israel yang berkuasa adalah
Yoram, yang naik tahta setelah kematian Ahazia (bdk. 2 Raja-raja 1:17). Ada
kemungkinan perbedaan pemahaman mengenai kusta bagi orang Israel dengan orang
Aram sehingga Naaman diperbolehkan berada di istana, atau hal itu terjadi karena
kedudukan Naaman sebagai panglima yang ‘terpandang … dan sangat disayangi’
oleh Raja Benhadad, dan mungkin juga Naaman begitu berjasa bagi negaranya,
bangsa Aram ketika itu (5:1).
B. Pertanyaan
Diskusi.
1. Adakah sesuatu yang menarik dari Kisah
kesembuhan Naaman dalam Perikop
Bacaan kita tadi?
2. Bagaimanakah sikap kita jika kita diminta
untuk melakukan sesuatu yang kelihatannya
tidak mungkin dalam kehidupan kita?
3. Dalam hal-hal apa saja kita bisa menyaksikan
bahwa Allah itu Luar biasa?
C. Tafsiran
– Aplikasi.
Dalam suasana
politik yang tegang, kisah sakitnya Naaman menjadi menarik, bahwa kesembuhan
didapatkan di ‘negeri musuh’. Benhadad, Raja Aram, bahkan mengeluarkan surat
diplomasi untuk Raja Israel agar menyembuhkan Naaman. Naaman pergi dengan
membawa barang-barang pemberian bagi Israel berupa sepuluh talenta (sekitar 340
kg) perak, enam ribu syikal (sekitar 68,5 kg) emas, dan sepuluh potong pakaian.
Ini merupakan pemberian yang sangat besar. Dalam peperangan, jumlah ini
merupakan biaya perang yang besar. Kedatangan Naaman ke Israel rupanya
menimbulkan keterkejutan Raja Israel. Berbeda dengan sang gadis pelayan yang
kemungkinan mendengar cerita rakyat mengenai kehebatan Elisa dan bagaimana
Tuhan menyertainya, rupanya keyakinan Raja Israel tidak sebesar itu. Raja
berkabung dan berpikir permintaan tersebut merupakan akal-akalan Benhadad.
Kesedihan raja diketahui oleh Elisa yang meminta Naaman dikirim ke rumahnya. Umum
di kalangan Timur Tengah waktu itu bahwa kusta dianggap sebagai penyakit yang
berhubungan dengan sesuatu yang gaib, karenanya Naaman berpikir bahwa Elisa
akan mengadakan semacam pengusiran setan atasnya (ay 11). Tetapi Elisa hanya
menyuruhnya mandi di Sungai Yordan. Naaman yang awalnya menolak melakukannya,
diyakinkan oleh para pegawainya, sehingga ia menuruti ucapan Elisa, dan terbukti,
ia menjadi tahir. Terbukti bahwa seketika Naaman Menjadi sembuh.
Perhatikan panjangnya urusan kesembuhan yang melibatkan banyak orang ini :
gadis pelayan à sang nyonya à Naaman à Raja Aram à Raja Israel à Elisa à pegawai Naaman
à
kesembuhan Naaman. Urusan kesembuhan ini melibatkan : orang-orang sederhana
(gadis pelayan dan pegawai) sampai para raja; mereka yang percaya kepada Allah
dan yang tidak; mereka yang mengenal Elisa dan yang tidak. Tetapi mereka semua
tanpa saling mengetahui, ternyata telah membuat suatu jalinan kerja sama dalam meyembuhkan
Naaman.
Ketidaktahuan
manusia tentang betapa luar biasanya Allah sekarang terungkap. Peristiwa yang
melibatkan berbagai karakter membuktikan bahwa Allah itu luar biasa. Ia sanggup
melakukan segala sesuatu, segala perkara yang sering tidak mampu kita pikirkan.
Ia menyatakan kuasanya kepada semua orang, kepada semua golongan, kepada orang
yang percaya kepadaNya maupun yang tidak percaya kepadaNya. Ini maksudnya
supaya Allah dikenal dan keberadaanNya diakui oleh semua orang. Oleh karena
itu, jika Tuhan meminta kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan namaNya, mungkin
apa yang kita mau lakukan itu tidak masuk akal kita, tidak mungkin terjadi.
Tetapi Jika Tuhan yang meminta, mari kita mengerjakannya. Sebab dengan
mengerjakan apa yang Tuhan minta, maka kita akan melihat, mengetahui, memahami
bahwa Allah itu Luar Biasa, Amin.
PA
Minggu ke-1 November (Pembangunan SDM)
Bacaan : Mazmur 141:1-10
Nats/Thema : Mazmur 141:3
Jemaat
Yang diberkati Tuhan.....
Semua orang di dunia ini memiliki
mulut, di mana mulut memiliki fungsi yang begitu vital dan penting bagi
manusia. Dengan mulut, seseorang dapat berbicara atau berkomunikasi. Dengan
mulut seseorang dapat menikmati makanan sehingga keberlangsungan kehidupan
masih tetap ada. Dengan mulut seseorang dapat
mengungkapkan perasaan serta isi hatinya. Dengan mulut orang bisa menciptakan
perang. Dengan mulut, kedamaian dapat diciptakan. Dengan mulut orang bisa
menangis, dengan mulut orang bisa tertawa. Dengan mulut, kita bisa memuji
Tuhan, dengan mulut pula seseorang dapat melakukan dosa dan menghujat Tuhan.
Ada sebuah Pepatah yang mungkin agak sedikit asing bagi kita. Pepatah ini
mengatakan : "Mulutmu Harimaumu". Pepatah ini mungkin cukup ekstrim
atau kurang enak kedengaran di telinga kita. Betapa buas dan kejamnya pepatah
ini. Lalu ketika kita memikirkan lebih jauh, mungkin kita akan mengatakan bahwa
betapa berbahayanya mulut, yaitu salah satu organ tubuh yang kita miliki ini.
Sebagai orang percaya, kita tidak serta-merta mengatakan bahwa pepatah :
“Mulutmu Harimaumu” sebagai sebuah pepatah buruk. Dari sudut pandangan positip,
pepatah yang kedengarannya ekstrim ini sebetulnya mengajarkan kepada kita bahwa
perkataan yang keluar dari mulut ini
harus mampu dikendalikan. Jika kita tidak sanggup mengendalikan mulut kita
dalam berkata-kata, maka saat itulah perkataan itu menjadi ‘galak’ seperti
harimau yang bisa menerkam balik kepada kita. Mulut adalah media untuk
mengartikulasikan atau mengucapkan segala sesuatu yang ada di dalam pikiran dan
hati seseorang.
Dalam
Perjalanan serta pengalaman kehidupan Daud sebagai penulis Mazmur ini, begitu terlihat
bahwa ia bergumul hebat dengan mulut yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya.
Terlihat sangat jelas bahwa pemazmur menyaksikan banyak hal-hal negatip dan
buruk terjadi karena mulut. Ada begitu banyak kefasikan ataupun kejahatan yang
disaksikan oleh Pemazmur di mana salah satu penyebabnya adalah karena mulut
dipergunakan untuk mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan. Dalam
Mazmur 141:1-10 tergambar bahwa salah satu sumber dosa adalah ketika seseorang
salah dalam mempergunakan mulut yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Oleh
karena itu, pepatah : “Mulutmu Harimaumu” ini ingin mengingatkan bahkan mengajarkan
kepada kita untuk selalu mengendalikan mulut kita. Mengendalikan setiap
ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita. Maksudnya adalah jangan sampai mulut
yang adalah karunia Tuhan itu akan merusak seluruh tatanan kehidupan kita.
Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Kalau
dikatakan bahwa kita harus mengendalikan mulut kita, sekarang muncul sebuah
pertanyaan : “Dengan apakah kita mengendalikan mulut kita?”
Pemazmur dalam Mazmur 141:3 sebetulnya sangat jelas mengajarkan kepada
kita, bahwa untuk menyaring perkataan yang keluar dari mulut kita, itu tidak
cukup hanya dilakukan dengan usaha, kesanggupan serta kekuatan sendiri.
Mengendalikan mulut hanya dapat dilakukan dengan berdoa dan memohon pertolongan
dari Tuhan. Ketika Daud dengan segala kekuatannya tidak lagi sanggup menguasai
mulutnya, Dengan penuh pergumulan ia berdoa kepada Tuhan : “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku.”
Jika kita memperhatikan doa ini, maka kita akan semakin disadarkan oleh
sebuah kenyataan bahwa : Betapa liar dan berbahayanya mulut kita. Berdoa adalah
perlawanan yang paling tepat terhadap perkataan yang kotor dan jahat. Karena
begitu besarnya pengaruh serta kekuasaan mulut, sampai-sampai Dalam doanya pada
waktu petang, Daud berseru kepada Tuhan, meminta Tuhan melindungi dan memampukannya
untuk hidup bagi kemuliaan-Nya. Permohonan ini begitu penting sehingga Daud
berharap agar Tuhan menolongnya dalam pergumulan melawan berbagai bentuk
pencobaan. Ia meminta Allah mengontrol perkataan, pikiran, dan tindakannya.
Kerinduan orang percaya adalah hidup kudus dalam setiap aspek kehidupannya.
Dosa dalam berbagai bentuk akan berusaha menyimpangkan setiap kerinduan umat
Tuhan untuk hidup dalam kekudusan. Iblis dapat saja menggunakan Yang berupa
perkataan, misalnya, kita mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan orang
lain. Iblis juga menggunakan kata-kata yang penuh dosa supaya seseorang
menghujat serta menyakiti hati Tuhan. Padahal, kita seyogyanya mengucapkan
kata-kata yang penuh kasih dan membangun orang lain. Seyogyanya mulut kita
dipergunakan untuk terus memuji dan memuliakan Tuhan yang telah berkarya dengan
penuh kuasa dalam hidup kita. Selaku anak-anak Allah, kita perlu dan seharusnya
terus berdoa meminta tuntunan Tuhan. Kuat dan liarnya mulut kita tidak dapat
kita kalahkan dengan kekuatan kita sendiri, Sebab kita begitu lemah dalam
menjaga mulut serta perkataan-perkataan kita. Yang mampu mengalahkan dan mengendalikan
kekuatan mulut kita hanya sesuatu yang lebih kuat dari itu, Dialah Tuhan yang
berkuasa atas segala kuasa. Dengan berdoa, kita menaklukkan diri kepada
Allah hingga terhindar dari dosa karena mulut kita.
Jika kita terus berdoa dan meminta Tuhan mengendalikan mulut kita, maka
Tuhan pasti akan menjaga dan mengawasinya. Jika Tuhan yang menjaga dan
mengawasi mulut kita, maka kita akan dimampukan untuk mempergunakan mulut kita
untuk menghadirkan suasana tenteram, suasana damai sejahtera, dan terlebih-lebih
lagi mulut kita akan kita pakai untuk terus memuji Tuhan, Amin.
PA
Minggu ke-2 November (Pembangunan
SDM)
Bacaan : Galatia 6:1-16
Nats/Thema : “Saling Membantu Sebagai Keluarga
Allah”
A. Pengantar-Tafsiran
Perikop.
Perikop ini
merupakan bagian terakhir dari surat yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat-jemaat
di Galatia, yaitu Jemaat-jemaat yang sedang meragukan kebenaran Injil dan
sementara berhadapan dengan tradisi Yahudi. Disamping itu, Jemaat-jemaat di
Galatia juga sedang meragukan kerasulan Paulus. Konteks ini tentu tidak muncul
secara alamiah, tetapi persoalan ini muncul karena ada para pengajar sesat yang
mengajarkan hal-hal yang membingungkan Iman Jemaat. Di akhir tulisannya, Paulus
menekankan kepada jemaat untuk hidup saling bertolong-tolongan dalam menanggung
beban mereka (ay 2). “Menanggung beban” dalam Bahasa Yunaninya basta,zete = Bastazete berkaitan dengan “memikul” yang mengingatkan
kita akan peristiwa pemikulan salib Krsitus. Beban apa yang dimaksud? Jika Mengacu
kepada ayat 1, maka beban itu adalah beban dosa. Serta memperhatikan berbagai
nasihat Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya, maka beban itu juga berarti
hambatan dan tantangan dalam jemaat, khususnya dari orang-orang yang ingin
‘menyesatkan’ (mengajarkan tentang sunat (5:2-3) sebagai tanda keselamatan,
hidup dalam perhitungan hari-hari Yahudi (4:10), membedakan hubungan antara
orang bersunat dan tidak, bahkan meragukan kerasulan Paulus. Beban ini
merupakan tantangan dari dalam diri masing-masing dan sebagai jemaat.
Karenanya, menjadi penting bahwa setiap orang juga ‘menguji’ diri mereka
masing-masing, apakah mereka sudah benar dan setia kepada ajaran yang telah
mereka dapatkan, sehingga mereka berhati-hati agar tidak menyesatkan jemaat.
Pada akhirnya walaupun jemaat dapat disesatkan oleh para pengajar-pengajar
sesat, tetapi Allah mengetahui segala yang terjadi. Setiap hal apapun yang
dilakukan, pasti ada akibatnya bagi diri mereka sendiri. Bagi orang-orang yang
hidup sesuai ajaran yang benar, maka damai sejahtera dan rahmat Allah akan
turun atas mereka. Demikian pula sebaliknya, bagi orang-orang yang hidup tidak
sesuai dengan ajaran yang benar, maka damai sejahtera akan jauh dari kehidupan
mereka. Sehubungan dengan menguji diri sendiri, Paulus juga mengingatkan dalam
Suratnya (Galatia 6:3) supaya setiap orang jangan merasa dirinya sebagai orang
penting atau “Merasa Bisa”. Keadaan serta sifat seperti ini adalah sesuatu yang
sangat memalukan, sebab jika pada akhirnya ternyata diketahui bahwa dia bukan
orang penting, maka itu berarti ia menipu dirinya sendiri. Orang yang merasa
bisa dan merasa penting dalam Jemaat tanpa menguji dirinya sendiri berdasarkan
firman Allah, biasanya cenderung menyesatkan Jemaat. Karena itu Paulus
mengingatkan supaya Jemaat di Galatia tidak berlaku seperti itu.
B. Bahan
Diskusi.
1. Apakah dorongan Paulus supaya
Jemaat bertolong-tolongan menanggung beban
dosa diartikan kita harus berkompromi
dan berkoalisi dengan dosa?
2. Apakah dalam konteks bergereja
saat ini masih ada pengajar-pengajar sesat yang
sering kali mengguncangkan Iman Jemaat?
3. Bagaimana sikap kita sebagai warga
Gereja supaya Gereja dapat bertumbuh dengan
baik?
C. Aplikasi/Penerapan.
Sanksi sosial dan
sanksi Rohani akibat dosa tetap ada. Orang yang melakukan dosa pasti merasa
bersalah dalam lingkungan sosialnya dan juga merasa bersalah di hadapan Allah.
Ini berlaku bagi orang-orang yang menyadari diri sebagai orang berdosa. Tuhan
memang mengampuni orang-orang berdosa yang mau dibimbing kepada pertobatan,
tetapi akibat-akibat dosa tetap saja tidak dapat terhindarkan. Jika Paulus
mendorong Jemaat untuk saling tolong-menolong dalam menanggung beban dosa, itu
tidak berarti bahwa orang-orang yang tidak melakukan dosa, lalu berkompromi dan
berkoalisi dengan dosa. Paulus sudah mengingatkan : Supaya setiap anggota
Jemaat yang menasehati orang lain yang jatuh ke dalam dosa, pada saat yang sama
juga harus menjaga dirinya supaya jangan jatuh ke dalam dosa yang sama (Ayat
1).
Berbicara tentang
ajaran-ajaran sesat, masalah ini memang tidak akan pernah habis, sebab waktu
belum berujung apalagi berakhir. Ajaran-ajaran sesat akan terus ada. Sadar atau
tidak, begitu sering ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah muncul dalam kehidupan
bergereja masa kini. Ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan firman Allah begitu
banyak berkembang. Oleh karena itu, firman Allah harus senantiasa menjadi
pegangan dan alat uji bagi kita dalam mengahadapi ajaran-ajaran sesat. Belajar
terus tentang firman Tuhan adalah penangkal utama terhadap serangan dari
ajaran-ajaran sesat.
Gereja adalah
ibarat sebatang pohon yang terus bertumbuh dan harus menghasilkan buah-buah
yang baik. Sikap kita sebagai warga Gereja supaya Gereja terus bertumbuh adalah
turut mengambil bagian, bertolong-tolongan menanggung berbagai hal yang
berkaitan dengan kebutuhan yang membuat Gereja bisa bertumbuh dan berbuah.
Dalam kaitan dengan Gereja yang bertumbuh, ada sebuah ungkapan yang
mengatakan “Kita Jangan “Merasa Bisa”,
tetapi kita harus senantiasa mengembangkan sikap serta pikiran “Bisa Merasa”
Artinya peka terhadap hal-hal yang baik yang seharusnya kita lakukan. Niscaya
Gereja akan bertumbuh dan berbuah, Amin.
Khotbah Minggu ke-3 November (Pembangunan SDM)
Bacaan : Galatia 6:2
Nats/Thema : “Rantai Kebaikan”
Jemaat Yang diberkati
Tuhan....
Minggu
yang lalu kita merenungkan Firman Allah dari Perikop Bacaan yang sama melalui
sebuah diskusi Pemahaman Alkitab (PA). Meskipun Perikop bacaan kita minggu ini
sama dengan perikop Minggu yang lalu, tetapi saat ini kita melihat perikop ini
dari sudut pandang yang berbeda dan metode Pemberitaan Firman yang berbeda.
Kali ini kita merenungkan satu ayat saja dari firman Allah yaitu Galatia 6:2.
Metode Perenungan kita saat ini adalah dengan merenungkan sebuah Ilustrasi,
tetapi Ilustrasi ini lebih kepada sebuah realita kehidupan seseorang yang
bernama Bryan Anderson.
Jemaat Yang diberkati
Tuhan....
Pada
suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri
kebingungan dipinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan
pertolongan. Maka pria itu
menghentikan mobilnya di depan mobil wanita itu dan keluar menghampirinya.
Mobilnya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan kurang baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu.Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat!
Mobilnya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan kurang baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu.Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat!
Ngomong-ngomong,
nama saya Bryan Anderson." Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita
lanjut usia seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk
memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari - jarinya
membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi
kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban,
wanita itu menurunkan kaca
mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu
bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat
berutang budi atas pertolongan pria itu. Bryan hanya tersenyum ketika ia
menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia
bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi
masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang
mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir
untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan
mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia
biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal
sebaliknya. Pria itu mengatakan
kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang
yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada
orang itu, dan Bryan menambahkan, Dan ingatlah kepada saya." Bryan
menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu ingin dan membuat orang depresi, namun pria
itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja. Beberapa
kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari
mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil,dan menghangatkan badan sebelum
pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa
bensin yang sudah tua. Pemandangan
disekitar tempat itu sangat asing baginya. Sang pelayan mendatangi wanita itu
dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah.
Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya
berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang
hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya
mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut
itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu
pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu
ingat kepada Bryan. Setelah wanita
itu menyelesaikan makannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100 (Seratus Dolar). Pelayan wanita
itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika
kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung
kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di
meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis
wanita itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah
ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama
seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah
yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti
padamu.'"
Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 (Seratus Dolar) lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik dengan lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson! Kita sudah diberkati Tuhan pada saat kita benar-benar membutuhkan berkat dan pertolonganNya.
Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 (Seratus Dolar) lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik dengan lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson! Kita sudah diberkati Tuhan pada saat kita benar-benar membutuhkan berkat dan pertolonganNya.
Ada
pepatah lama yang berkata,"Berilah maka engkau diberi."
Bertolong-tolonganlah
menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6 : 2)
Jemaat Yang
diberkati Tuhan....
Bukankah kita juga sering mengalami
pengalaman yang sama seperti apa yang dialami oleh Keluarga Anderson?
Pengalaman seperti itu pastilah bukan hanya satu atau dua kali kita rasakan.
Pengalaman seperti itu terlalu sering terjadi. Ketika dalam saat-saat kritis
kehidupan yang kita hadapi, seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi pada
saat di mana kita benar-benar membutuhkan sesuatu Tuhan bertindak dan menolong
kita. Tuhan benar-benar tahu dan mengerti apa yang sedang kita butuhkan. Kunci
pertolongan Tuhan yang tepat pada waktunya bagi keluarga Anderson tidak
terletak pada kekuatiran akan apa yang mereka butuhkan, tetapi justru terletak
pada optimisme mereka dalam berbuat baik kepada orang lain. Kebaikan hati
mereka tertular begitu hebatnya kepada orang lain dan pada akhirnya kebaikan
itu kembali kepada mereka.
Tuhan memenuhi kebutuhan keluarga
Anderson dengan cara yang tidak dapat diselami oleh akal pikiran kita, tetapi
itulah yang terjadi dan dialami oleh keluarga ini. Kehidupan yang suka menolong
orang lain tanpa pamrih adalah sebuah bukti bahwa kehendak Allah berlaku atas
hidup kita. Setiap anak-anak Allah dipanggil supaya senantiasa hidup saling
menolong, sebab cara hidup seperti ini adalah cara hidup yang memenuhi hukum
Tuhan. Berbuat baik tidak akan pernah merugikan para pelakunya. Firman Allah
mengatakan bahwa orang yang menabur kebaikan, pasti pada akhirnya akan menuai
kebaikan-kebaikan dalam hidupnya. Siapa yang mengerjakan kebaikan itu bagi
mereka? Jawabannya adalah Tuhan yang adalah sumber kebaikan itu sendiri. Bagi
orang-orang yang suka berbuat baik dan suka menolong orang lain, Firman Allah
ini berlaku bagi mereka : Pengkhotbah
3:11 “Ia membuat segala sesuatu
indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi
manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai
akhir.” Oleh karena itu jangan
pernah memutuskan rantai kebaikan, supaya kebaikan itu terus menular dan
merambat kepada semua orang. Berbuat baiklah senantiasa dengan hidup saling
menolong. Berilah, maka kamu akan diberi. Terpujilah nama Tuhan, Amin.
PA
Minggu ke-4 November (Pembangunan
SDM)
Bacaan : Efesus
5:22-23
Nats/Thema : “Kasih Adalah Pengikat Keluarga”
A. Pengantar Diskusi.
Permasalahan
keluarga menjadi salah satu hal terpenting dalam keberagaman
permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia.
Permasalahan keluarga yang dihadapi juga ternyata begitu banyak atau beraneka
macam
bentuknya. Mulai dari masalah pasang-surutnya ekonomi
keluarga sampai kepada permasalahan posisi siapa yang dipimpin dan bagaimana
memimpin serta siapa yang penolong dan bagaimana menjadi penolong yang baik.
Ada
satu hal yang perlu diingat kembali; bahwa impian seluruh keluarga adalah
hidup dalam keharmonisan, hidup dalam damai sejahtera.
Kita menyadari bahwa Era ini semakin
jelas menunjukkan bahwa
masalah keluarga bukanlah masalah yang asing terdengar oleh
telinga kita. Kecil besarnya masalah itu tergantung bagaimana anggota keluarga
menyikapinya. Kalau masalah yang sering dihadapi dalam
keluarga tidak menemui jalan yang baik maka dapat dapat dipastikan bahwa hal itu akan berimplikasi
pada perpecahan dan kehancuran keluarga itu sendiri. Pilihan terakhir dari setiap masalah
keluarga yang paling fatal ialah terjadinya
perceraian. Padahal sebagai umat perjanjian Allah,
sebagai anggota keluarga kerajaan Allah, perceraian sangatlah tidak berkenan
dihadapan Allah. jadi sebagai orang-orang
Kristen perlu melihat bagaimana sebenarnya formasi yang harus dibangun menuju
keharmonisan keluarga, supaya perjalanan hidup keluarga dapat berjalan sesuai
dengan maksud-maksud serta rencana Allah yang tertuang
dalam firman-firmanNya.
Untuk mewujudkan cita-cita tentang Idealnya sebuah Rumah Tangga, kita
memiliki begitu banyak akses atau jalan masuk. Banyak teori-teori bahkan
pengalaman praktis yang sudah dilalui oleh orang-orang sukses dalam Berumah
Tangga dapat kita jadikan sebagai contoh yang baik serta bermanfaat dalam
membangun kehidupan Rumah Tangga kita. Dalam konteks sebagai orang percaya,
Alkitab merupakan pegangan serta penuntun yang begitu baik bahkan yang terbaik dan
berharga dalam hal kita membangun kehidupan Rumah Tangga yang berkwalitas dan berkenan di hadapan Tuhan.
Petunjuk-petunjuk Alkitab tentang bagaimana membangun Rumah Tangga yang baik
ini telah dipergunakan sejak zaman purbakala. Bagi mereka yang menjadikan Alkitab
sebagai pedoman serta pegangan dalam kehidupan berumahtangga, maka mereka akan
dimungkinkan untuk menikmati kehidupan Rumah Tangga yang Indah dan
bahagia.
B. Pertanyaan
Diskusi.
B.1. Apakah makna kata “Tunduk” kepada suami dalam
ayat 22 bacaan Alkitab Hari ini?
B.2. Suami yang seperti Apakah yang harus dihormati
oleh Istri dalam sebuah Rumah
Tangga?
B.3. Mengapa Istri harus “tunduk” kepada suami?
C. Aplikasi
– Penerapan.
Dalam perikop
bacaan kita hari ini firman Allah mau berbicara kepada kita tentang bagaimana
Rumah Tangga itu dibangun dengan fondasi yang kuat dan kokoh, sehingga badai
tidak mudah merobohkannya. Firman Allah tidak pernah mengatakan bahwa jika Sebuah
Rumah Tangga dibangun dengan fondasi, dasar yang kokoh, lalu Rumah Tangga itu
akan bebas dari berbagai goncangan yang berupa tantangan atau persoalan. Tetapi
firman Allah mau mengatakan bahwa jika Fondasi atau dasar sebuah Rumah Tangga
berada dalam keadaan kokoh, maka Rumah Tangga itu akan sanggup bertahan,
meskipun badai dan prahara mengguncangkannya. Ia tidak akan hancur apalagi
menjadi puing-puing yang rusak begitu parah.
Kata “Tunduk”
dalam bacaan Alkitab hari ini secara fisik mengandung pengertian: Menghadapkan
wajah ke bawah, kepala yang dicondongkan ke depan dan ke bawah. Pengertian ini
menunjuk pada rasa hormat dari seorang istri terhadap suaminya, di mana keadaan
ini muncul karena rasa kasih yang mendalam, dan kasih yang mendalam terhadap suami
tersebut menggiring seorang istri menghormati suaminya. Secara spiritual atau
dalam pengertian Rohani, “Tunduk” berarti Patuh atau menurut, karena
demikianlah seharusnya hal yang dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya.
Rasa “Patuh” yang dinyatakan oleh istri terhadap suaminya harus dilakukan
sebagaimana ia patuh terhadap Tuhan. Jika kita membaca sepintas ayat bacaan
kita, mungkin para istri akan mengatakan bahwa ayat ini sangat semena-mena
terhadap perempuan yang berstatus istri. Perintah untuk menghormati bahkan
tunduk seakan-akan hanya berlaku bagi suami. Dalam ayat 23 bacaan kita sangat
jelas bahwa istri harus tunduk kepada suami, istri harus menghormati dan
menghargai suami sebab suami memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan
Rumah Tangga. Sebab ia bertanggung jawab atas kehidupan rumah tangganya,
peranan suami diibaratkan seperti peranan Kristus yang menyelamatkan Jemaat.
Seorang suami bertanggung jawab atas seluruh keberadaan Rumah Tangga. Ia
menyelamatkan kehidupan Rumah tangga dari berbagai ancaman, baik ancaman yang
bersifat fisik maupun Rohani. Secara fisik seorang suami bertanggung jawab
melindungi keluarganya dari segala macam bahaya. Seorang suami bekerja keras
supaya kehidupan Rumah Tangga senantiasa berkecukupan, memberikan rasa aman
terhadap semua anggota-anggota Rumah Tangga. Di bawah pengayoman suami, Rumah
Tangga dan semua anggota-anggotanya mengalami rasa aman, tenteram dan menikmati
damai sejahtera. Seorang suami bertanggung jawab melakukan tanggung jawabnya
dan menghindarkan keluarga dari ancaman kemiskinan, kelaparan, menyiapkan apa
yang dibutuhkan keluarga untuk memelihara kesehatan dan sebagainya. Sebagaimana
Kristus melakukan semua itu bagi Jemaat, demikianlah seorang suami melakukannya
bagi Istri dan semua anggota Rumah Tangganya. Secara Rohani, seorang suami
bertanggung jawab dalam membangun kehidupan Rohani dari semua anggota-anggota
keluarganya. Singkatnya Ia adalah seorang Imam dalam Rumah Tangga yang
terus-menerus memimpin Rumah Tangga supaya hidup sesuai dengan Kehendak Tuhan.
Sebagaimana Kristus telah menjadi Imam, memberikan korban bahkan mengorbankan
hidupnya untuk keluarga Kerajaan Allah, demikianlah pengorbanan suami terhadap
seluruh anggota-anggota keluarganya. Kepada seorang suami yang seperti ini,
Alkitab memerintahkan supaya istri “Tunduk” menghormati dan menghargai mereka. Banyak
istri yang telah menyaksikan suaminya bekerja keras, melaksanakan tanggung
jawab secara penuh dalam rumah Tangga, tetapi kepala mereka bukannya condong ke
depan dan ke bawah untuk menghormati serta menghargai suaminya. Mereka justru
mengangkat muka sambil condong ke depan untuk menantang suaminya.
Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang sering membuat kehidupan Rumah Tangga
menjadi hancur. Ada juga suami-suami yang tidak bertanggung jawab terhadap
anggota-anggota keluarganya, sehingga anggota-anggota keluarga harus terlantar
tanpa perhatian.
Firman Allah
yang kita Pelajari hari ini mengingatkan kita supaya masing-masing
anggota-anggota dalam keluarga melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik.
Saling menghargai, saling melindungi dalam hal-hal yang berkaitan dengan
kebaikan. Jika semua yang dilakukan dalam keluarga dan untuk keluarga dilandasi
oleh kasih, maka kehidupan rumah tangga akan kokoh. Badai tidak akan sanggup
menghancurkannya. Ketika badai datang, ia akan terus berdiri kokoh sampai badai
pencobaan itu benar-benar berlalu. Kasih
adalah Pengikat dan perekat yang paling ampuh buat Rumah Tangga kita, Amin.
Khotbah
Minggu ke-5 November (Pembangunan
SDM)
Bacaan : Yohanes 6:60-69
Nats/Thema : “Murid Yang Bertanggungjawab”
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Seorang guru
yang sejati tidak akan pernah berniat menjatuhkan masa depan muridNya. Guru
yang sejati akan selalu menunjukkan apa saja yang harus dilakukan oleh muridnya
agar mereka selamat, Agar mereka berhasil, agar mereka memiliki masa depan yang
lebih baik. Keberhasilan dan kebahagiaan yang diharapkan oleh seorang guru
terhadap murid-muridnya bukan saja keberhasilan di dunia fana ini, tetapi
seorang guru juga sangat merindukan di mana murid-muridnya bahwa suatu saat
melalui pengamalan ilmu dengan baik, mereka bisa meraih dan menikmati kehidupan yang baik
di dunia akhirat.
Seorang guru
yang baik, akan selalu berupaya mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi
murid-muridnya. Guru yang baik tidak segan-segan menerapkan kedisiplinan bagi
murid-muridNya demi masa depan yang lebih baik dari orang-orang yang diajar dan
dididiknya. Untuk itu ia juga rela mengorbankan hidupnya untuk sebuah
pengabdian sebagai seorang guru.
Demikian pula
seorang murid yang baik. Dalam statusnya sebagai murid, ia akan terus berusaha
keras untuk belajar dari sang guru, ia akan belajar dengan sabar untuk menghadapi
semua konsekwensi, mentaati serta mengikuti semua disiplin yang diterapkan oleh
gurunya. Sebab jika ia takut dengan konsekwensi, gagal dalam berdisiplin, maka
ia tidak akan pernah tamat dalam melewati proses sebagai seorang murid. Ketika
ia menyelesaikan proses menjadi murid, selanjutnya ia akan tamat dan
diperlengkapi dengan pengetahuan,
pengalaman, disiplin dan berbagai hal yang dibutuhkan untuk meraih suatu masa
depan yang berpengharapan. Jika seorang murid bersedia melewati proses-proses
kemuridan, maka suatu saat ia pasti bisa memberi dan membawa manfaat bagi
dirinya sendiri terlebih-lebih bagi orang lain.
Tuhan Yesus
adalah Guru sejati. Banyak harapan akan masa depan yang baik ditawarkan
oleh-Nya, tetapi kemudian yang menjadi persoalan adalah : apakah kita sanggup menjadi murid serta siap
menjalani disiplin kemuridan serta menerima konsekuensi ketika menjadi murid
Tuhan?
1.
Pada umumnya manusia senang dengan
pemberian Cuma-Cuma, gratis, tanpa bekerja. Itu sebabnya bila kita ingin
disenangi oleh banyak orang, berbuatlah royal, gampang dan secara membabi-buta suka memberi tanpa
pertimbangan-pertimbangan yang baik. Namun penghormatan yang
diperoleh karena sikap royal sebetulnya
hanyalah seumur harta kita. Begitu harta kita habis, maka habis
pula penggemar kita atau simpatisan kita. Selain itu
pemberian Cuma-Cuma yang terus-menerus berikan kepada
seseorang tanpa tujuan mendidik, itu tidak akan
membuat orang itu mandiri, melainkan membuat dia
terus-menerus hidup dalam ketergantungan
kepada orang-orang lain.
2. Peristiwa yang hampir sama ternyata pernah dialami oleh
Yesus dari Nazareth. Ia tampil di muka
umum dengan membuat mujizat, “mengubah air menjadi anggur”, menyembuhkan orang
sakit bahkan membangkitkan orang mati. Tentu hal ini
membuat banyak orang terpikat oleh-Nya dan mau menjadi pengikut-Nya. Namun
Yesus menyadari, bahwa ia datang ke dunia
bukan sekedar mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Tuhan Yesus sadar bahwa kehadiranNya bukan semata-mata menjadi pembuat
Mujizat. Sebetulnya setiap Mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sangat
memiliki orientasi Aducatif atau Pendidikan kepada banyak orang bahwa Dialah
Juruselamat yang sudah datang itu. Tetapi orang banyak justru tidak memahami
tujuan-tujuan dari setiap Mujizat yang dikerjakanNya. Ia datang bukan untuk pamer
kuasa dan kemampuan. Ia datang untuk menyelamatkan manusia. Dengan tindakan-tindakan Mujizat yang dilakukanNya, Tuhan ingin supaya
orang banyak menjadi :
-
Percaya bahwa Dia adalah sungguh-sungguh
utusan Allah (Yoh. 6:29).
-
Percaya dengan
sungguh-sungguh kepada setiap sabda atau firman yang diucapkanNya
(Yoh. 6:35).
-
Percaya bahwa apa yang dilakukanNya merupakan suatu bukti bahwa itu merupakan kehendak Allah yang dinyatakan kepada dunia (Yoh. 5:30).
3. Rupanya
ketika syarat itu ditawarkan kepada para murid-Nya, mulailah mereka menggerutu. Mengapa harus repot-repot ? Mereka
ingin dan mau menjadi murid tanpa harus dibebani apa-apa. Diam boleh, santaipun
jadilah.
Tetapi Yesus
tidak mau, lalu Ia menggertak mereka
: Siapa yang mau pergi ?
Silahkan
pergi ! ( Yoh. 6 : 67).
Banyak
yang tidak berani mengemukakan pendapat. Mereka diam dan saling baku pandang.
Mereka malu sebab ketahuan isi hatinya yang hanya mau santai dan mendapat
banyak pemberian.
4. Petrus
rupanya bersikap lain. Ia yang telah mengalami pahit getirnya hidup, yang telah
lama bergulat mencari arti hidup
menemukan semua itu dalam diri Yesus gurunya. Maka ia menjawab : Kepada
siapa kami harus pergi ? (Yoh. 6:68). Dan murid semacam inilah yang kelak
dipercaya untuk memegang puncak pimpinan Gereja.
5.
Apakah relevansi firman ini dengan
kehidupan berjemaat di Klasis kita ?
Relevansi atau
hubungan firman Allah ini bagi kita adalah :
Pertama : Menjadi murid Tuhan tidak hanya sekedar
masuk menjadi anggota komunitas belajar untuk beberapa waktu ketika kita masih
merasa senang dan nyaman di tempat itu. Ketika setiap orang memilih untuk
menjadi murid Tuhan, itu berarti mereka siap untuk menjalani kerasnya proses
dalam menjadi seorang murid. Di sana ada disiplin yang harus di taati, di sana
ada konsekwensi-konsekwensi logis maupun tidak logis harus kita jalani. Ketika
seseorang tidak siap dengan syarat-syarat kemuridan ini, maka ia akan segera
Drop Out (D/O) atau keluar dari lingkungan kemuridan itu. Sebab hanya
murid-murid yang berkualitas dan mau mengembangkan kwalitaslah yang layak dan
siap memberi pengaruh bagi dunia ketika ia bisa lolos dan setia dalam memenuhi
tanggung jawab kemuridannya. Dalam kaitan dengan dampak keselamatan bagi dunia,
hanya murid-murid yang taat dan setialah yang akan mampu membawa dan memberi
dampak keselamatan itu bagi dunia. Sedangkan murid-murid yang tidak setia
justru akan Menjadi “batu Sandungan” dan membuat eksistensi atau keberadaan
dunia akan menjadi semakin gelap.
Kedua, Menjadi murid
Tuhan bukan sekedar menjadi simpatisan. Sebab Tuhan tidak membutuhkan para
simpatisan dalam pekerjaanNya. Yang Tuhan butuhkan adalah murid-murid yang mau
bekerja keras dalam memikul tanggung jawab. Hal-hal spektakuler atau luar biasa
sehubungan dengan mujizat-mujizat yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, dalam
kehidupan orang lain bukan bertujuan supaya dari mujizat-mujizat itu kita bisa
mendapat sesuatu untuk kepentingan pribadi kita, tetapi supaya sebagai murid,
kita percaya bahwa apa yang kita lihat adalah bukti bahwa Allah benar-benar
berkarya, dan kita dipanggil untuk percaya pada karya-karya itu, lalu bergiat
dengan segala potensi yang kita miliki meneruskan karya-karya Allah itu kepada
orang lain melalui pelayanan kita. Menjadi seorang murid membutuhkan
pengorbanan, tidak mudah, sebab Guru kita, Tuhan Yesus Kristus sudah lebih
dahulu korbankan diriNya supaya Ia bisa memperoleh murid-murid yang juga rela
berkorban banyak hal demi pelayanan GerejaNya. Pengorbanan dalam pelayanan
Gereja bukan hanya dinyatakan dalam kerangka toretis melalui kesanggupan-kesanggupan
Retorika (Berbicara), tetapi melalui tindakan nyata, di mana setiap orang
dipanggil untuk mengorbankan waktu, harta benda, pikiran, perasaan bahkan
seluruh kehidupan. Dalam Pelayanan dan menjalani proses kemuridan, jangan
pernah bertanya : Apa yang Tuhan sudah berikan untuk saya, tetapi bertanyalah :
Apa yang saya sudah berikan untuk Tuhan, Guru dan Juruselamat saya yang sejati?
Amin.
PA
Teologi
Parousia
Bacaan : I Tesalonika
5:1-11 (Minggu Advent 1)
Nats/Thema : “Berjaga-jaga dalam Iman, Kasih Dan Pengharapan”
A. PENDAHULUAN
Masa
penantian atau Advent dialami oleh segenap Warga Gereja ketika menyongsong
peringatan dan perayaan Natal setiap tahun. Tetapi Advent juga mengandung pengertian menyongsong “Natal Yang sempurna”,
yakni kedatangan Kristus untuk kali yang ke-2. Untuk itu Warga Gereja diajak dan diingatkan untuk
senantiasa menyiapkan diri (dalam iman dan perilaku) untuk menyongsong
Peristiwa
Natal yang
sesungguhnya.
B. PENJELASAN PERIKOP/TEKS.
Teks
1 Tesalonika 5:1-11 menyampaikan berita tentang Hari Tuhan atau hari kedatangan Kristus ke-2.
Tentang waktu kapan kedatangan Kristus kedua tersebut, penulis Kitab Tesalonika
tidak mengetahui, bahkan secara tersurat mengatakan”tidak perlu kutuliskan
padamu” (ayat 1). Hal demikian bukan berarti Penulis Tesalonika tahu waktunya,
tetapi tidak perlu menyampaikannya kepada jemaat. Namun yang ingin disampaikan
adalah waktu kedatangan Kristus ke-2 tidak perlu menjadi perdebatan dan silang pendapat
antar warga Gereja, karena hal demikian memang bukan menjadi urusan manusia.
Meski tidak diketahui waktunya, tetapi kedatangan Kristus ke-2 diyakini
terwujud, bukan sekedar ucapan atau tulisan semata. Kedatangan Kristus yang
ke-2 tidak diketahui waktunya itu diibaratkan dengan kedatangan pencuri, yang
dimengerti dengan tidak diketahui oleh siapapun kapan kedatangannya (ayat 2
dan 4).
Ibarat
atau symbol dalam teks yang disampaikan berikutnya adalah Warga Gereja sebagai
anak-anak siang atau anak-anak terang (ayat 5). Hal demikian menunjuk pada
pengikut Kristus sebagai orang-orang yang tahu tentang jalan Tuhan, perintah Tuhan, serta melakukannya dengan
bersungguh-sungguh hati. Hal yang benar dan bertanggungjawab, sebagai anak-anak
terang tidak akan melakukan perbuatan gelap atau malam. Perbuatan yang memberi arti kejahatan, kedurhakaan,
perseteruan maupun tindakan tidak susila.
Panggilan
yang disampaikan kepada warga jemaat selaku orang-orang siang adalah:
1. Berjaga-jaga dan sadar dalam kehidupan
ini, agar keselamatan dalam Yesus Kristus tetap ada sampai Kristus datang untuk kali yang ke-2 (ayat 6,8).
2. Saling memberi nasehat dan membangun, sehingga segenap warga jemaat terjaga dan sadar setiap waktu, tidak terjatuh pada perbuatan gelap atau perbuatan malam (ayat 11)
C. DIALOG PEMAHAMAN.
Berikut
ini disampaikan percakapan 2 orang Bapak, yang membicarakan atau mempercakapkan tentang Hari Tuhan atau
kedatangan Kristus untuk Kali yang ke-2. Mari kita Simak Percakapan mereka :
Bambang : Pak Sumo, apakah Bapak sudah mendengar berita tentang kedatangan Yesus Kristus yang ke dua?
Sumo : Mendengar beritanya sih, sudah, tetapi kedatangan-Nya khan belum terjadi. Manusia tidak tahu kapan
kedatangan-Nya yang ke-2 kali tersebut. Bukankah firman
yang sering kita dengarkan bahwa kedatangan Kristus kedua kali
seperti pencuri. Kapan datangnya si-pencuri kan pemilik rumah tidak mengetahui waktunya. Bisa jadi ketika pemilik
rumah terlena, tidak waspada, si-pencuri tersebut datang dan menyatroni rumahnya.
Bambang : Kalau kita tidak tahu kapan kedatangan
Kristus kedua, terus kita harus bagaimana? kalau kita bekerja, siap terus menerus, waspada, kan bisa jadi jenuh. Seperti
di TV itu, kita bisa jadi pusiii…ng. Berbeda bila kedatangan Kristus sudah jelas waktunya, tentu kita bisa mempersiapkan diri dengan sungguh - sungguh, serius dan total. Kalau seperti ini kan membingungkan!
Sumo : Apakah kita memang
perlu
tahu
kapan kedatangan Kristus?
Bukankah
semuanya itu ditangan kuasa allah bapa sendiri. Bagi kita warga gereja, bukankah yang kita lakukan adalah mempersiapkan iman, iman yang kukuh dan penuh harapan di
dalam Kristus. Serta etika
Kristiani yang bertanggung jawab. Berkenaan dengan hari atau
waktunya, mengapa kita harus pusing
memikirkannya. Pak bambang tidak perlu pusing.
Bambang : Hal yang lain, Pak. Beberapa waktu yang lalu terjadi
banyak bencana dinegeri kita ini. Termasuk
juga sampai saat ini banyak terjadi tindak kejahatan, tindakan
asusila yang dilakukan oleh orang tua, orang muda, maupun anak di bawah umur. Apakah semuanya itu tanda-tanda atau petunjuk
bahwa Hari Tuhan
segera tiba atau Kristus segera datang
kedua kali?
Sumo : Kalau sebagai tanda atau petunjuk,
jawabannya bisa ya atau sebaliknya tidak. Ya , artinya hal itu sebagai tanda yang mengawali, atau petunjuk dari tuhan bahwa Ia akan
datang. Atau sebaliknya tidak, karena hal-hal tersebut merupakan peristiwa alam, yang bisa murni
pengaruh alam atau sebaliknya keteledoran manusia. Disisi yang lain, bukankah manusia memang tidak tahu masa atau waktu
kedatangan Kristus ke-2. Untuk itu manusia tidak perlu
mereka-reka kapan datangnya.
Bambang : Kalau seperti itu, terus apa bedanya
kita orang percaya dengan orang yang tidak percaya kepada
Kristus. Semua orang khan sama-sama tidak tahu waktunya.
Sumo : Itulah yang menjadi pergumulan kita.
Kita sebagai warga Gereja yang percaya kepada Kristus, serta
menjadi milik Kristus. Apa bedanya orang percaya dengan orang yang
tidak percaya dalam menerima atau “menyongsong” kedatangan
Kristus kedua, perlu kita bicarakan bersama. Untuk itu mari
kita melanjutkan pembicaraan kita dalam PA saat ini.
Bambang : Ayo, Pak Sumo. Saya siap, Mari kita berPA
sekarang...
D. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
1. Warga Gereja dipanggil untuk
berjaga-jaga dan siap menyongsong kedatangan hari Tuhan di dalam Iman,
kasih dan pengharapan (ayat 6 dan 8). Bagaimana pengertiannya, jelaskan!
2. Warga Gereja dipanggil untuk saling
menasehati dan saling membangun (ayat 11). Apa manfaat dari tindakan
ini secara sosiologis (persekutuan), maupun paedagogis (pendidikan)? Apa isi
nasihat dan sikap membangun tersebut?
3. Apa yang dapat kita lakukan kepada
orang-orang malam atau orang-orang kegelapan dalam konteks advent ini?
E. APLIKASI – PENERAPAN.
Tidak seorangpun tahu, kapan dan di mana Tuhan Yesus datang untuk kali yang
terakhir. Dia sendiri juga tidak pernah mengatakan apalagi menentukan secara
tepat kapan hari kedatanganNya untuk kali yang kedua atau yang terakhir. Tetapi
yang jelas, Tuhan Yesus pasti akan datang. Sebab Ia sendiri telah berjanji
untuk itu. Mungkin kita protes: Tuhan kok tidak blak-blakan saja mengatakan
kapan hari kedatanganNya? Tetapi justru di sinilah letak kehebatan Tuhan.
Dengan tidak menyebutkan waktu kedatanganNya, Ia mau supaya setiap anak-anak
Tuhan, warga Gereja belajar untuk percaya dan terus berharap bahwa satu Saat
Tuhan akan kembali. Seandainya Tuhan telah mengatakan kapan saat kedatanganNya,
pasti masa antara kedatanganNya akan diwarnai oleh keadaan yang benar-benar
kacau, sebab setiap orang mungkin akan hidup dalam dosa, lalu sehari sebelum
kedatangan Tuhan, semua Gereja penuh, Masjid penuh, Pura dan tempat-tempat
Ibadah akan penuh. Dalam sehari semua orang akan bertobat, sebab besok Tuhan
Yesus akan segera datang. Dengan tidak menyebutkan saat kedatanganNya, warga
Gereja bahkan semua orang dipanggil supaya setiap saat berjaga-jaga, hidup
dalam Iman, hidup saling mengasihi, hidup saling menasehati, hidup saling
membangun maksudnya supaya kapanpun Tuhan datang, umatNya sedang berada dalam
keadaan siap dan tetap hidup saling membangun antara satu dengan yang lain.
Mereka saling membangun Iman antara satu dengan yang lain. Jika ada yang jatuh,
yang lain mengangkat dan menasehatinya lalu kembali ke jalan yang benar. Di
Minggu Advent Pertama ini, kita terus berjaga-jaga, kita terus saling
menasehati, kita terus dapat menjadi contoh bagi orang-orang gelap atau
anak-anak malam dalam hal melakukan kebaikan. Apabila Kristus benar-benar
datang, kita di dapati dalam keadaan tidak bercela, tetap setia dan
menyenangkan hati Tuhan, Amin.


