Minggu, 21 Desember 2014

LINTAS AGAMA :
KOREKSI TERHADAP KESADARAN TOLERANSI DI INDONESIA
KALA masih banyak umat muslim Indonesia sibuk mencari tahu, berpolemik, bahkan mencak-mencak tentang boleh atau tidaknya mengucapkan "Selamat Hari Raya Natal", Umat Muslim diPalestina justru tak sabar menunggu kemeriahan perayaan umat Nasrani tersebut.
***
Biru cerah bersemburat di langit atas Gereja Nativity (tempat kelahiran Yesus), Betlehem, Palestina, 23 Maret 2000 silam. Gambaran alam yang mengisyaratkan nomena, betapa harmonisnya kehidupan antarumat beragama di negeri jajahan rezim zionis fasistik Israel tersebut.
Ketika itu, Paus Yohannes Paulus II tengah mempersembahkan misa menjelang Natal. Sesaat ia hendak melanjutkan prosesi misa, Sri Paus justru duduk terdiam. Bukan karena kelelahan, tapi ia terdiam karena berkumandangnya azan dari masjid dekat Manger Square.
Ia diam berkhidmat hingga azan itu berhenti. Setelah itu, seluruh jemaah langsung bertepuk tangan, termasuk Presiden PalestinaYasser Arafat dan istrinya Suha. Sidang pembaca tak perlu terkaget-kaget karena ada Yasser Arafat dalam prosesi misa tersebut.
Mendiang Arafat, bukanlah sekadar mengantar sang istri, yang hingga detik ini adalah pemeluk taat Kristen, untuk mengikuti misa tersebut. Sebabnya, Arafat memang selalu mendapat tempat dalam gereja suci tersebut pada misa Natal setiap tahun.
Apakah toleransi antarumat Muslim-Kristen tersebut ikut padam, ketika Arafat wafat diracun? Sang suksesor, Mahmoud Abbas menjawab tegas, "Tidak!" Mengikuti jejak predesesornya, Mahmoud Abbas tak pernah absen menghadiri misa dan memberikan pesan Natal setiap tahun.
Anda juga tak perlu kasak-kusuk mencari tahu apakah sang presiden seorang muslim, karena jawabannya sudah pasti "benar." Meski begitu, dalam pesan Natal 2012, ia secara tegas menyebut Yesus merupakan utusan harapan seluruh rakyat negeri terjajah tersebut.  
Umat muslim yang menjadi mayoritas di Palestina, tampaknya tak lagi mau repot-repot bergunjing, adu dalil-dalil yang sebenarnya belum incracht sehingga masih berada di titik status quo, mengenai halal-haramnya mengucapkan selamat natal bagi tetangga mereka yang Nasrani.
Bagi mereka, perdebatan tersebut telah selesai ketika mereka yakin sepenuhnya terhadap kepercayaannya masing-masing. Apalagi, Nasrani, Islam, dan Yahudi, merupakan kepercayaan yang berasal dari tradisi yang sama: Abrahamik.
Kentalnya toleransi antarumat beragama tersebut, juga diperlihatkan oleh umat Nasrani Palestina ketika umat Muslim hendak merayakan Idul Fitri. Kala Gaza dibombardir Israel pada bulan Ramadhan tahun ini, para Nasrani mengundang kaum muslimin salat dan merayakan Idul Fitri di Gereja Saint Porphyrius, Gaza.
Warga muslim Palestina juga tak pongah, ketika mereka mengetahui menjadi yang mayoritas. Seperti yang dilansir CIA World Factbook, warga Kristen hanya delapan persen dari populasi di Tepi Barat, dan hanya 0,7 persen di Gaza.
Tapi, apa kata Abbas tentang problematika mayoritas kontra minoritas seperti yang kerap dijadikan bahan apologi di Indonesia? “Orang Kristen tidak menjadi minoritas di sini. Mereka adalah bagian integral dari rakyat Palestina,” tulis Abbas dalam pesan Natalnya pada tahun yang sama.
Segelintir kelompok warga Indonesia yang keras kepala dan anti-toleransi, juga akan semakin terkejut kalau mengetahui di Palestinajuga setiap tahun menggelar Festival minum bir. Benarkah ada festival meminum air yang haram bagi umat Muslim itu diPalestina?
Yup, festival itu benar-benar ada, diselenggarakan oleh produsen bir asli Palestina bernama Taybeh. Setiap tahun, "Taybeh Beer Octoberfest" digelar pada bulan Oktober di Kota Ramallah. Dengan pengecualian, kalau zionis Israel tak cari gara-gara menyerbuPalestina seperti Oktober tahun ini.
Baiklah, mari kembali ke Indonesia. Hamparan pengalaman umat muslim Palestina kala Natal tersebut, tampaknya menjadi pembenaran terhadap pernyataan satu-satunya ahli tafsir Indonesia bahkan di Asia Tenggara yang diakui komunitas Islam internasional, Profesor DR Quraish Shihab.
Ketika membahas polemik halal-haram mengucapkan selamat Natal, sang profesor sedih sekaligus prihatin, sebab ia menduga kuat persoalan seperti itu hanya ada di Indonesia. "Saya lama di Mesir. Saya kenal sekali. Saya baca di koran, ulama-ulama Al Azhar berkunjung kepada pimpinan umat kristiani mengucapkan selamat Natal."
Tapi, seperti warga Palestina, kita juga harus tetap optimistis, bahwa hanya segelintir orang dari ratusan juta penduduk Indonesia yang repot-repot mempersoalan hal bukan prinsip tersebut.
Guna menghabisi hasrat ingin "repot-repot" untuk hal tak prinsip itulah, orang Indonesia tampaknya harus menggali ilham dari akhir hayat "Si Guru Tak Mau Repot-Repot", Abdurrahman Wahid aliasGus Dur.
***
Gus Dur tengah terbaring di ranjang Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, 25 Desember 2009. Kondisi tubuhnya semakin lemah. Ia sekarat. Teman-teman Gus Dur tahu, tak lagi ada cukup waktu bagi sang Kiai di dunia ini.

Maka, mereka berbondong-bondong menjenguk si kiai nyentrik tersebut. Termasuk, teman, rekan, dan sahabat Gus Dur dari kalangan nasrani, datang menjenguk bertepatan dengan Hari Natal.
Ketika Gus Dur melihat sohib-sohib Nasraninya masuk ke kamarnya, meski dengan suara lemah, Gus Dur langsung mengatakan: "Selamat Natal Sedulur..."

Sumber : http://www.tribunnews.com/tribunners/2014/12/19/natal-dan-festival-bir-di-palestina-pelajaran-toleransi-untuk-indonesia



MUHAMADIYAH TAK LARANG 
UMAT MUSLIM MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL


Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah membantah organisasinya telah mengharamkan muslim untuk mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. Organisasi Islam tertua yang didirikan di Yogyakarta tahun 1912 itu belum pernah mengeluarkan fatwa secara resmi yang mengharamkan muslim mengucapkan selamat Natal. (Baca: Syafii Maarif: Selamat Natal seperti Selamat Pagi)

"Kalau pun ada warga Muhammadiyah yang mengharamkan itu perorangan. Biasanya mengacu pada fatwa Buya Hamka," kata Sekretaris Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, Ahad, 21 Desember 2014. (Baca: Yenny Wahid : Ucapan Natal Tak Lunturkan Keyakinan)Padahal, menurut Tafsir, fatwa Buya Hamka yang pernah disampaikan pada tahun 1980-an itu dalam kapasitas sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia. "Buya Hamka memang pengurus pusat Muhammadiyah," kata Tafsir.

Menurut Tafsir, hingga sekarang Muhammadiyah membebaskan warganya untuk mengucapkan selamat Natal kepada umat Nasrani. Sikap itu mengacu pada situasi masing-masing warga Muhammadiyah dalam menjaga toleransi sesama umat beragama. (Baca: Ucapan Natal, Yenny Wahid: Jokowi Jangan Dengar FPI)

Ia menjelaskan, membolehkan ucapan Natal berdasarkan niat dan pengakuan sebagai kelahiran Nabi Isa yang diakui oleh umat Kristen sebagai Yesus. Meski ia menyatakan hingga sekarang belum diketahui secara pasti kelahiran itu. "Masalah tanggal kelahiran sama-sama tak tahu, semua berdasarkan ijtihad," katanya.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah, Ahmad Rofiq, menyatakan masih menghormati fatwa yang dikeluarkan oleh Buya Hamka. Meski begitu, menurut Rofiq, hal itu tak perlu dibesar-besarkan. "MUI tetap menghargai hak-hak umat lain, tak perlu didramatisir," kata Rofiq. (Baca: Syafii Maarif Tiap Tahun Ucapkan Selamat Natal)

Ia menampik tudingan bahwa fatwa yang pernah dikeluarkan oleh MUI itu tak toleran terhadap umat lain. Namun ia menyatakan itu hanya imbauan dalam hubungan ritual agama. "Natal itu ritual ibadah, kalau kami masuk nanti malah jadi masalah," katanya.

Rofiq meminta agar umat melihat sebuah fatwa secara proposional, apa lagi, menurut Rofiq, selama ini MUI sangat toleran terhadap agama lain yang dibuktikan dengan menghargai hari libur nasional dilakukan pada hari Ahad, bukan hari Jumat ketika umat Islam banyak menjalankan ibadah. (Baca: Soal Natal, FPI Anggap Presiden Jokowi Murtad)

"Kami tetap menghargai dan toleran, bahkan dibuat dalam wadah kerukuran antarumat beragama melibatkan tokoh masing-masing," katanya. 

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/12/21/173630022/Muhammadiyah-Tak-Haramkan-Muslim-Ucapkan-Natal



Gus Sholah: Jangan Melarang Ucapkan Selamat Natal


Tokoh pluralisme KH Salahudin Wahid alias Gus Solah meminta Jemaah Ansharus Syariah (JAS) tak memaksakan larangan muslim atau muslimah mengucapkan selamat Natal dan mengenakan atribut Natal khususnya pramuniaga di toko, swalayan, dan mal.

"Kalau hanya menyebarkan (imbauan) tidak masalah tapi kalau memaksakan pendapatnya pada orang lain itu bermasalah," kata Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini, Ahad, 21 Desember 2014. (Baca:Syafii Maarif: Selamat Natal seperti Selamat Pagi)

Menurut Gus Solah, ada perbedaan pendapat di umat Islam soal boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal atau menggunakan atribut bernuansa Natal. "Ada yang mengatakan tidak boleh tapi banyak juga yang mengatakan boleh," kata adik kandung Gus Dur ini.

Gus Solah mengatakan karena ada perbedaan pendapat maka setiap orang dibebaskan mengikuti pendapatnya. "Biarkan masing-masing mengikuti pendapatnya, intinya ada kebebasan menyikapi sesuatu dan enggak boleh dipaksa," katanya. (Baca: Ucapan Natal, Yenny Wahid: Jokowi Jangan Dengar FPI)

Gus Solah juga meminta JAS tidak sampai melakukan razia atau sweeping untuk mengingatkan orang, khususnya pramuniaga muslim atau muslimah di toko, swalayan, dan mal yang tiap tahun mengenakan atribut bernuansa Natal untuk menarik konsumen dalam rangka perayaan Natal. "Kalau sampai razia itu sudah enggak benar, bukan tugas mereka razia," katanya.

Pernyataan Gus Solah menanggapi aksi JAS di Kota Mojokerto, Jawa Timur, 17 Desember 2014, yang menyebarkan selebaran dan membentangkan spanduk berisi larangan muslim atau muslimah mengucapkan selamat Natal atau menggunakan atribut bernuansa Natal terutama karyawan atau pramuniaga toko, swalayan, dan mal yang biasa mengenakan atribut Sinterklas atau Santa saat perayaan Natal. Namun aksi tersebut dicegah polisi. (Baca: FPI Siap Amankan Natal, Asalkan... )

Sementara itu, juru bicara JAS Indonesia, Ahmad Fatih, berjanji anggota JAS tidak akan memaksakan kehendak atas apa yang mereka serukan terkait dengan larangan muslim atau muslimah mengucapkan selamat Natal dan menggunakan atribut Natal. "Kami tidak akan memaksa, kami hanya mengingatkan umat Islam bahwa itu haram," kata Fatih.

Meski sempat dicegah polisi, menurut Fatih, JAS akan tetap melanjutkan seruan tersebut. "Kami tetap lakukan sampai 25 Desember nanti sebab ini dakwah," kata Fatih. Seruan itu menurutnya sudah rutin dilakukan tiap tahun menjelang perayaan Natal. "Dakwah ini kami lakukan di kota-kota yang berada di enam wilayah JAS," katanya. JAS baru tersebar di enam wilayah di Indonesia antara lain DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara.

ISHOMUDDIN
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/12/21/173630013/Gus-Sholah-Jangan-Melarang-Ucapkan-Selamat-Natal



Ucapan Natal, Yenny Wahid: Jokowi Jangan Dengar FPI


Direktur Wahid Institute Yenny Wahid menyarankan agar Presiden Joko Widodo tidak menggubris komentar Front Pembela Islam (FPI) ihwal perayaan Natal. "Presiden tidak usah dengarkan FPI," kata Yenny kepadaTempo, Sabtu, 20 Desember 2014. (Syafii Maarif: Selamat Natal seperti Selamat Pagi) 

Menurut Yenny, merayakan Natal bagi Presiden Indonesia --meski beragama Islam-- adalah sebuah tradisi tahunan. Kehadiran presiden pada hari raya itu dinilai sebagai bentuk pengayoman seorang pemimpin negara terhadap rakyatnya. "Itu diatur, lho, di konstitusi," katanya. (Ansor NU akan Menjaga Ibadah dan Perayaan Natal)

Putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid ini menilai wajar ketika presiden ikut merayakan hari raya salah satu agama yang diakui oleh negara, baik Idul Fitri, Waisak, atau pun Natal. "Tidak membuat keyakinan luntur. Ini bentuk pengayoman saja. Memang FPI luntur, ya, keyakinannya bila memberikan ucapan selamat Natal," Yenny mempertanyakan.

Presiden Joko Widodo diagendakan menghadiri perayaan Natal nasional di bumi cendrawasih, Papua, 27 Desember 2014. Ketua Dewan Syura FPI Misbachul Anam meminta Presiden Joko Widodo tidak mengucapkan selamat Natal. Bila dilanggar, kata Misbach, Jokowi bisa masuk kategori murtad.

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/12/20/078629877/Ucapan-Natal-Yenny-Wahid-Jokowi-Jangan-Dengar-FPI



Syafii Maarif Tiap Tahun Ucapkan Selamat Natal


Tokoh organisasi masyarakat Islam Muhammadiyah, Syafii Maarif, mengatakan ucapan "Selamat Natal" yang dinyatakan oleh umat Islam kepada umat Nasrani tidak perlu dipermasalahkan. (Soal Natal, FPI Anggap Presiden Jokowi Murtad)

Menurut tokoh yang kerap disapa Buya Syafii itu, tokoh ulama di Mesir bahkan sudah jauh hari mengizinkan ucapan "Selamat Natal" kepada umat Nasrani. "Tiap tahun saya mengucapkan 'Selamat Natal' kepada para kardinal dan umat kristiani lainnya," katanya saat dihubungi Tempo, Jumat, 19 Desember 2014. (Ketua PBNU: Ucapan 'Selamat Natal' Tak Haram)

Buya Syafii mengatakan hal itu ketika dimintai pendapatnya berkaitan dengan munculnya pro-kontra larangan bagi umat Islam mengucapkan "Selamat Natal" kepada umat kristiani. Sejumlah ormas Islam mengharamkan siapa pun yang mengucapkan "Selamat Natal". Begitu juga karyawan sebuah perusahaan, yang beragama Islam, menggunakan atribut bernuansa Natal. Bahkan FPI menyebut Presiden Jokowi murtad karena akan merayakan Hari Natal bersama masyarakat Papua. (Bagi Selebaran Anti-Natal, JAS: Bagian dari Dakwah)

Menurut Buya Syafii, ucapan "Selamat Natal" adalah wujud kerukunan hubungan dengan sesama manusia. Atas dasar itu, Buya Syafii berharap agar ucapan "Selamat Natal" tidak dikaitkan dengan masalah teologi. "Jangan berpikir kalau ada yang mengucapkan 'Selamat Natal' ia otomatis memiliki teologi sama," ujarnya.

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah itu juga yakin organisasi masyarakat Islam, seperti Nahdlatul Ulama, berpendapat yang sama dengan dirinya. (Polisi Tangkap Demonstran Anti-Natal di Mojokerto)

Sebelumnya, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Slamet Effendy Yusuf tidak mempermasalahkan jika ada umat Islam mengucapkan "Selamat Natal" kepada umat Nasrani. "Kalau sebatas ucapan 'Selamat Natal', tidak apa-apa," ucap Slamet.

Sependapat dengan Buya Syafii, Slamet mengatakan ucapan "Selamat Natal" merupakan wujud toleransi beragama. Ucapan itu dinilai tidak akan mempengaruhi akidah dan identitas seseorang. "Sikap saling menghormati seperti itu tidak ada urusannya dengan pengakuan imani," tuturnya.

MUHAMMAD MUHYIDDIN
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/12/19/173629763/Syafii-Maarif-Tiap-Tahun-Ucapkan-Selamat-Natal



Dihujat FPI Soal Natal, Jokowi Dibela Ketua NU


Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menghalalkan umat Islam mengucapkan selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. "Kalau sebatas ucapan tidak apa-apa," ujar Ketua PBNU, Slamet Effendy Yusuf, ketika dihubungi, Kamis, 18 Desember 2014.

Sebelumnya, Front Pembela Islam mengharamkan ajaran yang memperbolehkan umat Islam memberikan ucapan selamat Natal. Kalau mereka melakukan, kata dia, berarti mereka sudah murtad. "Tak terkecuali bagi siapa pun, termasuk Presiden Jokowi," kata Majelis Syuro FPI Misbahul Anam. (Ketua PBNU: Ucapan 'Selamat Natal' Tak Haram)

Misbahul Anam ketika dihubungi, Kamis, 18 Desember 2014 menyatakan ucapan natal memiliki dampak pengakuan terhadap eksistensi agama lain. Sebab, definisi Natal dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti hari kelahiran Yesus Kristus. "Jadi ketika ada orang Islam yang mengucapkan natal, artinya mereka memberi selamat atas kelahiran Yesus," kata Misbahul Anam.Bagi Selebaran Anti-Natal, JAS: Bagian dari DakwahDengan pengertian itu, kata Misbach, perdebatan seputar ucapan selamat Natal memiliki dampak serius bagi aqidah seorang muslim. "Padahal dalam Islam jelas Tuhan itu lam yalid wa lam yulad. Tuhan itu tidak dilahirkan dan tidak melahirkan," ujarnya.

Namun, menurut PBNU memberikan ucapan selamat merupakan wujud toleransi beragama. Sikap itu dinilai tidak akan mempengaruhi aqidah dan identitas seorang. "Sikap saling menghormati seperti itu tidak ada urusannya dengan pengakuan imani," kata Slamet Effendy Yusuf. (Jokowi Natalan di Tiga Kota Papua)

Dalam ajaran Islam, lanjut Slamet, sikap toleransi itu tidak berarti seorang muslim boleh menghadiri dan merayakan Natal. "Karena aktifitas yang bersifat ibadati jelas dilarang. Islam menegaskan prinsip beribadah menurut ajaran masing-masing," katanya.

Dalam perkembangannya, kata Slamet, sejumlah ulama memperkenalkan istilah tasyabbuh yang artinya menyerupai pemeluk agama lain. Istilah itu muncul karena laku budaya seseorang merupakan bagian dari identitas agama tertentu. (Ancaman Demonstran Anti-Natal, Polisi Siaga)

"Jadi, Islam tidak mengharapkan pemeluk agama lain untuk menggunakan sarung, kopiah dan baju koko saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. Sebaliknya, umat Islam tidak perlu menggunakan pakaian ibadah agama lain saat mereka merayakan hari raya," kata Slamet.

Meski demikian, kata Slamet, NU masih mentolerir jika ada umat Islam yang menggunakan simbol agama tertentu, asalkan itu tidak terkait dengan masalah ibadah. "Misalnya jika ada penjaga toko yang harus menggunakan pakaian sinterklas," kata Slamet.

Menurut Slamet, prilaku itu bisa dibenarkan asalkan karyawan itu memahami apa yang mereka lakukan. "Tapi harus dipahami bahwa pekerjaaan itu tidak ada urusannya dengan ibadah. Intinya seorang muslim harus kokoh aqidahnya," kata Slamet.

RIKY FERDIANTO
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/12/18/078629555/Dihujat-FPI-Soal-Natal-Jokowi-Dibela-Ketua-NU


Rektor Al-Azhar Cairo University Ahmad At-Tayyib Mengunjungi Paus Sinode untuk Ucapkan Selamat Natal




 شيخ الأزهر يزور البابا شنودة للتهنئة بعيد الميلاد المجيد
ARTINYA: Syaikhul Azhar Mengunjungi Paus Sinode untuk Ucapkan Selamat Natal
قام فضيلة الإمام الأكبر الدكتور احمد الطيب شيخ الأزهر والدكتور على جمعة مفتى الجمهورية والدكتور محمد عبد الفضيل القوصى وزير الأوقاف بزيارة مساء اليوم إلى قداسة البابا شنودة الثالث بابا الإسكندرية وبطريك الكرازة المرقسية لتقديم التهنئة له بمناسبة عيد الميلاد المجيد.
وقد ضم الوفد الإسلامي أيضا الدكتور محمود حمدي زقزوق وزير الأوقاف الأسبق والدكتور محمود عزب مستشار شيخ الأزهر وعدد من قيادات الأزهر الشريف ووزارة الأوقاف
ARTINYA: Grand Syaikhul Azhar Ahmed At-Thayyib, Syeikh Ali Jumu'ah*, Dr. Muhammed Abdel Fadlil al-Qushi dan Menteri Waqaf melakukan kunjungan ke Paus Syanaudah (Sinode) III, seorang Paus Alexandria dan Patriarkh St. Markus, untuk mengucapkan selamat hari Natal.
dalam rombongan delegasi Islam juga ada Dr. Mahmod Hamdi Zaqzuq mantan Menteri Waqaf, Dr. Mahmod 'Azb mustasyar/penasehat Syaikhul Azhar, dan sejumlah pemimpinan Al Azhar lainnya serta kementerian Waqaf.
Dengan adanya berita ini berarti membenarkan ucapan ulama tafsir Prof.DR.M.Quraish Shihab.MA yang mengatakan bahwa Persoalan Tentang Boleh Tidaknya seorang Muslim mengucapkan salam natal hanya ada di indonesia saja
Profesor Muahmmad Quraish Shihab, ahli tafsir dan mantan Menteri Agama menyampaikan penjelasannya soal itu. Penjelasan disampaikan dalam program Tafsir Al Misbah di Metro TV, Ramadan 1435 Hijriah episode Surah Maryam Ayat 30-38.
Berikut ini transkrip penjelasannya:
Saya menduga keras persoalan tentang boleh tidaknya muslim mengucapkan natal kepada umat kristiani hanya di indonesia saja .selama saya di mesir saya kenal sekali dan sering baca di koran Ulama Ulama Al-Azhar berkunjung kepada pimpinan umat kristiani dan mengucapkan "SELAMAT NATAL"

Sumber : http://www.islamtoleran.com/rektor-al-azhar-cairo-university-ahmad-at-tayyib-mengunjungi-paus-sinode-untuk-ucapkan-selamat-natal/


Kesaksian Asmirandah

Kesaksian Asmirandah: Sebuah kesaksian yang akan memberkati kita semua.
Asmirandah mengatakan 'Saya memang baru mengenal Tuhan Yesus,tetapi saya ingin lebih lagi mengenal Tuhan Yesus.Karena DIA adalah satu-satunya PRIBADI
DOWNLOAD DI  : http://www.show2.me/id/video/kesaksian-asmirandah?gclid=CMb9w8vy1sICFQIRjgodmzMAIQ