BAHAN PA DAN RENUNGAN IBADAH EVANGELISASI
Bahan PA Minggu ke-3 Oktober (Teologi Kerja)
Bacaan : Kolose 3:18-25
Nats/Thema : Memberi Arti Terhadap Kerja
A. Pengantar.
Perikop bacaan
hari ini merupakan berintisarikan tentang ajaran yang benar bahwa Kristus
sanggup memberikan keselamatan yang begitu perfec atau sempurna. Keselamatan
itu bukan saja pada soal-soal spiritual atau rohani, tetapi juga Kristus
sanggup untuk menyediakan berkat untuk semua orang dalam berbagai aspek
kehidupannya termasuk berkat atas segala sesuatu yang dikerjakan, asal saja itu
dilakukan dengan benar berdasarkan ajaran serta kehendak Kristus. Segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan
faham-faham atau ajaran dunia akan membuat seseorang semakin jauh dari Kristus,
yang pada akhirnya, berkat yang disediakanNya juga akan semakin jauh.
Melalui Kristus
Allah menciptakan dunia ini, melalui Kristus pula Ia menyelamatkan dan
memberkatinya. Paulus menekankan tentang betapa pentingnya kedisiplinan, baik
dalam keluarga (Ayat 18-21), kedisiplinan dalam hubungan sosial (Ayat 22)
maupun dalam melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kerja. Inilah
kaidah-kaidah praktis – Alkitabiah yang disampaikan oleh Paulus dalam perikop
ini, maka dengan demikian umatNya akan benar-benar diberkati. Sebaliknya bagi
orang-orang yang tidak memiliki disiplin dan melakukan kesalahan dalam
menjalani praktek kehidupan, mereka akan menanggung kesalahan itu. Siapapun dia
yang melakukan kesalahan akanmenerima konsekwensi atau akibat dari setiap
kesalahan yang dilakukannya tanpa terkecuali apapun status serta kedudukan
orang itu. Paulus dalam firman Allah menegaskan bahwa Tuhan tidak memandang
orang, Allah tidak pilih kasih dan memandang muka (Ayat 25).
B. Pertanyaan
Diskusi.
1. Mengapa kita perlu bekerja?
2. Apakah bekerja merupakan sebuah hukuman?
3. Apakah arti atau makna kerja yang selalu kita
lakukan di bidang kita masing- masing
dalam kaitan dengan Iman Kristen?
Keseriusan kita
dalam mengerjakan sesuatu seringkali memang ditentukan oleh makna yang kita berikan
pada pekerjaan tersebut. Konsep inilah yang melatarbelakangi nasihat Paulus
kepada jemaat di Kolose dalam nas hari ini. Secara khusus, Paulus memberikan penjelasan
mengenai pekerjaan para hamba. Ia menasihati mereka untuk memaknai pekerjaan mereka
sebagai pelayanan kepadaTuhanyangpastiakan dibalas-Nya dengan upah surgawi.
Paulus percaya bahwadenganpemaknaan ini, mereka akan mampu mengerjakan pekerjaan
merekadenganberintegritasdantulushati.
Pemaknaan semacam itu bukan hanya berlaku bagi para hamba, namun juga bagi kita
semua dalam mengerjakan tugas apa pun. Tugas harian kita sebagai petani,
pegawai, wiraswasta, pedagang, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya kadang
terasa melelahkan, bahkan menyebalkan atau bahkan membosankan. Adakalanya kita melakukannya
dengan bermalas-malasan. Akan tetapi, kalau kita memaknainya sebagai pelayanan
yang berharga di mata Tuhan, niscaya kita akan terdorong untuk terus
berusaha mengerjakannya dengan segala sukacita dan sebaik mungkin. Inilah
konsep kerja yang benar. Kerja bukanlah hukuman atau malapetaka. Kerja dan
pekerjaan adalah anugerah Tuhan yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Kita bekerja bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi lebih
dalam dari bahwa ketika kita bekerja dengan baik, kita melakukan kebaikan untuk
Tuhan. Kita percaya bahwa dengan bekerja sebaik-baiknya berarti kita menunaikan
sebagian dari tanggung jawab Kristen kita. Kita juga percaya bahwa kerja yang
baik akan mendatangkan upah yang baik dari Tuhan. Upah yang dimaksud adalah
upah atas kerja yang kita lakukan hari ini dan juga upah sukacita pada akhir
zaman. Ini janji Tuhan bagi kita semua. Kita tahu bahwa janji Tuhan itu adalah
ya dan amin, janji itu berlaku untuk selama-lamanya bagi kita,
MEMAKNAI TUGAS SEBAGAI PELAYANAN KEPADA TUHAN MENGGUGAH KITA UNTUK MERAIH
KEUNGGULAN. Amin.
Renungan
Minggu ke-4 Oktober (Kerja, Menuju Kemandirian Dana)
Bacaan : Yosua 18:1-10
Nats/Thema : Mau Berkat? Bekerja Keraslah
Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Jika kita
membaca peristiwa Eksodus dalam kitab Keluaran; bagaimana
Allah membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dengan janji akan kehidupan
baru yang lebih baik di tanah yang berlimpah susu dan madunya yakni tanah
kanaan, maka mungkin saja kita akan mengatakan bahwa Allah terlalu bermurah
hati dan bangsa Israel adalah bangsa yang tinggal tahu terima
beres. Mungkin juga kita akan mengatakan bahwa Allah terlalu
memanjakan umatNya dan tidak mendidik mereka untuk berusaha keras dalam
memperjuangkan sesuatu. Tetapi jika kita membaca serta menganalisa perikop bacaan
kita hari ini secara baik, maka Klaim bahwa
Allah memanjakan umatNya, Israel adalah bangsa yang hanya tahu beres adalah
sebuah Klaim yang sama sekali keliru. Allah bukanlah Allah yang suka
memanjakan. Allah adalah Allah yang maha suka mendidik umatNya. Jika Ia
menjanjikan untuk menyediakan berkat dalam bentuk apapun, Ia mau supaya umatNya
juga bekerja dan berusaha keras untuk dapat memperoleh berkat-berkat itu. Dalam
perikop bacaan hari ini begitu jelas, bahwa Allah mendidik umatNya untuk
berusaha keras dalam meraih berkat tanah pusaka yang telah dijanjikanNya bagi
mereka. Kenyataannya bahwa
setiap suku Israel harus berjuang dan berusaha keras untuk bisa menduduki tanah
Perjanjian itu. Memang, bagi mereka
masing-masing telah ditentukan bagian pusaka yang akan
menjadi milik mereka. Tuhan telah telah menentukan
wilayah-wilayah mana yang akan menjadi milik pusaka dari masing-masing suku, tetapi mereka tidak bisa tinggal
diam, mereka harus berjuang untuk merebutnya. Allah yang
mendidik umatNya untuk berjuang menjadi semakin tampak nyata Ketika
bangsa Israel masih belum juga melakukan apapun untuk merebut tanah pusaka itu.
Dengan keras dari Tuhan, Yosua
menegur mereka “berapa lama lagi kamu
bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan Tuhan Allah
nenek moyangmu?” (ay 3). Apakah teriakan
ini terlalu kejam? Apakah teriakan ini tidak berperikemanusiaan? Atau Apakah
teriakan ini telah menyinggung perasaan seseorang atau bahkan satu bangsa?
Bagi
orang-orang yang anti-edukasi atau anti
terhadap didikan, teriakan ini akan dianggapnya sebagai sebuah teriakan
penghinaan! Bagi orang-orang yang membenci didikan serta berpola hidup manja
dan hanya suka mendengar yang enak-enak saja, teriakan ini akan dianggapnya
sebagai sebuah teriakan yang mengoyak harga dirinya. Dengan teriakan ini
iamerasa ditindas dan orang yang menyampaikan teriakan itu akan segera diklaim
sebagai sosok yang tidak berperikemanusiaan.
Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Teriakan orang
fasik sangat berbeda dengan teriakan Tuhan. Teriakan Tuhan adalah teriakan yang
mendidik, teriakan yang menyadarkan supaya umatNya kembali kepada jalan yang
benar, jalan yang memberinya kehidupan, jalan yang mengembalikan martabat
kemanusiaannya. Sedangkan teriakan orang fasik adalah teriakan yang
menghancurkan! Ketika Tuhan berteriak melalui mulut hambaNya, itu berarti ada
sesuatu yang kurang beres! Perjuangan umatnya yang semakin melemah karena
kemalasan dalam mencapai apa yang telah disediakan Tuhan harus dipanaskan,
dibangkitkan dan dikobarkan kembali.
Dalam teks dan konteks bacaan kita menggambarkan bahwa memang
berkat Tuhan sudah
disediakan, Tuhan sudah tentukan, dan
Tuhan juga telah memberi jaminan bahwa itu akan mereka terima, tetapi itu tidak
akan datang dengan sendirinya, mereka harus berjuang untuk bisa meraihnya.
Sering
kali, dalam kehidupan bergereja, sebagai umat pilihan, umat yang percaya kepada
Tuhan, kita menyalahartikan kasih dan berkat Tuhan. Banyak orang cenderung
berpikir bahwa sebagai umat pilihan, tentu Allah telah menyediakan berkat yang
melimpah. Pemikiran ini Tentu ini tidak salah. Tetapi pandangan seperti ini
sering menggiring kita pada pemahaman “asal percaya pada Tuhan semua akan aman,
asal beriman kepada Tuhan maka semua akan dicukupkan, Tuhan akan menyediakan
segala sesuatu, dan umatNya tinggal
meminta saja. Banyak orang berpikir
bahwa dengan beriman kepada Tuhan maka secara otomatis hidup akan bahagia”. Pemahaman
inilah yang dikatakan oleh Yakobus sebagai Iman yang mati yaitu iman yang hidup
tanpa perbuatan adalah mati atau sia-sia (Yakobus
2:26
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa
perbuatan-perbuatan adalah mati).
Pandangan
seperti ini adalah pandangan yang keliru, ini adalah bentuk iman yang buta.
Makanya tidak sedikit orang percaya yang menganut pandangan ini menjadi stress
berat, menjadi rapuh imannya, ketika
menyadari bahwa hidupnya tidak lebih baik dari kehidupan orang-orang yang tidak
percaya. Jika pandangan seperti ini dibiarkan berkembang maka kita akan menjadi
orang-orang yang malas, berdiam diri, hanya mampu
bertadah tangan, dan tidak mau berusaha keras untuk
memperjuangkan kehidupan meraih berkat Tuhan.
Paulus dalam
pelayanannya pernah menghadapi kehidupan jemaat yang seperti ini, yang hanya
mau menerima tanpa mau bekerja keras. Terhadap orang-orang seperti ini Paulus
dengan tegas berkata “jika seorang tidak
mau bekerja, janganlah ia makan”(2 Tes 3:10). Ini berarti bahwa setiap
orang yang mau menikmati kasih karunia dan berkat Allah tidak bisa hanya berdiam diri dan bermalas-malasan apalagi hanya bertadah
tangan untuk menerima sesuatu dari orang lain. Umat Tuhan
dipanggil
untuk terus-menerus menindaklanjuti
doa dan permohonannya dengan usaha dan kerja keras. Kekristenan tidak
mengajarkan seseorang untuk hidup malas dan tidak mau
berjuang.
Umat Tuhan jangan pernah menyalah artikan kasih
karunia Allah. Ia memang menyediakan berkat dan kelimpahan yaitu tanah
yang subur, susu dan madu bagi umat Israel, tetapi mereka harus berjuang untuk
mendapatkannya. Allah memang menyediakan kelimpahan berkat bagi setiap orang,
tetapi kelimpahan berkat itu harus diperjuangkan dengan tekun. Allah
telah menyediakan masa depan yang cerah bagi setiap orang yang percaya
kepadaNya, Allah telah menjamin bahwa hidup setiap orang yang berharap
kepadaNya akan terpelihara, Allah juga berjanji bahwa ada banyak berkat
tersedia bagi mereka yang beriman kepadaNya, hanya ingatlah satu hal bahwa
semua yang Allah sediakan itu tidak akan menjadi milik kita jika kita hanya
berdiam diri dan bermalas-malasan saja. Jika anda ingin berkat, maka mintalah
kepada Allah lalu bekerjalah dengan giat untuk meraihnya. Amin.
Renungan
Minggu ke-5 Oktober (Teologi
Pengharapan)
Bacaan : 2 Raja-raja 5:1-14
Nats/Thema : “Allah Itu Luar Biasa”
A. Pengantar
Perikop.
Relasi atau
hubungan bangsa-bangsa yang bertetangga tidak selamanya berjalan baik. Hal
serupa juga sedang dialami oleh bangsa Israel dengan bangsa Aram dalam kitab
Raja-raja, di mana saat ketika peristiwa dalam perikop ini terjadi, hubungan politik
Israel dan Aram rupanya sangat kurang harmonis. Peperangan demi peperangan
masih terus berlanjut. Nabi Elia telah terangkat ke sorga, dan sebagai gantinya
munculah Elisa yang memiliki roh Elia (2:15). Pasal-pasal awal dalam 2
Raja-raja menceritakan perbuatan Elisa yang menunjukkan kenabian serta
kemampuannya dalam melakukan berbagai perkara sebagai abdi Allah. Secara
khusus, 2 Raja-raja 5:1-14 mengangkat kisah tentang Naaman, panglima tentara
Aram yang badannya putih karena kusta (bdk. 5:27). ‘Kusta’ dalam berbagai
cerita Perjanjian Lala ada kalanya dipakai untuk menjelaskan penyakit yang
tidak diketahui penyebabnya dan berhubungan dengan sesuatu yang gaib. Perlu
diperhatikan di sini, bahwa bagi orang-orang Israel, kusta adalah penyakit yang
najis dan seorang yang sakit kusta harus dilenyapkan atau diasingkan dari
masyarakat (Im. 13, 14). Tetapi rupanya Naaman yang sakit kusta itu dapat
menghadap Rajanya (2 Raja-raja 5:4). Tidak disebutkan nama Raja Aram saat itu,
tetapi kemungkinan adalah Benhadad, sedangkan raja Israel yang berkuasa adalah
Yoram, yang naik tahta setelah kematian Ahazia (bdk. 2 Raja-raja 1:17). Ada
kemungkinan perbedaan pemahaman mengenai kusta bagi orang Israel dengan orang
Aram sehingga Naaman diperbolehkan berada di istana, atau hal itu terjadi karena
kedudukan Naaman sebagai panglima yang ‘terpandang … dan sangat disayangi’
oleh Raja Benhadad, dan mungkin juga Naaman begitu berjasa bagi negaranya,
bangsa Aram ketika itu (5:1).
B. Pertanyaan
Diskusi.
1. Adakah sesuatu yang menarik dari Kisah
kesembuhan Naaman dalam Perikop
Bacaan kita tadi?
2. Bagaimanakah sikap kita jika kita diminta
untuk melakukan sesuatu yang kelihatannya
tidak mungkin dalam kehidupan kita?
3. Dalam hal-hal apa saja kita bisa menyaksikan
bahwa Allah itu Luar biasa?
C. Tafsiran
– Aplikasi.
Dalam suasana
politik yang tegang, kisah sakitnya Naaman menjadi menarik, bahwa kesembuhan
didapatkan di ‘negeri musuh’. Benhadad, Raja Aram, bahkan mengeluarkan surat
diplomasi untuk Raja Israel agar menyembuhkan Naaman. Naaman pergi dengan
membawa barang-barang pemberian bagi Israel berupa sepuluh talenta (sekitar 340
kg) perak, enam ribu syikal (sekitar 68,5 kg) emas, dan sepuluh potong pakaian.
Ini merupakan pemberian yang sangat besar. Dalam peperangan, jumlah ini
merupakan biaya perang yang besar. Kedatangan Naaman ke Israel rupanya
menimbulkan keterkejutan Raja Israel. Berbeda dengan sang gadis pelayan yang
kemungkinan mendengar cerita rakyat mengenai kehebatan Elisa dan bagaimana
Tuhan menyertainya, rupanya keyakinan Raja Israel tidak sebesar itu. Raja
berkabung dan berpikir permintaan tersebut merupakan akal-akalan Benhadad.
Kesedihan raja diketahui oleh Elisa yang meminta Naaman dikirim ke rumahnya. Umum
di kalangan Timur Tengah waktu itu bahwa kusta dianggap sebagai penyakit yang
berhubungan dengan sesuatu yang gaib, karenanya Naaman berpikir bahwa Elisa
akan mengadakan semacam pengusiran setan atasnya (ay 11). Tetapi Elisa hanya
menyuruhnya mandi di Sungai Yordan. Naaman yang awalnya menolak melakukannya,
diyakinkan oleh para pegawainya, sehingga ia menuruti ucapan Elisa, dan terbukti,
ia menjadi tahir. Terbukti bahwa seketika Naaman Menjadi sembuh.
Perhatikan panjangnya urusan kesembuhan yang melibatkan banyak orang ini :
gadis pelayan à sang nyonya à Naaman à Raja Aram à Raja Israel à Elisa à pegawai Naaman
à
kesembuhan Naaman. Urusan kesembuhan ini melibatkan : orang-orang sederhana
(gadis pelayan dan pegawai) sampai para raja; mereka yang percaya kepada Allah
dan yang tidak; mereka yang mengenal Elisa dan yang tidak. Tetapi mereka semua
tanpa saling mengetahui, ternyata telah membuat suatu jalinan kerja sama dalam meyembuhkan
Naaman.
Ketidaktahuan
manusia tentang betapa luar biasanya Allah sekarang terungkap. Peristiwa yang
melibatkan berbagai karakter membuktikan bahwa Allah itu luar biasa. Ia sanggup
melakukan segala sesuatu, segala perkara yang sering tidak mampu kita pikirkan.
Ia menyatakan kuasanya kepada semua orang, kepada semua golongan, kepada orang
yang percaya kepadaNya maupun yang tidak percaya kepadaNya. Ini maksudnya
supaya Allah dikenal dan keberadaanNya diakui oleh semua orang. Oleh karena
itu, jika Tuhan meminta kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan namaNya, mungkin
apa yang kita mau lakukan itu tidak masuk akal kita, tidak mungkin terjadi.
Tetapi Jika Tuhan yang meminta, mari kita mengerjakannya. Sebab dengan
mengerjakan apa yang Tuhan minta, maka kita akan melihat, mengetahui, memahami
bahwa Allah itu Luar Biasa, Amin.
PA
Minggu ke-1 November (Pembangunan SDM)
Bacaan : Mazmur 141:1-10
Nats/Thema : Mazmur 141:3
Jemaat
Yang diberkati Tuhan.....
Semua orang di dunia ini memiliki
mulut, di mana mulut memiliki fungsi yang begitu vital dan penting bagi
manusia. Dengan mulut, seseorang dapat berbicara atau berkomunikasi. Dengan
mulut seseorang dapat menikmati makanan sehingga keberlangsungan kehidupan
masih tetap ada. Dengan mulut seseorang dapat
mengungkapkan perasaan serta isi hatinya. Dengan mulut orang bisa menciptakan
perang. Dengan mulut, kedamaian dapat diciptakan. Dengan mulut orang bisa
menangis, dengan mulut orang bisa tertawa. Dengan mulut, kita bisa memuji
Tuhan, dengan mulut pula seseorang dapat melakukan dosa dan menghujat Tuhan.
Ada sebuah Pepatah yang mungkin agak sedikit asing bagi kita. Pepatah ini
mengatakan : "Mulutmu Harimaumu". Pepatah ini mungkin cukup ekstrim
atau kurang enak kedengaran di telinga kita. Betapa buas dan kejamnya pepatah
ini. Lalu ketika kita memikirkan lebih jauh, mungkin kita akan mengatakan bahwa
betapa berbahayanya mulut, yaitu salah satu organ tubuh yang kita miliki ini.
Sebagai orang percaya, kita tidak serta-merta mengatakan bahwa pepatah :
“Mulutmu Harimaumu” sebagai sebuah pepatah buruk. Dari sudut pandangan positip,
pepatah yang kedengarannya ekstrim ini sebetulnya mengajarkan kepada kita bahwa
perkataan yang keluar dari mulut ini
harus mampu dikendalikan. Jika kita tidak sanggup mengendalikan mulut kita
dalam berkata-kata, maka saat itulah perkataan itu menjadi ‘galak’ seperti
harimau yang bisa menerkam balik kepada kita. Mulut adalah media untuk
mengartikulasikan atau mengucapkan segala sesuatu yang ada di dalam pikiran dan
hati seseorang.
Dalam
Perjalanan serta pengalaman kehidupan Daud sebagai penulis Mazmur ini, begitu terlihat
bahwa ia bergumul hebat dengan mulut yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya.
Terlihat sangat jelas bahwa pemazmur menyaksikan banyak hal-hal negatip dan
buruk terjadi karena mulut. Ada begitu banyak kefasikan ataupun kejahatan yang
disaksikan oleh Pemazmur di mana salah satu penyebabnya adalah karena mulut
dipergunakan untuk mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan. Dalam
Mazmur 141:1-10 tergambar bahwa salah satu sumber dosa adalah ketika seseorang
salah dalam mempergunakan mulut yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Oleh
karena itu, pepatah : “Mulutmu Harimaumu” ini ingin mengingatkan bahkan mengajarkan
kepada kita untuk selalu mengendalikan mulut kita. Mengendalikan setiap
ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita. Maksudnya adalah jangan sampai mulut
yang adalah karunia Tuhan itu akan merusak seluruh tatanan kehidupan kita.
Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Kalau
dikatakan bahwa kita harus mengendalikan mulut kita, sekarang muncul sebuah
pertanyaan : “Dengan apakah kita mengendalikan mulut kita?”
Pemazmur dalam Mazmur 141:3 sebetulnya sangat jelas mengajarkan kepada
kita, bahwa untuk menyaring perkataan yang keluar dari mulut kita, itu tidak
cukup hanya dilakukan dengan usaha, kesanggupan serta kekuatan sendiri.
Mengendalikan mulut hanya dapat dilakukan dengan berdoa dan memohon pertolongan
dari Tuhan. Ketika Daud dengan segala kekuatannya tidak lagi sanggup menguasai
mulutnya, Dengan penuh pergumulan ia berdoa kepada Tuhan : “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku.”
Jika kita memperhatikan doa ini, maka kita akan semakin disadarkan oleh
sebuah kenyataan bahwa : Betapa liar dan berbahayanya mulut kita. Berdoa adalah
perlawanan yang paling tepat terhadap perkataan yang kotor dan jahat. Karena
begitu besarnya pengaruh serta kekuasaan mulut, sampai-sampai Dalam doanya pada
waktu petang, Daud berseru kepada Tuhan, meminta Tuhan melindungi dan memampukannya
untuk hidup bagi kemuliaan-Nya. Permohonan ini begitu penting sehingga Daud
berharap agar Tuhan menolongnya dalam pergumulan melawan berbagai bentuk
pencobaan. Ia meminta Allah mengontrol perkataan, pikiran, dan tindakannya.
Kerinduan orang percaya adalah hidup kudus dalam setiap aspek kehidupannya.
Dosa dalam berbagai bentuk akan berusaha menyimpangkan setiap kerinduan umat
Tuhan untuk hidup dalam kekudusan. Iblis dapat saja menggunakan Yang berupa
perkataan, misalnya, kita mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan orang
lain. Iblis juga menggunakan kata-kata yang penuh dosa supaya seseorang
menghujat serta menyakiti hati Tuhan. Padahal, kita seyogyanya mengucapkan
kata-kata yang penuh kasih dan membangun orang lain. Seyogyanya mulut kita
dipergunakan untuk terus memuji dan memuliakan Tuhan yang telah berkarya dengan
penuh kuasa dalam hidup kita. Selaku anak-anak Allah, kita perlu dan seharusnya
terus berdoa meminta tuntunan Tuhan. Kuat dan liarnya mulut kita tidak dapat
kita kalahkan dengan kekuatan kita sendiri, Sebab kita begitu lemah dalam
menjaga mulut serta perkataan-perkataan kita. Yang mampu mengalahkan dan mengendalikan
kekuatan mulut kita hanya sesuatu yang lebih kuat dari itu, Dialah Tuhan yang
berkuasa atas segala kuasa. Dengan berdoa, kita menaklukkan diri kepada
Allah hingga terhindar dari dosa karena mulut kita.
Jika kita terus berdoa dan meminta Tuhan mengendalikan mulut kita, maka
Tuhan pasti akan menjaga dan mengawasinya. Jika Tuhan yang menjaga dan
mengawasi mulut kita, maka kita akan dimampukan untuk mempergunakan mulut kita
untuk menghadirkan suasana tenteram, suasana damai sejahtera, dan terlebih-lebih
lagi mulut kita akan kita pakai untuk terus memuji Tuhan, Amin.
PA
Minggu ke-2 November (Pembangunan
SDM)
Bacaan : Galatia 6:1-16
Nats/Thema : “Saling Membantu Sebagai Keluarga
Allah”
A. Pengantar-Tafsiran
Perikop.
Perikop ini
merupakan bagian terakhir dari surat yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat-jemaat
di Galatia, yaitu Jemaat-jemaat yang sedang meragukan kebenaran Injil dan
sementara berhadapan dengan tradisi Yahudi. Disamping itu, Jemaat-jemaat di
Galatia juga sedang meragukan kerasulan Paulus. Konteks ini tentu tidak muncul
secara alamiah, tetapi persoalan ini muncul karena ada para pengajar sesat yang
mengajarkan hal-hal yang membingungkan Iman Jemaat. Di akhir tulisannya, Paulus
menekankan kepada jemaat untuk hidup saling bertolong-tolongan dalam menanggung
beban mereka (ay 2). “Menanggung beban” dalam Bahasa Yunaninya basta,zete = Bastazete berkaitan dengan “memikul” yang mengingatkan
kita akan peristiwa pemikulan salib Krsitus. Beban apa yang dimaksud? Jika Mengacu
kepada ayat 1, maka beban itu adalah beban dosa. Serta memperhatikan berbagai
nasihat Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya, maka beban itu juga berarti
hambatan dan tantangan dalam jemaat, khususnya dari orang-orang yang ingin
‘menyesatkan’ (mengajarkan tentang sunat (5:2-3) sebagai tanda keselamatan,
hidup dalam perhitungan hari-hari Yahudi (4:10), membedakan hubungan antara
orang bersunat dan tidak, bahkan meragukan kerasulan Paulus. Beban ini
merupakan tantangan dari dalam diri masing-masing dan sebagai jemaat.
Karenanya, menjadi penting bahwa setiap orang juga ‘menguji’ diri mereka
masing-masing, apakah mereka sudah benar dan setia kepada ajaran yang telah
mereka dapatkan, sehingga mereka berhati-hati agar tidak menyesatkan jemaat.
Pada akhirnya walaupun jemaat dapat disesatkan oleh para pengajar-pengajar
sesat, tetapi Allah mengetahui segala yang terjadi. Setiap hal apapun yang
dilakukan, pasti ada akibatnya bagi diri mereka sendiri. Bagi orang-orang yang
hidup sesuai ajaran yang benar, maka damai sejahtera dan rahmat Allah akan
turun atas mereka. Demikian pula sebaliknya, bagi orang-orang yang hidup tidak
sesuai dengan ajaran yang benar, maka damai sejahtera akan jauh dari kehidupan
mereka. Sehubungan dengan menguji diri sendiri, Paulus juga mengingatkan dalam
Suratnya (Galatia 6:3) supaya setiap orang jangan merasa dirinya sebagai orang
penting atau “Merasa Bisa”. Keadaan serta sifat seperti ini adalah sesuatu yang
sangat memalukan, sebab jika pada akhirnya ternyata diketahui bahwa dia bukan
orang penting, maka itu berarti ia menipu dirinya sendiri. Orang yang merasa
bisa dan merasa penting dalam Jemaat tanpa menguji dirinya sendiri berdasarkan
firman Allah, biasanya cenderung menyesatkan Jemaat. Karena itu Paulus
mengingatkan supaya Jemaat di Galatia tidak berlaku seperti itu.
B. Bahan
Diskusi.
1. Apakah dorongan Paulus supaya
Jemaat bertolong-tolongan menanggung beban
dosa diartikan kita harus berkompromi
dan berkoalisi dengan dosa?
2. Apakah dalam konteks bergereja
saat ini masih ada pengajar-pengajar sesat yang
sering kali mengguncangkan Iman Jemaat?
3. Bagaimana sikap kita sebagai warga
Gereja supaya Gereja dapat bertumbuh dengan
baik?
C. Aplikasi/Penerapan.
Sanksi sosial dan
sanksi Rohani akibat dosa tetap ada. Orang yang melakukan dosa pasti merasa
bersalah dalam lingkungan sosialnya dan juga merasa bersalah di hadapan Allah.
Ini berlaku bagi orang-orang yang menyadari diri sebagai orang berdosa. Tuhan
memang mengampuni orang-orang berdosa yang mau dibimbing kepada pertobatan,
tetapi akibat-akibat dosa tetap saja tidak dapat terhindarkan. Jika Paulus
mendorong Jemaat untuk saling tolong-menolong dalam menanggung beban dosa, itu
tidak berarti bahwa orang-orang yang tidak melakukan dosa, lalu berkompromi dan
berkoalisi dengan dosa. Paulus sudah mengingatkan : Supaya setiap anggota
Jemaat yang menasehati orang lain yang jatuh ke dalam dosa, pada saat yang sama
juga harus menjaga dirinya supaya jangan jatuh ke dalam dosa yang sama (Ayat
1).
Berbicara tentang
ajaran-ajaran sesat, masalah ini memang tidak akan pernah habis, sebab waktu
belum berujung apalagi berakhir. Ajaran-ajaran sesat akan terus ada. Sadar atau
tidak, begitu sering ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah muncul dalam kehidupan
bergereja masa kini. Ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan firman Allah begitu
banyak berkembang. Oleh karena itu, firman Allah harus senantiasa menjadi
pegangan dan alat uji bagi kita dalam mengahadapi ajaran-ajaran sesat. Belajar
terus tentang firman Tuhan adalah penangkal utama terhadap serangan dari
ajaran-ajaran sesat.
Gereja adalah
ibarat sebatang pohon yang terus bertumbuh dan harus menghasilkan buah-buah
yang baik. Sikap kita sebagai warga Gereja supaya Gereja terus bertumbuh adalah
turut mengambil bagian, bertolong-tolongan menanggung berbagai hal yang
berkaitan dengan kebutuhan yang membuat Gereja bisa bertumbuh dan berbuah.
Dalam kaitan dengan Gereja yang bertumbuh, ada sebuah ungkapan yang
mengatakan “Kita Jangan “Merasa Bisa”,
tetapi kita harus senantiasa mengembangkan sikap serta pikiran “Bisa Merasa”
Artinya peka terhadap hal-hal yang baik yang seharusnya kita lakukan. Niscaya
Gereja akan bertumbuh dan berbuah, Amin.
Khotbah Minggu ke-3 November (Pembangunan SDM)
Bacaan : Galatia 6:2
Nats/Thema : “Rantai Kebaikan”
Jemaat Yang diberkati
Tuhan....
Minggu
yang lalu kita merenungkan Firman Allah dari Perikop Bacaan yang sama melalui
sebuah diskusi Pemahaman Alkitab (PA). Meskipun Perikop bacaan kita minggu ini
sama dengan perikop Minggu yang lalu, tetapi saat ini kita melihat perikop ini
dari sudut pandang yang berbeda dan metode Pemberitaan Firman yang berbeda.
Kali ini kita merenungkan satu ayat saja dari firman Allah yaitu Galatia 6:2.
Metode Perenungan kita saat ini adalah dengan merenungkan sebuah Ilustrasi,
tetapi Ilustrasi ini lebih kepada sebuah realita kehidupan seseorang yang
bernama Bryan Anderson.
Jemaat Yang diberkati
Tuhan....
Pada
suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri
kebingungan dipinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan
pertolongan. Maka pria itu
menghentikan mobilnya di depan mobil wanita itu dan keluar menghampirinya.
Mobilnya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan kurang baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu.Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat!
Mobilnya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan kurang baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu.Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat!
Ngomong-ngomong,
nama saya Bryan Anderson." Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita
lanjut usia seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk
memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari - jarinya
membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi
kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban,
wanita itu menurunkan kaca
mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu
bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat
berutang budi atas pertolongan pria itu. Bryan hanya tersenyum ketika ia
menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia
bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi
masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang
mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir
untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan
mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia
biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal
sebaliknya. Pria itu mengatakan
kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang
yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada
orang itu, dan Bryan menambahkan, Dan ingatlah kepada saya." Bryan
menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu ingin dan membuat orang depresi, namun pria
itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja. Beberapa
kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari
mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil,dan menghangatkan badan sebelum
pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa
bensin yang sudah tua. Pemandangan
disekitar tempat itu sangat asing baginya. Sang pelayan mendatangi wanita itu
dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah.
Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya
berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang
hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya
mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut
itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu
pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu
ingat kepada Bryan. Setelah wanita
itu menyelesaikan makannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100 (Seratus Dolar). Pelayan wanita
itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika
kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung
kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di
meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis
wanita itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah
ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama
seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah
yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti
padamu.'"
Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 (Seratus Dolar) lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik dengan lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson! Kita sudah diberkati Tuhan pada saat kita benar-benar membutuhkan berkat dan pertolonganNya.
Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 (Seratus Dolar) lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik dengan lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson! Kita sudah diberkati Tuhan pada saat kita benar-benar membutuhkan berkat dan pertolonganNya.
Ada
pepatah lama yang berkata,"Berilah maka engkau diberi."
Bertolong-tolonganlah
menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6 : 2)
Jemaat Yang
diberkati Tuhan....
Bukankah kita juga sering mengalami
pengalaman yang sama seperti apa yang dialami oleh Keluarga Anderson?
Pengalaman seperti itu pastilah bukan hanya satu atau dua kali kita rasakan.
Pengalaman seperti itu terlalu sering terjadi. Ketika dalam saat-saat kritis
kehidupan yang kita hadapi, seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi pada
saat di mana kita benar-benar membutuhkan sesuatu Tuhan bertindak dan menolong
kita. Tuhan benar-benar tahu dan mengerti apa yang sedang kita butuhkan. Kunci
pertolongan Tuhan yang tepat pada waktunya bagi keluarga Anderson tidak
terletak pada kekuatiran akan apa yang mereka butuhkan, tetapi justru terletak
pada optimisme mereka dalam berbuat baik kepada orang lain. Kebaikan hati
mereka tertular begitu hebatnya kepada orang lain dan pada akhirnya kebaikan
itu kembali kepada mereka.
Tuhan memenuhi kebutuhan keluarga
Anderson dengan cara yang tidak dapat diselami oleh akal pikiran kita, tetapi
itulah yang terjadi dan dialami oleh keluarga ini. Kehidupan yang suka menolong
orang lain tanpa pamrih adalah sebuah bukti bahwa kehendak Allah berlaku atas
hidup kita. Setiap anak-anak Allah dipanggil supaya senantiasa hidup saling
menolong, sebab cara hidup seperti ini adalah cara hidup yang memenuhi hukum
Tuhan. Berbuat baik tidak akan pernah merugikan para pelakunya. Firman Allah
mengatakan bahwa orang yang menabur kebaikan, pasti pada akhirnya akan menuai
kebaikan-kebaikan dalam hidupnya. Siapa yang mengerjakan kebaikan itu bagi
mereka? Jawabannya adalah Tuhan yang adalah sumber kebaikan itu sendiri. Bagi
orang-orang yang suka berbuat baik dan suka menolong orang lain, Firman Allah
ini berlaku bagi mereka : Pengkhotbah
3:11 “Ia membuat segala sesuatu
indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi
manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai
akhir.” Oleh karena itu jangan
pernah memutuskan rantai kebaikan, supaya kebaikan itu terus menular dan
merambat kepada semua orang. Berbuat baiklah senantiasa dengan hidup saling
menolong. Berilah, maka kamu akan diberi. Terpujilah nama Tuhan, Amin.
PA
Minggu ke-4 November (Pembangunan
SDM)
Bacaan : Efesus
5:22-23
Nats/Thema : “Kasih Adalah Pengikat Keluarga”
A. Pengantar Diskusi.
Permasalahan
keluarga menjadi salah satu hal terpenting dalam keberagaman
permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia.
Permasalahan keluarga yang dihadapi juga ternyata begitu banyak atau beraneka
macam
bentuknya. Mulai dari masalah pasang-surutnya ekonomi
keluarga sampai kepada permasalahan posisi siapa yang dipimpin dan bagaimana
memimpin serta siapa yang penolong dan bagaimana menjadi penolong yang baik.
Ada
satu hal yang perlu diingat kembali; bahwa impian seluruh keluarga adalah
hidup dalam keharmonisan, hidup dalam damai sejahtera.
Kita menyadari bahwa Era ini semakin
jelas menunjukkan bahwa
masalah keluarga bukanlah masalah yang asing terdengar oleh
telinga kita. Kecil besarnya masalah itu tergantung bagaimana anggota keluarga
menyikapinya. Kalau masalah yang sering dihadapi dalam
keluarga tidak menemui jalan yang baik maka dapat dapat dipastikan bahwa hal itu akan berimplikasi
pada perpecahan dan kehancuran keluarga itu sendiri. Pilihan terakhir dari setiap masalah
keluarga yang paling fatal ialah terjadinya
perceraian. Padahal sebagai umat perjanjian Allah,
sebagai anggota keluarga kerajaan Allah, perceraian sangatlah tidak berkenan
dihadapan Allah. jadi sebagai orang-orang
Kristen perlu melihat bagaimana sebenarnya formasi yang harus dibangun menuju
keharmonisan keluarga, supaya perjalanan hidup keluarga dapat berjalan sesuai
dengan maksud-maksud serta rencana Allah yang tertuang
dalam firman-firmanNya.
Untuk mewujudkan cita-cita tentang Idealnya sebuah Rumah Tangga, kita
memiliki begitu banyak akses atau jalan masuk. Banyak teori-teori bahkan
pengalaman praktis yang sudah dilalui oleh orang-orang sukses dalam Berumah
Tangga dapat kita jadikan sebagai contoh yang baik serta bermanfaat dalam
membangun kehidupan Rumah Tangga kita. Dalam konteks sebagai orang percaya,
Alkitab merupakan pegangan serta penuntun yang begitu baik bahkan yang terbaik dan
berharga dalam hal kita membangun kehidupan Rumah Tangga yang berkwalitas dan berkenan di hadapan Tuhan.
Petunjuk-petunjuk Alkitab tentang bagaimana membangun Rumah Tangga yang baik
ini telah dipergunakan sejak zaman purbakala. Bagi mereka yang menjadikan Alkitab
sebagai pedoman serta pegangan dalam kehidupan berumahtangga, maka mereka akan
dimungkinkan untuk menikmati kehidupan Rumah Tangga yang Indah dan
bahagia.
B. Pertanyaan
Diskusi.
B.1. Apakah makna kata “Tunduk” kepada suami dalam
ayat 22 bacaan Alkitab Hari ini?
B.2. Suami yang seperti Apakah yang harus dihormati
oleh Istri dalam sebuah Rumah
Tangga?
B.3. Mengapa Istri harus “tunduk” kepada suami?
C. Aplikasi
– Penerapan.
Dalam perikop
bacaan kita hari ini firman Allah mau berbicara kepada kita tentang bagaimana
Rumah Tangga itu dibangun dengan fondasi yang kuat dan kokoh, sehingga badai
tidak mudah merobohkannya. Firman Allah tidak pernah mengatakan bahwa jika Sebuah
Rumah Tangga dibangun dengan fondasi, dasar yang kokoh, lalu Rumah Tangga itu
akan bebas dari berbagai goncangan yang berupa tantangan atau persoalan. Tetapi
firman Allah mau mengatakan bahwa jika Fondasi atau dasar sebuah Rumah Tangga
berada dalam keadaan kokoh, maka Rumah Tangga itu akan sanggup bertahan,
meskipun badai dan prahara mengguncangkannya. Ia tidak akan hancur apalagi
menjadi puing-puing yang rusak begitu parah.
Kata “Tunduk”
dalam bacaan Alkitab hari ini secara fisik mengandung pengertian: Menghadapkan
wajah ke bawah, kepala yang dicondongkan ke depan dan ke bawah. Pengertian ini
menunjuk pada rasa hormat dari seorang istri terhadap suaminya, di mana keadaan
ini muncul karena rasa kasih yang mendalam, dan kasih yang mendalam terhadap suami
tersebut menggiring seorang istri menghormati suaminya. Secara spiritual atau
dalam pengertian Rohani, “Tunduk” berarti Patuh atau menurut, karena
demikianlah seharusnya hal yang dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya.
Rasa “Patuh” yang dinyatakan oleh istri terhadap suaminya harus dilakukan
sebagaimana ia patuh terhadap Tuhan. Jika kita membaca sepintas ayat bacaan
kita, mungkin para istri akan mengatakan bahwa ayat ini sangat semena-mena
terhadap perempuan yang berstatus istri. Perintah untuk menghormati bahkan
tunduk seakan-akan hanya berlaku bagi suami. Dalam ayat 23 bacaan kita sangat
jelas bahwa istri harus tunduk kepada suami, istri harus menghormati dan
menghargai suami sebab suami memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan
Rumah Tangga. Sebab ia bertanggung jawab atas kehidupan rumah tangganya,
peranan suami diibaratkan seperti peranan Kristus yang menyelamatkan Jemaat.
Seorang suami bertanggung jawab atas seluruh keberadaan Rumah Tangga. Ia
menyelamatkan kehidupan Rumah tangga dari berbagai ancaman, baik ancaman yang
bersifat fisik maupun Rohani. Secara fisik seorang suami bertanggung jawab
melindungi keluarganya dari segala macam bahaya. Seorang suami bekerja keras
supaya kehidupan Rumah Tangga senantiasa berkecukupan, memberikan rasa aman
terhadap semua anggota-anggota Rumah Tangga. Di bawah pengayoman suami, Rumah
Tangga dan semua anggota-anggotanya mengalami rasa aman, tenteram dan menikmati
damai sejahtera. Seorang suami bertanggung jawab melakukan tanggung jawabnya
dan menghindarkan keluarga dari ancaman kemiskinan, kelaparan, menyiapkan apa
yang dibutuhkan keluarga untuk memelihara kesehatan dan sebagainya. Sebagaimana
Kristus melakukan semua itu bagi Jemaat, demikianlah seorang suami melakukannya
bagi Istri dan semua anggota Rumah Tangganya. Secara Rohani, seorang suami
bertanggung jawab dalam membangun kehidupan Rohani dari semua anggota-anggota
keluarganya. Singkatnya Ia adalah seorang Imam dalam Rumah Tangga yang
terus-menerus memimpin Rumah Tangga supaya hidup sesuai dengan Kehendak Tuhan.
Sebagaimana Kristus telah menjadi Imam, memberikan korban bahkan mengorbankan
hidupnya untuk keluarga Kerajaan Allah, demikianlah pengorbanan suami terhadap
seluruh anggota-anggota keluarganya. Kepada seorang suami yang seperti ini,
Alkitab memerintahkan supaya istri “Tunduk” menghormati dan menghargai mereka. Banyak
istri yang telah menyaksikan suaminya bekerja keras, melaksanakan tanggung
jawab secara penuh dalam rumah Tangga, tetapi kepala mereka bukannya condong ke
depan dan ke bawah untuk menghormati serta menghargai suaminya. Mereka justru
mengangkat muka sambil condong ke depan untuk menantang suaminya.
Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang sering membuat kehidupan Rumah Tangga
menjadi hancur. Ada juga suami-suami yang tidak bertanggung jawab terhadap
anggota-anggota keluarganya, sehingga anggota-anggota keluarga harus terlantar
tanpa perhatian.
Firman Allah
yang kita Pelajari hari ini mengingatkan kita supaya masing-masing
anggota-anggota dalam keluarga melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik.
Saling menghargai, saling melindungi dalam hal-hal yang berkaitan dengan
kebaikan. Jika semua yang dilakukan dalam keluarga dan untuk keluarga dilandasi
oleh kasih, maka kehidupan rumah tangga akan kokoh. Badai tidak akan sanggup
menghancurkannya. Ketika badai datang, ia akan terus berdiri kokoh sampai badai
pencobaan itu benar-benar berlalu. Kasih
adalah Pengikat dan perekat yang paling ampuh buat Rumah Tangga kita, Amin.
Khotbah
Minggu ke-5 November (Pembangunan
SDM)
Bacaan : Yohanes 6:60-69
Nats/Thema : “Murid Yang Bertanggungjawab”
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Seorang guru
yang sejati tidak akan pernah berniat menjatuhkan masa depan muridNya. Guru
yang sejati akan selalu menunjukkan apa saja yang harus dilakukan oleh muridnya
agar mereka selamat, Agar mereka berhasil, agar mereka memiliki masa depan yang
lebih baik. Keberhasilan dan kebahagiaan yang diharapkan oleh seorang guru
terhadap murid-muridnya bukan saja keberhasilan di dunia fana ini, tetapi
seorang guru juga sangat merindukan di mana murid-muridnya bahwa suatu saat
melalui pengamalan ilmu dengan baik, mereka bisa meraih dan menikmati kehidupan yang baik
di dunia akhirat.
Seorang guru
yang baik, akan selalu berupaya mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi
murid-muridnya. Guru yang baik tidak segan-segan menerapkan kedisiplinan bagi
murid-muridNya demi masa depan yang lebih baik dari orang-orang yang diajar dan
dididiknya. Untuk itu ia juga rela mengorbankan hidupnya untuk sebuah
pengabdian sebagai seorang guru.
Demikian pula
seorang murid yang baik. Dalam statusnya sebagai murid, ia akan terus berusaha
keras untuk belajar dari sang guru, ia akan belajar dengan sabar untuk menghadapi
semua konsekwensi, mentaati serta mengikuti semua disiplin yang diterapkan oleh
gurunya. Sebab jika ia takut dengan konsekwensi, gagal dalam berdisiplin, maka
ia tidak akan pernah tamat dalam melewati proses sebagai seorang murid. Ketika
ia menyelesaikan proses menjadi murid, selanjutnya ia akan tamat dan
diperlengkapi dengan pengetahuan,
pengalaman, disiplin dan berbagai hal yang dibutuhkan untuk meraih suatu masa
depan yang berpengharapan. Jika seorang murid bersedia melewati proses-proses
kemuridan, maka suatu saat ia pasti bisa memberi dan membawa manfaat bagi
dirinya sendiri terlebih-lebih bagi orang lain.
Tuhan Yesus
adalah Guru sejati. Banyak harapan akan masa depan yang baik ditawarkan
oleh-Nya, tetapi kemudian yang menjadi persoalan adalah : apakah kita sanggup menjadi murid serta siap
menjalani disiplin kemuridan serta menerima konsekuensi ketika menjadi murid
Tuhan?
1.
Pada umumnya manusia senang dengan
pemberian Cuma-Cuma, gratis, tanpa bekerja. Itu sebabnya bila kita ingin
disenangi oleh banyak orang, berbuatlah royal, gampang dan secara membabi-buta suka memberi tanpa
pertimbangan-pertimbangan yang baik. Namun penghormatan yang
diperoleh karena sikap royal sebetulnya
hanyalah seumur harta kita. Begitu harta kita habis, maka habis
pula penggemar kita atau simpatisan kita. Selain itu
pemberian Cuma-Cuma yang terus-menerus berikan kepada
seseorang tanpa tujuan mendidik, itu tidak akan
membuat orang itu mandiri, melainkan membuat dia
terus-menerus hidup dalam ketergantungan
kepada orang-orang lain.
2. Peristiwa yang hampir sama ternyata pernah dialami oleh
Yesus dari Nazareth. Ia tampil di muka
umum dengan membuat mujizat, “mengubah air menjadi anggur”, menyembuhkan orang
sakit bahkan membangkitkan orang mati. Tentu hal ini
membuat banyak orang terpikat oleh-Nya dan mau menjadi pengikut-Nya. Namun
Yesus menyadari, bahwa ia datang ke dunia
bukan sekedar mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Tuhan Yesus sadar bahwa kehadiranNya bukan semata-mata menjadi pembuat
Mujizat. Sebetulnya setiap Mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sangat
memiliki orientasi Aducatif atau Pendidikan kepada banyak orang bahwa Dialah
Juruselamat yang sudah datang itu. Tetapi orang banyak justru tidak memahami
tujuan-tujuan dari setiap Mujizat yang dikerjakanNya. Ia datang bukan untuk pamer
kuasa dan kemampuan. Ia datang untuk menyelamatkan manusia. Dengan tindakan-tindakan Mujizat yang dilakukanNya, Tuhan ingin supaya
orang banyak menjadi :
-
Percaya bahwa Dia adalah sungguh-sungguh
utusan Allah (Yoh. 6:29).
-
Percaya dengan
sungguh-sungguh kepada setiap sabda atau firman yang diucapkanNya
(Yoh. 6:35).
-
Percaya bahwa apa yang dilakukanNya merupakan suatu bukti bahwa itu merupakan kehendak Allah yang dinyatakan kepada dunia (Yoh. 5:30).
3. Rupanya
ketika syarat itu ditawarkan kepada para murid-Nya, mulailah mereka menggerutu. Mengapa harus repot-repot ? Mereka
ingin dan mau menjadi murid tanpa harus dibebani apa-apa. Diam boleh, santaipun
jadilah.
Tetapi Yesus
tidak mau, lalu Ia menggertak mereka
: Siapa yang mau pergi ?
Silahkan
pergi ! ( Yoh. 6 : 67).
Banyak
yang tidak berani mengemukakan pendapat. Mereka diam dan saling baku pandang.
Mereka malu sebab ketahuan isi hatinya yang hanya mau santai dan mendapat
banyak pemberian.
4. Petrus
rupanya bersikap lain. Ia yang telah mengalami pahit getirnya hidup, yang telah
lama bergulat mencari arti hidup
menemukan semua itu dalam diri Yesus gurunya. Maka ia menjawab : Kepada
siapa kami harus pergi ? (Yoh. 6:68). Dan murid semacam inilah yang kelak
dipercaya untuk memegang puncak pimpinan Gereja.
5.
Apakah relevansi firman ini dengan
kehidupan berjemaat di Klasis kita ?
Relevansi atau
hubungan firman Allah ini bagi kita adalah :
Pertama : Menjadi murid Tuhan tidak hanya sekedar
masuk menjadi anggota komunitas belajar untuk beberapa waktu ketika kita masih
merasa senang dan nyaman di tempat itu. Ketika setiap orang memilih untuk
menjadi murid Tuhan, itu berarti mereka siap untuk menjalani kerasnya proses
dalam menjadi seorang murid. Di sana ada disiplin yang harus di taati, di sana
ada konsekwensi-konsekwensi logis maupun tidak logis harus kita jalani. Ketika
seseorang tidak siap dengan syarat-syarat kemuridan ini, maka ia akan segera
Drop Out (D/O) atau keluar dari lingkungan kemuridan itu. Sebab hanya
murid-murid yang berkualitas dan mau mengembangkan kwalitaslah yang layak dan
siap memberi pengaruh bagi dunia ketika ia bisa lolos dan setia dalam memenuhi
tanggung jawab kemuridannya. Dalam kaitan dengan dampak keselamatan bagi dunia,
hanya murid-murid yang taat dan setialah yang akan mampu membawa dan memberi
dampak keselamatan itu bagi dunia. Sedangkan murid-murid yang tidak setia
justru akan Menjadi “batu Sandungan” dan membuat eksistensi atau keberadaan
dunia akan menjadi semakin gelap.
Kedua, Menjadi murid
Tuhan bukan sekedar menjadi simpatisan. Sebab Tuhan tidak membutuhkan para
simpatisan dalam pekerjaanNya. Yang Tuhan butuhkan adalah murid-murid yang mau
bekerja keras dalam memikul tanggung jawab. Hal-hal spektakuler atau luar biasa
sehubungan dengan mujizat-mujizat yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, dalam
kehidupan orang lain bukan bertujuan supaya dari mujizat-mujizat itu kita bisa
mendapat sesuatu untuk kepentingan pribadi kita, tetapi supaya sebagai murid,
kita percaya bahwa apa yang kita lihat adalah bukti bahwa Allah benar-benar
berkarya, dan kita dipanggil untuk percaya pada karya-karya itu, lalu bergiat
dengan segala potensi yang kita miliki meneruskan karya-karya Allah itu kepada
orang lain melalui pelayanan kita. Menjadi seorang murid membutuhkan
pengorbanan, tidak mudah, sebab Guru kita, Tuhan Yesus Kristus sudah lebih
dahulu korbankan diriNya supaya Ia bisa memperoleh murid-murid yang juga rela
berkorban banyak hal demi pelayanan GerejaNya. Pengorbanan dalam pelayanan
Gereja bukan hanya dinyatakan dalam kerangka toretis melalui kesanggupan-kesanggupan
Retorika (Berbicara), tetapi melalui tindakan nyata, di mana setiap orang
dipanggil untuk mengorbankan waktu, harta benda, pikiran, perasaan bahkan
seluruh kehidupan. Dalam Pelayanan dan menjalani proses kemuridan, jangan
pernah bertanya : Apa yang Tuhan sudah berikan untuk saya, tetapi bertanyalah :
Apa yang saya sudah berikan untuk Tuhan, Guru dan Juruselamat saya yang sejati?
Amin.
PA
Teologi
Parousia
Bacaan : I Tesalonika
5:1-11 (Minggu Advent 1)
Nats/Thema : “Berjaga-jaga dalam Iman, Kasih Dan Pengharapan”
A. PENDAHULUAN
Masa
penantian atau Advent dialami oleh segenap Warga Gereja ketika menyongsong
peringatan dan perayaan Natal setiap tahun. Tetapi Advent juga mengandung pengertian menyongsong “Natal Yang sempurna”,
yakni kedatangan Kristus untuk kali yang ke-2. Untuk itu Warga Gereja diajak dan diingatkan untuk
senantiasa menyiapkan diri (dalam iman dan perilaku) untuk menyongsong
Peristiwa
Natal yang
sesungguhnya.
B. PENJELASAN PERIKOP/TEKS.
Teks
1 Tesalonika 5:1-11 menyampaikan berita tentang Hari Tuhan atau hari kedatangan Kristus ke-2.
Tentang waktu kapan kedatangan Kristus kedua tersebut, penulis Kitab Tesalonika
tidak mengetahui, bahkan secara tersurat mengatakan”tidak perlu kutuliskan
padamu” (ayat 1). Hal demikian bukan berarti Penulis Tesalonika tahu waktunya,
tetapi tidak perlu menyampaikannya kepada jemaat. Namun yang ingin disampaikan
adalah waktu kedatangan Kristus ke-2 tidak perlu menjadi perdebatan dan silang pendapat
antar warga Gereja, karena hal demikian memang bukan menjadi urusan manusia.
Meski tidak diketahui waktunya, tetapi kedatangan Kristus ke-2 diyakini
terwujud, bukan sekedar ucapan atau tulisan semata. Kedatangan Kristus yang
ke-2 tidak diketahui waktunya itu diibaratkan dengan kedatangan pencuri, yang
dimengerti dengan tidak diketahui oleh siapapun kapan kedatangannya (ayat 2
dan 4).
Ibarat
atau symbol dalam teks yang disampaikan berikutnya adalah Warga Gereja sebagai
anak-anak siang atau anak-anak terang (ayat 5). Hal demikian menunjuk pada
pengikut Kristus sebagai orang-orang yang tahu tentang jalan Tuhan, perintah Tuhan, serta melakukannya dengan
bersungguh-sungguh hati. Hal yang benar dan bertanggungjawab, sebagai anak-anak
terang tidak akan melakukan perbuatan gelap atau malam. Perbuatan yang memberi arti kejahatan, kedurhakaan,
perseteruan maupun tindakan tidak susila.
Panggilan
yang disampaikan kepada warga jemaat selaku orang-orang siang adalah:
1. Berjaga-jaga dan sadar dalam kehidupan
ini, agar keselamatan dalam Yesus Kristus tetap ada sampai Kristus datang untuk kali yang ke-2 (ayat 6,8).
2. Saling memberi nasehat dan membangun, sehingga segenap warga jemaat terjaga dan sadar setiap waktu, tidak terjatuh pada perbuatan gelap atau perbuatan malam (ayat 11)
C. DIALOG PEMAHAMAN.
Berikut
ini disampaikan percakapan 2 orang Bapak, yang membicarakan atau mempercakapkan tentang Hari Tuhan atau
kedatangan Kristus untuk Kali yang ke-2. Mari kita Simak Percakapan mereka :
Bambang : Pak Sumo, apakah Bapak sudah mendengar berita tentang kedatangan Yesus Kristus yang ke dua?
Sumo : Mendengar beritanya sih, sudah, tetapi kedatangan-Nya khan belum terjadi. Manusia tidak tahu kapan
kedatangan-Nya yang ke-2 kali tersebut. Bukankah firman
yang sering kita dengarkan bahwa kedatangan Kristus kedua kali
seperti pencuri. Kapan datangnya si-pencuri kan pemilik rumah tidak mengetahui waktunya. Bisa jadi ketika pemilik
rumah terlena, tidak waspada, si-pencuri tersebut datang dan menyatroni rumahnya.
Bambang : Kalau kita tidak tahu kapan kedatangan
Kristus kedua, terus kita harus bagaimana? kalau kita bekerja, siap terus menerus, waspada, kan bisa jadi jenuh. Seperti
di TV itu, kita bisa jadi pusiii…ng. Berbeda bila kedatangan Kristus sudah jelas waktunya, tentu kita bisa mempersiapkan diri dengan sungguh - sungguh, serius dan total. Kalau seperti ini kan membingungkan!
Sumo : Apakah kita memang
perlu
tahu
kapan kedatangan Kristus?
Bukankah
semuanya itu ditangan kuasa allah bapa sendiri. Bagi kita warga gereja, bukankah yang kita lakukan adalah mempersiapkan iman, iman yang kukuh dan penuh harapan di
dalam Kristus. Serta etika
Kristiani yang bertanggung jawab. Berkenaan dengan hari atau
waktunya, mengapa kita harus pusing
memikirkannya. Pak bambang tidak perlu pusing.
Bambang : Hal yang lain, Pak. Beberapa waktu yang lalu terjadi
banyak bencana dinegeri kita ini. Termasuk
juga sampai saat ini banyak terjadi tindak kejahatan, tindakan
asusila yang dilakukan oleh orang tua, orang muda, maupun anak di bawah umur. Apakah semuanya itu tanda-tanda atau petunjuk
bahwa Hari Tuhan
segera tiba atau Kristus segera datang
kedua kali?
Sumo : Kalau sebagai tanda atau petunjuk,
jawabannya bisa ya atau sebaliknya tidak. Ya , artinya hal itu sebagai tanda yang mengawali, atau petunjuk dari tuhan bahwa Ia akan
datang. Atau sebaliknya tidak, karena hal-hal tersebut merupakan peristiwa alam, yang bisa murni
pengaruh alam atau sebaliknya keteledoran manusia. Disisi yang lain, bukankah manusia memang tidak tahu masa atau waktu
kedatangan Kristus ke-2. Untuk itu manusia tidak perlu
mereka-reka kapan datangnya.
Bambang : Kalau seperti itu, terus apa bedanya
kita orang percaya dengan orang yang tidak percaya kepada
Kristus. Semua orang khan sama-sama tidak tahu waktunya.
Sumo : Itulah yang menjadi pergumulan kita.
Kita sebagai warga Gereja yang percaya kepada Kristus, serta
menjadi milik Kristus. Apa bedanya orang percaya dengan orang yang
tidak percaya dalam menerima atau “menyongsong” kedatangan
Kristus kedua, perlu kita bicarakan bersama. Untuk itu mari
kita melanjutkan pembicaraan kita dalam PA saat ini.
Bambang : Ayo, Pak Sumo. Saya siap, Mari kita berPA
sekarang...
D. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI
1. Warga Gereja dipanggil untuk
berjaga-jaga dan siap menyongsong kedatangan hari Tuhan di dalam Iman,
kasih dan pengharapan (ayat 6 dan 8). Bagaimana pengertiannya, jelaskan!
2. Warga Gereja dipanggil untuk saling
menasehati dan saling membangun (ayat 11). Apa manfaat dari tindakan
ini secara sosiologis (persekutuan), maupun paedagogis (pendidikan)? Apa isi
nasihat dan sikap membangun tersebut?
3. Apa yang dapat kita lakukan kepada
orang-orang malam atau orang-orang kegelapan dalam konteks advent ini?
E. APLIKASI – PENERAPAN.
Tidak seorangpun tahu, kapan dan di mana Tuhan Yesus datang untuk kali yang
terakhir. Dia sendiri juga tidak pernah mengatakan apalagi menentukan secara
tepat kapan hari kedatanganNya untuk kali yang kedua atau yang terakhir. Tetapi
yang jelas, Tuhan Yesus pasti akan datang. Sebab Ia sendiri telah berjanji
untuk itu. Mungkin kita protes: Tuhan kok tidak blak-blakan saja mengatakan
kapan hari kedatanganNya? Tetapi justru di sinilah letak kehebatan Tuhan.
Dengan tidak menyebutkan waktu kedatanganNya, Ia mau supaya setiap anak-anak
Tuhan, warga Gereja belajar untuk percaya dan terus berharap bahwa satu Saat
Tuhan akan kembali. Seandainya Tuhan telah mengatakan kapan saat kedatanganNya,
pasti masa antara kedatanganNya akan diwarnai oleh keadaan yang benar-benar
kacau, sebab setiap orang mungkin akan hidup dalam dosa, lalu sehari sebelum
kedatangan Tuhan, semua Gereja penuh, Masjid penuh, Pura dan tempat-tempat
Ibadah akan penuh. Dalam sehari semua orang akan bertobat, sebab besok Tuhan
Yesus akan segera datang. Dengan tidak menyebutkan saat kedatanganNya, warga
Gereja bahkan semua orang dipanggil supaya setiap saat berjaga-jaga, hidup
dalam Iman, hidup saling mengasihi, hidup saling menasehati, hidup saling
membangun maksudnya supaya kapanpun Tuhan datang, umatNya sedang berada dalam
keadaan siap dan tetap hidup saling membangun antara satu dengan yang lain.
Mereka saling membangun Iman antara satu dengan yang lain. Jika ada yang jatuh,
yang lain mengangkat dan menasehatinya lalu kembali ke jalan yang benar. Di
Minggu Advent Pertama ini, kita terus berjaga-jaga, kita terus saling
menasehati, kita terus dapat menjadi contoh bagi orang-orang gelap atau
anak-anak malam dalam hal melakukan kebaikan. Apabila Kristus benar-benar
datang, kita di dapati dalam keadaan tidak bercela, tetap setia dan
menyenangkan hati Tuhan, Amin.
Teologi Keselamatan
Bacaan : Zakharia
2:6-13 (Minggu Advent 2)
Nats/Thema :
Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Nabi Zakharia menyampaikan Nubuat atau suara kenabian atau biasa juga
dikenal dengan suara Profetis selama kurang lebih 2 Tahun yaitu antara tahun
520 dan 518. Masa ini merupakan masa-masa di mana umat Tuhan mengalami puncak
kesedihan bahkan kerinduan untuk kembali ke Negeri mereka. Umat Tuhan harus
mengalami masa pembuangan di negeri asing selama kurang lebih 70 tahun, waktu
yang lebih lama dibandingkan 40 tahun mereka mengembara di Padang gurun ketika
umat ini keluar dari Tanah Mesir.
Peristiwa pengasingan atau pembuangan ini menggambarkan kepada kita bahwa
dosa, pemberontakan terhadap Allah membawa dampak-dampak yang sangat
menyakitkan bahkan memilukan bagi kehidupan umat manusia. Tetapi sebaliknya
bahwa pertobatan yang sungguh-sungguh ternyata membawa dampak yang begitu luar
biasa besarnya. Pada saat-saat Umat Tuhan telah menyadari dosa-dosanya di
hadapan Tuhan, kasih Tuhan segera dinyatakan. Masa pembuangan di negeri Babel
segera akan diakhiri. Penderitaan yang sudah sekian lama dialami oleh umat
Tuhan, ketika mereka sudah bertobat, segera akan digantikan dengan sukacita
pembebasan yang besar oleh Tuhan. Allah yang murka ketika dosa berkajang,
seketika berubah menjadi Allah yang bertindak dalam penuh kasih sayang. Ia
membela, Ia melindungi dan menyelamatkan orang-orang yang hatinya hancur dan
mau kembali kepadaNya. Murka Tuhan reda di hadapan orang yang mau bertobat,
kasih Tuhan melimpah, dan Ia sendiri akan hadir di tengah-tengah kehidupan
umatNya untuk terus menyertai mereka.
Peristiwa inilah yang disampaikan oleh nabi Zakharia dalam perikop bacaan
kita hari ini. Menjelang berakhirnya masa penghukuman, Nabi zakharia
menyampaikan nubuat tentang akan datangnya sukacita sesudah dukacita. Umat
Tuhan, sisa-sisa Israel akan kembali
dari Negeri Utara dan dari keempat penjuru angin di mana mereka dahulu dibuang.
Sekarang mereka akan dikembalikan oleh Tuhan ke Sion tanah kelahiran mereka.
Bukan hanya itu, bahkan ada banyak orang lain yang akan mengikuti mereka, sebab
di Sion ada kedamaian, ada sukacita sebab Tuhan kembali hadir di sana.
Jemaat Yang Diberkati
Tuhan....
Pembelaan Tuhan Tuhan begitu agung. Israel yang dahulu memberontak membuat
Allah murka sangat berbeda dengan Israel yang sudah bertobat. Tuhan lebih
menyayangi mereka lagi. Kecintaan Tuhan kepada orang-orang yang bertobat
dimetaforakan sebagai “Biji MataNya.”
Kita tahu, biji mata adalah suatu barang yang begitu berharga dalam
hidup kita. Terhadap anggota tubuh yang begitu berharga itu, kita selalu dan
senantiasa berusaha untuk melindunginya agar terhindar dari bahaya. Begitu
pentingnya biji mata. Tuhan mengibaratkan UmatNya yang sudah bertobat sebagai
“Biji MataNya” sendiri. Firman Allah sangat jelas disampaikan : - sebab siapa yang menjamah kamu, berarti
menjamah biji mata-Nya (Ayat 8.b).
Ungkapan Firman Tuhan ini sangat membuktikan bahwa betapa berharganya
sebuah pertobatan. Sion, Yerusalem yang dahulunya tandus, tidak nyaman
ditempati, sekarang akan kembali berseri. Sion yang dahulunya ketika Istael
hidup dalam dosa merupakan tempat yang dihindari oleh banyak orang, sekarang
akan berdatangan bangsa-bangsa untuk berlindung berlindung di Sion. Sion, kota
yang dahulunya tidak mampu memberikan rasa aman, sekarang menjadi sebuah kota
tujuan bagi bangsa-bangsa, karena Tuhan sudah hadir di sana. Bukan hanya itu,
bangsa-bangsa yang datang mencari perlindungan di sana akan menjadi umat Allah.
Mereka yang dahulunya, bangsa-bangsa yang tidak percaya kepada Tuhan, pada
akhirnya menjadi percaya dan mendapat anugerah Tuhan bersama dengan bangsa
pilihanNya Israel.
Menjadi orang asing di negeri orang adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan.
Umat Tuhan harus mengalami keterasingan ini karena mereka jauh dan berjalan tidak
lagi mendengar suara Tuhan. Mereka semakin jauh dan semakin jauh lagi sampai
akhirnya mereka tidak menemukan jalan untuk kembali kepada Tuhan. Dalam perjalanan
panjang dan jauh dari Tuhan, membuat umat Tuhan mengalami penderitaan dan
penghukuman. Tetapi sekarang ketika mereka bertobat, penghukuman itu segera
berakhir dan Tuhan lebih mengasihi mereka. Di kemudian hari Nubuat nabi
Zakharia tergenapi di mana bangsa-bangsa lain juga masuk ke dalam persekutuan
umat Tuhan, dan mereka bergabung dalam kesatuan berkat serta anugerah Allah.
“....Dan banyak bangsa akan
menggabungkan diri kepada TUHAN pada waktu itu dan akan menjadi umat-Ku dan Aku
akan diam di tengah-tengahmu”.
Siapakah bangsa-bangsa yang dimaksudkan
Tuhan dalam firmanNya ini? Bangsa-bangsa
itu adalah saudara dan saya : Orang Toraja, Orang Padoe, Orang Karunsi’e, Orang
Tambee, Orang Bali, Orang Jawa, Orang Pamona dan semua suku-suku bangsa di
dunia yang menjadi pengikut Tuhan yang setia adalah bagian dari umat Tuhan.
Dalam konteks saat ini, mungkin kita
tidak menjadi orang asing di negeri kita, di tanah kita, di kampung kita, di
kota kita atau di manapun kita berada. Tetapi tidak jarang kita juga merasa
terasing justru di tempat yang begitu ramai. Kita sering merasa terasing diantara
keluarga dan persekutuan kita. Banyak persoalan kehidupan yang kita alami
membuat kita merasa menjadi “Orang Asing” meskipun kita berada begitu dekat di
tengah-tengah keluarga dan persekutuan kita. Kita berjalan sendiri tanpa orang
lain disamping kita. Kita juga begitu sering mengasingkan diri bahkan berjalan
menempuh jalan kita sendiri yaitu jalan sesat yang tidak dikehendaki oleh
Tuhan.
Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Badai kehidupan yang sering kali
mengguncang kehidupan ini sering kali membuat kita mencari jalan kita sendiri
untuk menyelesaikannya. Bahkan begitu sering bahwa persoalan-persoalan
kehidupan membuat kita justru meninggalkan Tuhan serta mencari jalan serta cara
sendiri untuk menyelesaikannya. Bahkan sering juga cara-cara penyelesaian masalah
yang kita tempuh justru membuat hati Tuhan begitu berduka. Perjalanan yang
terlalu jauh karena mengikuti kehendak kita sendiri sering kali membuat kita
tidak lagi mengetahui jalan pulang dan kembali kepada Tuhan.
Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan
kita bahwa panggilan Tuhan untuk kembali sebagaimana yang disampaikanNya kepada
umat Israel juga berlaku bagi kita. Ia berseru-seru dan memanggil kita supaya
kembali ke jalan yang benar. Ketika jalan hidup kita sudah sesat, suara Tuhan
tidak pernah berhenti berseru memanggil kita untuk pulang kepadaNya.
Banyak juga umat Tuhan pada masa kini
tidak mampu menangkap dan mendengar suara Tuhan yang memanggil-manggilnya.
Masalah yang sering muncul membuat ketenangan sering kali hilang. Justru di
tengah-tengah kebingungan itulah, banyak orang begitu mudah digoncangkan oleh
suara-suara yang bukan suara Tuhan. Suara itu begitu cepat datang, suara itu
datang seakan-akan segera memberikan pertolongan terhadap berbagai persoalan
yang sedang kita hadapi. Padahal ketika kita tersadar dan terus mengikuti suara
itu, kita mendapati bahwa kita sudah berjalan terlalu jauh dituntun oleh suara
itu dan kitapun tersesat. Firman Tuhan mengingatkan kita : “Karena
itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (Yakobus
4:7) Di Minggu-minggu Advent ini
kita diingatkan bahwa Tuhan terus memanggil kita untuk hidup dalam kasih
karuniaNya. Tuhan memanggil kita untuk kembali kepadaNya. Pertobatan adalah
pintu yang paling utama untuk dapat memperoleh kembali anugerah serta kasih
sayang Tuhan yang tiada terbatas itu. Tuhan melihat kita begitu berharga
bagaikan Biji mataNya sendiri. Dalam kerendahan hati kita kembali kepadaNya,
pulang dari jalan yang sesat, lalu Ia akan melindungi kita, menjaga kita dan
menyelamatkan kita bagaikan biji mataNya. Selamat Merayakan Minggu-minggu
Adventus, Minggu-minggu penantian akan kedatangan Tuhan untuk menjemput
orang-orang yang selalu mendengarkan suaraNya, Amin.
BAHAN KHOTBAH KEMANDIRIAN JEMAAT GKST
DOSA MENDATANGKAN MURKA ALLAH”
Jemaat Tuhan Yang Diberkati...
Jika kita merenungkan setiap peristiwa bencana alam yang begitu sering terjadi, baik gempa, tsunami, banjir bandang dan bencana letusan gunung, tentunya akan ada pertanyaan, mengapa itu harus terjadi ? mengapa Tuhan begitu kejam?, apa salah dan dosa manusia? Selanjutnya masih banyak lagi pertanyaan – pertanyaan yang keluar dari mulut kita sehubungan dengan semua peristiwa bencana yang dialami oleh umat manusia. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Pemusnahan sekaligus ancaman kemusnahan Alam semesta dan Manusia sebetulnya telah terjadi sejak zaman purbakala sebagaimana yang diberitakan oleh Alkitab Perjanjian Lama. Peristiwa air bah yang baru saja kita baca, secara terang menjelaskan tentang bagaimana kekesalan dan kekecewaan Allah terhadap semua yang telah diciptakanNya. Yang Allah sesalkan bukan karena Ia telah menciptakan alam semesta, makhluk hidup termasuk juga manusia. Tetapi yang disesali oleh Allah adalah Sikap, tindakan dan cara hidup dari apa yang diciptakanNya itu. Manusia sebagai ciptaan yang termulia, diciptakan menurut rupa dan gambar Allah telah mencemari dirinya dengan berbagai perbuatan dosa yang sama sekali tidak disenangi bahkan menyakiti hati Allah. Allah melihat semua itu sangat tidak sesuai dengan rencana dan kehendakNya semula. Dari semua Manusia yang hidup pada masa itu, hanya ada satu yang masih setia, yaitu Nuh dan keluarganya. Kesetiaan Nuh dan keluarganya telah mendatangkan belas kasihan Allah, sehingga ketika Allah berkeputusan untuk memusnahkan semuanya, Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera dan masuk ke dalam bahtera itu bersama – sama dengan semua anak – anaknya dan semua jenis binatang yang jumlahnya masing – masing satu pasang. Maksudnya adalah agar ketika masa bencana dan pemusnahan secara total itu berakhir, maka keberlangsungan dan perkembangan makhluk hidup masih dapat terjadi. Jemaat Yang Diberkati.... Pelajaran apa yang dapat kita petik dari peristiwa bencana besar ini ? Hal mendasar dan Teologis yang dapat kita petik dan pelajari dari perisriwa ini adalah : Allah bisa murka jika Manusia tidak lagi mau hidup dalam ketaatan kepadaNya. Allah bisa saja memusnahakan ciptaanNya jika hal itu tidak dapat menciptakan damai sejahtera seperti yang kehendakiNya. Gejolak kejahatan manusia sebelum air bah dapat saja terjadi dimana – mana, bahkan dalam kehidupan orang – orang percayapun itu bisa terjadi. Karena Kejahatan tidak memandang muka, tidak memandang suku, status sosial, bahkan kejahatan terjadi tidak memandang agama. Kenyataannya bahwa pada masa sekarang ini; misalnya di tengah-tengah kehidupan Rumah Tangga, Perselingkuhan terjadi tidak hanya dalam lingkungan non Kristen, tetapi di lingkungan orang – orang Kristen pun kenyataan seperti itu tidak jarang terjadi. Kenyataan tentang Pementingan diri sendiri, korupsi, pemerkosaan dan masih banyak lagi jenis kejahatan lain yang sering dan banyak dipraktekan oleh umat manusia pada masa sekarang ini, termasuk oleh warga Gereja yang tidak bertanggung jawab. Jemaat Yang Diberkati Tuhan…… Penyesalan Allah menciptakan manusia dapat terjadi jika umat manusia semakin bobrok. Oleh karena itu, Sebelum semua peristiwa yang menyakiti Allah itu terjadi, sebelum kita melakukan tindakan-tindakan jahat seperti itu, mari kita terus memeriksa diri kita, apakah kita masih hidup dalam koridor kehendak Allah atau tidak. Mari kita terus mengarahkan kehidupan kita dan berjalan dalam kebenaran serta kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Mari kita terus berusaha untuk memperbaiki hubungan kita dengan sesama terlebih-lebih hubungan kita dengan Allah. Suasana kekacauan, kebencian, iri hati, dendam dan kejahatan – kejahatan lainnya kita gantikan dengan syalom yang datangnya dari Allah. Ketidaksetiaan dan ketidaktaatan marilah terus kita upayakan untuk diganti dengan kehidupan yang terus taat dan setia pada firman dan kehendak Allah. Ia menghendaki hal-hal itu untuk tidak pernah berhenti kita buat dan lakukan bagiNya. Untuk itulah Ia menciptakan Alam semesta, seluruh ciptaan, dan untuk tujuan ketaatan dan kesetiaan itulah Allah menciptakan kita. Ketika kesetiaan dan ketaatan itu berubah, maka Allah akan sangat menyesal karena telah menciptakan kita. Jemaat Yang Diberkati Tuhan……. Setiap anak-anak Allah memiliki pemahaman yang terang di dalam Iman bahwa segala sesuatu Yang rusak dapat diperbaiki, yang putus dapat disambung. Hubungan yang indah bersama Tuhan dapat terus terjalin ketika ketaatan dan kesetiaan mengalir dari kehidupan setiap anak-anak Allah. Ketaatan dan kesetiaan itu akan membuat Allah terus-menerus bersukacita serta berpihak kepada anak-anakNya. Allah tidak pernah menyesal menciptakan kita, jika hidup ini dipakai untuk melakukan apa yang berkenan kepadaNya. Teks Bacaan kita menjelaskan tentang bagaimana Kejamnya akibat-akibat yang ditimbulkan oleh dosa. Ia melahirkan kehancuran bahkan kemusnahan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Alam semesta beserta dengan segala isinya termasuk umat Manusia mengalami kebinasaan total tanpa bisa diselamatkan lagi. Ketika pintu pertobatan yang masih terbuka disia-siakan, ketika ruang dan waktu untuk kembali ke dalam hidup penuh ketaatan tidak lagi dihiraukan, maka kebinasaan itu segera akan terjadi! Penghukuman Allah atas dosa dan ketidaktaatan itu harus dilaksanakan, sebab Allah selalu menyesal jika dosa dan Pelanggaran merajalela. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Allah tidak kejam. Allah tidak bertindak semena-mena. Tetapi akibat dosalah yang menyebabkan semua bentuk kehancuran dan kebinasaan itu harus terjadi. Allah memberi waktu, Allah memberi kesempatan, Allah membuka pintu pertobatan begitu lebarnya, supaya melalui pertobatan itu kasih Allah mengalir seperti mata air yang melimpah-limpah. Perikop dan teks bacaan kita juga menjelaskan bahwa Allah begitu berpihak kepada orang-orang yang masih hidup dalam ketaatan dan kesetian kepadaNya. Nuh dan keluargaNya selamat dari bencana kebinasaan bukan karena mereka begitu kuat dan mampu bertahan dalam menghadapi bencana itu. Nuh dan keluargaNya selamat dari bencana hanya karena satu hal : Bahwa ketika dunia ini hiruk-pikuk, bergelut dalam dosa dan tidak mau bertobat. Keluarga Nuh tetap setia dan hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Atas dasar inilah Allah berpihak kepada mereka dan keluarga ini diselamatkan dari arus kebinasaan. Saudara....”Dosa Mendatangkan Murka Allah,” Tetapi ketaatan mendatang kehidupan&Keselamatan, Amin.
TEOLOGI TENTANG DOSA
BACAAN : MAZMUR 95 : 1-11
TEMA : BERTOBAT? JANGAN MENUNGGU SAMPAI BESOK!
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Hidup memang tidak mudah. Selalu saja ada tantangan, masalah dan pergumulan yang siap menghadang kehidupan seseorang. Masalah ekonomi dan keuangan sering kali membuat seseorang kebingungan bahkan sampai bisa berputus asa. Bagaimana tidak, untuk bisa memenuhi tuntutan hidup, setiap orang dituntut untuk bekerja keras kapan dan dimana saja. Bagi orang yang berpikir positif, ia akan berjuang mengatasi setiap tantangan dan masalah yang ada. Kesulitan apapun tidak akan menyurutkan langkahnya untuk terus berjuang. Tetapi bagi yang berpikiran negative akan menyerah dan mencari jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya. Salah satu jalan pintas yang sering diberitakan di media massa adalah dengan cara menjual diri. Sebut saja seperti yang dileh seorang remaja putri bernama Dina, gadis kampong yang cantik, tetapi saying, ia bukan tipe orang yang mau berjuang secara positif. Dengan mengandalkan parasnya yang cantik, Dina menjadi seorang “wanita panggilan” sejak berusia 17 tahun. Karena iming-iming uang yang cukup banyak ia tidak segan-segan terjun ke lembah hitam. Uangpun mengalir lancar ke kantong “pundi-pundi”nya. Bukan hanya uang, mobil mewah pun dengan mudah didapatkannya tanpa perlu bersusah-susah berusaha. Keadaan yang menyenangkan inilah yang membuat Dina betah berlama-lama dengan profesinya ini. Pada suatu hari seseorang bertanya kepadanya: “Sampai kapan kamu akan bertahan dengan pekerjaanmu ini?” Dengan enteng Dina menjawab “saya punya target untuk berubah pada usia 30 tahun. Sekarang mengumpulkan modal dulu, maunya nanti buka usaha sendiri”. Pertanyaan orang tadi yang sebenarnya bertujuan untuk memberi nasehat, ternyata tidak dihiraukan oleh Dina. Menyedihkan sekali, untuk bertobat saja, Dina harus menunggu bertahun-tahun. Apa yang dilakukan Dina hanya salah satu respon negative dari kesulitan hidup. Masih banyak lagi bentuk respon negative seseorang terhadap kesulitan hidup yang dihadapi, misalkan saja korupsi, mencuri, menculik dan menjual anak, menipu, dan lain-lain. Sering kali seorang pencuri yang tertangkap akan membela diri dengan berkata, “kami butuh makan pak. Anak kami butuh biaya sekolah. Mau kerja tidak ada lowongan…” dst. Masih banyak lagi jawaban serta alasan yang dikemukakan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Apapun alasannya, respon negative terhadap kesulitan tidak dibenarkan oleh hukum bahkan juga oleh Tuhan, Apalagi jika hal itu menimbulkan kerugian kepada pihak lain. Untuk itu, jika masih ada kecenderungan dalam hidup kita ketika merespon kesulitan hidup dengan cara yang salah sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan dosa, maka marilah kita berubah! Jauhi dan hilangkan kecenderungan-kecenderungan pemikiran seperti itu. Keadaan kita tidak akan lebih baik jika disikapi dengan cara yang tidak benar, malah justru itu akan menimbulkan kesalahan baru yang justru akan menjerumuskan diri kita semakin jauh ke dalam kesulitan hidup. Berbalik dan berubahlah saat ini juga, jangan menunggu hari esok, karena sesungguhnya tidak ada waktu yang lebih baik dan tidak ada kesempatan yang lebih tepat untuk berbalik dan bertobat dari kesalahan dan dosa kita kecuali hari ini juga. Kita menyadari dengan sungguh bahwa tidak satupun manusia bahkan saudara dan saya yang bersih dari pelanggaran dan dosa di hadapan Allah. Kita sadar bahwa secara sengaja maupun tidak sengaja, kita begitu sering menimbulkan penyesalan dan kekecewaan Tuhan. Ketika kita mengambil keputusan untuk bertobat, ketika itulah kita kembali membuka serta membangun hubungan yang baik dengan Allah Sang Maha penuh kasih dan berkat, pada saat yang sama Ia akan menyertai dan menolong kita. Kasih dan penyertaan Allah itu akan senantiasa memampukan kita untuk selalu bersikap positif terhadap berbagai kesulitan dan serta kesusahan hidup yang kita alami. Jika saat ini kita berada dalam kecenderungan dosa dalam menghadapi kesulitan, Masih adakah kesediaan kita untuk Bertobat? Lakukan sekarang juga, Jangan tunda sampai hari esok. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Jemaat Yang diberkati Tuhan..... Keseluruhan Perikop dalam Mazmur 95:1-11 merupakan panggilan Pemazmur kepada semua orang untuk memyembah dan memuliakan Tuhan. Penyembahan dan pemuliaan terhadap Tuhan tidak dapat dilakukan ketika dosa masih melekat dalam hidup para penyembahNya. Orang yang menyembah Tuhan adalah orang yang hidup dalam kekudusan. Hidup dalam kekudusan merupakan kunci bahwa setiap penyembahan, pujian dan pemuliaan terhadap Tuhan akan berkenan dihadapanNya. Pemazmur sungguh menyadari bahwa setiap manusia bahkan dirinya tidak dapat melarikan diri dari hadapan Tuhan. Ia adalah penguasa. Ia adalah Allah yang besar. Ia adalah Raja yang besar dan mengatasi segala allah, artinya; Meskipun ada begitu banyak ilah-ilah lain yang mungkin memiliki kuasa, tetapi kebesaran Allah tidak dapat tertandingi oleh kuasa dan penguasa manapun juga (Ayat 2 dan 3). Terlalu banyak hal-hal yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh ilah-ilah lain, tetapi bagi Allah, segala sesuatu tidak ada yang tersembunyi. Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tanganNya (Ayat 4). Allah Maha tahu. Allah maha kuasa. Dialah yang empunya segala sesuatu dan pencipta segala sesuatu(ayat 5). Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Dosa yang kelihatan dan yang tidak kelihatan seluruhnya ada dalam pengetahuan Allah. Jika kita adalah penyembah-penyembah Allah yang benar, maka dosa tidak akan melekat lagi dalam kehidupan kita. Jika dosa itu masih ada, mari kita membersihkannya. Jika masih ada dosa kebencian, dosa Egoisme, dosa permusuhan, dosa perzinahan, dosa ketidakadilan dan semua bentuk dosa lainnya, mari kita bawa di hadapan Tuhan dalam sebuah pengakuan, sebuah Convesi, sambil memohon pengampunanNya, maka kita akan benar-benar diampuniNya. “Pada hari ini, sekiraNya kamu mendengar suaraNya, jangan keraskan hatimu” Kata firman Allah. Kita bergegas datang kepada Allah dan meminta pengampunanNya. Ketika ucapan Pengakuan dosa (Convesi) di hadapan Allah keluar dari mulut kita dan keluar dari hati yang tulus, maka saat itu juga Tuhan mengampuni kita. Dalam pengampunanNya, kita akan dikuduskanNya, dijadikanNya manusia baru dan menjadi penyembah-penyembah yang benar dan berkenan dihadapanNya. Ia begitu mengasihi kita, karena kita adalah umatNya dan kawanan domba tuntunan tanganNya. Ia tidak mau satupun dari antara kita hilang karena dosa. Tuhan mau setiap umatNya yaitu saudara dan saya bisa masuk ke dalam perhentianNya. Tetapi jika kita terus berkajang dalam dosa, Tuhan berfirman : “Sebab itu Aku bersumpah dalam murkaKu, mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu.” Terpujilah Tuhan dengan janji-janjiNya, Amin.
TEOLOGI TENTANG ROH KUDUS
BACAAN : Kisah Para Rasul 9:19b-31
TEMA : ROH KUDUS ADALAH KEKUATAN KITA
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Sebelum Tuhan Yesus naik ke Sorga, Ia pernah berpesan dan berjanji kepada murid-muridNya seperti ini : “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8). Pesan penting ini mengandung pengertian bahwa Allah bekerja dan terus bekerja untuk menyatakan Misi keselamatan bagi dunia. Pekerjaan Misi penyelamatan dunia tidak berhenti hanya sampai ketika Tuhan Yesus naik ke Sorga. Dunia harus diselamatkan sebelum waktu, ruang dan masa di dunia ini berakhir. Ketika Manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), Allah mencari dan memanggil Manusia untuk kembali ke dalam dekapan anugerah dan kasih sayangNya yang besar. Ia berkenan memperbaharui kehidupan mereka dengan memberi Manusia janji-janji yang baru. Ketika seluruh kehidupan di bumi ini dimusnahkan, Allah masih berkenan menyelamatkan keluarga Nuh dan menyisakan kehidupan yang lain agar masih ada kehidupan berlangsung di dunia ini. Ketika Israel umatNya gagal menjadi berkat dan gagal menjadi alat Penyataan keselamatan Allah bagi bangsa-bangsa, Ia sendiri datang dalam diri Yesus Kristus Sang Anak. Sampai ketika puncak penyelamatan Allah di kayu salib dan pasca kebangkitanNya, Allah di dalam Yesus Kristus masih memberikan perintah kepada murid-muridNya; Untuk memberitakan Kabar keselamatan itu kepada bangsa-bangsa, kepada semua orang, baik jauh maupun dekat, supaya mereka percaya dan selanjutnya menerima keselamatan yang ditawarkan dan disediakan oleh Allah. Realitas ini menggambarkan kepada kita bahwa kasih Allah tidak dibatasi oleh Ruang, waktu dan masa, sepanjang Ruang, waktu dan masa itu masih ada. Kasih itu terus bergerak dan berlangsung Jutaan bahkan Milyaran Tahun sampai Ruang, waktu dan masa di dunia ini berakhir. Allah bekerja dalam Trinitas yaitu dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ia adalah Allah yang Esa yang terus bertindak dalam kasih, kebenaran dan Keadilan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Setelah Saulus mengalami pertobatan, ia benar-benar menjadi seorang sosok yang luar biasa dalam pengajaran dan pemberitaan Injil. Saulus yang selanjutnya menjadi Paulus adalah Rasul terbesar meskipun dia bukan salah satu dari kedua belas murid Tuhan Yesus. Pekerjaan-pekerjaan pemberitaan Injil yang dilakukannya terus mengalami perkembangan pesat. Spirit atau semangatnya dalam memberitakan Injil begitu tidak tertandingi oleh siapapun juga. Ia memberitakan Injil dengan penuh kuasa, sehingga, begitu banyak orang yang datang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Amanat untuk memberitakan Injil sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus dilakukannya tanpa takut menanggung dan menghadapi resiko, bahkan Paulus tidak pernah merasa ragu, gentar dan takut meskipun ia berada dalam ancaman bayang-bayang kematian (Ayat 23,24). Dalam segala situasi dan keadaan, Paulus tetap konsisten dengan tugas yang harus dikerjakannya yaitu memberitakan dan membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Mesias (Ayat 22). Mungkin kita bertanya : “Mengapa Paulus begitu berani bahkan tidak pernah mundur meski menghadapi bayang-bayang kematian dalam memberitakan Injil?” Jawabannya singkat! karena Roh Kudus yang memberinya kuasa. Roh Kudus memberikan keberanian kepada Paulus. Roh Kuduslah yang terus menghibur dan menolongnya ketika ia mengalami saat-saat kritis, sedih dan berada dalam goncangan serta gelombang tantangan pencobaan. Roh Kudus itu juga yang terus memberikannya hikmat ketika ia membutuhkannya. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Apa yang dialami dan dilakukan oleh Paulus menimbulkan rasa heran bahkan Kejadian itu menuai banyak kontroversi atau mengundang perbedaan pendapat di kalangan banyak pihak. Pertama : Ada sebagian pihak yang memandang Negatip terhadap perubahan yang terjadi dalam hidup Paulus. Kalangan ini merasa bahwa Paulus telah mengkhianati komitment mereka selama ini untuk memusnahkan pengikut Tuhan. Dahulu Paulus adalah pimpinan mereka, tetapi sekarang Paulus meninggalkan mereka bahkan hidup bersama dan mengasihi orang-orang yang dahulunya sangat mereka benci. Kelompok ini selanjutnya berusaha untuk membunuh Paulus. Kedua : Ada sebagian pihak yang memandang positip tentang apa yang terjadi dalam kehidupan Paulus, terutama tentang perubahan perilaku kehidupannya. Orang-orang ini diliputi oleh rasa heran oleh sebab perubahan itu. Paulus yang dahulunya begitu membenci Tuhan Yesus dan murid-muridNya, selanjutnya dengan penuh amarah dan kebenciannya, Paulus menghancurkan para pengikut Tuhan. Paulus juga yang begitu setuju dan memprovokasi masa Yahudi dalam peristiwa pembunuhan terhadap Stefanus (Kis 6-7). Tetapi dalam waktu sekejap, Paulus berubah menjadi seorang Rasul yang begitu mencintai Tuhan dan memberitakan Injil tanpa rasa takut sedikitpun. Kalangan ini menerima Paulus dengan tangan terbuka dan bergabung bersama Paulus dalam Pelayanan (Ayat 25,27). Ketiga : Ada juga sebagian Pihak yang menjadi Skeptis atau Ragu-ragu sehubungan dengan perubahan dalam hidup Paulus. Golongan ini berada pada sebuah persimpangan Antara percaya dan tidak. Sikap Ragu-ragu ini menyebabkan mereka merasa takut untuk bergabung dan bergaul dengan Paulus. Tetapi toh pada akhirnya kelompok ini bersedia juga menerima Paulus sebagai saudara dalam persekutuan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Pekerjaan Allah Roh Kudus memang banyak menimbulkan keragu-raguan dan Kontroversi atau perbedaan pandangan di lingkungan umat Manusia bahkan di lingkungan warga Gereja. Hal itu disebabkan karena begitu banyak orang yang tidak sanggup memahami pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa itu. Roh Kudus dapat mengubah seseorang yang begitu jahat menjadi orang yang begitu baik. Roh Kudus sanggup mengubah ketakutan menjadi keberanian untuk memberitakan Injil. Jemaat mula-mula yang diliputi oleh rasa takut akan ancaman penganiayaan dan kematian, sekarang mereka berubah menjadi berani karena mereka dipimpin, dituntun dan dihibur oleh Roh Kudus. Kenyataan ini semakin membuktikan bahwa Roh itu adalah Roh yang penuh dengan kuasa. Kenyataan ini juga semakin membuktikan bahwa ucapan serta janji Tuhan Yesus adalah Ya dan Amin, sungguh-sungguh benar. Bahwa Apabila Roh Kudus turun ke atas setiap orang yang membuka diri untuk dituntunNya, maka mereka akan menerima kuasa, karena Roh Kudus itu adalah Allah sendiri. Roh Kudus itu adalah Allah Trinitas. Allah yang bekerja dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Saudara......mungkin ada begitu banyak hal yang tidak sanggup kita pikirkan dan lakukan dalam hidup kita selaku Gereja, selaku keluarga bahkan selaku pribadi. Selaku Persekutuan dilingkup Klasis ini, banyak rencana yang akan kita dan terus kita kerjakan sehubungan dengan Program-program Kemandirian. Mungkin kita ragu : akankah semua Rencana itu akan terwujud? Kita tidak perlu Ragu! Alkitab membuktikan bahwa Roh Kudus sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan Manusia. Tugas kita adalah membuka diri, membuka hati untuk dituntun, dipimpin dan diatur oleh Roh Kudus. Maka Niscaya segala sesuatu yang tidak mungkin bagi kita, akan dibuat menjadi mungkin oleh Allah Roh Kudus. Percayalah : Roh Kudus adalah kekuatan kita, Amin.
TEOLOGI TENTANG KESELAMATAN
BACAAN : YOHANES 8:30-36
TEMA : KESELAMATAN ADALAH SEBUAH PILIHAN
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Di lingkungan orang Israel atau Yahudi, Yang biasanya disebut sebagai Hamba adalah seseorang yang seluruh hidupnya diabdikan kepada seseorang atau kepada orang lain yang disebut sebagai “Tuan”. Seseorang biasanya menjadi hamba bagi orang lain, itu disebabkan karena lilitan hutang yang tidak terbayar atau karena memang dia adalah keturunan hamba atau budak (Ibrani : Eved). Tetapi selanjutnya Seorang hamba akan lepas dari lingkaran perbudakan, atau statusnya sebagai Budak akan berubah menjadi orang Merdeka, jika ada seseorang yang mau, Rela dan bersedia membayarkan sejumlah uang sebagai tebusan atas Budak itu kepada tuannya. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang kemerdekaan dari dosa, orang-orang Yahudi tidak dapat memahami maksud Tuhan Yesus. Kemerdekaan yang dikatakan Tuhan Yesus dipahami oleh orang Yahudi sebagai kemerdekaan dari perbudakan yang lazimnya mereka pahami. Oleh karena itu mereka menolak tawaran Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan kemerdekaan, karena sebagai keturunan Abraham mereka adalah orang-orang yang telah merdeka, padahal yang dimaksud Yesus adalah kemerdekaan dari perbudakan dosa. Dalam bacaan ini Yesus mengemukakan 2 (Dua) langkah untuk bisa benar-benar merdeka dari perbudakan dosa. Yang pertama, Tetap dalam FirmanNya (ayat 31). Kata tetap dalam Firman mengandung pengertian setia pada kehendak Tuhan, tidak mudah terpengaruh dengan pengajaran-pengajaran di luar Firman Tuhan, selalu bersedia menyatakan kebenaran Firman Tuhan meskipun tidak baik waktunya, serta memegang erat Firman Tuhan sebagai satu-satunya pedoman dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang setia kepada Firman Tuhan tidak akan pernah berpaling, dia tidak akan lari atau meninggalkan kebenaran Firman Tuhan hanya karena tekanan hidup atau tawaran yang menggiurkan. Seseorang yang setia pada kebenaran firman Tuhan, akan tetap tinggal dan memegang erat keyakinannya kepada kebenaran Firman Tuhan itu, meskipun situasi sering kali tidak menguntungkan baginya. Sikap setia pada Firman ini akan membawa setiap pelaku Firman Tuhan pada langkah yang kedua yaitu : Mengetahui kebenaran yang memerdekakan (ayat 32). Seperti apakah kebenaran yang mampu memerdekakan itu? Kebenaran yang memerdekakan itu adalah Yesus, Anak Allah yang hidup, yang bersedia mengorbankan diriNya untuk menebus setiap orang percaya dari perbudakan dosa. Realitas ini menguatkan sebuah keyakinan bahwa Tidak ada seorangpun manusia yang oleh usahanya sendiri mampu menebus dan memerdekakan dirinya dari perbudakan dosa. Setiap orang yang hidup dalam perbudakan dosa membutuhkan orang lain yang benar-benar bebas dari dosa, yang tidak terbelenggu oleh dosa, dan yang benar-benar merdeka. Hanya sosok seperti inilah yang bisa membebaskan setiap orang berdosa dapat keluar dari lingkaran belenggu dosa. Dalam catatan Sejarah kehidupan umat Manusia di atas bumi ini, tidak ada seorangpun yang memenuhi syarat itu kecuali Yesus, karena Dia adalah Anak Allah yang menghapus dosa umatNya bahkan dosa dunia (band. Mat 1:21; Yoh 1:29). Inilah kebenaran itu, dan Kebenaran inilah yang sanggup menyelamatkan setiap orang yang mau percaya kepada kebenaran itu. Di luar itu, tidak ada kebenaran yang sanggup menyelamatkan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Seperti yang dilakukanNya kepada orang-orang Yahudi saat itu, kini pun Tuhan Yesus tetap menawarkan kemerdekaan abadi dari perbudakan dosa kepada setiap orang, juga kepada saudara dan saya. Melalui pemberitaan Gereja, Injil yang memerdekakan itu terus dikumandangkan, terus diserukan. Banyak orang yang telah percaya dan menerima kebenaran itu, tetapi tidak sedikit yang menolak. Bagaimana dengan saudara dan saya? Bersungguh-sungguh hatikah saudara dan saya menerima tawaran Yesus ini, atau sekedar hanya menerimanya sebagai sesuatu yang tidak begitu penting dalam hidup kita? Atau kita menolaknya sama sekali? Saudara....Benar sekali bahwa keselamatan adalah anugerah dari Allah. Tetapi menerima atau menolak keselamatan itu adalah sebuah pilihan. Jika saudara dan saya bersedia menerima tawaran Yesus atas penebusan dosa, maka tetaplah di dalam FirmanNya. Tinggallah dalam Kristus (Yunani : en kristo ) Jadilah murid Yesus yang setia. Tetapi jika saudara menolak untuk tinggal dibawah otoritas FirmanNya, jika saudara lebih memilih setia pada kehendak hati sendiri dari pada kehendak Allah, maka itu berarti saudara telah memutuskan untuk tetap hidup di bawah perbudakan dosa, yang juga berarti bahwa saudara sedang mempersiapkan diri untuk sebuah penghukuman kekal, yaitu tempat yang disediakan bagi orang-orang yang memilih hidup dalam perbudakan dosa yaitu jalan menuju kebinasaan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Dalam kaitan dengan kemerdekaan atas kuasa dosa, Tuhan Yesus dengan sangat tegas mengatakan : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal di dalam Rumah, tetapi anak tetap tinggal di dalam Rumah” (Ayat 34,35). ” Ucapan Tuhan Yesus ini merupakan ketegasan bahwa tidak ada tempat bagi hamba-hamba dosa di rumah Bapa di Sorga. Hanya anak-anak Allah yang telah menerima Kemerdekaan dari dosa, itulah yang diberikan hak untuk tinggal dalam Rumah Bapa di sorga. Tuhan Yesus adalah Anak Allah sekaligus pemilik Rumah di sorga. Ia tidak pernah menjadi hamba apalagi budak dosa. Oleh karena itu, Hanya Dialah yang sanggup membeli dan membayar status kehambaan kita atas kuasa dosa. Harganya sudah dibayar tunai dengan darahNya sendiri, itulah darahNya yang suci dan tidak ternoda oleh dosa. Hanya darah yng suci itulah yang sanggup menghapus dosa-dosa kita. Hanya darah Anak Allah itulah yang mampu memerdekakan kita dari perbudakan dosa. Atas dasar ini, Tuhan Yesus berani dan sanggup memberikan garansi atau jaminan dengan mengatakan : “Jadi apabila Anak itu (Tuhan Yesus) memerdekakan kamu, kamupun benar-benar Merdeka.” (Ayat 36). Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Kemerdekaan dari dosa adalah anugerah bagi setiap orang, bahkan anugerah itu adalah anugerah yang sangat mahal (Expencive Grace). Tetapi mau hidup dalam kemerdekaan yang disediakan oleh Allah atau tetap hidup dalam dosa, itu adalah sebuah pilihan. Tentu saja pilihan itu berjalan dengan konsekwensinya masing-masing. Bagaimana dengan pilihan saudara saat ini? hanya orang yang bijak yang akan memilih dengan kesadaran penuh untuk hidup dalam kemerdekaan. Amin.
TEOLOGI TENTANG ESKATOLOGY
BACAAN : YESAYA 10 : 20 – 27a
Thema : “ KEHIDUPAN KEKAL”
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Saya sungguh percaya akan satu hal yaitu : Seluruh umat Tuhan sepakat untuk mengatakan bahwa “kehadiran (Presensia)” dan pengorbanan Allah di dalam Yesus Kristus adalah untuk kepentingan seluruh umat Manusia, yaitu menawarkan dan menyediakan suatu kehidupan yang kekal pada masa akhir zaman (Eskatology Yunani : eschaton). Pengorbanan Allah dalam sepanjang sejarah penyelamatan membuktikan bahwa Allah sama sekali tidak rela, kalau satupun dari umat Manusia harus mengalami kebinasaan. Ia mau, bahwa semua umat Manusia yang adalah gambar diriNya (Imago Dei), yang dikasihi dan dipeliharaNya sebagai biji mataNya mengalami keselamatan. Seluruh isi hati Allah tentang kecintaanNya kepada umat Manusia telah dinyatakanNya melalui tindakan-tindakan penyelamatan yang dikerjakanNya. Keselamatan adalah kontra (Lawan) Kebinasaan. Jika seluruh umat Manusia yang hilang oleh karena dosa dapat menerima keselamatan yang tersedia sudah dikerjakan oleh Allah, maka betapa besarnya sukacita hati Allah (Band. Lukas 15:5-6). Sebaliknya jika ada diantara umatNya yang hilang dalam kebinasaan, betapa berdukacitanya hati Allah. Ia akan berusaha keras untuk mencari dan menemukan umatNya yang hilang itu (Band. Lukas 15:8). Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Persoalan yang banyak menjadi pergumulan pelayanan Gereja pada masa ini adalah betapa banyaknya umat manusia bahkan umat Tuhan yang lebih suka malah cenderung hidup menurut kemauannya sendiri. Padahal tidak ada satupun umat manusia termasuk umat Tuhan mampu memperoleh berkat serta menikmati kebahagiaan di tengah-tengah keberhasilan sejati jika hidup tanpa menurut jalan dan kehendak Tuhan. Menjelang memasuki tanah Kanaan yaitu Tanah Perjanjian, umat Israel diingatkan supaya mereka terus berjalan menurut jalan yang dikehendaki oleh Tuhan. Pengalaman perjalanan di padang gurun seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi mereka untuk tetap percaya dan berharap kepada Allah yang hidup. Seharusnya, mereka Terus Percaya kepada Perjanjian Allah dengan nenek moyang mereka melalui peristiwa sejarah Perjalanan di Padang gurun. Allah telah membuktikan kasihNya kepada umat Israel, kebutuhan mereka secara utuh, jasmani dan rohani dipenuhi ketika mereka hidup dalam kesetiaan kepada Allah. Di balik itu, Allah juga ingin agar umat Israel selamat, dapat menikmati kehidupan yang tidak putus-putusnya secara turun-temurun di tanah yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Dalam sebuah pengakuan tulus dan jujur, jika kita menilai kecenderungan kehidupan umat manusia bahkan umat Allah sekarang ini, ternyata kecenderungan hidupnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh umat Tuhan pada masa lalu. Banyak orang – orang percaya yang hidup menurut kemauannya sendiri, tidak mentaati hukum – hukum Allah. Tidak punya rasa takut dan hormat kepada Allah. Ibadah-ibadah bagi sebagian orang sering hanya dijadikan sebuah tradisi dari hari ke hari, Minggu lepas Minggu. Akibatnya Ibadah-ibadah yang sering diikuti tidak membawa dampak yang signifikan bagi pertumbuhan warga Gereja. Ibadah terus berjalan, tetapi perilaku kehidupan sering tidak dijadikan sebagai Ibadah yang sesungguhnya. Pertumbuhan Gereja menjadi lamban. Eksklusivitas atau ketertutupan untuk memahami tugas dan panggilan bersama sebagai satu Gereja kepada dunia menjadi semakin tidak jelas. Padahal Tuhan sangat mengecam bentuk-bentuk Ibadah seperti ini. Tuhan mengecam Ibadah-ibadah umat yang hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi tidak mampu membawa dampak terang bagi dunia ( Yesaya 1:14). Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Saya Percaya bahwa Kita pasti ingin menikmati kehidupan yang penuh kebahagiaan di masa yang akan datang. Saya juga percaya bahwa kita ingin bahkan rindu menjadi pewaris kerajaan sorga kekal sampai selama – lamanya. Sisa umat Israel yang dihancurkan oleh Allah akan bertobat, mereka akan kembali ke negeri mereka (Ibrani :Syear Yasyub). Mereka akan kembali menjadi pewaris Negeri Perjanjian setelah mereka mengalami murka Allah. Umat Tuhan Masa kini yang mau kembali dan terus hidup menurut kehendak Allah, melakukan Ibadah yang sejati, mereka akan menjadi pewaris tahta Kerajaan Sorga. Umat Tuhan yang tidak bergeming dalam melakukan setiap kehendak dan Rencana Tuhan akan diberikan kebahagiaan, kekuatan, kesanggupan untuk menjalani dan menikmati kehidupan di dunia ini. Dan yang lebih indah lagi, bahwa umat Tuhan yang hidup dari firman Allah dan melakukannya akan menjadi pewaris Kanaan yang baru, Yerusalem yang baru yaitu Sorga yang kekal. Jemaat Yang Diberkati Tuhan…… Kita tidak mungkin dapat menikmati kebahagiaan dan hidup kekal jika kita tidak taat kepada hukum – hukum Allah, Hidup dalam kebenaranNya. Hidup menurut Hukum dan jalan – jalan Tuhan memberikan kehidupan. Yesus berkata manusia bukan hidup dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah ( Matius 4 : 4b ). Perkataan yang sama pula dipakai oleh Yesus ketika Iblis hendak menyeretnya untuk melakukan Dosa dalam peristiwa pencobaan di Padang gurun saat Tuhan Yesus memulai pelayananNya. Kita tentu akan gagal menjadi pewaris kerajaan Allah yang kekal, jika kita hanya hidup menurut kemauan kita sendiri. Kita tidak akan pernah menjadi pewaris Kerajaan Allah jika kita tidak memakai hidup kita untuk menjadi pelaku – pelaku Firman. Minggu lalu, kita mengenang peristiwa agung yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. DarahNya tertumpah di bukit Tengkorak. Roti dan anggur yang kita terima melalui Perjamuan Kudus Oikumene saat itu merupakan tanda bahwa jika kita hidup benar, dan jika kita benar-benar mengalami penyelamatan Tuhan bagi kita, maka inilah momentum penting bagi kita, bahwa Ia mau supaya kita menjadi pewaris Kerajaan Allah. Perjamuan Kudus Oikumene yang telah kita laksanakan merupakan seruan supaya secara bersama-sama kita merenungkan perbuatan Allah yang begitu dahsyat melalui penyelamatanNya untuk kita. Karena itu, Jika kita ingin hidup kekal, Maka adalah lebih baik menjadi pelaku Firman, walau harus mengalami cemohan dan mungkin juga kita akan dianggap tidak populer. Kita percaya akan satu hal : Bahwa Kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya tanpa perjuangan. Kebahagiaan, kehidupan kekal tidak akan pernah kita raih jika kita tidak berani menantang badai dan gelombang. Tetapi ingatlah saudara....,Firman Allah berkata bahwa barang siapa yang tahan uji, maka Mahkota kehidupan akan menjadi miliknya, Amin? Amin.
PENGUATAN SDM DALAM PELAYANAN
BACAAN : II Tawarikh 35:1-5
Thema : TUHAN MEMBERI TUGAS UNTUK MELAYANI
Jemaat Yang diberkati Tuhan.....
Melayani dan melakukan tugas-tugas Rohani bukanlah suatu perintah yang baru dikenal pada masa Perjanjian Baru. Melayani dan melakukan tugas-tugas Rohani juga bukan suatu perintah yang baru dikenal dalam Sejarah Gereja. Melayani dan mengerjakan tugas-tugas Rohani, atau melakukan tugas-tugas keimaman adalah sebuah perintah yang sengaja diberikan oleh Tuhan kepada umat Manusia dan ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala, bahkan sejak zaman purbakala. Di lingkungan bangsa Israel, Pemimpin Negara, Pemimpin Agama yaitu Para Imam yang umumnya berasal dari suku Lewi dan Umat Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jatuh-bangunnya kehidupan agama di Israel sangat mempengaruhi kehidupan politis dan tentu juga sangat mempengaruhi kehidupan spiritual umat Tuhan. Ketika tugas-tugas pelayanan berjalan dengan baik, ketika umat Tuhan menjadi pilar pendukung dalam pekerjaan pelayanan terhadap Tuhan berjalan dengan baik, maka umat itu diberikan keamanan dan berkenan diberkati oleh Tuhan. Seluruh Sejarah perjalanan umat Tuhan telah membuktikan hal itu. Umat Israel mengalami perjalanan sejarah yang diwarnai oleh situasi jatuh-bangun sebagai suatu bangsa. Pelayanan terhadap Tuhan dalam kehidupan keagamaan mengalami situasi pasang-surut. Ketika pemimpin umat itu adalah orang yang benar-benar taat kepada Tuhan, maka hidup keagamaan serta penyembahan terhadap Allah juga berjalan dengan baik. Ketika pemimpin umat itu adalah seorang pemimpin yang lalim dan tidak taat kepada Allah, maka kehidupan umat dan penyembahan kepada Allahpun mengalami masa kritis, sehingga tidak jarang murka Allah menimpa umat Israel. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Perikop bacaan kita hari ini memberikan gambaran yang sangat baik tentang betapa pentingnya Relasi antara Pemimpin Umat, pemimpin keagamaan dan umat Tuhan. Tiga komponen ini sangat menentukan tujuan, arah serta sasaran ke mana Israel akan melangkah. Tiga komponen ini juga menjadi penentu tentang tindakan Allah terhadap bangsa itu. Sejak masa terakhir pemerintahan Raja Salomo Tahun 922 SM, Keadaan agama di Israel mengalami masa yang paling kacau. Pelayanan dan penyembahan terhadap Allah tidak mendapat tempat yang penting lagi. Ibadah dan hukum Allah tidak lagi menjadi acuan dalam corak kehidupan bangsa Israel. Ditambah lagi bahwa dengan terjadinya perpecahan di lingkungan kerajaan menjadi 2 bagian yaitu Israel Utara dan Selatan , maka secara otomatis keadaan ini sangat mempengaruhi stabilitas politik yang berlangsung di lingkungan bangsa Israel. Perpecahan Israel menjadi 2 Kerajaan membuat mereka menjadi semakin lemah sehingga bangsa-bangsa besar seperti Asyur, Babel dan Mesir dengan mudah menguasai mereka. Inti dari semua ini adalah karena Pelayanan terhadap Allah tidak lagi mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Para pemimpin baik Pemimpin Politis, agama dan umat tidak lagi solid, mereka tidak lagi bersatu dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, di mana semua tugas dan tanggung jawab itu seharusnya dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Pada masa pemerintahan Raja Yosia (639-609 SM), Ibadah dan pelayanan kepada Tuhan dilakukan dan dihidupkan kembali. Raja Yosia melakukan pembaharuan di bidang keagamaan. Ia merobohkan patung-patung Baal (Pasal 34) dan membawa umat Tuhan untuk kembali menyembah Allah dengan cara yang benar dan berkenan kepada Tuhan. Raja Yosia menetapkan tugas-tugas para Imam, tugas-tugas orang Lewi di Rumah Tuhan dan mendorong mereka agar melakukan tugas pelayanan dengan baik sesuai dengan perintah Tuhan kepada Musa pada masa lampau ketika mereka keluar dari Tanah Mesir. Masing-masing komponen harus melaksanakan Tugas secara maksimal, supaya umat Tuhan benar-benar dipelihara oleh Tuhan. Supaya kehidupan bangsa Israel sebagai umat Tuhan berjalan dengan baik, berjalan berorientasi pada pelayanan bersama di mana nama Tuhan dimuliakan. Yosia menyadari bahwa Tuhan memberi tugas kepada umatNya untuk melayaniNya. Tugas pelayanan ini merupakan respon umat Tuhan terhadap Tuhan sendiri yang telah memilih, membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir, menuntun mereka berjalan di padang gurun dan memberikan Tanah Perjanjian itu kepada bangsa Israel. Raja Yosia adalah seorang Reformator yang mengingatkan kembali tentang hakekat Umat Tuhan bahwa mereka seluruhnya diberikan tugas untuk melayani Tuhan, dan Tuhan mengasihi umat yang melayaniNya. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Dari keseluruhan ayat Bacaan kita saat ini (II Tawarikh 35:1-5), ada 3 (Tiga) hal penting harus menjadi catatan pelayanan kita di tengah-tengah jatuh-bangunnya persekutuan Gereja Tuhan : Pertama : Jatuh bangunnya pelayanan Gereja sangat ditentukan oleh solid atau tidaknya para pelayan dengan pelayan dan Pelayan dengan umat Tuhan. Pelayanan Gereja dapat berjalan efektif, menjadi berkat apabila semua komponen melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan panggilannya. Pendeta, Majelis Jemaat, Komisi Kategorial yang melaksanakan tugas dengan penuh pemberdayaan diri akan membuat pelayanan Gereja benar-benar berjalan sesuai kehendak Tuhan. Jemaat yang memberikan dukungan penuh terhadap pekerjaan pelayanan akan memungkinkan Gereja dapat bertumbuh menjadi Gereja yang Misioner. Sebaik apapun pemimpin, sebaik apapun pelayan-pelayan dalam Gereja, jika tidak memperoleh dukungan maksimal dari warga Jemaat, maka semuanya adalah sia-sia. Demikian pula sebaliknya, sebesar apapun dukungan umat Tuhan terhadap pelayanan, Jika tidak dbarengi dengan pelayanan yang sungguh-sungguh dan kinerja yang baik dari para pelayan Tuhan, maka semuanya bagaikan usaha menjaring angin. Kedua : Di tengah-tengah konteks jatuh-bangunnya pelayanan Gereja di hadapan Tuhan, kita terus dipanggil menjadi reformator (Pembaharu) yang terus-menerus memperbaharui diri untuk pelayanan yang lebih baik. Berdasarkan asumsi inilah maka dalam Gereja dikenal istilah Ekklesia Semper Reformanda, artinya : Gereja yang terus diperbaharui dan memperbaharui diri untuk pelayanan yang lebih baik dari masa ke masa. Kita tidak boleh tertutup untuk terus diperbaharui oleh Tuhan melalui firmanNya. Kita harus selalu siap apabila Misi Pembaharuan itu datang. Ketiga : Pekerjaan Pelayanan adalah tugas dari Tuhan yang selalu dikerjakan secara kolektif, artinya secara bersama-sama. Dalam pekerjaan pelayanan, senantiasa ada pembagian-pembagian tugas, di mana masing-masing melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya (Perhatikan ayat 2 dan 3). Pekerjaan pelayanan tidak ditanggungkan hanya kepada 1 orang saja, sebab jika demikian maka pelayanan tidak akan pernah berjalan efektif. Jika pelayanan itu berhasil, maka sukacita atas pelayanan itu hanya akan dinikmati oleh satu orang saja. Sedangkan jika gagal, akibatnya juga hanya akan ditanggungkan atas satu orang. Tuhan tidak menghendaki model pelayanan seperti itu. Ia mau, bahwa sukacita atas pelayanan dinikmati bersama karena dikerjakan secara bersama-sama. Jemaat Yang Diberkati Tuhan...... Kepada Siapakah Tuhan mempercayakan tugas-tugas pelayanan ? Jawabannya adalah kepada kita semua. Karena itu mari kita lakukan tugas kita masing-masing dengan penuh pemberdayaan diri, maka Tuhan akan terus mengasihi kita. Amin.
PENGUATAN SDM
BACAAN : MAZMUR 73 : 21 – 24
NATS : AYAT 23
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Kata “tetapi” sama dengan “namun demikian”, “meskipun demikian”. Kata “tetapi” dalam Nats kita adalah seruan untuk berjuang melawan suatu kuasa atau kekuatan yang mengancam kehidupan kita. Ancaman-ancaman itu dapat berupa pergumulan-pergumulan, sakit-penyakit, beban-beban hidup, tekanan - tekanan, penghalang - penghalang yang akan memisahkan persekutuan kita dengan Tuhan. Merupakan pengalaman hidup kita bahwa di dunia ini orang-orang percaya tidak luput dari kesusahan, penderitaan, bencana, kekacauan yang sering menimpa. Karena harus disadari bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dengan ancaman, mara bahaya dan kadang-kadang ketidakpastian. Keadaan dunia dapat saja membuat kita putus asa, khawatir, takut, gelisah bahkan kehilangan pengharapan. Banyak orang yang dalam keadaan seperti itu bukannya dekat kepada Tuhan tetapi sebaliknya semakin jauh dari Tuhan. Mereka pesimis dan tidak yakin akan penyertaan Tuhan. Malah mereka merasa bahwa Tuhan tidak peduli dan tidak akan melakukan perubahan dalam hidupnya. Orang-orang Pesimis seperti ini sering berpandangan bahwa : “Dekat dengan Tuhan atau tidak dekat dengan Tuhan sama saja”, “mengikuti Tuhan atau tidak, sama saja”. “Mendengar atau tidak mendengar kepada Tuhan sama saja”. Tidak ada bedanya. Demikianlah prinsip mereka. Akibat dari prinsip atau cara berfikir seperti ini menyebabkan banyak orang di zaman ini terbawa arus atau tenggelam oleh arus perubahan dunia. Banyak anak muda yang jatuh ke dalam dosa dan kehilangan masa depan karena terbawa arus perkembangan dunia. Demikian pula dengan keluarga-keluarga Kristen. Keretakan rumah tangga, perselisihan antara suami-isteri bahkan perceraian terjadi karena pengaruh-pengaruh perkembangan dunia saat ini. Banyak pula orang-orang percaya dalam pekerjaan mereka sebagai petani, pegawai Negeri, wiraswasta melakukan pelanggaran-pelanggaran, kesalahan-kesalahan atau dosa. Menyalahgunakan kesempatan dan harta untuk hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan. Semua itu terjadi dan dilakukan karena manusia tidak lagi takut kepada Tuhan, tetapi sebaliknya malah terpengaruh oleh berbagai kepentingan-kepentingan duniawi. Kalau kita melihat pada bentuk, jenis dan latar belakang Mazmur 73 ini, maka kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya pemazmur sedang mengalami pergumulan atau persoalan sehubungan dengan imannya kepada Tuhan. Pemazmur begitu cemburu karena ia melihat keberhasilan yang dialami oleh orang-orang fasik ( ayat 2 dst ). Tetapi Sangat jelas pula tersirat dalam bacaan kita, bahwa meskipun pemazmur mengalami krisis iman, Namun toh pada akhirnya ia berkesimpulan bahwa Allah itu baik ( ayat 1 ). Itulah sebabnya dalam ayat 23 ia berkata : “Tetapi aku tetap didekat-Mu.” Kata “Tetapi” dalam ayat 23 ini, jika secara bebas diberi kesempatan untuk menyambungnya, maka pasti ada yang menyambungnya seperti ini, “Tetapi aku tetap pada prinsipku sendiri, cara hidupku sendiri, pendapatku sendiri dan aku tidak mau dekat pada Tuhan. Aku tidak mau mendengar nasihat dan petunjuk dari Tuhan”. Titik....! Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Pada hari ini, ketika kita datang beribadah, bersekutu, memuji Tuhan di Rumah-Nya yang kudus, tentu itu sangat dilandasi oleh satu keyakinan bahwa kita memerlukan Tuhan. Kita tidak dapat menolong atau menyelamatkan diri kita sendiri. Kalau kita jatuh ke dalam lumpur atau sumur yang dalam kita tidak mungkin menarik tangan kita sendiri supaya kita bisa keluar dari sumur atau lumpur itu. Tetapi kita memerlukan orang lain yang akan menarik tangan kita. Demikian pula dengan kehidupan ini, bahwa dalam seluruh aktivitas setiap hari, sungguh disadari bahwa kita begitu membutuhkan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Hal itu terjadi karena kita sadar bahwa Tuhanlah yang memegang tangan kita. Perlu dicatat bahwa firman Allah menyebutkan : bahwa Yang dipegang oleh Tuhan adalah tangan kanan Kita. Bukan tangan Kiri kita. Sangat Diplomatis bukan? Mengapa Tangan Kanan kita yang dipegang oleh Tuhan? Pada umumnya, Tangan Kanan adalah tangan yang kuat untuk bekerja. Sebagai Petani, tangan Kanan kita adalah tangan yang kuat untuk bekerja mengayun cangkul dan mengarahkan mata bajak di sawah. Tangan Kanan itu pula yang begitu kokoh bekerja di areal perkebunan kita. Itulah Tangan yang berkeringat, tergores bahkan seringkali terluka ketika kita berjuang mengolah Tanah yang Tuhan karuniakan. Sebagai pengawai negeri Sipil; Guru, TNI/POLRI, Pegawai kantor maupun wiraswasta, tangan Kanan adalah tangan yang kuat yang dapat kita pergunakan untuk menulis atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Demikian pula halnya dengan pelajar dan profesi-profesi lainnya. (pengecualian bagi orang-orang kidal yang lebih banyak mengandalkan tangan kiri untuk bekerja, tetapi untuk hal-hal lain, tangan Kanan mereka juga memiliki banyak fungsi). Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Tangan kanan juga adalah tangan yang selalu kita pakai untuk memberi salam, memberi hormat, memberi pertolongan, berjabatan tangan dan berdamai dengan orang lain. Meskipun Pemazmur berada dalam kebingungan, ketidakmengertian tentang Realita atau kenyataan kehidupan yang sering terjadi (ayat 21 – 22), tetapi ia tetap berkomitmen, berkeputusan untuk selalu dekat dengan Tuhan. Ia sungguh percaya bahwa Tuhan yang memegang tangan Kanannya. Tuhan yang memberi nasehat dan menuntun perjalanan hidupnya sehingga ia berkenan diangkat ke dalam kemuliaan. Jemaat yang hadir dalam Ibadah saat ini: Lanjut usia, orang tua, orang muda, laki-laki, perempuan, pribadi maupun keluarga-keluarga, petani pegawai negeri, maupun wiraswasta tentu saja mempunyai pergumulan, persoalan, penderitaan serta beban-beban hidup kita masing-masing. Masalahnya adalah : Apakah kita akan tenggelam atau terbawa arus oleh rupa-rupa persoalan hidup kita? Apakah kita akan mengandalkan kemampuan kita sendiri untuk mengatasi segala macam persoalan-persoalan hidup kita? Ataukah kita akan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidup kita? Tidak saudara...., Jika kita belajar dari pemazmur, maka kita akan selalu dekat dengan Tuhan sebab Tuhan akan terus memegang tangan kita, sehingga di sepanjang hidup kita, kita tidak akan tergoda, kita tidak akan pernah terbawa arus atau tenggelam di dalam masalah-masalah hidup kita. Tetapi sebaliknya bahwa ketika kita dekat dengan Tuhan, kita akan kuat untuk bekerja, kita akan kuat untuk terus berjuang sesuai dengan talenta dan profesi kita masing-masing, dan pada akhirnya Tuhan akan berkenan mengangkat kita ke dalam kemuliaanNya. Amin....? Amin.
PENGUATAN SDM
BACAAN : 1 Petrus 1:1-7
THEMA : KUAT DALAM PENCOBAAN
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Proses pemurnian Perak dan Emas menggambarkan proses keimanan kita. Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam proses "pembakaran" seperti apa yang digambarkan oleh Alkitab. Tetapi Tujuannya tidak pernah bermaksud untuk menyiksa kita, tetapi sebaliknya bahwa proses itu bertujuan untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya Emas yang dibakar hingga menjadi Emas murni, iman kita pun terkadang harus melalui proses pemurnian melalui penderitaan-penderitaan yang kita alami. Mungkin penderitaan itu rasanya sangat menyakitkan. Seperti halnya Perak atau Emas yang dimasukkan ke dalam api hingga menjadi murni, demikian pula gambaran Iman kita di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Reaksi dan tindakan seseorang dalam menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup merupakan ukuran, seberapa jauh Iman seseorang itu kepada Tuhan. Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya sepenuhnya pada rancangan Tuhan, dan mereka sungguh percaya akan penyertaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan yang mereka jalani baik ketika susah maupun senang, baik ketika Krisis maupun di saat berkelimpahan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Kita tahu bahwa pada zaman Rasul Petrus, tampaknya menjadi orang Kristen bukanlah sesuatu yang ringan. Ada banyak tekanan, ancaman dan siksaan bahkan menjadi martyr menjadi konsekuensinya. di tengah situasi ini, Rasul Petrus mengingatkan manfaat dari sebuah pencobaan. Maksudnya adalah supaya orang-orang percaya mampu dan tetap tegar dalam menghadapi pencobaan itu. Rasul Petrus memulainya dengan kalimat yang mengingatkan esensi hidup yang sejati dalam Kristus. "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu." (1 Petrus 1:3-4). Di sini Rasul Petrus menggambarkan bahwa hidup baru dalam Kristus adalah hidup yang penuh dengan pengharapan, yaitu hidup yang dipersiapkan untuk menerima bagian dalam kerajaan Sorga sebagaimana disediakan oleh Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Rasul Petrus kemudian mengingatkan agar Jemaat, warga Gereja tetap kuat ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. Bukan hanya kuat, tapi ia menasehati supaya mereka bergembira. "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan." (ay 6). Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Bagaimana mungkin seseorang bisa mengalami sukacita dan bergembira ditengah-tengah permasalahan kehidupan yang sedang dialami? Oleh karena itu, bahwa Untuk memahami Filosofi ini, Rasul Petrus mengambil contoh tentang pemurnian Emas. "Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." (ayat 7). Perhatikan Saudara...., bagaimana Rasul Petrus membandingkan proses pemurnian Iman dengan proses pemurnian Emas. Jika Emas saja butuh dimurnikan dengan mengalami proses sulit hingga akhirnya menjadi Emas murni yang berharga, apalagi iman kita yang jauh lebih berharga dari Emas. Emas adalah benda fana, yang tidak kekal, sedangkan iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang bersifat kekal (ay 9). Oleh karena itu, semakin Jelaslah bagi kita bahwa iman kita jauh lebih berharga dari Emas. Lalu, Jika Emas saja harus dimurnikan agar bisa menjadi berharga, apalagi Iman kita. Iman itu harus terus dimurnikan, agar dengan Iman yang murni itu, setiap orang yang memilikinya akan dibawa kepada kehidupan yang penuh sukacita dan yang bersifat kekal. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Ayub juga pernah mengalami serangkaian penderitaan yang tak terperikan. bagi Ayub itu sangat berat, tapi pada suatu ketika Ayub pun menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian. "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." (Ayub 23:10). Ayat ini menjelaskan tentang bagaimana Ayub menyadari bahwa Imannya dikuatkan justru ketika ia mengalami ujian. Pesan Rasul Petrus yang menguatkan jemaat di masa kesulitan pada Abad Pertama itu masih relevan dengan kehidupan umat Tuhan di abad 21 ini. Pesan itu bertujuan agar setiap umat Tuhan tidak goyah ketika menghadapi penderitaan yang disebabkan oleh karena Imannya. Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan yang kita hadapi, belum lagi berbagai bentuk godaan duniawi yang setiap saat bisa merontokkan iman kita. setiap hari kita berhadapan dengan berbagai ujian yang bisa menjadi alat ukur kemurnian iman kita. Bagaimana kita menyikapi permasalahan yang kita hadapi, itulah standard, seteguh apa Iman percaya kita kepada Tuhan. Pencobaan yang terkadang membawa kita ke dalam penderitaan yang dalam, adalah alat berharga yang dipakai oleh Tuhan untuk membangkitkan pengharapan serta ketekunan kita. Itu juga menjadi alat untuk melatih Iman kita agar lebih kuat dan kokoh di dalam Tuhan. Proses "pembakaran" iman kita akan melepaskan segala kotoran yang melekat dalam hidup kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni seperti Emas yang murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Umat Tuhan, saudara dan saya memang sedang dipersiapkan oleh Tuhan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi yang bertahan dalam ujian. Apakah hari ini ada diantara kita yang merasa seperti berada di tengah api yang panas oleh sebab pencobaan? Saudara Jangan putus asa, tetapi bersyukurlah dalam melewatinya. Jangan menyerah dan terburu-buru mencari alternatif yang menyesatkan ketika sedang menghadapi proses pemurnian Iman. Sebab di ujung proses itu ada upah besar yang sedang menanti. Percayalah bahwa saat ini Tuhan tengah menanti kita untuk menjadi murni dalam hal Iman, dimana dalam kemurnian Iman itu, Allah Bapa di Sorga dapat melihat cerminan wajahNya di dalam diri kita. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Proses pemurnian Iman kita bisa saja membuat kita merasa begitu sakit. Tetapi jika kita melewatinya bersama Tuhan, maka kita akan menyadari dan memahami; bahwa betapa besar manfaat dari setiap pencobaan yang kita alami. Pencobaan itu akan membuat Iman kita begitu indah bagaikan Emas murni, Amin.
PENGUATAN SDM
BACAAN : ROMA 14:13-23
THEMA : MENGEJAR APA YANG MENDATANGKAN DAMAI SEJAHTERA
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Ada peribahasa lama yang masih Relevan sampai saat ini : “Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung.” Peribahasa ini mengingatkan kepada kita bahwa kemanapun kita pergi, maka budaya, kebiasaan dan adat istiadat setempatlah yang harus di junjung tinggi. Hal ini bisa berakibat pada dua kemungkinan, yang pertama: orang yang menjadi pemilik budaya akan merasa superior, bahkan kadang-kadang (maaf) mereka mau dan suka menang sendiri. Yang kedua ; pihak pendatang, kadang-kadang menjadi pihak yang selalu mengalah. Demi kenyamanan dan penerimaan tuan rumah, maka kebiasaan tuan rumah terpaksa harus diikuti, walaupun kadang-kadang bertentangan dengan kebiasaan yang dilakukannya selama ini. Jemaat Tuhan di Roma juga mengalami hal serupa. Jemaat ini adalah orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Ada orang Yahudi dan ada juga orang Yunani. Orang Yunani biasa makan makanan yang dianggap haram oleh orang-orang Yahudi, sementara dilingkungan kebudayaan Yunani hal itu dianggap biasa saja. Inilah yang menjadi pokok persoalan dalam jemaat di Roma. Orang Yunani yang merasa mayoritas memaksakan kebiasaan mereka dalam persekutuan dan ini membuat jemaat yang berlatar belakang Yahudi merasa tidak nyaman. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Menghadapi persoalan seperti ini, Paulus memberi nasehat “sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan suka cita oleh Roh Kudus”(ay 17). Artinya, bahwa inti Iman Kristen tidak terletak pada persoalan boleh atau tidaknya mengkonsumsi makanan tertentu. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana mempraktekan kebenaran, menghadirkan damai sejahtera, dan sukacita dalam persekutuan umat Tuhan. Kita boleh membayangkan kalau dalam satu persekutuan sudah ada ketidak nyamanan. Yang ada adalah pemaksaan kehendak, maka pastilah yang namanya kebenaran, sukacita dan damai sejahtera itu secara pelan dan perlahan, tapi pasti akan sirna. Rasul Paulus menyadari bahwa segala sesuatu adalah suci termasuk soal makanan. Tetapi kalau kebiasaan itu menjadikan orang lain tersandung dan goyah imannya, itulah yang membuat seseorang berdosa. Karena itu dengan tegas Paulus mengatakan : “ Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!” (ay 20). Dengan perkataan ini Paulus hendak menyampaikan bahwa alangkah baiknya jika umat Tuhan hidup dalam sikap toleransi, tidak memaksakan kehendak dan saling menghormati satu dengan yang lain. Jangan sampai kebiasaan kita merusak persekutuan. Sikap toleransi tidak hanya dibutuhkan dalam hubungan kita dengan sesama yang tidak seiman, tetapi sikap toleransi juga sangat dibutuhkan dalam lingkungan keluarga dan Persekutuan Jemaat. Pada kenyataannya memang harus diakui dan disadari bahwa ; Lebih mudah memelihara hubungan baik dengan orang-orang yang jarang kita jumpai dari pada dengan mereka yang dekat dengan kita. Dengan orang lain kita dengan mudah menyatakan kepedulian kita, tetapi kepada mereka yang mengasihi kita, betapa seringnya kita tidak terbeban untuk memaksakan kehendak dan kemauan kita tanpa rasa toleransi sedikitpun. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Konteks dan kenyataan hidup Jemaat di Roma ini juga sering terjadi dan masih terus terulang dalam kehidupan berjemaat masa kini. Mungkin yang menjadi persoalan bagi Gereja zaman ini bukan lagi soal makanan. Tetapi mungkin pada soal-soal yang lain. Kenyataannya bahwa masih sering terjadi sikap yang tidak saling menghargai dan semakin berkembangnya perilaku pemaksaan kehendak tanpa alasan yang jelas. Misalnya : Bagi orang-orang tertentu, lalu-lalang diantara orang-orang yang sedang beribadah hal itu dianggap biasa-biasa saja. Tetapi taukah kita bahwa bagi sebagian orang, perlakuan dan perbuatan seperti itu sangat mengganggu, bahkan menyebabkan orang lain merasa tidak nyaman dalam melaksanakan Ibadahnya kepada Tuhan. Atau kebiasaan suka keluar dari ruang ibadah saat orang lain sedang berdoa syafaat. Mungkin bagi sebagian orang, perbuatan itu dianggap biasa, toh tidak ada orang yang melihat. Tetapi tahukah kita bahwa pada saat itu kita sudah menjadi batu sandungan bagi sesama kita karena langkah kaki kita mengganggu kosentrasi mereka yang sedang khusuk berdoa? Demikian juga dalam keluarga, karena merasa punya hak dan wewenang, orang tua sering memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Seberapa seringkah kita meminta anak-anak kita untuk melakukan sesuatu dengan memaksa yang disertai dengan ancaman bahkan perilaku yang begitu kasar? Mungkin hal-hal seperti itu kita anggap biasa, kita anggap wajar, toh kita kan orang tuanya. Tetapi sadarkah kita bahwa kita sudah menjadi batu sandungan bagi mereka? Maksud kita mungkin baik, tetapi karena cara kita kurang tepat, maka yang sering terjadi bukannya kebaikan yang dituai tetapi sebaliknya mereka semakin membangkang, semakin tidak bisa diatur, semakin membuat orang tuanya sakit kepala. Bukannya mereka semakin taat pada aturan yang ditetapkan dalam keluarga, malah mereka semakin menunjukan perlawanan. Karena bagaimana mungkin orang tua dapat mengubah sikap anak yang kasar, kalau mereka mempertontonkan sikap yang sama? Yang mau dikatakan disini; bahwa sebaik apapun maksud kita, jika kita melakukannya dengan metode atau cara yang salah, apalagi disertai dengan pemaksaan kehendak, maka kita tidak dapat berharap banyak. Yang Rasul Paulus mau katakan kepada kita saat ini : bahwa dalam kehidupan persekutuan, perihal penting yang harus diutamakan adalah kebenaran, terciptanya damai sejahtera dan sukacita. Karena itu, yang sangat dibutuhkan dalam situasi ini adalah pentingnya saling memahami. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Mengapa sering terjadi pemaksaan kehendak? Itu karena kita lebih suka mengutamakan kemauan sendiri dengan mengesampingkan damai sejahtera dan suka cita bersama. Untuk mewujudkan kemauan sendiri, kadang kita tidak peduli dengan perasaan orang lain, sering kali atas mana pementingan diri sendiri dan topeng kebenaran, kita menghalalkan pemaksaan kehendak, menekan sesama, mempermalukan orang lain, dan tidak peduli pada keberadaan orang lain. Saudara, Kebenaran harus ditegakan, tapi janganlah sampai menghilangkan damai sejahtera dan sukacita orang lain. Sesuatu yang dipaksakan sebaik apapun tujuannya, akan berdampak kurang baik dalam hubungan dengan sesama, juga dalam kebersamaan di tengah persekutuan jemaat dan masyarakat. Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, kerjakan, atau rencanakan, hendaknya kita mengutamakan kebenaran Firman, mengutamakan kehendak Firman. Dahulukankah kebenaran, damai sejahtera dan suka cita dalam Roh Kudus. Marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. AMIN
MENUJU KEMANDIRIAN DANA
BACAAN : KEJADIAN 27:30-40
THEMA : USAHA YANG MERUBAH KEADAAN
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
bagaimana perasaan saudara jika sesuatu yang seharusnya menjadi milik saudara apakah itu harta benda, kedudukan, jabatan, atau kesempatan kerja, dan saudara sangat menginginkannya, lalu pada saat saudara seharusnya sudah menikmatinya ternyata hal itu dialihkan menjadi milik orang lain? Pasti kita akan merasa kecewa, sedih, dan marah. Perasaan ini mungkin saja berakibat tidak baik pada hubungan kita dengan orang lain yang menurut kita menjadi penyebab sehingga semuanya ini terjadi. Esau pernah mengalami kejadian dan peristiwa yang sangat memilukan ini. Ketika dengan semangat berkobar-kobar dia mempersiapkan diri untuk menyambut berkat dari ayahnya yang memang sudah seharusnya menjadi haknya sebagai anak sulung, ternyata ia menemukan kenyataan bahwa berkat itu telah dirampas oleh Yakub adiknya sendiri. Meskipun harus diakui, bahwa kejadian ini juga merupakan akibat dari perbuatan Esau sendiri yang sebelumnya telah menjual hak kesulungan kepada Yakub adiknya hanya dengan semangkuk kacang merah (Kej 25:29-34). Tetapi tentu saja kenyataan ini tetap menjadi sebuah kenyataan pahit dan menyedihkan. Bayangkan saudara...., peristiwa itu menyebabkan tidak ada lagi sesuatu kebaikan yang tersisa baginya. Semua berkat yang terbaik telah menjadi milik Yakub, yang tersisa baginya hanyalah kutuk dan penderitaan yang berkepanjangan, yang lebih menyakitkan lagi, bahwa dia akan menjadi hamba dari adiknya sendiri (ay 39-40a). Realitas ini benar-benar membuat Esau seakan-akan tidak memiliki harapan masa depan yang cerah. Maka tidak berlebihan jika Esau menangis meraung-raung ketika mendengar bahwa berkat itu telah diberikan kepada adiknya. Yang menarik dari peristiwa ini adalah bagian terakhir dari perkataan Ishak ayahnya “tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu” . Ini berarti bahwa kutuk yang melekat dalam diri Esau dan berlaku sepanjang hidupnya bahkan mungkin juga akan dialami anak cucunya kelak, itu dapat dipatahkan Esau dengan satu cara yakni berusaha dengan sungguh-sungguh. Tanah yang gersang dan tidak subur dapat saja menghasilkan tanaman yang menghidupkan. Jika Esau mau berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Masa depan yang suram, yang sudah di depan mata sesuai dengan isi kutuk itu, dapat saja berubah menjadi masa depan yang gemilang.................... Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Seberapa seringkah kita mengeluhkan keadaan hidup kita saat ini? Kita mengeluh dan menyesali pendidikan kita yang tidak memadai karena sulitnya berkompetisi dalam mencari pekerjaan sebagai Pegawai? Bagi Jemaat yang hidup di pedesaan; kita mungkin sering mengeluhkan tanah dimana kita bercocok tanam begitu gersang. Kita sering mengeluhkan masa depan yang suram hanya karena kita tinggal di pedesaan atau di tempat yang kita anggap kurang menguntungkan. Kita sering mengeluhkan tingginya biaya hidup sementara kita tidak memiliki pendapatan yang cukup. Jika kenyataan-kenyataan ini menjadi realita kehidupan kita saat ini, pertanyaannya: bagaimana sikap dan tanggapan kita terhadap kenyataan hidup seperti itu? Bukankah kita lebih sering mengeluh, menyalahkan keadaan, pasrah pada kenyataan, dan berdiam diri tanpa mencoba melakukan perubahan? Kita lebih sering berkata “Apa boleh buat, ini sudah kenyataan hidupku” dibandingkan memilih untuk bertanya “Apa yang harus saya lakukan supaya keadaan ini bisa lebih baik?”. Banyak orang cenderung pasrah pada keadaan ketimbang berusaha untuk mengadakan perubahan. Banyak orang lebih sering memilih berdiam diri dan menunggu pengasihan orang lain, bantuan pemerintah yang gratis itu, dibanding berjuang dengan sedikit berlelah dan mengandalkan usaha sendiri untuk mengusahakan perbaikan taraf kehidupan. Akhir-akhir ini dimana-mana terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengkritik kinerja pemerintah yang katanya tidak pro-rakyat, ini terbukti dengan masih banyaknya kaum miskin di Indonesia. Memang pemerintah bertanggung jawab mengupayakan kesejahteraan rakyatnya, tetapi benarkah ini hanya tanggung jawab pemerintah semata? Bukankah sebagai rakyat yang sering mengalami kesulitan hidup juga perlu berjuang? perlu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk keluar dari persoalan kehidupan? Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Belajar dari Firman Tuhan hari ini, kita diajar untuk semakin dan semakin memahami bahwa kenyataan hidup sepahit apapun dapat berubah menjadi lebih baik, asal kita mau membayar harga dari sebuah perubahan itu dengan kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Benar bahwa Tuhan menjanjikan berkat di tengah-tengah keberadaan hidup kita. Janji berkat itu diperuntukan bagi setiap orang yang percaya, tetapi berkat itu tidak datang dengan sendirinya seperti manna yang turun dari langit di zaman keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Tuhan tidak pernah mendidik pengikutNya menjadi orang-orang yang hanya tahu bertadah tangan saja, yang kesukaannya menunggu dan meminta. Tuhan mau agar setiap pengikutNya menjadi pribadi yang aktif, mau bekerja dengan tekun, dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih berkat Tuhan itu. Firman Allah memberikan gambaran serta pengajaran yang jelas bagi kita, bahwa di tengah ancaman kesulitan, kutuk dan masa depan yang suram, ternyata masih ada harapan. Di tengah kerasnya ancaman kutuk yang menimpa Esau dan keturunannya, Tuhan masih menyediakan pintu yang terbuka bagi Esau untuk bisa menggapai serta meraih sebuah masa depan yang gemilang (Ayat 40b). Kata “melemparkan Kuk” dalam teks firman Tuhan ini mengandung pengertian bahwa dengan upaya keras, tekun dan cerdas, maka Esau akan sanggup keluar dari badai serta gelombang kesulitan dalam kehidupannya. Dengan upaya yang keras, tekun dan cerdas, meskipun ia jauh dari tanah-tanah yang subur, meskipun berada dalam keadaan kritis, dapat dipastikan bahwa ia bisa meraih masa depan yang gemilang. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Menjadi catatan penting bagi kita terkait dengan Firman Allah hari ini adalah : bahwa tidak ada klasifikasi tempat yang menguntungkan dan tidak menguntungkan dalam hidup kita. Di Kota, di Desa, di manapun kita berada, di tempat kita masing-masing, Tuhan menyediakan diri untuk memberi dan menyatakan berkat bagi setiap orang yang mau berusaha untuk merubah keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik. Kutuk sekalipun dapat berubah menjadi berkat, asal kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengubahnya. Apa yang disampaikan oleh Firman Allah ternyata tidak diragukan. Karena sejarah mencatat bahwa ternyata Esau dan keturunannya menjadi sebuah bangsa yang besar, bangsa yang benar-benar merdeka, bahkan Esau dan keturunanya yakni bangsa Edom bisa meraih masa depan yang gemilang, sebab mereka berusaha dengan sungguh-sungguh mengubah kutuk menjadi berkat. Karena itu Berhentilah berkeluh-kesah. Berusahalah terus-menerus. Seburuk apapun keadaan kita saat ini, yakinlah bahwa semuanya akan berubah menjadi lebih baik, jika kita terus berusaha dengan sungguh-sungguh sambil terus percaya pada janji Tuhan akan anugerah berkatNya. Amin.
MENUJU KEMANDIRIAN DANA
BACAAN : KEJADIAN 24:29-40
THEMA : KESETIAAN MENDATANGKAN BERKAT
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Predikat atau gelar atau sebutan sebagai Bapa Orang Beriman yang disandang oleh Abraham bukan sekedar isapan jempol kosong belaka. Predikat ini telah mengalami berbagai pengujian. Iman dan kesetiaan Abraham kepada Tuhan tidak pernah tergoyahkan, meskipun ujian-ujian yang dihadapi oleh Abraham untuk memperoleh predikat sebagai Bapa Orang beriman tidak selalu mudah. Narasai atau cerita-cerita yang menyatakan kesetiaan Abraham kepada Tuhan begitu terang diberitakan dalam Alkitab. Dari meninggalkan keluarga yaitu orang-orang yang dikasihi di tanah kelahirannya ke sebuah negeri yang tidak jelas ujung pangkalnya, sampai ia diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan Ishak anak satu-satunya. Semua perintah Tuhan itu dilakukannya dengan segenap hati tanpa mau berdebat dan melakukan protes apapun terhadap Tuhan. Sekali lagi, ujian-ujian yang dihadapi oleh Abraham adalah ujian yang sangat berat dan melewati batas-batas kemanusiaan. Atas segala perintah Tuhan itu, Abraham hanya tunduk dan melakukannya dengan setia. Abraham hanya memiliki satu hal yaitu keyakinan bahwa Tuhan menyediakan sesuatu yang terbaik baginya dan semua keturunannya. Abraham bukanlah Type orang yang tidak mau keluar dari zona kenyamanan diri sendiri. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Setiap detak nadi dan jantung Abraham berisi gambaran tentang kesetiaan dan ketaatannya kepada Tuhan. Akibatnya, bahwa dengan segala kesetiaan dan ketaatannya kepada Tuhan membawa Abraham pada popularitas diri yang berorientasi pada kemuliaan nama Tuhan. Popularitas Abraham masih berlaku sampai detik ini. popularitas itu belum berubah, bahkan Abraham masih menjadi soko guru bagi setiap umat Tuhan yang mau belajar tentang arti sebuah kesetiaan serta ketaatan kepada Tuhan. Ketokohan Abraham menjadi pelajaran yang berharga bagi setiap umat Tuhan untuk tidak terus bertahan pada zona nyaman yang sedang dinikmati di mana selanjutnya zona nyaman itu berakhir pada pemuasan terhadap diri sendiri. Di zaman sekarang ini, begitu banyak orang merasa tenang jika sudah berada pada zona nyaman yang sedang dinikmatinya. Mereka lebih setia dan menyatakan ketaatan terhadap kemauan serta kehendaknya sendiri. Banyak umat manusia bahkan umat Tuhan lebih suka menikmati kesenangan sendiri tanpa mau berempati pada suara orang lain, apalagi berempati pada suara dan kehendak Tuhan. Berempati pada orang lain dan kepada Tuhan lebih banyak membuat kebanyakan orang “Merasa” begitu terikat, terbeban dan kebebasannya seolah-olah dipenjarakan. Hidup setia dan penuh ketaatan kepada Tuhan sering “Dianggap” sebagai sebuah pilihan yang tidak populer. Padahal, popularitas diri dan zona nyaman yang tidak dilandasi oleh ketaatan serta kesetiaan kepada Tuhan adalah semu dan tidak abadi. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Teks bacaan kita hari ini menyinggung tentang kesetiaan serta ketaatan Abraham kepada Tuhan. Untuk memperoleh seorang Istri bagi anaknya Ishak, Abraham tidak tanggung-tanggung dalam bertindak. Abraham tidak sedikitpun berniat untuk melakukan kesalahan, di mana kesalahan itu pada akhirnya akan berakibat pada berkurangnya kesetiaan dan ketaatan Abraham kepada Tuhan. Ia mengirim utusan ke negeri yang sangat jauh, tempat di mana keluarganya berada. Sebuah keluarga yang juga masih menyatakan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Abraham mau bahwa anaknya Ishak memiliki seorang istri yang baik, istri yang berasal dari keluarga baik-baik dan istri yang juga hidup taat serta setia kepada Tuhan. Jika kita menggali maksud dari tindakan Abraham ini, maka kita akan menemukan pokok pikiran Abraham bahwa : Apabila keluarga anaknya Ishak adalah keluarga yang tetap mewarisi kesetiannya kepada Tuhan, maka Ishak dan keturunannya pasti akan terus diberkati oleh Tuhan. Pengalaman hidup Abraham harus mengalir dalam kehidupan anaknya Ishak beserta seluruh keturunannya. Jika Abraham diberkati dengan kekayaan yang melimpah, itu semua karena Tuhan memperhitungkan seluruh ketaatannya selama ini. Abraham diberikan hikmat dalam bekerja, diberikan kesanggupan-kesanggupan yang dibutuhkannya, sehingga seluruh pekerjaannya berhasil gemilang. Apa yang diungkapkan oleh hamba-hamba Abraham kepada Betuel dan Laban ketika mereka meminang Ribka adalah gambaran dari sebuah kesadaran bahwa Apabila Abraham diberkati oleh Tuhan dengan kekayaan dan kelimpahan, itu semua adalah buah-buah dari ketaatan dan kesetiannya kepada Tuhan, sebab Tuhanlah sumber segala kelimpahan. “TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai.”
Jemaat Yang Diberkati Tuhan......
Kita disadarkan oleh firman Allah saat ini bahwa bekerja bukan sekedar Amanat dari Tuhan. Tetapi seperti Abraham, kita juga terus belajar untuk memahami bahwa bekerja haruslah dilakukan sambil hidup dalam kesetiaan serta ketaatan kepada Tuhan. Kita tidak dapat bekerja hanya dengan mengandalkan tenaga, akal serta pikiran kita sendiri apalagi jauh dari Tuhan. Kerja yang menjadi berkat adalah konsep kerja yang dilandasi oleh ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Konsep serta tindakan kerja seperti ini adalah konsep kerja yang tidak hanya berpusat pada diri sendiri, bertumpu pada zona nyaman kita sendiri, tetapi semuanya bertumpu, berpusat dan berorientasi kepada Allah yang mengaruniakan pekerjaan itu bagi kita. Konsep kerja yang dilandasi ketaatan dan kesetiaan akan menghasilkan akhir sebuah pekerjaan yang diberkati secara berkelimpahan bahkan itu dapat menjadi kesaksian yang hidup tentang berkat-berkat Allah yang kita alami melalui seluruh aspek kerja yang kita lakukan. Berkat kerja yang dilakukan oleh Abraham telah menjadi kesaksian yang begitu indah. Hal itu telah disaksikan dan disampaikan oleh hamba-hambanya kepada Betuel dan Laban. Sehingga Selllllanjutnya dengan sukarela mereka membiarkan Ribka pergi dan diperisteri oleh Ishak. Betuel dan Laban begitu percaya bahwa anak dan saudara mereka tidak akan berkekurangan karena Ribka akan hidup bersama dengan keluarga Abraham yang diberkati secara berkelimpahan. Saudara....maukah kita menjadikan kerja kita sebagai alat penyataan berkat Tuhan dalam hidup kita? Maukah kita, bahwa melalui pekerjaan kita masing-masing, Tuhan menyatakan kelimpahan untuk kita? Maukah kita bahwa pekerjaan kita dapat menjadi alat kesaksian untuk kemuliaan nama Tuhan? Jika kita menghendaki semuanya itu, Mari kita berani mengambil keputusan dengan resiko Tinggi. mungkin keputusan itu tidak populer bagi kebanyakan orang yaitu : bekerjalah dengan tekun, cerdas, ulet, lalu hiduplah dalam kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Karena kesetiaan dan ketaatan itu mendatangkan berkat dan kelimpahan bagi saudara, Amin.
TEOLOGI PENGAMPUNAN
BACAAN : I PETRUS 2:1-10
THEMA : ANUGERAH ALLAH YANG MENYELAMATKAN
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Ilustrasi : Tiga orang anak melakukan kesalahan, tetapi ketiga anak ini mendapat pengasihan dan pengampunan dari Ayahnya. Masing-masing mereka memiliki tanggapan yang berbeda dengan kasih itu. Anak pertama : Merasa diri memang layak menerima kasih itu. Ia berpikir bahwa ayahnya mengasihinya karena dia telah menjadi anak yang baik di mata ayahnya sehingga dalam pandangan anak ini bahwa kasih ayahnya sudah merupakan hak yang harus diperoleh karena segala kelebihan yang dimilikinya. Maka ia pun menjadi anak yang angkuh dan suka memegahkan diri. Ia selalu bersikap sombong. Anak kedua: Merasa bahwa ayahnya adalah seorang yang terlalu baik, apapun yang dilakukannya serta bagaimana pun keadaannya, ayahnya akan selalu mencintainya. Ia bertumbuh menjadi anak yang hidup tanpa aturan, tidak menghargai orang tua, tidak takut melakukan kejahatan, baginya yang penting ia bisa berperilaku baik di depan ayahnya, yang lain pasti aman. Di mata ayah boleh terlihat baik tetapi yang lain terserah. Anak ketiga: Ia benar-benar menyadari bahwa kasih dan pengampunan yang diberikan oleh ayahnya adalah sebuah anugerah. Karena itu ia sangat menghargainya, ia selalu bersikap baik kepada ayahnya dan selalu berusaha melakukan kebaikan kepada orang lain untuk mengenang dan menghormati kasih sang ayah kepadanya. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Setiap orang Kristen menerima kasih yang sama dari Bapa yang sama. Hanya persoalannya ADALAH : Bahwa masing-masing memberi respon atau tanggapan yang berbeda terhadap kasih itu. Ada yang menganggap dirinya memang pantas menerima kasih itu, sehingga ia bertumbuh menjadi orang Kristen yang sombong rohani dan menganggap diri paling suci. Ciri-ciri orang seperti ini biasanya paling aktif dalam persekutuan, taat beribadah, hidup saleh, hafal firman Tuhan, jago dalam soal doa, tetapi pada waktu yang bersamaan, ia sangat suka membandingkan dirinya dengan orang lain. Suka mengkritik orang lain tetapi tidak bisa memberi solusi, dan kesukaannya selalu menghakimi orang lain. Ada juga yang menganggap bahwa Anugerah dan kasih Allah itu sesuatu yang murah dan mudah didapatkan. Orang seperti ini biasa disebut Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan). Mengakui Yesus sebagai Tuhannya tetapi perilaku kehidupannya lebih parah dari orang yang tidak mengenal Yesus. Orang seperti ini pandai dalam membagi waktu dalam pengertian : dia sangat lihai dalam membagi waktu kehidupannya. Waktu dalam seminggu dibaginya dengan seksama. Hari Minggu untuk Tuhan = artinya ini waktu untuk ke Gereja, waktu untuk pelayanan, waktu untuk berderma, waktu untuk pengakuan dosa, pokoknya waktu untuk Tuhan. Hari Senin sampai Sabtu itu hariku, pada hari-hari itu berbuat dosa tidak apa-apa, kan nanti ada lagi waktu untuk melakukan pengakuan dosa pada hari Minggu berikutnya. Waktunya untuk setahun juga sudah dibagi dengan seksama, waktu untuk Tuhan itu ya sekitar bulan April dan Desember, kenapa? Karena pada bulan itu ada Paskah dan Natal. Jadi yang namanya ibadah di bulan itu wajib hukumnya. Trus bulan yang lain? Itu tidak terlalu sacral, tidak terlalu kudus, jadi cari Tuhannya bisa bolong-bolong. Ada juga yang bilang, doa dan ibadah itu relative, biar tidak pernah ibadah kan yang penting itu perbuatan baiknya. Kalau sudah bisa berbuat baik, ya cukuplah. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Bagaimana kita akan tahu kalau itu perbuatan baik kalau kita tidak pernah mendengar petunjuk tentang bagaimana perbuatan baik itu harus dilakukan? Dan bagaimana kita bisa mendengar petunjuk tentang kebaikan, jika kita tidak pernah membaca atau mendengar Firman Tuhan? Dalam pandangan Kristen, Antara ibadah dan perbuatan baik memiliki hubungan yang begitu erat. Bacaan kita pada saat ini mau menegaskan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan. 1. Harus mampu berkata tidak terhadap dosa (ay 1). Artinya setiap orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan tahu bahwa hidupnya telah ditebus dari dosa-dosanya. Karena itu dalam segala hal dan suasana ia selalu berusaha menjauhkan diri dari perbuatan - perbuatan dosa, seberapapun itu terlihat menguntungkan dirinya. Tekad untuk selalu hidup baru di bawah kasih karunia Tuhan akan terus berkobar dalam hatinya. 2. Selalu memiliki kerinduan untuk datang kepada Yesus Kristus (ay 4). Memiliki kerinduan kepada Yesus berarti mengakui dan percaya pada Ketuhanan Yesus yang juga berarti bersedia menyerahkan segenap hidup di bawah otoritas kuasa Tuhan. Hal ini juga mengandung pengertian kesediaan dan kesetiaan untuk beribadah kepada Tuhan, karena antara iman dan ibadah memiliki kaitan yang sangat erat. Memang tidak semua orang yang rajin beribadah memiliki iman yang kokoh, tetapi setiap orang yang beriman pasti rajin beribadah. 3. Bersedia menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan damai sejahtera bagi sesama (ay 5). Seorang yang beriman tidak akan membiarkan dirinya hidup sendiri tanpa melakukan sesuatu yang berguna bagi sesamanya. Seorang yang telah menerima kasih karunia Tuhan akan selalu berusaha menghadirkan damai sejahtera kapanpun dan dimanapun dia berada, bukan sebaliknya merampas damai sejahtera orang lain dengan perbuatannya yang tidak bertanggung jawab, baik dengan perkataan yang menyakiti hati, atau dengan pikiran dan gagasan-gagasan yang hanya mencari keuntungan diri sendiri. Jemaat Yang Diberkati Oleh Tuhan.... Ketiga hal ini harus dilakukan dalam keseimbangan, tidak ada yang lebih utama antara satu dengan yang lain. Semua ini dilakukan dengan satu alasan karena kita adalah umat pilihan Allah (ay 9,10). Kita sekalian adalah umat pilihan Allah, bangsa yang terpilih, kita dikhususkan Allah, tidak berarti kita ekslusive, tertutup dari dunia luar, tidak ! Kita dipilih, dikhususkan, dikuduskan, dimerdekakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang besar, perbuatan-perbuatan baik yang memberi pengaruh baik pula kepada orang lain yang ada di sekeliling kita. Baik itu suami/istri, anak-anak, saudara sepersekutuan, juga tetangga dan teman kerja kita. Perbuatan yang akan membuat setiap orang memuliakan nama Tuhan Allah kita. Untuk itulah kita dipanggil menjadi anak-anak tebusan Kristus. Apa yang sudah kita peroleh dari Kristus, bagikanlah itu kepada sesama kita. Jika kita menerima anugerah, bagikanlah anugerah itu kepadsa sesama kita. Dan jika kita telah menerima kebaikan hati Allah melalui pengampunanNya, maka bagikanlah juga kebaikan serta pengampunan itu kepada orang lain. Terpujilah Tuhan atas segala kebaikanNya. AMIN







Tidak ada komentar:
Posting Komentar