Sabtu, 20 Desember 2014

BAHAN PA DAN RENUNGAN KEMANDIRIAN JEMAAT

























BAHAN PA DAN RENUNGAN IBADAH EVANGELISASI

Bahan PA Minggu ke-3 Oktober  (Teologi Kerja)
Bacaan           :      Kolose 3:18-25
Nats/Thema   :      Memberi Arti Terhadap Kerja

A. Pengantar.

Perikop bacaan hari ini merupakan berintisarikan tentang ajaran yang benar bahwa Kristus sanggup memberikan keselamatan yang begitu perfec atau sempurna. Keselamatan itu bukan saja pada soal-soal spiritual atau rohani, tetapi juga Kristus sanggup untuk menyediakan berkat untuk semua orang dalam berbagai aspek kehidupannya termasuk berkat atas segala sesuatu yang dikerjakan, asal saja itu dilakukan dengan benar berdasarkan ajaran serta kehendak Kristus.  Segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan faham-faham atau ajaran dunia akan membuat seseorang semakin jauh dari Kristus, yang pada akhirnya, berkat yang disediakanNya juga akan semakin jauh.
Melalui Kristus Allah menciptakan dunia ini, melalui Kristus pula Ia menyelamatkan dan memberkatinya. Paulus menekankan tentang betapa pentingnya kedisiplinan, baik dalam keluarga (Ayat 18-21), kedisiplinan dalam hubungan sosial (Ayat 22) maupun dalam melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan kerja. Inilah kaidah-kaidah praktis – Alkitabiah yang disampaikan oleh Paulus dalam perikop ini, maka dengan demikian umatNya akan benar-benar diberkati. Sebaliknya bagi orang-orang yang tidak memiliki disiplin dan melakukan kesalahan dalam menjalani praktek kehidupan, mereka akan menanggung kesalahan itu. Siapapun dia yang melakukan kesalahan akanmenerima konsekwensi atau akibat dari setiap kesalahan yang dilakukannya tanpa terkecuali apapun status serta kedudukan orang itu. Paulus dalam firman Allah menegaskan bahwa Tuhan tidak memandang orang, Allah tidak pilih kasih dan memandang muka (Ayat 25).


B. Pertanyaan Diskusi.

1.  Mengapa kita perlu bekerja?

2.  Apakah bekerja merupakan sebuah hukuman?

3.  Apakah arti atau makna kerja yang selalu kita lakukan di bidang kita masing-           masing dalam kaitan dengan Iman Kristen?



Keseriusan kita dalam mengerjakan sesuatu seringkali memang ditentukan oleh makna yang kita berikan pada pekerjaan tersebut. Konsep inilah yang melatarbelakangi nasihat Paulus kepada jemaat di Kolose dalam nas hari ini. Secara khusus, Paulus memberikan penjelasan mengenai pekerjaan para hamba. Ia menasihati mereka untuk memaknai pekerjaan mereka sebagai pelayanan kepadaTuhanyangpastiakan dibalas-Nya dengan upah surgawi. Paulus percaya bahwadenganpemaknaan ini, mereka akan mampu mengerjakan pekerjaan merekadenganberintegritasdantulushati.

Pemaknaan semacam itu bukan hanya berlaku bagi para hamba, namun juga bagi kita semua dalam mengerjakan tugas apa pun. Tugas harian kita sebagai petani, pegawai, wiraswasta, pedagang, ibu rumah tangga, pelajar, dan sebagainya kadang terasa melelahkan, bahkan menyebalkan atau bahkan membosankan. Adakalanya kita melakukannya dengan bermalas-malasan. Akan tetapi, kalau kita memaknainya sebagai pelayanan yang berharga di mata Tuhan, niscaya kita akan terdorong untuk terus berusaha mengerjakannya dengan segala sukacita dan sebaik mungkin. Inilah konsep kerja yang benar. Kerja bukanlah hukuman atau malapetaka. Kerja dan pekerjaan adalah anugerah Tuhan yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Kita bekerja bukan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi lebih dalam dari bahwa ketika kita bekerja dengan baik, kita melakukan kebaikan untuk Tuhan. Kita percaya bahwa dengan bekerja sebaik-baiknya berarti kita menunaikan sebagian dari tanggung jawab Kristen kita. Kita juga percaya bahwa kerja yang baik akan mendatangkan upah yang baik dari Tuhan. Upah yang dimaksud adalah upah atas kerja yang kita lakukan hari ini dan juga upah sukacita pada akhir zaman. Ini janji Tuhan bagi kita semua. Kita tahu bahwa janji Tuhan itu adalah ya dan amin, janji itu berlaku untuk selama-lamanya bagi kita, 

MEMAKNAI TUGAS SEBAGAI PELAYANAN KEPADA TUHAN MENGGUGAH KITA UNTUK MERAIH KEUNGGULAN. Amin.





Renungan Minggu ke-4  Oktober  (Kerja, Menuju Kemandirian Dana)
Bacaan           :   Yosua 18:1-10
Nats/Thema   :   Mau Berkat? Bekerja Keraslah

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Jika kita membaca peristiwa Eksodus dalam kitab Keluaran; bagaimana Allah membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dengan janji akan kehidupan baru yang lebih baik di tanah yang berlimpah susu dan madunya yakni tanah kanaan, maka mungkin saja kita akan mengatakan bahwa Allah terlalu bermurah hati dan bangsa Israel adalah bangsa yang tinggal tahu terima beres. Mungkin juga kita akan mengatakan bahwa Allah terlalu memanjakan umatNya dan tidak mendidik mereka untuk berusaha keras dalam memperjuangkan sesuatu. Tetapi jika kita membaca serta menganalisa perikop bacaan kita hari ini secara baik, maka Klaim bahwa Allah memanjakan umatNya, Israel adalah bangsa yang hanya tahu beres adalah sebuah Klaim yang sama sekali keliru. Allah bukanlah Allah yang suka memanjakan. Allah adalah Allah yang maha suka mendidik umatNya. Jika Ia menjanjikan untuk menyediakan berkat dalam bentuk apapun, Ia mau supaya umatNya juga bekerja dan berusaha keras untuk dapat memperoleh berkat-berkat itu. Dalam perikop bacaan hari ini begitu jelas, bahwa Allah mendidik umatNya untuk berusaha keras dalam meraih berkat tanah pusaka yang telah dijanjikanNya bagi mereka.  Kenyataannya bahwa setiap suku Israel harus berjuang dan berusaha keras untuk bisa menduduki tanah Perjanjian itu. Memang, bagi mereka masing-masing telah ditentukan bagian pusaka yang akan menjadi milik mereka. Tuhan telah telah menentukan wilayah-wilayah mana yang akan menjadi milik pusaka dari masing-masing suku, tetapi mereka tidak bisa tinggal diam, mereka harus berjuang untuk merebutnya. Allah yang mendidik umatNya untuk berjuang menjadi semakin tampak nyata Ketika bangsa Israel masih belum juga melakukan apapun untuk merebut tanah pusaka itu. Dengan keras dari Tuhan,  Yosua menegur mereka “berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan Tuhan Allah nenek moyangmu?” (ay 3). Apakah teriakan ini terlalu kejam? Apakah teriakan ini tidak berperikemanusiaan? Atau Apakah teriakan ini telah menyinggung perasaan seseorang atau bahkan satu bangsa?
Bagi orang-orang  yang anti-edukasi atau anti terhadap didikan, teriakan ini akan dianggapnya sebagai sebuah teriakan penghinaan! Bagi orang-orang yang membenci didikan serta berpola hidup manja dan hanya suka mendengar yang enak-enak saja, teriakan ini akan dianggapnya sebagai sebuah teriakan yang mengoyak harga dirinya. Dengan teriakan ini iamerasa ditindas dan orang yang menyampaikan teriakan itu akan segera diklaim sebagai sosok yang tidak berperikemanusiaan.

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Teriakan orang fasik sangat berbeda dengan teriakan Tuhan. Teriakan Tuhan adalah teriakan yang mendidik, teriakan yang menyadarkan supaya umatNya kembali kepada jalan yang benar, jalan yang memberinya kehidupan, jalan yang mengembalikan martabat kemanusiaannya. Sedangkan teriakan orang fasik adalah teriakan yang menghancurkan! Ketika Tuhan berteriak melalui mulut hambaNya, itu berarti ada sesuatu yang kurang beres! Perjuangan umatnya yang semakin melemah karena kemalasan dalam mencapai apa yang telah disediakan Tuhan harus dipanaskan, dibangkitkan dan dikobarkan  kembali. Dalam teks dan konteks bacaan kita menggambarkan bahwa memang berkat Tuhan sudah disediakan, Tuhan sudah tentukan, dan Tuhan juga telah memberi jaminan bahwa itu akan mereka terima, tetapi itu tidak akan datang dengan sendirinya, mereka harus berjuang untuk bisa meraihnya.
Sering kali, dalam kehidupan bergereja, sebagai umat pilihan, umat yang percaya kepada Tuhan, kita menyalahartikan kasih dan berkat Tuhan. Banyak orang cenderung berpikir bahwa sebagai umat pilihan, tentu Allah telah menyediakan berkat yang melimpah. Pemikiran ini Tentu ini tidak salah. Tetapi pandangan seperti ini sering menggiring kita pada pemahaman “asal percaya pada Tuhan semua akan aman, asal beriman kepada Tuhan maka semua akan dicukupkan, Tuhan akan menyediakan segala sesuatu, dan  umatNya tinggal meminta saja.  Banyak orang berpikir bahwa dengan beriman kepada Tuhan maka secara otomatis hidup akan bahagia”. Pemahaman inilah yang dikatakan oleh Yakobus sebagai Iman yang mati yaitu iman yang hidup tanpa perbuatan adalah mati atau sia-sia (Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati).
Pandangan seperti ini adalah pandangan yang keliru, ini adalah bentuk iman yang buta. Makanya tidak sedikit orang percaya yang menganut pandangan ini menjadi stress berat, menjadi  rapuh imannya, ketika menyadari bahwa hidupnya tidak lebih baik dari kehidupan orang-orang yang tidak percaya. Jika pandangan seperti ini dibiarkan berkembang maka kita akan menjadi orang-orang yang malas, berdiam diri, hanya mampu bertadah tangan, dan tidak mau berusaha keras untuk memperjuangkan kehidupan meraih berkat Tuhan.
Paulus dalam pelayanannya pernah menghadapi kehidupan jemaat yang seperti ini, yang hanya mau menerima tanpa mau bekerja keras. Terhadap orang-orang seperti ini Paulus dengan tegas berkata “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”(2 Tes 3:10). Ini berarti bahwa setiap orang yang mau menikmati kasih karunia dan berkat Allah tidak bisa hanya berdiam diri dan bermalas-malasan apalagi hanya bertadah tangan untuk menerima sesuatu dari orang lain. Umat Tuhan dipanggil untuk terus-menerus menindaklanjuti doa dan permohonannya dengan usaha dan kerja keras. Kekristenan tidak mengajarkan seseorang untuk hidup malas dan tidak mau berjuang. Umat Tuhan jangan pernah menyalah artikan kasih karunia Allah. Ia memang menyediakan berkat dan kelimpahan yaitu tanah yang subur, susu dan madu bagi umat Israel, tetapi mereka harus berjuang untuk mendapatkannya. Allah memang menyediakan kelimpahan berkat bagi setiap orang, tetapi kelimpahan berkat itu harus diperjuangkan dengan tekun. Allah telah menyediakan masa depan yang cerah bagi setiap orang yang percaya kepadaNya, Allah telah menjamin bahwa hidup setiap orang yang berharap kepadaNya akan terpelihara, Allah juga berjanji bahwa ada banyak berkat tersedia bagi mereka yang beriman kepadaNya, hanya ingatlah satu hal bahwa semua yang Allah sediakan itu tidak akan menjadi milik kita jika kita hanya berdiam diri dan bermalas-malasan saja. Jika anda ingin berkat, maka mintalah kepada Allah lalu bekerjalah dengan giat untuk meraihnya. Amin.



Renungan Minggu ke-5 Oktober   (Teologi Pengharapan)
Bacaan           :   2 Raja-raja 5:1-14
Nats/Thema   :   “Allah Itu Luar Biasa”

A. Pengantar Perikop.

Relasi atau hubungan bangsa-bangsa yang bertetangga tidak selamanya berjalan baik. Hal serupa juga sedang dialami oleh bangsa Israel dengan bangsa Aram dalam kitab Raja-raja, di mana saat ketika peristiwa dalam perikop ini terjadi, hubungan politik Israel dan Aram rupanya sangat kurang harmonis. Peperangan demi peperangan masih terus berlanjut. Nabi Elia telah terangkat ke sorga, dan sebagai gantinya munculah Elisa yang memiliki roh Elia (2:15). Pasal-pasal awal dalam 2 Raja-raja menceritakan perbuatan Elisa yang menunjukkan kenabian serta kemampuannya dalam melakukan berbagai perkara sebagai abdi Allah. Secara khusus, 2 Raja-raja 5:1-14 mengangkat kisah tentang Naaman, panglima tentara Aram yang badannya putih karena kusta (bdk. 5:27). ‘Kusta’ dalam berbagai cerita Perjanjian Lala ada kalanya dipakai untuk menjelaskan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya dan berhubungan dengan sesuatu yang gaib. Perlu diperhatikan di sini, bahwa bagi orang-orang Israel, kusta adalah penyakit yang najis dan seorang yang sakit kusta harus dilenyapkan atau diasingkan dari masyarakat (Im. 13, 14). Tetapi rupanya Naaman yang sakit kusta itu dapat menghadap Rajanya (2 Raja-raja 5:4). Tidak disebutkan nama Raja Aram saat itu, tetapi kemungkinan adalah Benhadad, sedangkan raja Israel yang berkuasa adalah Yoram, yang naik tahta setelah kematian Ahazia (bdk. 2 Raja-raja 1:17). Ada kemungkinan perbedaan pemahaman mengenai kusta bagi orang Israel dengan orang Aram sehingga Naaman diperbolehkan berada di istana, atau hal itu terjadi karena kedudukan Naaman sebagai panglima yang ‘terpandang … dan  sangat   disayangi’  oleh Raja Benhadad, dan mungkin  juga Naaman begitu berjasa bagi negaranya, bangsa Aram ketika itu (5:1).

B. Pertanyaan Diskusi.

1.  Adakah sesuatu yang menarik dari Kisah kesembuhan Naaman dalam           Perikop Bacaan kita tadi?

2.  Bagaimanakah sikap kita jika kita diminta untuk melakukan sesuatu yang     kelihatannya tidak mungkin dalam kehidupan kita?

3.  Dalam hal-hal apa saja kita bisa menyaksikan bahwa Allah itu Luar biasa?


C. Tafsiran – Aplikasi.


Dalam suasana politik yang tegang, kisah sakitnya Naaman menjadi menarik, bahwa kesembuhan didapatkan di ‘negeri musuh’. Benhadad, Raja Aram, bahkan mengeluarkan surat diplomasi untuk Raja Israel agar menyembuhkan Naaman. Naaman pergi dengan membawa barang-barang pemberian bagi Israel berupa sepuluh talenta (sekitar 340 kg) perak, enam ribu syikal (sekitar 68,5 kg) emas, dan sepuluh potong pakaian. Ini merupakan pemberian yang sangat besar. Dalam peperangan, jumlah ini merupakan biaya perang yang besar. Kedatangan Naaman ke Israel rupanya menimbulkan keterkejutan Raja Israel. Berbeda dengan sang gadis pelayan yang kemungkinan mendengar cerita rakyat mengenai kehebatan Elisa dan bagaimana Tuhan menyertainya, rupanya keyakinan Raja Israel tidak sebesar itu. Raja berkabung dan berpikir permintaan tersebut merupakan akal-akalan Benhadad. Kesedihan raja diketahui oleh Elisa yang meminta Naaman dikirim ke rumahnya. Umum di kalangan Timur Tengah waktu itu bahwa kusta dianggap sebagai penyakit yang berhubungan dengan sesuatu yang gaib, karenanya Naaman berpikir bahwa Elisa akan mengadakan semacam pengusiran setan atasnya (ay 11). Tetapi Elisa hanya menyuruhnya mandi di Sungai Yordan. Naaman yang awalnya menolak melakukannya, diyakinkan oleh para pegawainya, sehingga ia menuruti ucapan Elisa, dan terbukti, ia menjadi tahir. Terbukti bahwa seketika Naaman Menjadi sembuh.

Perhatikan panjangnya urusan kesembuhan yang melibatkan banyak orang ini : gadis pelayan à sang nyonya à Naaman à Raja Aram à Raja Israel à Elisa à pegawai Naaman à kesembuhan Naaman. Urusan kesembuhan ini melibatkan : orang-orang sederhana (gadis pelayan dan pegawai) sampai para raja; mereka yang percaya kepada Allah dan yang tidak; mereka yang mengenal Elisa dan yang tidak. Tetapi mereka semua tanpa saling mengetahui, ternyata telah membuat suatu jalinan kerja sama dalam meyembuhkan Naaman.
Ketidaktahuan manusia tentang betapa luar biasanya Allah sekarang terungkap. Peristiwa yang melibatkan berbagai karakter membuktikan bahwa Allah itu luar biasa. Ia sanggup melakukan segala sesuatu, segala perkara yang sering tidak mampu kita pikirkan. Ia menyatakan kuasanya kepada semua orang, kepada semua golongan, kepada orang yang percaya kepadaNya maupun yang tidak percaya kepadaNya. Ini maksudnya supaya Allah dikenal dan keberadaanNya diakui oleh semua orang. Oleh karena itu, jika Tuhan meminta kita melakukan sesuatu untuk kemuliaan namaNya, mungkin apa yang kita mau lakukan itu tidak masuk akal kita, tidak mungkin terjadi. Tetapi Jika Tuhan yang meminta, mari kita mengerjakannya. Sebab dengan mengerjakan apa yang Tuhan minta, maka kita akan melihat, mengetahui, memahami bahwa Allah itu Luar Biasa, Amin.


PA Minggu ke-1 November   (Pembangunan SDM)
Bacaan      :   Mazmur 141:1-10
Nats/Thema   :         Mazmur 141:3

Jemaat Yang diberkati Tuhan.....
Semua orang di dunia ini memiliki mulut, di mana mulut memiliki fungsi yang begitu vital dan penting bagi manusia. Dengan mulut, seseorang dapat berbicara atau berkomunikasi. Dengan mulut seseorang dapat menikmati makanan sehingga keberlangsungan kehidupan masih tetap ada. Dengan mulut                              seseorang dapat mengungkapkan perasaan serta isi hatinya. Dengan mulut orang bisa menciptakan perang. Dengan mulut, kedamaian dapat diciptakan. Dengan mulut orang bisa menangis, dengan mulut orang bisa tertawa. Dengan mulut, kita bisa memuji Tuhan, dengan mulut pula seseorang dapat melakukan dosa dan menghujat Tuhan.
Ada sebuah Pepatah yang mungkin agak sedikit asing bagi kita. Pepatah ini mengatakan : "Mulutmu Harimaumu". Pepatah ini mungkin cukup ekstrim atau kurang enak kedengaran di telinga kita. Betapa buas dan kejamnya pepatah ini. Lalu ketika kita memikirkan lebih jauh, mungkin kita akan mengatakan bahwa betapa berbahayanya mulut, yaitu salah satu organ tubuh yang kita miliki ini. Sebagai orang percaya, kita tidak serta-merta mengatakan bahwa pepatah : “Mulutmu Harimaumu” sebagai sebuah pepatah buruk. Dari sudut pandangan positip, pepatah yang kedengarannya ekstrim ini sebetulnya mengajarkan kepada kita bahwa perkataan yang  keluar dari mulut ini harus mampu dikendalikan. Jika kita tidak sanggup mengendalikan mulut kita dalam berkata-kata, maka saat itulah perkataan itu menjadi ‘galak’ seperti harimau yang bisa menerkam balik kepada kita. Mulut adalah media untuk mengartikulasikan atau mengucapkan segala sesuatu yang ada di dalam pikiran dan hati seseorang.
Dalam Perjalanan serta pengalaman kehidupan Daud sebagai penulis Mazmur ini, begitu terlihat bahwa ia bergumul hebat dengan mulut yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Terlihat sangat jelas bahwa pemazmur menyaksikan banyak hal-hal negatip dan buruk terjadi karena mulut. Ada begitu banyak kefasikan ataupun kejahatan yang disaksikan oleh Pemazmur di mana salah satu penyebabnya adalah karena mulut dipergunakan untuk mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan. Dalam Mazmur 141:1-10 tergambar bahwa salah satu sumber dosa adalah ketika seseorang salah dalam mempergunakan mulut yang dikaruniakan oleh Tuhan kepadanya. Oleh karena itu, pepatah : “Mulutmu Harimaumu” ini ingin mengingatkan bahkan mengajarkan kepada kita untuk selalu mengendalikan mulut kita. Mengendalikan setiap ucapan-ucapan yang keluar dari mulut kita. Maksudnya adalah jangan sampai mulut yang adalah karunia Tuhan itu akan merusak seluruh tatanan kehidupan kita.

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Kalau dikatakan bahwa kita harus mengendalikan mulut kita, sekarang muncul sebuah pertanyaan : “Dengan apakah kita mengendalikan mulut kita?”
Pemazmur dalam Mazmur 141:3 sebetulnya sangat jelas mengajarkan kepada kita, bahwa untuk menyaring perkataan yang keluar dari mulut kita, itu tidak cukup hanya dilakukan dengan usaha, kesanggupan serta kekuatan sendiri. Mengendalikan mulut hanya dapat dilakukan dengan berdoa dan memohon pertolongan dari Tuhan. Ketika Daud dengan segala kekuatannya tidak lagi sanggup menguasai mulutnya, Dengan penuh pergumulan ia berdoa kepada Tuhan : “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku.”  
Jika kita memperhatikan doa ini, maka kita akan semakin disadarkan oleh sebuah kenyataan bahwa : Betapa liar dan berbahayanya mulut kita. Berdoa adalah perlawanan yang paling tepat terhadap perkataan yang kotor dan jahat. Karena begitu besarnya pengaruh serta kekuasaan mulut, sampai-sampai Dalam doanya pada waktu petang, Daud berseru kepada Tuhan, meminta Tuhan melindungi dan memampukannya untuk hidup bagi kemuliaan-Nya. Permohonan ini begitu penting sehingga Daud berharap agar Tuhan menolongnya dalam pergumulan melawan berbagai bentuk pencobaan. Ia meminta Allah mengontrol perkataan, pikiran, dan tindakannya.
Kerinduan orang percaya adalah hidup kudus dalam setiap aspek kehidupannya. Dosa dalam berbagai bentuk akan berusaha menyimpangkan setiap kerinduan umat Tuhan untuk hidup dalam kekudusan. Iblis dapat saja menggunakan Yang berupa perkataan, misalnya, kita mengucapkan kata-kata kasar yang menyakitkan orang lain. Iblis juga menggunakan kata-kata yang penuh dosa supaya seseorang menghujat serta menyakiti hati Tuhan. Padahal, kita seyogyanya mengucapkan kata-kata yang penuh kasih dan membangun orang lain. Seyogyanya mulut kita dipergunakan untuk terus memuji dan memuliakan Tuhan yang telah berkarya dengan penuh kuasa dalam hidup kita. Selaku anak-anak Allah, kita perlu dan seharusnya terus berdoa meminta tuntunan Tuhan. Kuat dan liarnya mulut kita tidak dapat kita kalahkan dengan kekuatan kita sendiri, Sebab kita begitu lemah dalam menjaga mulut serta perkataan-perkataan kita. Yang mampu mengalahkan dan mengendalikan kekuatan mulut kita hanya sesuatu yang lebih kuat dari itu, Dialah Tuhan yang berkuasa atas segala kuasa.   Dengan berdoa, kita menaklukkan diri kepada Allah hingga terhindar dari dosa karena mulut kita.
Jika kita terus berdoa dan meminta Tuhan mengendalikan mulut kita, maka Tuhan pasti akan menjaga dan mengawasinya. Jika Tuhan yang menjaga dan mengawasi mulut kita, maka kita akan dimampukan untuk mempergunakan mulut kita untuk menghadirkan suasana tenteram, suasana damai sejahtera, dan terlebih-lebih lagi mulut kita akan kita pakai untuk terus memuji Tuhan, Amin.



PA Minggu ke-2 November   (Pembangunan SDM)
Bacaan           :   Galatia 6:1-16
Nats/Thema   :    “Saling Membantu Sebagai Keluarga Allah”

A. Pengantar-Tafsiran Perikop.

Perikop ini merupakan bagian terakhir dari surat yang ditulis oleh Paulus kepada jemaat-jemaat di Galatia, yaitu Jemaat-jemaat yang sedang meragukan kebenaran Injil dan sementara berhadapan dengan tradisi Yahudi. Disamping itu, Jemaat-jemaat di Galatia juga sedang meragukan kerasulan Paulus. Konteks ini tentu tidak muncul secara alamiah, tetapi persoalan ini muncul karena ada para pengajar sesat yang mengajarkan hal-hal yang membingungkan Iman Jemaat. Di akhir tulisannya, Paulus menekankan kepada jemaat untuk hidup saling bertolong-tolongan dalam menanggung beban mereka (ay 2). “Menanggung beban” dalam Bahasa Yunaninya basta,zete = Bastazete  berkaitan dengan “memikul” yang mengingatkan kita akan peristiwa pemikulan salib Krsitus. Beban apa yang dimaksud?  Jika  Mengacu kepada ayat 1, maka beban itu adalah beban dosa. Serta memperhatikan berbagai nasihat Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya, maka beban itu juga berarti hambatan dan tantangan dalam jemaat, khususnya dari orang-orang yang ingin ‘menyesatkan’ (mengajarkan tentang sunat (5:2-3) sebagai tanda keselamatan, hidup dalam perhitungan hari-hari Yahudi (4:10), membedakan hubungan antara orang bersunat dan tidak, bahkan meragukan kerasulan Paulus. Beban ini merupakan tantangan dari dalam diri masing-masing dan sebagai jemaat. Karenanya, menjadi penting bahwa setiap orang juga ‘menguji’ diri mereka masing-masing, apakah mereka sudah benar dan setia kepada ajaran yang telah mereka dapatkan, sehingga mereka berhati-hati agar tidak menyesatkan jemaat. Pada akhirnya walaupun jemaat dapat disesatkan oleh para pengajar-pengajar sesat, tetapi Allah mengetahui segala yang terjadi. Setiap hal apapun yang dilakukan, pasti ada akibatnya bagi diri mereka sendiri. Bagi orang-orang yang hidup sesuai ajaran yang benar, maka damai sejahtera dan rahmat Allah akan turun atas mereka. Demikian pula sebaliknya, bagi orang-orang yang hidup tidak sesuai dengan ajaran yang benar, maka damai sejahtera akan jauh dari kehidupan mereka. Sehubungan dengan menguji diri sendiri, Paulus juga mengingatkan dalam Suratnya (Galatia 6:3) supaya setiap orang jangan merasa dirinya sebagai orang penting atau “Merasa Bisa”. Keadaan serta sifat seperti ini adalah sesuatu yang sangat memalukan, sebab jika pada akhirnya ternyata diketahui bahwa dia bukan orang penting, maka itu berarti ia menipu dirinya sendiri. Orang yang merasa bisa dan merasa penting dalam Jemaat tanpa menguji dirinya sendiri berdasarkan firman Allah, biasanya cenderung menyesatkan Jemaat. Karena itu Paulus mengingatkan supaya Jemaat di Galatia tidak berlaku seperti itu.

B. Bahan Diskusi.

1.  Apakah dorongan Paulus supaya Jemaat bertolong-tolongan menanggung    beban dosa diartikan  kita harus berkompromi dan berkoalisi dengan dosa?

2.  Apakah dalam konteks bergereja saat ini masih ada pengajar-pengajar sesat yang sering kali mengguncangkan Iman Jemaat?

3.  Bagaimana sikap kita sebagai warga Gereja supaya Gereja dapat bertumbuh             dengan baik?

C. Aplikasi/Penerapan.

Sanksi sosial dan sanksi Rohani akibat dosa tetap ada. Orang yang melakukan dosa pasti merasa bersalah dalam lingkungan sosialnya dan juga merasa bersalah di hadapan Allah. Ini berlaku bagi orang-orang yang menyadari diri sebagai orang berdosa. Tuhan memang mengampuni orang-orang berdosa yang mau dibimbing kepada pertobatan, tetapi akibat-akibat dosa tetap saja tidak dapat terhindarkan. Jika Paulus mendorong Jemaat untuk saling tolong-menolong dalam menanggung beban dosa, itu tidak berarti bahwa orang-orang yang tidak melakukan dosa, lalu berkompromi dan berkoalisi dengan dosa. Paulus sudah mengingatkan : Supaya setiap anggota Jemaat yang menasehati orang lain yang jatuh ke dalam dosa, pada saat yang sama juga harus menjaga dirinya supaya jangan jatuh ke dalam dosa yang sama (Ayat 1).
Berbicara tentang ajaran-ajaran sesat, masalah ini memang tidak akan pernah habis, sebab waktu belum berujung apalagi berakhir. Ajaran-ajaran sesat akan terus ada. Sadar atau tidak, begitu sering ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah muncul dalam kehidupan bergereja masa kini. Ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan firman Allah begitu banyak berkembang. Oleh karena itu, firman Allah harus senantiasa menjadi pegangan dan alat uji bagi kita dalam mengahadapi ajaran-ajaran sesat. Belajar terus tentang firman Tuhan adalah penangkal utama terhadap serangan dari ajaran-ajaran sesat.
Gereja adalah ibarat sebatang pohon yang terus bertumbuh dan harus menghasilkan buah-buah yang baik. Sikap kita sebagai warga Gereja supaya Gereja terus bertumbuh adalah turut mengambil bagian, bertolong-tolongan menanggung berbagai hal yang berkaitan dengan kebutuhan yang membuat Gereja bisa bertumbuh dan berbuah. Dalam kaitan dengan Gereja yang bertumbuh, ada sebuah ungkapan yang mengatakan  “Kita Jangan “Merasa Bisa”, tetapi kita harus senantiasa mengembangkan sikap serta pikiran “Bisa Merasa” Artinya peka terhadap hal-hal yang baik yang seharusnya kita lakukan. Niscaya Gereja akan bertumbuh dan berbuah, Amin.





Khotbah Minggu ke-3 November  (Pembangunan SDM)
Bacaan         : Galatia 6:2
Nats/Thema : “Rantai Kebaikan”

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Minggu yang lalu kita merenungkan Firman Allah dari Perikop Bacaan yang sama melalui sebuah diskusi Pemahaman Alkitab (PA). Meskipun Perikop bacaan kita minggu ini sama dengan perikop Minggu yang lalu, tetapi saat ini kita melihat perikop ini dari sudut pandang yang berbeda dan metode Pemberitaan Firman yang berbeda. Kali ini kita merenungkan satu ayat saja dari firman Allah yaitu Galatia 6:2. Metode Perenungan kita saat ini adalah dengan merenungkan sebuah Ilustrasi, tetapi Ilustrasi ini lebih kepada sebuah realita kehidupan seseorang yang bernama Bryan Anderson.

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan dipinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil wanita itu dan keluar menghampirinya.
Mobilnya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya. Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan kurang baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan. Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri disana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu.Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, "Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. Masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat!
Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson." Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut usia seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari - jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka. Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu. Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya. Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya. Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, Dan ingatlah kepada saya." Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu ingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja. Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil,dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan disekitar tempat itu sangat asing baginya. Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan. Setelah wanita itu menyelesaikan makannya, ia membayar dengan uang kertas $ 100 (Seratus Dolar). Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu. Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: "Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: 'Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.'"
Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 (Seratus Dolar) lagi. Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan kelahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup. Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik dengan lembut dan pelan, "Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!  Kita sudah diberkati Tuhan pada saat kita benar-benar membutuhkan berkat dan pertolonganNya.
Ada pepatah lama yang berkata,"Berilah maka engkau diberi."
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6 : 2)

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Bukankah kita juga sering mengalami pengalaman yang sama seperti apa yang dialami oleh Keluarga Anderson? Pengalaman seperti itu pastilah bukan hanya satu atau dua kali kita rasakan. Pengalaman seperti itu terlalu sering terjadi. Ketika dalam saat-saat kritis kehidupan yang kita hadapi, seolah-olah tidak ada jalan keluar, tetapi pada saat di mana kita benar-benar membutuhkan sesuatu Tuhan bertindak dan menolong kita. Tuhan benar-benar tahu dan mengerti apa yang sedang kita butuhkan. Kunci pertolongan Tuhan yang tepat pada waktunya bagi keluarga Anderson tidak terletak pada kekuatiran akan apa yang mereka butuhkan, tetapi justru terletak pada optimisme mereka dalam berbuat baik kepada orang lain. Kebaikan hati mereka tertular begitu hebatnya kepada orang lain dan pada akhirnya kebaikan itu kembali kepada mereka.
Tuhan memenuhi kebutuhan keluarga Anderson dengan cara yang tidak dapat diselami oleh akal pikiran kita, tetapi itulah yang terjadi dan dialami oleh keluarga ini. Kehidupan yang suka menolong orang lain tanpa pamrih adalah sebuah bukti bahwa kehendak Allah berlaku atas hidup kita. Setiap anak-anak Allah dipanggil supaya senantiasa hidup saling menolong, sebab cara hidup seperti ini adalah cara hidup yang memenuhi hukum Tuhan. Berbuat baik tidak akan pernah merugikan para pelakunya. Firman Allah mengatakan bahwa orang yang menabur kebaikan, pasti pada akhirnya akan menuai kebaikan-kebaikan dalam hidupnya. Siapa yang mengerjakan kebaikan itu bagi mereka? Jawabannya adalah Tuhan yang adalah sumber kebaikan itu sendiri. Bagi orang-orang yang suka berbuat baik dan suka menolong orang lain, Firman Allah ini berlaku bagi mereka : Pengkhotbah  3:11 “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”  Oleh karena itu jangan pernah memutuskan rantai kebaikan, supaya kebaikan itu terus menular dan merambat kepada semua orang. Berbuat baiklah senantiasa dengan hidup saling menolong. Berilah, maka kamu akan diberi. Terpujilah nama Tuhan, Amin.




PA Minggu ke-4 November  (Pembangunan SDM)
Bacaan         :   Efesus 5:22-23
Nats/Thema : Kasih Adalah Pengikat Keluarga”

A. Pengantar Diskusi.

Permasalahan keluarga menjadi salah satu hal terpenting dalam keberagaman permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia. Permasalahan keluarga yang dihadapi juga ternyata begitu banyak atau beraneka macam bentuknya. Mulai dari masalah pasang-surutnya ekonomi keluarga sampai kepada permasalahan posisi siapa yang dipimpin dan bagaimana memimpin serta siapa yang penolong dan bagaimana menjadi penolong yang baik.
Ada satu hal yang perlu diingat kembali; bahwa impian seluruh keluarga adalah hidup dalam keharmonisan, hidup dalam damai sejahtera.
Kita menyadari bahwa Era ini semakin jelas menunjukkan bahwa masalah keluarga bukanlah masalah yang asing terdengar oleh telinga kita. Kecil besarnya masalah itu  tergantung bagaimana anggota keluarga menyikapinya. Kalau masalah yang sering dihadapi dalam keluarga tidak menemui jalan yang baik maka dapat dapat dipastikan bahwa hal itu akan berimplikasi pada perpecahan dan kehancuran keluarga itu sendiri. Pilihan terakhir dari setiap masalah keluarga  yang paling fatal ialah terjadinya perceraian. Padahal sebagai umat perjanjian Allah, sebagai anggota keluarga kerajaan Allah, perceraian sangatlah tidak berkenan dihadapan Allah. jadi sebagai orang-orang Kristen perlu melihat bagaimana sebenarnya formasi yang harus dibangun menuju keharmonisan keluarga, supaya perjalanan hidup keluarga dapat berjalan sesuai dengan maksud-maksud serta rencana Allah yang tertuang dalam firman-firmanNya.
Untuk mewujudkan cita-cita tentang Idealnya sebuah Rumah Tangga, kita memiliki begitu banyak akses atau jalan masuk. Banyak teori-teori bahkan pengalaman praktis yang sudah dilalui oleh orang-orang sukses dalam Berumah Tangga dapat kita jadikan sebagai contoh yang baik serta bermanfaat dalam membangun kehidupan Rumah Tangga kita. Dalam konteks sebagai orang percaya, Alkitab merupakan pegangan serta penuntun yang begitu baik bahkan yang terbaik dan berharga dalam hal kita membangun kehidupan Rumah Tangga yang berkwalitas  dan berkenan di hadapan Tuhan. Petunjuk-petunjuk Alkitab tentang bagaimana membangun Rumah Tangga yang baik ini telah dipergunakan sejak zaman purbakala. Bagi mereka yang menjadikan Alkitab sebagai pedoman serta pegangan dalam kehidupan berumahtangga, maka mereka akan dimungkinkan untuk menikmati kehidupan Rumah Tangga yang Indah dan bahagia. 

B. Pertanyaan Diskusi.

B.1.  Apakah makna kata “Tunduk” kepada suami dalam ayat 22 bacaan Alkitab                Hari ini?

B.2. Suami yang seperti Apakah yang harus dihormati oleh Istri dalam sebuah                 Rumah Tangga?

B.3. Mengapa Istri harus “tunduk” kepada suami?


C. Aplikasi – Penerapan.

Dalam perikop bacaan kita hari ini firman Allah mau berbicara kepada kita tentang bagaimana Rumah Tangga itu dibangun dengan fondasi yang kuat dan kokoh, sehingga badai tidak mudah merobohkannya. Firman Allah tidak pernah mengatakan bahwa jika Sebuah Rumah Tangga dibangun dengan fondasi, dasar yang kokoh, lalu Rumah Tangga itu akan bebas dari berbagai goncangan yang berupa tantangan atau persoalan. Tetapi firman Allah mau mengatakan bahwa jika Fondasi atau dasar sebuah Rumah Tangga berada dalam keadaan kokoh, maka Rumah Tangga itu akan sanggup bertahan, meskipun badai dan prahara mengguncangkannya. Ia tidak akan hancur apalagi menjadi puing-puing yang rusak begitu parah.
Kata “Tunduk” dalam bacaan Alkitab hari ini secara fisik mengandung pengertian: Menghadapkan wajah ke bawah, kepala yang dicondongkan ke depan dan ke bawah. Pengertian ini menunjuk pada rasa hormat dari seorang istri terhadap suaminya, di mana keadaan ini muncul karena rasa kasih yang mendalam, dan kasih yang mendalam terhadap suami tersebut menggiring seorang istri menghormati suaminya. Secara spiritual atau dalam pengertian Rohani, “Tunduk” berarti Patuh atau menurut, karena demikianlah seharusnya hal yang dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya. Rasa “Patuh” yang dinyatakan oleh istri terhadap suaminya harus dilakukan sebagaimana ia patuh terhadap Tuhan. Jika kita membaca sepintas ayat bacaan kita, mungkin para istri akan mengatakan bahwa ayat ini sangat semena-mena terhadap perempuan yang berstatus istri. Perintah untuk menghormati bahkan tunduk seakan-akan hanya berlaku bagi suami. Dalam ayat 23 bacaan kita sangat jelas bahwa istri harus tunduk kepada suami, istri harus menghormati dan menghargai suami sebab suami memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan Rumah Tangga. Sebab ia bertanggung jawab atas kehidupan rumah tangganya, peranan suami diibaratkan seperti peranan Kristus yang menyelamatkan Jemaat. Seorang suami bertanggung jawab atas seluruh keberadaan Rumah Tangga. Ia menyelamatkan kehidupan Rumah tangga dari berbagai ancaman, baik ancaman yang bersifat fisik maupun Rohani. Secara fisik seorang suami bertanggung jawab melindungi keluarganya dari segala macam bahaya. Seorang suami bekerja keras supaya kehidupan Rumah Tangga senantiasa berkecukupan, memberikan rasa aman terhadap semua anggota-anggota Rumah Tangga. Di bawah pengayoman suami, Rumah Tangga dan semua anggota-anggotanya mengalami rasa aman, tenteram dan menikmati damai sejahtera. Seorang suami bertanggung jawab melakukan tanggung jawabnya dan menghindarkan keluarga dari ancaman kemiskinan, kelaparan, menyiapkan apa yang dibutuhkan keluarga untuk memelihara kesehatan dan sebagainya. Sebagaimana Kristus melakukan semua itu bagi Jemaat, demikianlah seorang suami melakukannya bagi Istri dan semua anggota Rumah Tangganya. Secara Rohani, seorang suami bertanggung jawab dalam membangun kehidupan Rohani dari semua anggota-anggota keluarganya. Singkatnya Ia adalah seorang Imam dalam Rumah Tangga yang terus-menerus memimpin Rumah Tangga supaya hidup sesuai dengan Kehendak Tuhan. Sebagaimana Kristus telah menjadi Imam, memberikan korban bahkan mengorbankan hidupnya untuk keluarga Kerajaan Allah, demikianlah pengorbanan suami terhadap seluruh anggota-anggota keluarganya. Kepada seorang suami yang seperti ini, Alkitab memerintahkan supaya istri “Tunduk” menghormati dan menghargai mereka. Banyak istri yang telah menyaksikan suaminya bekerja keras, melaksanakan tanggung jawab secara penuh dalam rumah Tangga, tetapi kepala mereka bukannya condong ke depan dan ke bawah untuk menghormati serta menghargai suaminya. Mereka justru mengangkat muka sambil condong ke depan untuk menantang suaminya. Kenyataan-kenyataan seperti inilah yang sering membuat kehidupan Rumah Tangga menjadi hancur. Ada juga suami-suami yang tidak bertanggung jawab terhadap anggota-anggota keluarganya, sehingga anggota-anggota keluarga harus terlantar tanpa perhatian.
Firman Allah yang kita Pelajari hari ini mengingatkan kita supaya masing-masing anggota-anggota dalam keluarga melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Saling menghargai, saling melindungi dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan. Jika semua yang dilakukan dalam keluarga dan untuk keluarga dilandasi oleh kasih, maka kehidupan rumah tangga akan kokoh. Badai tidak akan sanggup menghancurkannya. Ketika badai datang, ia akan terus berdiri kokoh sampai badai pencobaan itu benar-benar berlalu.  Kasih adalah Pengikat dan perekat yang paling ampuh buat Rumah Tangga kita, Amin.





Khotbah Minggu ke-5 November   (Pembangunan SDM)
Bacaan        :   Yohanes 6:60-69
Nats/Thema : Murid Yang Bertanggungjawab”

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Seorang guru yang sejati tidak akan pernah berniat menjatuhkan masa depan muridNya. Guru yang sejati akan selalu menunjukkan apa saja yang harus dilakukan oleh muridnya agar mereka selamat, Agar mereka berhasil, agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik. Keberhasilan dan kebahagiaan yang diharapkan oleh seorang guru terhadap murid-muridnya bukan saja keberhasilan di dunia fana ini, tetapi seorang guru juga sangat merindukan di mana murid-muridnya bahwa suatu saat melalui pengamalan ilmu dengan baik, mereka  bisa meraih dan menikmati kehidupan yang baik di dunia akhirat.
Seorang guru yang baik, akan selalu berupaya mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi murid-muridnya. Guru yang baik tidak segan-segan menerapkan kedisiplinan bagi murid-muridNya demi masa depan yang lebih baik dari orang-orang yang diajar dan dididiknya. Untuk itu ia juga rela mengorbankan hidupnya untuk sebuah pengabdian sebagai seorang guru.
Demikian pula seorang murid yang baik. Dalam statusnya sebagai murid, ia akan terus berusaha keras untuk belajar dari sang guru, ia akan belajar dengan sabar untuk menghadapi semua konsekwensi, mentaati serta mengikuti semua disiplin yang diterapkan oleh gurunya. Sebab jika ia takut dengan konsekwensi, gagal dalam berdisiplin, maka ia tidak akan pernah tamat dalam melewati proses sebagai seorang murid. Ketika ia menyelesaikan proses menjadi murid, selanjutnya ia akan tamat dan diperlengkapi  dengan pengetahuan, pengalaman, disiplin dan berbagai hal yang dibutuhkan untuk meraih suatu masa depan yang berpengharapan. Jika seorang murid bersedia melewati proses-proses kemuridan, maka suatu saat ia pasti bisa memberi dan membawa manfaat bagi dirinya sendiri terlebih-lebih bagi orang lain.
Tuhan Yesus adalah Guru sejati. Banyak harapan akan masa depan yang baik ditawarkan oleh-Nya, tetapi kemudian yang menjadi persoalan adalah  : apakah kita sanggup menjadi murid serta siap menjalani disiplin kemuridan serta menerima konsekuensi ketika menjadi murid Tuhan?

1.   Pada umumnya manusia senang dengan pemberian Cuma-Cuma, gratis, tanpa bekerja. Itu sebabnya bila kita ingin disenangi oleh banyak orang, berbuatlah royal, gampang dan secara membabi-buta suka memberi tanpa pertimbangan-pertimbangan yang baik. Namun penghormatan yang diperoleh karena sikap royal sebetulnya hanyalah seumur harta kita. Begitu harta kita habis, maka habis pula penggemar kita atau simpatisan kita. Selain itu pemberian Cuma-Cuma yang terus-menerus  berikan kepada seseorang tanpa tujuan mendidik, itu tidak akan membuat orang itu mandiri, melainkan membuat dia terus-menerus hidup dalam ketergantungan kepada orang-orang lain.

2.   Peristiwa yang hampir sama ternyata pernah dialami oleh Yesus dari Nazareth. Ia tampil di muka umum dengan membuat mujizat, “mengubah air menjadi anggur”, menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan orang mati. Tentu hal ini membuat banyak orang terpikat oleh-Nya dan mau menjadi pengikut-Nya. Namun Yesus menyadari, bahwa ia datang ke dunia bukan sekedar mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Tuhan Yesus sadar bahwa kehadiranNya bukan semata-mata menjadi pembuat Mujizat. Sebetulnya setiap Mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sangat memiliki orientasi Aducatif atau Pendidikan kepada banyak orang bahwa Dialah Juruselamat yang sudah datang itu. Tetapi orang banyak justru tidak memahami tujuan-tujuan dari setiap Mujizat yang dikerjakanNya.  Ia datang bukan untuk pamer kuasa dan kemampuan. Ia datang untuk menyelamatkan manusia. Dengan tindakan-tindakan Mujizat yang dilakukanNya, Tuhan ingin supaya orang banyak menjadi :
-      Percaya bahwa Dia adalah sungguh-sungguh utusan Allah (Yoh.    6:29).
-      Percaya dengan sungguh-sungguh kepada setiap sabda atau firman yang diucapkanNya (Yoh. 6:35).
-      Percaya bahwa apa yang dilakukanNya  merupakan suatu bukti bahwa   itu merupakan  kehendak Allah yang dinyatakan kepada dunia (Yoh.            5:30).
3.   Rupanya ketika syarat itu ditawarkan kepada para murid-Nya, mulailah mereka menggerutu. Mengapa harus repot-repot  ? Mereka ingin dan mau menjadi murid tanpa harus dibebani apa-apa. Diam boleh, santaipun jadilah.
     Tetapi Yesus tidak mau, lalu Ia menggertak mereka : Siapa yang mau pergi ?
                 Silahkan pergi ! ( Yoh.  6 : 67).
         Banyak yang tidak berani mengemukakan pendapat. Mereka diam dan saling baku pandang. Mereka malu sebab ketahuan isi hatinya yang hanya mau santai dan mendapat banyak pemberian.
4.   Petrus rupanya bersikap lain. Ia yang telah mengalami pahit getirnya hidup, yang telah lama bergulat mencari arti hidup  menemukan semua itu dalam diri Yesus gurunya. Maka ia menjawab : Kepada siapa kami harus pergi ? (Yoh. 6:68). Dan murid semacam inilah yang kelak dipercaya untuk memegang puncak pimpinan Gereja.
5.   Apakah relevansi firman ini dengan kehidupan berjemaat di Klasis kita ?
Relevansi atau hubungan firman Allah ini bagi kita adalah :
Pertama :    Menjadi murid Tuhan tidak hanya sekedar masuk menjadi anggota komunitas belajar untuk beberapa waktu ketika kita masih merasa senang dan nyaman di tempat itu. Ketika setiap orang memilih untuk menjadi murid Tuhan, itu berarti mereka siap untuk menjalani kerasnya proses dalam menjadi seorang murid. Di sana ada disiplin yang harus di taati, di sana ada konsekwensi-konsekwensi logis maupun tidak logis harus kita jalani. Ketika seseorang tidak siap dengan syarat-syarat kemuridan ini, maka ia akan segera Drop Out (D/O) atau keluar dari lingkungan kemuridan itu. Sebab hanya murid-murid yang berkualitas dan mau mengembangkan kwalitaslah yang layak dan siap memberi pengaruh bagi dunia ketika ia bisa lolos dan setia dalam memenuhi tanggung jawab kemuridannya. Dalam kaitan dengan dampak keselamatan bagi dunia, hanya murid-murid yang taat dan setialah yang akan mampu membawa dan memberi dampak keselamatan itu bagi dunia. Sedangkan murid-murid yang tidak setia justru akan Menjadi “batu Sandungan” dan membuat eksistensi atau keberadaan dunia akan menjadi semakin gelap.

Kedua, Menjadi murid Tuhan bukan sekedar menjadi simpatisan. Sebab Tuhan tidak membutuhkan para simpatisan dalam pekerjaanNya. Yang Tuhan butuhkan adalah murid-murid yang mau bekerja keras dalam memikul tanggung jawab. Hal-hal spektakuler atau luar biasa sehubungan dengan mujizat-mujizat yang Tuhan lakukan dalam hidup kita, dalam kehidupan orang lain bukan bertujuan supaya dari mujizat-mujizat itu kita bisa mendapat sesuatu untuk kepentingan pribadi kita, tetapi supaya sebagai murid, kita percaya bahwa apa yang kita lihat adalah bukti bahwa Allah benar-benar berkarya, dan kita dipanggil untuk percaya pada karya-karya itu, lalu bergiat dengan segala potensi yang kita miliki meneruskan karya-karya Allah itu kepada orang lain melalui pelayanan kita. Menjadi seorang murid membutuhkan pengorbanan, tidak mudah, sebab Guru kita, Tuhan Yesus Kristus sudah lebih dahulu korbankan diriNya supaya Ia bisa memperoleh murid-murid yang juga rela berkorban banyak hal demi pelayanan GerejaNya. Pengorbanan dalam pelayanan Gereja bukan hanya dinyatakan dalam kerangka toretis melalui kesanggupan-kesanggupan Retorika (Berbicara), tetapi melalui tindakan nyata, di mana setiap orang dipanggil untuk mengorbankan waktu, harta benda, pikiran, perasaan bahkan seluruh kehidupan. Dalam Pelayanan dan menjalani proses kemuridan, jangan pernah bertanya : Apa yang Tuhan sudah berikan untuk saya, tetapi bertanyalah : Apa yang saya sudah berikan untuk Tuhan, Guru dan Juruselamat saya yang sejati? Amin.




PA Teologi Parousia
Bacaan        :   I Tesalonika 5:1-11 (Minggu Advent 1)
Nats/Thema :   “Berjaga-jaga dalam Iman, Kasih Dan Pengharapan”


A. PENDAHULUAN

Masa penantian atau Advent dialami oleh segenap Warga Gereja ketika menyongsong peringatan dan perayaan Natal setiap tahun. Tetapi Advent  juga mengandung pengertian menyongsong “Natal Yang sempurna”, yakni kedatangan Kristus untuk kali yang ke-2. Untuk itu Warga Gereja diajak dan diingatkan untuk senantiasa menyiapkan diri (dalam iman dan perilaku) untuk menyongsong Peristiwa Natal yang sesungguhnya. 

B. PENJELASAN PERIKOP/TEKS.

Teks 1 Tesalonika 5:1-11 menyampaikan berita tentang Hari Tuhan atau hari kedatangan Kristus ke-2. Tentang waktu kapan kedatangan Kristus kedua tersebut, penulis Kitab Tesalonika tidak mengetahui, bahkan secara tersurat mengatakan”tidak perlu kutuliskan padamu” (ayat 1). Hal demikian bukan berarti Penulis Tesalonika tahu waktunya, tetapi tidak perlu menyampaikannya kepada jemaat. Namun yang ingin disampaikan adalah waktu kedatangan Kristus ke-2 tidak perlu menjadi perdebatan dan silang pendapat antar warga Gereja, karena hal demikian memang bukan menjadi urusan manusia. Meski tidak diketahui waktunya, tetapi kedatangan Kristus ke-2 diyakini terwujud, bukan sekedar ucapan atau tulisan semata. Kedatangan Kristus yang ke-2 tidak diketahui waktunya itu diibaratkan dengan kedatangan pencuri, yang dimengerti dengan tidak diketahui oleh siapapun kapan kedatangannya (ayat 2 dan 4).
Ibarat atau symbol dalam teks yang disampaikan berikutnya adalah Warga Gereja sebagai anak-anak siang atau anak-anak terang (ayat 5). Hal demikian menunjuk pada pengikut Kristus sebagai orang-orang yang tahu tentang jalan Tuhan, perintah Tuhan, serta melakukannya dengan bersungguh-sungguh hati. Hal yang benar dan bertanggungjawab, sebagai anak-anak terang tidak akan melakukan perbuatan gelap atau malam. Perbuatan yang memberi arti kejahatan, kedurhakaan, perseteruan maupun tindakan tidak susila.
Panggilan yang disampaikan kepada warga jemaat selaku orang-orang siang adalah:
1.  Berjaga-jaga dan sadar dalam kehidupan ini, agar keselamatan dalam Yesus Kristus tetap ada sampai Kristus datang untuk kali yang ke-2 (ayat 6,8).
2. Saling memberi nasehat dan membangun, sehingga segenap warga jemaat    terjaga   dan sadar setiap waktu, tidak terjatuh pada perbuatan gelap atau             perbuatan malam         (ayat 11)

C. DIALOG PEMAHAMAN.

Berikut ini disampaikan percakapan 2 orang Bapak, yang membicarakan atau mempercakapkan tentang Hari Tuhan atau kedatangan Kristus untuk Kali yang ke-2. Mari kita Simak Percakapan mereka :
Bambang  :    Pak Sumo,  apakah  Bapak sudah mendengar berita tentang kedatangan Yesus Kristus yang ke                            dua?
Sumo        :  Mendengar beritanya sih, sudah, tetapi kedatangan-Nya khan                   belum terjadi. Manusia tidak tahu kapan kedatangan-Nya yang                       ke-2 kali tersebut. Bukankah firman yang sering kita dengarkan                 bahwa kedatangan Kristus kedua kali seperti pencuri. Kapan               datangnya  si-pencuri  kan pemilik rumah tidak mengetahui                        waktunya. Bisa jadi ketika pemilik rumah terlena, tidak waspada,                 si-pencuri tersebut datang dan menyatroni rumahnya.
Bambang  :    Kalau kita tidak tahu kapan kedatangan Kristus kedua, terus kita              harus bagaimana? kalau   kita  bekerja,  siap  terus menerus,               waspada, kan bisa jadi jenuh. Seperti di TV itu, kita bisa jadi               pusiii…ng.   Berbeda   bila   kedatangan   Kristus sudah jelas                      waktunya,  tentu   kita    bisa   mempersiapkan  diri dengan                     sungguh - sungguh,  serius  dan  total.  Kalau  seperti ini kan                      membingungkan!
Sumo        :    Apakah   kita   memang   perlu   tahu   kapan   kedatangan                     Kristus?   Bukankah semuanya itu ditangan kuasa allah bapa                    sendiri. Bagi kita warga gereja,  bukankah yang kita lakukan                 adalah mempersiapkan iman, iman yang kukuh dan penuh                      harapan  di   dalam   Kristus.  Serta    etika    Kristiani    yang                         bertanggung jawab. Berkenaan dengan hari atau waktunya,                         mengapa kita harus pusing memikirkannya. Pak bambang tidak               perlu  pusing.
Bambang  :    Hal yang lain, Pak. Beberapa waktu yang lalu terjadi banyak                   bencana dinegeri kita ini. Termasuk juga sampai saat ini banyak              terjadi tindak kejahatan, tindakan asusila yang dilakukan oleh                   orang tua, orang muda, maupun anak di bawah umur. Apakah          semuanya itu tanda-tanda atau petunjuk bahwa Hari Tuhan                    segera tiba atau Kristus segera datang kedua kali?
Sumo        :    Kalau sebagai tanda atau petunjuk, jawabannya bisa ya atau                   sebaliknya tidak. Ya , artinya  hal   itu   sebagai  tanda yang                       mengawali, atau petunjuk dari tuhan bahwa Ia akan datang.               Atau sebaliknya  tidak,  karena  hal-hal tersebut merupakan                      peristiwa alam, yang bisa murni pengaruh alam atau sebaliknya               keteledoran   manusia.  Disisi  yang lain, bukankah manusia               memang tidak tahu masa atau waktu kedatangan Kristus ke-2.                       Untuk itu manusia tidak perlu mereka-reka kapan datangnya.
Bambang  :    Kalau seperti itu, terus apa bedanya kita orang percaya dengan                orang yang tidak percaya kepada Kristus. Semua orang khan                       sama-sama tidak tahu waktunya.
Sumo        :    Itulah yang menjadi pergumulan kita. Kita sebagai warga Gereja              yang percaya kepada Kristus, serta menjadi milik Kristus. Apa                         bedanya orang percaya dengan orang yang tidak percaya dalam                       menerima atau “menyongsong” kedatangan Kristus kedua, perlu                        kita bicarakan bersama. Untuk itu mari kita melanjutkan                 pembicaraan kita dalam PA saat ini.
Bambang  :    Ayo, Pak Sumo. Saya siap, Mari kita berPA sekarang...

D. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

1.  Warga Gereja dipanggil untuk berjaga-jaga dan siap menyongsong   kedatangan hari Tuhan di dalam Iman, kasih dan pengharapan (ayat 6 dan          8). Bagaimana pengertiannya, jelaskan!
2.  Warga Gereja dipanggil untuk saling menasehati dan saling membangun       (ayat 11). Apa manfaat dari tindakan ini secara sosiologis (persekutuan),          maupun paedagogis (pendidikan)? Apa isi nasihat dan sikap membangun   tersebut?
3.  Apa yang dapat kita lakukan kepada orang-orang malam atau orang-orang kegelapan dalam konteks advent ini?


E. APLIKASI – PENERAPAN.


Tidak seorangpun tahu, kapan dan di mana Tuhan Yesus datang untuk kali yang terakhir. Dia sendiri juga tidak pernah mengatakan apalagi menentukan secara tepat kapan hari kedatanganNya untuk kali yang kedua atau yang terakhir. Tetapi yang jelas, Tuhan Yesus pasti akan datang. Sebab Ia sendiri telah berjanji untuk itu. Mungkin kita protes: Tuhan kok tidak blak-blakan saja mengatakan kapan hari kedatanganNya? Tetapi justru di sinilah letak kehebatan Tuhan. Dengan tidak menyebutkan waktu kedatanganNya, Ia mau supaya setiap anak-anak Tuhan, warga Gereja belajar untuk percaya dan terus berharap bahwa satu Saat Tuhan akan kembali. Seandainya Tuhan telah mengatakan kapan saat kedatanganNya, pasti masa antara kedatanganNya akan diwarnai oleh keadaan yang benar-benar kacau, sebab setiap orang mungkin akan hidup dalam dosa, lalu sehari sebelum kedatangan Tuhan, semua Gereja penuh, Masjid penuh, Pura dan tempat-tempat Ibadah akan penuh. Dalam sehari semua orang akan bertobat, sebab besok Tuhan Yesus akan segera datang. Dengan tidak menyebutkan saat kedatanganNya, warga Gereja bahkan semua orang dipanggil supaya setiap saat berjaga-jaga, hidup dalam Iman, hidup saling mengasihi, hidup saling menasehati, hidup saling membangun maksudnya supaya kapanpun Tuhan datang, umatNya sedang berada dalam keadaan siap dan tetap hidup saling membangun antara satu dengan yang lain. Mereka saling membangun Iman antara satu dengan yang lain. Jika ada yang jatuh, yang lain mengangkat dan menasehatinya lalu kembali ke jalan yang benar. Di Minggu Advent Pertama ini, kita terus berjaga-jaga, kita terus saling menasehati, kita terus dapat menjadi contoh bagi orang-orang gelap atau anak-anak malam dalam hal melakukan kebaikan. Apabila Kristus benar-benar datang, kita di dapati dalam keadaan tidak bercela, tetap setia dan menyenangkan hati Tuhan, Amin.









Teologi Keselamatan
Bacaan         :   Zakharia 2:6-13  (Minggu Advent 2)
Nats/Thema :  

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Nabi Zakharia menyampaikan Nubuat atau suara kenabian atau biasa juga dikenal dengan suara Profetis selama kurang lebih 2 Tahun yaitu antara tahun 520 dan 518. Masa ini merupakan masa-masa di mana umat Tuhan mengalami puncak kesedihan bahkan kerinduan untuk kembali ke Negeri mereka. Umat Tuhan harus mengalami masa pembuangan di negeri asing selama kurang lebih 70 tahun, waktu yang lebih lama dibandingkan 40 tahun mereka mengembara di Padang gurun ketika umat ini keluar dari Tanah Mesir.
Peristiwa pengasingan atau pembuangan ini menggambarkan kepada kita bahwa dosa, pemberontakan terhadap Allah membawa dampak-dampak yang sangat menyakitkan bahkan memilukan bagi kehidupan umat manusia. Tetapi sebaliknya bahwa pertobatan yang sungguh-sungguh ternyata membawa dampak yang begitu luar biasa besarnya. Pada saat-saat Umat Tuhan telah menyadari dosa-dosanya di hadapan Tuhan, kasih Tuhan segera dinyatakan. Masa pembuangan di negeri Babel segera akan diakhiri. Penderitaan yang sudah sekian lama dialami oleh umat Tuhan, ketika mereka sudah bertobat, segera akan digantikan dengan sukacita pembebasan yang besar oleh Tuhan. Allah yang murka ketika dosa berkajang, seketika berubah menjadi Allah yang bertindak dalam penuh kasih sayang. Ia membela, Ia melindungi dan menyelamatkan orang-orang yang hatinya hancur dan mau kembali kepadaNya. Murka Tuhan reda di hadapan orang yang mau bertobat, kasih Tuhan melimpah, dan Ia sendiri akan hadir di tengah-tengah kehidupan umatNya untuk terus menyertai mereka.
Peristiwa inilah yang disampaikan oleh nabi Zakharia dalam perikop bacaan kita hari ini. Menjelang berakhirnya masa penghukuman, Nabi zakharia menyampaikan nubuat tentang akan datangnya sukacita sesudah dukacita. Umat Tuhan, sisa-sisa Israel  akan kembali dari Negeri Utara dan dari keempat penjuru angin di mana mereka dahulu dibuang. Sekarang mereka akan dikembalikan oleh Tuhan ke Sion tanah kelahiran mereka. Bukan hanya itu, bahkan ada banyak orang lain yang akan mengikuti mereka, sebab di Sion ada kedamaian, ada sukacita sebab Tuhan kembali hadir di sana.

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Pembelaan Tuhan Tuhan begitu agung. Israel yang dahulu memberontak membuat Allah murka sangat berbeda dengan Israel yang sudah bertobat. Tuhan lebih menyayangi mereka lagi. Kecintaan Tuhan kepada orang-orang yang bertobat dimetaforakan sebagai “Biji MataNya.”  Kita tahu, biji mata adalah suatu barang yang begitu berharga dalam hidup kita. Terhadap anggota tubuh yang begitu berharga itu, kita selalu dan senantiasa berusaha untuk melindunginya agar terhindar dari bahaya. Begitu pentingnya biji mata. Tuhan mengibaratkan UmatNya yang sudah bertobat sebagai “Biji MataNya” sendiri. Firman Allah sangat jelas disampaikan : - sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya (Ayat 8.b).
Ungkapan Firman Tuhan ini sangat membuktikan bahwa betapa berharganya sebuah pertobatan. Sion, Yerusalem yang dahulunya tandus, tidak nyaman ditempati, sekarang akan kembali berseri. Sion yang dahulunya ketika Istael hidup dalam dosa merupakan tempat yang dihindari oleh banyak orang, sekarang akan berdatangan bangsa-bangsa untuk berlindung berlindung di Sion. Sion, kota yang dahulunya tidak mampu memberikan rasa aman, sekarang menjadi sebuah kota tujuan bagi bangsa-bangsa, karena Tuhan sudah hadir di sana. Bukan hanya itu, bangsa-bangsa yang datang mencari perlindungan di sana akan menjadi umat Allah. Mereka yang dahulunya, bangsa-bangsa yang tidak percaya kepada Tuhan, pada akhirnya menjadi percaya dan mendapat anugerah Tuhan bersama dengan bangsa pilihanNya Israel.
Menjadi orang asing di negeri orang adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan. Umat Tuhan harus mengalami keterasingan ini karena mereka jauh dan berjalan tidak lagi mendengar suara Tuhan. Mereka semakin jauh dan semakin jauh lagi sampai akhirnya mereka tidak menemukan jalan untuk kembali kepada Tuhan. Dalam perjalanan panjang dan jauh dari Tuhan, membuat umat Tuhan mengalami penderitaan dan penghukuman. Tetapi sekarang ketika mereka bertobat, penghukuman itu segera berakhir dan Tuhan lebih mengasihi mereka. Di kemudian hari Nubuat nabi Zakharia tergenapi di mana bangsa-bangsa lain juga masuk ke dalam persekutuan umat Tuhan, dan mereka bergabung dalam kesatuan berkat serta anugerah Allah.    
“....Dan banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada TUHAN pada waktu itu dan akan menjadi umat-Ku dan Aku akan diam di tengah-tengahmu”.
Siapakah bangsa-bangsa yang dimaksudkan Tuhan dalam firmanNya ini?  Bangsa-bangsa itu adalah saudara dan saya : Orang Toraja, Orang Padoe, Orang Karunsi’e, Orang Tambee, Orang Bali, Orang Jawa, Orang Pamona dan semua suku-suku bangsa di dunia yang menjadi pengikut Tuhan yang setia adalah bagian dari umat Tuhan.
Dalam konteks saat ini, mungkin kita tidak menjadi orang asing di negeri kita, di tanah kita, di kampung kita, di kota kita atau di manapun kita berada. Tetapi tidak jarang kita juga merasa terasing justru di tempat yang begitu ramai. Kita sering merasa terasing diantara keluarga dan persekutuan kita. Banyak persoalan kehidupan yang kita alami membuat kita merasa menjadi “Orang Asing” meskipun kita berada begitu dekat di tengah-tengah keluarga dan persekutuan kita. Kita berjalan sendiri tanpa orang lain disamping kita. Kita juga begitu sering mengasingkan diri bahkan berjalan menempuh jalan kita sendiri yaitu jalan sesat yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.

Jemaat Yang diberkati Tuhan....
Badai kehidupan yang sering kali mengguncang kehidupan ini sering kali membuat kita mencari jalan kita sendiri untuk menyelesaikannya. Bahkan begitu sering bahwa persoalan-persoalan kehidupan membuat kita justru meninggalkan Tuhan serta mencari jalan serta cara sendiri untuk menyelesaikannya. Bahkan sering juga cara-cara penyelesaian masalah yang kita tempuh justru membuat hati Tuhan begitu berduka. Perjalanan yang terlalu jauh karena mengikuti kehendak kita sendiri sering kali membuat kita tidak lagi mengetahui jalan pulang dan kembali kepada Tuhan.
Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan kita bahwa panggilan Tuhan untuk kembali sebagaimana yang disampaikanNya kepada umat Israel juga berlaku bagi kita. Ia berseru-seru dan memanggil kita supaya kembali ke jalan yang benar. Ketika jalan hidup kita sudah sesat, suara Tuhan tidak pernah berhenti berseru memanggil kita untuk pulang kepadaNya.
Banyak juga umat Tuhan pada masa kini tidak mampu menangkap dan mendengar suara Tuhan yang memanggil-manggilnya. Masalah yang sering muncul membuat ketenangan sering kali hilang. Justru di tengah-tengah kebingungan itulah, banyak orang begitu mudah digoncangkan oleh suara-suara yang bukan suara Tuhan. Suara itu begitu cepat datang, suara itu datang seakan-akan segera memberikan pertolongan terhadap berbagai persoalan yang sedang kita hadapi. Padahal ketika kita tersadar dan terus mengikuti suara itu, kita mendapati bahwa kita sudah berjalan terlalu jauh dituntun oleh suara itu dan kitapun tersesat. Firman Tuhan mengingatkan kita :  “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (Yakobus 4:7)  Di Minggu-minggu Advent ini kita diingatkan bahwa Tuhan terus memanggil kita untuk hidup dalam kasih karuniaNya. Tuhan memanggil kita untuk kembali kepadaNya. Pertobatan adalah pintu yang paling utama untuk dapat memperoleh kembali anugerah serta kasih sayang Tuhan yang tiada terbatas itu. Tuhan melihat kita begitu berharga bagaikan Biji mataNya sendiri. Dalam kerendahan hati kita kembali kepadaNya, pulang dari jalan yang sesat, lalu Ia akan melindungi kita, menjaga kita dan menyelamatkan kita bagaikan biji mataNya. Selamat Merayakan Minggu-minggu Adventus, Minggu-minggu penantian akan kedatangan Tuhan untuk menjemput orang-orang yang selalu mendengarkan suaraNya, Amin.












BAHAN KHOTBAH KEMANDIRIAN JEMAAT GKST

BAHAN KHOTBAH MINGGU


















BACAAN KEJADIAN : 7 : 1 – 24 “
DOSA MENDATANGKAN MURKA ALLAH” 

Jemaat Tuhan Yang Diberkati...

Jika kita merenungkan setiap peristiwa bencana alam yang begitu sering terjadi, baik gempa, tsunami, banjir bandang dan bencana letusan gunung, tentunya akan ada pertanyaan, mengapa itu harus terjadi ? mengapa Tuhan begitu kejam?, apa salah dan dosa manusia? Selanjutnya masih banyak lagi pertanyaan – pertanyaan yang keluar dari mulut kita sehubungan dengan semua peristiwa bencana yang dialami oleh umat manusia. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Pemusnahan sekaligus ancaman kemusnahan Alam semesta dan Manusia sebetulnya telah terjadi sejak zaman purbakala sebagaimana yang diberitakan oleh Alkitab Perjanjian Lama. Peristiwa air bah yang baru saja kita baca, secara terang menjelaskan tentang bagaimana kekesalan dan kekecewaan Allah terhadap semua yang telah diciptakanNya. Yang Allah sesalkan bukan karena Ia telah menciptakan alam semesta, makhluk hidup termasuk juga manusia. Tetapi yang disesali oleh Allah adalah Sikap, tindakan dan cara hidup dari apa yang diciptakanNya itu. Manusia sebagai ciptaan yang termulia, diciptakan menurut rupa dan gambar Allah telah mencemari dirinya dengan berbagai perbuatan dosa yang sama sekali tidak disenangi bahkan menyakiti hati Allah. Allah melihat semua itu sangat tidak sesuai dengan rencana dan kehendakNya semula. Dari semua Manusia yang hidup pada masa itu, hanya ada satu yang masih setia, yaitu Nuh dan keluarganya. Kesetiaan Nuh dan keluarganya telah mendatangkan belas kasihan Allah, sehingga ketika Allah berkeputusan untuk memusnahkan semuanya, Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera dan masuk ke dalam bahtera itu bersama – sama dengan semua anak – anaknya dan semua jenis binatang yang jumlahnya masing – masing satu pasang. Maksudnya adalah agar ketika masa bencana dan pemusnahan secara total itu berakhir, maka keberlangsungan dan perkembangan makhluk hidup masih dapat terjadi. Jemaat Yang Diberkati.... Pelajaran apa yang dapat kita petik dari peristiwa bencana besar ini ? Hal mendasar dan Teologis yang dapat kita petik dan pelajari dari perisriwa ini adalah : Allah bisa murka jika Manusia tidak lagi mau hidup dalam ketaatan kepadaNya. Allah bisa saja memusnahakan ciptaanNya jika hal itu tidak dapat menciptakan damai sejahtera seperti yang kehendakiNya. Gejolak kejahatan manusia sebelum air bah dapat saja terjadi dimana – mana, bahkan dalam kehidupan orang – orang percayapun itu bisa terjadi. Karena Kejahatan tidak memandang muka, tidak memandang suku, status sosial, bahkan kejahatan terjadi tidak memandang agama. Kenyataannya bahwa pada masa sekarang ini; misalnya di tengah-tengah kehidupan Rumah Tangga, Perselingkuhan terjadi tidak hanya dalam lingkungan non Kristen, tetapi di lingkungan orang – orang Kristen pun kenyataan seperti itu tidak jarang terjadi. Kenyataan tentang Pementingan diri sendiri, korupsi, pemerkosaan dan masih banyak lagi jenis kejahatan lain yang sering dan banyak dipraktekan oleh umat manusia pada masa sekarang ini, termasuk oleh warga Gereja yang tidak bertanggung jawab. Jemaat Yang Diberkati Tuhan…… Penyesalan Allah menciptakan manusia dapat terjadi jika umat manusia semakin bobrok. Oleh karena itu, Sebelum semua peristiwa yang menyakiti Allah itu terjadi, sebelum kita melakukan tindakan-tindakan jahat seperti itu, mari kita terus memeriksa diri kita, apakah kita masih hidup dalam koridor kehendak Allah atau tidak. Mari kita terus mengarahkan kehidupan kita dan berjalan dalam kebenaran serta kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Mari kita terus berusaha untuk memperbaiki hubungan kita dengan sesama terlebih-lebih hubungan kita dengan Allah. Suasana kekacauan, kebencian, iri hati, dendam dan kejahatan – kejahatan lainnya kita gantikan dengan syalom yang datangnya dari Allah. Ketidaksetiaan dan ketidaktaatan marilah terus kita upayakan untuk diganti dengan kehidupan yang terus taat dan setia pada firman dan kehendak Allah. Ia menghendaki hal-hal itu untuk tidak pernah berhenti kita buat dan lakukan bagiNya. Untuk itulah Ia menciptakan Alam semesta, seluruh ciptaan, dan untuk tujuan ketaatan dan kesetiaan itulah Allah menciptakan kita. Ketika kesetiaan dan ketaatan itu berubah, maka Allah akan sangat menyesal karena telah menciptakan kita. Jemaat Yang Diberkati Tuhan……. Setiap anak-anak Allah memiliki pemahaman yang terang di dalam Iman bahwa segala sesuatu Yang rusak dapat diperbaiki, yang putus dapat disambung. Hubungan yang indah bersama Tuhan dapat terus terjalin ketika ketaatan dan kesetiaan mengalir dari kehidupan setiap anak-anak Allah. Ketaatan dan kesetiaan itu akan membuat Allah terus-menerus bersukacita serta berpihak kepada anak-anakNya. Allah tidak pernah menyesal menciptakan kita, jika hidup ini dipakai untuk melakukan apa yang berkenan kepadaNya. Teks Bacaan kita menjelaskan tentang bagaimana Kejamnya akibat-akibat yang ditimbulkan oleh dosa. Ia melahirkan kehancuran bahkan kemusnahan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Alam semesta beserta dengan segala isinya termasuk umat Manusia mengalami kebinasaan total tanpa bisa diselamatkan lagi. Ketika pintu pertobatan yang masih terbuka disia-siakan, ketika ruang dan waktu untuk kembali ke dalam hidup penuh ketaatan tidak lagi dihiraukan, maka kebinasaan itu segera akan terjadi! Penghukuman Allah atas dosa dan ketidaktaatan itu harus dilaksanakan, sebab Allah selalu menyesal jika dosa dan Pelanggaran merajalela. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Allah tidak kejam. Allah tidak bertindak semena-mena. Tetapi akibat dosalah yang menyebabkan semua bentuk kehancuran dan kebinasaan itu harus terjadi. Allah memberi waktu, Allah memberi kesempatan, Allah membuka pintu pertobatan begitu lebarnya, supaya melalui pertobatan itu kasih Allah mengalir seperti mata air yang melimpah-limpah. Perikop dan teks bacaan kita juga menjelaskan bahwa Allah begitu berpihak kepada orang-orang yang masih hidup dalam ketaatan dan kesetian kepadaNya. Nuh dan keluargaNya selamat dari bencana kebinasaan bukan karena mereka begitu kuat dan mampu bertahan dalam menghadapi bencana itu. Nuh dan keluargaNya selamat dari bencana hanya karena satu hal : Bahwa ketika dunia ini hiruk-pikuk, bergelut dalam dosa dan tidak mau bertobat. Keluarga Nuh tetap setia dan hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Atas dasar inilah Allah berpihak kepada mereka dan keluarga ini diselamatkan dari arus kebinasaan. Saudara....”Dosa Mendatangkan Murka Allah,” Tetapi ketaatan mendatang kehidupan&Keselamatan, Amin.


TEOLOGI TENTANG DOSA
BACAAN : MAZMUR 95 : 1-11 
TEMA : BERTOBAT? JANGAN MENUNGGU SAMPAI BESOK! 

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Hidup memang tidak mudah. Selalu saja ada tantangan, masalah dan pergumulan yang siap menghadang kehidupan seseorang. Masalah ekonomi dan keuangan sering kali membuat seseorang kebingungan bahkan sampai bisa berputus asa. Bagaimana tidak, untuk bisa memenuhi tuntutan hidup, setiap orang dituntut untuk bekerja keras kapan dan dimana saja. Bagi orang yang berpikir positif, ia akan berjuang mengatasi setiap tantangan dan masalah yang ada. Kesulitan apapun tidak akan menyurutkan langkahnya untuk terus berjuang. Tetapi bagi yang berpikiran negative akan menyerah dan mencari jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya. Salah satu jalan pintas yang sering diberitakan di media massa adalah dengan cara menjual diri. Sebut saja seperti yang dileh seorang remaja putri bernama Dina, gadis kampong yang cantik, tetapi saying, ia bukan tipe orang yang mau berjuang secara positif. Dengan mengandalkan parasnya yang cantik, Dina menjadi seorang “wanita panggilan” sejak berusia 17 tahun. Karena iming-iming uang yang cukup banyak ia tidak segan-segan terjun ke lembah hitam. Uangpun mengalir lancar ke kantong “pundi-pundi”nya. Bukan hanya uang, mobil mewah pun dengan mudah didapatkannya tanpa perlu bersusah-susah berusaha. Keadaan yang menyenangkan inilah yang membuat Dina betah berlama-lama dengan profesinya ini. Pada suatu hari seseorang bertanya kepadanya: “Sampai kapan kamu akan bertahan dengan pekerjaanmu ini?” Dengan enteng Dina menjawab “saya punya target untuk berubah pada usia 30 tahun. Sekarang mengumpulkan modal dulu, maunya nanti buka usaha sendiri”. Pertanyaan orang tadi yang sebenarnya bertujuan untuk memberi nasehat, ternyata tidak dihiraukan oleh Dina. Menyedihkan sekali, untuk bertobat saja, Dina harus menunggu bertahun-tahun. Apa yang dilakukan Dina hanya salah satu respon negative dari kesulitan hidup. Masih banyak lagi bentuk respon negative seseorang terhadap kesulitan hidup yang dihadapi, misalkan saja korupsi, mencuri, menculik dan menjual anak, menipu, dan lain-lain. Sering kali seorang pencuri yang tertangkap akan membela diri dengan berkata, “kami butuh makan pak. Anak kami butuh biaya sekolah. Mau kerja tidak ada lowongan…” dst. Masih banyak lagi jawaban serta alasan yang dikemukakan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Apapun alasannya, respon negative terhadap kesulitan tidak dibenarkan oleh hukum bahkan juga oleh Tuhan, Apalagi jika hal itu menimbulkan kerugian kepada pihak lain. Untuk itu, jika masih ada kecenderungan dalam hidup kita ketika merespon kesulitan hidup dengan cara yang salah sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan dosa, maka marilah kita berubah! Jauhi dan hilangkan kecenderungan-kecenderungan pemikiran seperti itu. Keadaan kita tidak akan lebih baik jika disikapi dengan cara yang tidak benar, malah justru itu akan menimbulkan kesalahan baru yang justru akan menjerumuskan diri kita semakin jauh ke dalam kesulitan hidup. Berbalik dan berubahlah saat ini juga, jangan menunggu hari esok, karena sesungguhnya tidak ada waktu yang lebih baik dan tidak ada kesempatan yang lebih tepat untuk berbalik dan bertobat dari kesalahan dan dosa kita kecuali hari ini juga. Kita menyadari dengan sungguh bahwa tidak satupun manusia bahkan saudara dan saya yang bersih dari pelanggaran dan dosa di hadapan Allah. Kita sadar bahwa secara sengaja maupun tidak sengaja, kita begitu sering menimbulkan penyesalan dan kekecewaan Tuhan. Ketika kita mengambil keputusan untuk bertobat, ketika itulah kita kembali membuka serta membangun hubungan yang baik dengan Allah Sang Maha penuh kasih dan berkat, pada saat yang sama Ia akan menyertai dan menolong kita. Kasih dan penyertaan Allah itu akan senantiasa memampukan kita untuk selalu bersikap positif terhadap berbagai kesulitan dan serta kesusahan hidup yang kita alami. Jika saat ini kita berada dalam kecenderungan dosa dalam menghadapi kesulitan, Masih adakah kesediaan kita untuk Bertobat? Lakukan sekarang juga, Jangan tunda sampai hari esok. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Jemaat Yang diberkati Tuhan..... Keseluruhan Perikop dalam Mazmur 95:1-11 merupakan panggilan Pemazmur kepada semua orang untuk memyembah dan memuliakan Tuhan. Penyembahan dan pemuliaan terhadap Tuhan tidak dapat dilakukan ketika dosa masih melekat dalam hidup para penyembahNya. Orang yang menyembah Tuhan adalah orang yang hidup dalam kekudusan. Hidup dalam kekudusan merupakan kunci bahwa setiap penyembahan, pujian dan pemuliaan terhadap Tuhan akan berkenan dihadapanNya. Pemazmur sungguh menyadari bahwa setiap manusia bahkan dirinya tidak dapat melarikan diri dari hadapan Tuhan. Ia adalah penguasa. Ia adalah Allah yang besar. Ia adalah Raja yang besar dan mengatasi segala allah, artinya; Meskipun ada begitu banyak ilah-ilah lain yang mungkin memiliki kuasa, tetapi kebesaran Allah tidak dapat tertandingi oleh kuasa dan penguasa manapun juga (Ayat 2 dan 3). Terlalu banyak hal-hal yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh ilah-ilah lain, tetapi bagi Allah, segala sesuatu tidak ada yang tersembunyi. Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tanganNya (Ayat 4). Allah Maha tahu. Allah maha kuasa. Dialah yang empunya segala sesuatu dan pencipta segala sesuatu(ayat 5). Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Dosa yang kelihatan dan yang tidak kelihatan seluruhnya ada dalam pengetahuan Allah. Jika kita adalah penyembah-penyembah Allah yang benar, maka dosa tidak akan melekat lagi dalam kehidupan kita. Jika dosa itu masih ada, mari kita membersihkannya. Jika masih ada dosa kebencian, dosa Egoisme, dosa permusuhan, dosa perzinahan, dosa ketidakadilan dan semua bentuk dosa lainnya, mari kita bawa di hadapan Tuhan dalam sebuah pengakuan, sebuah Convesi, sambil memohon pengampunanNya, maka kita akan benar-benar diampuniNya. “Pada hari ini, sekiraNya kamu mendengar suaraNya, jangan keraskan hatimu” Kata firman Allah. Kita bergegas datang kepada Allah dan meminta pengampunanNya. Ketika ucapan Pengakuan dosa (Convesi) di hadapan Allah keluar dari mulut kita dan keluar dari hati yang tulus, maka saat itu juga Tuhan mengampuni kita. Dalam pengampunanNya, kita akan dikuduskanNya, dijadikanNya manusia baru dan menjadi penyembah-penyembah yang benar dan berkenan dihadapanNya. Ia begitu mengasihi kita, karena kita adalah umatNya dan kawanan domba tuntunan tanganNya. Ia tidak mau satupun dari antara kita hilang karena dosa. Tuhan mau setiap umatNya yaitu saudara dan saya bisa masuk ke dalam perhentianNya. Tetapi jika kita terus berkajang dalam dosa, Tuhan berfirman : “Sebab itu Aku bersumpah dalam murkaKu, mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu.” Terpujilah Tuhan dengan janji-janjiNya, Amin.


TEOLOGI TENTANG ROH KUDUS 
BACAAN : Kisah Para Rasul 9:19b-31 
TEMA : ROH KUDUS ADALAH KEKUATAN KITA 

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Sebelum Tuhan Yesus naik ke Sorga, Ia pernah berpesan dan berjanji kepada murid-muridNya seperti ini : “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8). Pesan penting ini mengandung pengertian bahwa Allah bekerja dan terus bekerja untuk menyatakan Misi keselamatan bagi dunia. Pekerjaan Misi penyelamatan dunia tidak berhenti hanya sampai ketika Tuhan Yesus naik ke Sorga. Dunia harus diselamatkan sebelum waktu, ruang dan masa di dunia ini berakhir. Ketika Manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), Allah mencari dan memanggil Manusia untuk kembali ke dalam dekapan anugerah dan kasih sayangNya yang besar. Ia berkenan memperbaharui kehidupan mereka dengan memberi Manusia janji-janji yang baru. Ketika seluruh kehidupan di bumi ini dimusnahkan, Allah masih berkenan menyelamatkan keluarga Nuh dan menyisakan kehidupan yang lain agar masih ada kehidupan berlangsung di dunia ini. Ketika Israel umatNya gagal menjadi berkat dan gagal menjadi alat Penyataan keselamatan Allah bagi bangsa-bangsa, Ia sendiri datang dalam diri Yesus Kristus Sang Anak. Sampai ketika puncak penyelamatan Allah di kayu salib dan pasca kebangkitanNya, Allah di dalam Yesus Kristus masih memberikan perintah kepada murid-muridNya; Untuk memberitakan Kabar keselamatan itu kepada bangsa-bangsa, kepada semua orang, baik jauh maupun dekat, supaya mereka percaya dan selanjutnya menerima keselamatan yang ditawarkan dan disediakan oleh Allah. Realitas ini menggambarkan kepada kita bahwa kasih Allah tidak dibatasi oleh Ruang, waktu dan masa, sepanjang Ruang, waktu dan masa itu masih ada. Kasih itu terus bergerak dan berlangsung Jutaan bahkan Milyaran Tahun sampai Ruang, waktu dan masa di dunia ini berakhir. Allah bekerja dalam Trinitas yaitu dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ia adalah Allah yang Esa yang terus bertindak dalam kasih, kebenaran dan Keadilan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Setelah Saulus mengalami pertobatan, ia benar-benar menjadi seorang sosok yang luar biasa dalam pengajaran dan pemberitaan Injil. Saulus yang selanjutnya menjadi Paulus adalah Rasul terbesar meskipun dia bukan salah satu dari kedua belas murid Tuhan Yesus. Pekerjaan-pekerjaan pemberitaan Injil yang dilakukannya terus mengalami perkembangan pesat. Spirit atau semangatnya dalam memberitakan Injil begitu tidak tertandingi oleh siapapun juga. Ia memberitakan Injil dengan penuh kuasa, sehingga, begitu banyak orang yang datang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Amanat untuk memberitakan Injil sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus dilakukannya tanpa takut menanggung dan menghadapi resiko, bahkan Paulus tidak pernah merasa ragu, gentar dan takut meskipun ia berada dalam ancaman bayang-bayang kematian (Ayat 23,24). Dalam segala situasi dan keadaan, Paulus tetap konsisten dengan tugas yang harus dikerjakannya yaitu memberitakan dan membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Mesias (Ayat 22). Mungkin kita bertanya : “Mengapa Paulus begitu berani bahkan tidak pernah mundur meski menghadapi bayang-bayang kematian dalam memberitakan Injil?” Jawabannya singkat! karena Roh Kudus yang memberinya kuasa. Roh Kudus memberikan keberanian kepada Paulus. Roh Kuduslah yang terus menghibur dan menolongnya ketika ia mengalami saat-saat kritis, sedih dan berada dalam goncangan serta gelombang tantangan pencobaan. Roh Kudus itu juga yang terus memberikannya hikmat ketika ia membutuhkannya. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Apa yang dialami dan dilakukan oleh Paulus menimbulkan rasa heran bahkan Kejadian itu menuai banyak kontroversi atau mengundang perbedaan pendapat di kalangan banyak pihak. Pertama : Ada sebagian pihak yang memandang Negatip terhadap perubahan yang terjadi dalam hidup Paulus. Kalangan ini merasa bahwa Paulus telah mengkhianati komitment mereka selama ini untuk memusnahkan pengikut Tuhan. Dahulu Paulus adalah pimpinan mereka, tetapi sekarang Paulus meninggalkan mereka bahkan hidup bersama dan mengasihi orang-orang yang dahulunya sangat mereka benci. Kelompok ini selanjutnya berusaha untuk membunuh Paulus. Kedua : Ada sebagian pihak yang memandang positip tentang apa yang terjadi dalam kehidupan Paulus, terutama tentang perubahan perilaku kehidupannya. Orang-orang ini diliputi oleh rasa heran oleh sebab perubahan itu. Paulus yang dahulunya begitu membenci Tuhan Yesus dan murid-muridNya, selanjutnya dengan penuh amarah dan kebenciannya, Paulus menghancurkan para pengikut Tuhan. Paulus juga yang begitu setuju dan memprovokasi masa Yahudi dalam peristiwa pembunuhan terhadap Stefanus (Kis 6-7). Tetapi dalam waktu sekejap, Paulus berubah menjadi seorang Rasul yang begitu mencintai Tuhan dan memberitakan Injil tanpa rasa takut sedikitpun. Kalangan ini menerima Paulus dengan tangan terbuka dan bergabung bersama Paulus dalam Pelayanan (Ayat 25,27). Ketiga : Ada juga sebagian Pihak yang menjadi Skeptis atau Ragu-ragu sehubungan dengan perubahan dalam hidup Paulus. Golongan ini berada pada sebuah persimpangan Antara percaya dan tidak. Sikap Ragu-ragu ini menyebabkan mereka merasa takut untuk bergabung dan bergaul dengan Paulus. Tetapi toh pada akhirnya kelompok ini bersedia juga menerima Paulus sebagai saudara dalam persekutuan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Pekerjaan Allah Roh Kudus memang banyak menimbulkan keragu-raguan dan Kontroversi atau perbedaan pandangan di lingkungan umat Manusia bahkan di lingkungan warga Gereja. Hal itu disebabkan karena begitu banyak orang yang tidak sanggup memahami pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa itu. Roh Kudus dapat mengubah seseorang yang begitu jahat menjadi orang yang begitu baik. Roh Kudus sanggup mengubah ketakutan menjadi keberanian untuk memberitakan Injil. Jemaat mula-mula yang diliputi oleh rasa takut akan ancaman penganiayaan dan kematian, sekarang mereka berubah menjadi berani karena mereka dipimpin, dituntun dan dihibur oleh Roh Kudus. Kenyataan ini semakin membuktikan bahwa Roh itu adalah Roh yang penuh dengan kuasa. Kenyataan ini juga semakin membuktikan bahwa ucapan serta janji Tuhan Yesus adalah Ya dan Amin, sungguh-sungguh benar. Bahwa Apabila Roh Kudus turun ke atas setiap orang yang membuka diri untuk dituntunNya, maka mereka akan menerima kuasa, karena Roh Kudus itu adalah Allah sendiri. Roh Kudus itu adalah Allah Trinitas. Allah yang bekerja dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Saudara......mungkin ada begitu banyak hal yang tidak sanggup kita pikirkan dan lakukan dalam hidup kita selaku Gereja, selaku keluarga bahkan selaku pribadi. Selaku Persekutuan dilingkup Klasis ini, banyak rencana yang akan kita dan terus kita kerjakan sehubungan dengan Program-program Kemandirian. Mungkin kita ragu : akankah semua Rencana itu akan terwujud? Kita tidak perlu Ragu! Alkitab membuktikan bahwa Roh Kudus sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan Manusia. Tugas kita adalah membuka diri, membuka hati untuk dituntun, dipimpin dan diatur oleh Roh Kudus. Maka Niscaya segala sesuatu yang tidak mungkin bagi kita, akan dibuat menjadi mungkin oleh Allah Roh Kudus. Percayalah : Roh Kudus adalah kekuatan kita, Amin.


TEOLOGI TENTANG KESELAMATAN
BACAAN : YOHANES 8:30-36 
TEMA : KESELAMATAN ADALAH SEBUAH PILIHAN 

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Di lingkungan orang Israel atau Yahudi, Yang biasanya disebut sebagai Hamba adalah seseorang yang seluruh hidupnya diabdikan kepada seseorang atau kepada orang lain yang disebut sebagai “Tuan”. Seseorang biasanya menjadi hamba bagi orang lain, itu disebabkan karena lilitan hutang yang tidak terbayar atau karena memang dia adalah keturunan hamba atau budak (Ibrani : Eved). Tetapi selanjutnya Seorang hamba akan lepas dari lingkaran perbudakan, atau statusnya sebagai Budak akan berubah menjadi orang Merdeka, jika ada seseorang yang mau, Rela dan bersedia membayarkan sejumlah uang sebagai tebusan atas Budak itu kepada tuannya. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang kemerdekaan dari dosa, orang-orang Yahudi tidak dapat memahami maksud Tuhan Yesus. Kemerdekaan yang dikatakan Tuhan Yesus dipahami oleh orang Yahudi sebagai kemerdekaan dari perbudakan yang lazimnya mereka pahami. Oleh karena itu mereka menolak tawaran Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan kemerdekaan, karena sebagai keturunan Abraham mereka adalah orang-orang yang telah merdeka, padahal yang dimaksud Yesus adalah kemerdekaan dari perbudakan dosa. Dalam bacaan ini Yesus mengemukakan 2 (Dua) langkah untuk bisa benar-benar merdeka dari perbudakan dosa. Yang pertama, Tetap dalam FirmanNya (ayat 31). Kata tetap dalam Firman mengandung pengertian setia pada kehendak Tuhan, tidak mudah terpengaruh dengan pengajaran-pengajaran di luar Firman Tuhan, selalu bersedia menyatakan kebenaran Firman Tuhan meskipun tidak baik waktunya, serta memegang erat Firman Tuhan sebagai satu-satunya pedoman dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang setia kepada Firman Tuhan tidak akan pernah berpaling, dia tidak akan lari atau meninggalkan kebenaran Firman Tuhan hanya karena tekanan hidup atau tawaran yang menggiurkan. Seseorang yang setia pada kebenaran firman Tuhan, akan tetap tinggal dan memegang erat keyakinannya kepada kebenaran Firman Tuhan itu, meskipun situasi sering kali tidak menguntungkan baginya. Sikap setia pada Firman ini akan membawa setiap pelaku Firman Tuhan pada langkah yang kedua yaitu : Mengetahui kebenaran yang memerdekakan (ayat 32). Seperti apakah kebenaran yang mampu memerdekakan itu? Kebenaran yang memerdekakan itu adalah Yesus, Anak Allah yang hidup, yang bersedia mengorbankan diriNya untuk menebus setiap orang percaya dari perbudakan dosa. Realitas ini menguatkan sebuah keyakinan bahwa Tidak ada seorangpun manusia yang oleh usahanya sendiri mampu menebus dan memerdekakan dirinya dari perbudakan dosa. Setiap orang yang hidup dalam perbudakan dosa membutuhkan orang lain yang benar-benar bebas dari dosa, yang tidak terbelenggu oleh dosa, dan yang benar-benar merdeka. Hanya sosok seperti inilah yang bisa membebaskan setiap orang berdosa dapat keluar dari lingkaran belenggu dosa. Dalam catatan Sejarah kehidupan umat Manusia di atas bumi ini, tidak ada seorangpun yang memenuhi syarat itu kecuali Yesus, karena Dia adalah Anak Allah yang menghapus dosa umatNya bahkan dosa dunia (band. Mat 1:21; Yoh 1:29). Inilah kebenaran itu, dan Kebenaran inilah yang sanggup menyelamatkan setiap orang yang mau percaya kepada kebenaran itu. Di luar itu, tidak ada kebenaran yang sanggup menyelamatkan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Seperti yang dilakukanNya kepada orang-orang Yahudi saat itu, kini pun Tuhan Yesus tetap menawarkan kemerdekaan abadi dari perbudakan dosa kepada setiap orang, juga kepada saudara dan saya. Melalui pemberitaan Gereja, Injil yang memerdekakan itu terus dikumandangkan, terus diserukan. Banyak orang yang telah percaya dan menerima kebenaran itu, tetapi tidak sedikit yang menolak. Bagaimana dengan saudara dan saya? Bersungguh-sungguh hatikah saudara dan saya menerima tawaran Yesus ini, atau sekedar hanya menerimanya sebagai sesuatu yang tidak begitu penting dalam hidup kita? Atau kita menolaknya sama sekali? Saudara....Benar sekali bahwa keselamatan adalah anugerah dari Allah. Tetapi menerima atau menolak keselamatan itu adalah sebuah pilihan. Jika saudara dan saya bersedia menerima tawaran Yesus atas penebusan dosa, maka tetaplah di dalam FirmanNya. Tinggallah dalam Kristus (Yunani : en kristo ) Jadilah murid Yesus yang setia. Tetapi jika saudara menolak untuk tinggal dibawah otoritas FirmanNya, jika saudara lebih memilih setia pada kehendak hati sendiri dari pada kehendak Allah, maka itu berarti saudara telah memutuskan untuk tetap hidup di bawah perbudakan dosa, yang juga berarti bahwa saudara sedang mempersiapkan diri untuk sebuah penghukuman kekal, yaitu tempat yang disediakan bagi orang-orang yang memilih hidup dalam perbudakan dosa yaitu jalan menuju kebinasaan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Dalam kaitan dengan kemerdekaan atas kuasa dosa, Tuhan Yesus dengan sangat tegas mengatakan : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal di dalam Rumah, tetapi anak tetap tinggal di dalam Rumah” (Ayat 34,35). ” Ucapan Tuhan Yesus ini merupakan ketegasan bahwa tidak ada tempat bagi hamba-hamba dosa di rumah Bapa di Sorga. Hanya anak-anak Allah yang telah menerima Kemerdekaan dari dosa, itulah yang diberikan hak untuk tinggal dalam Rumah Bapa di sorga. Tuhan Yesus adalah Anak Allah sekaligus pemilik Rumah di sorga. Ia tidak pernah menjadi hamba apalagi budak dosa. Oleh karena itu, Hanya Dialah yang sanggup membeli dan membayar status kehambaan kita atas kuasa dosa. Harganya sudah dibayar tunai dengan darahNya sendiri, itulah darahNya yang suci dan tidak ternoda oleh dosa. Hanya darah yng suci itulah yang sanggup menghapus dosa-dosa kita. Hanya darah Anak Allah itulah yang mampu memerdekakan kita dari perbudakan dosa. Atas dasar ini, Tuhan Yesus berani dan sanggup memberikan garansi atau jaminan dengan mengatakan : “Jadi apabila Anak itu (Tuhan Yesus) memerdekakan kamu, kamupun benar-benar Merdeka.” (Ayat 36). Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Kemerdekaan dari dosa adalah anugerah bagi setiap orang, bahkan anugerah itu adalah anugerah yang sangat mahal (Expencive Grace). Tetapi mau hidup dalam kemerdekaan yang disediakan oleh Allah atau tetap hidup dalam dosa, itu adalah sebuah pilihan. Tentu saja pilihan itu berjalan dengan konsekwensinya masing-masing. Bagaimana dengan pilihan saudara saat ini? hanya orang yang bijak yang akan memilih dengan kesadaran penuh untuk hidup dalam kemerdekaan. Amin.



TEOLOGI TENTANG ESKATOLOGY
BACAAN : YESAYA 10 : 20 – 27a 
Thema : “ KEHIDUPAN KEKAL” 

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Saya sungguh percaya akan satu hal yaitu : Seluruh umat Tuhan sepakat untuk mengatakan bahwa “kehadiran (Presensia)” dan pengorbanan Allah di dalam Yesus Kristus adalah untuk kepentingan seluruh umat Manusia, yaitu menawarkan dan menyediakan suatu kehidupan yang kekal pada masa akhir zaman (Eskatology Yunani : eschaton). Pengorbanan Allah dalam sepanjang sejarah penyelamatan membuktikan bahwa Allah sama sekali tidak rela, kalau satupun dari umat Manusia harus mengalami kebinasaan. Ia mau, bahwa semua umat Manusia yang adalah gambar diriNya (Imago Dei), yang dikasihi dan dipeliharaNya sebagai biji mataNya mengalami keselamatan. Seluruh isi hati Allah tentang kecintaanNya kepada umat Manusia telah dinyatakanNya melalui tindakan-tindakan penyelamatan yang dikerjakanNya. Keselamatan adalah kontra (Lawan) Kebinasaan. Jika seluruh umat Manusia yang hilang oleh karena dosa dapat menerima keselamatan yang tersedia sudah dikerjakan oleh Allah, maka betapa besarnya sukacita hati Allah (Band. Lukas 15:5-6). Sebaliknya jika ada diantara umatNya yang hilang dalam kebinasaan, betapa berdukacitanya hati Allah. Ia akan berusaha keras untuk mencari dan menemukan umatNya yang hilang itu (Band. Lukas 15:8). Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Persoalan yang banyak menjadi pergumulan pelayanan Gereja pada masa ini adalah betapa banyaknya umat manusia bahkan umat Tuhan yang lebih suka malah cenderung hidup menurut kemauannya sendiri. Padahal tidak ada satupun umat manusia termasuk umat Tuhan mampu memperoleh berkat serta menikmati kebahagiaan di tengah-tengah keberhasilan sejati jika hidup tanpa menurut jalan dan kehendak Tuhan. Menjelang memasuki tanah Kanaan yaitu Tanah Perjanjian, umat Israel diingatkan supaya mereka terus berjalan menurut jalan yang dikehendaki oleh Tuhan. Pengalaman perjalanan di padang gurun seharusnya menjadi pelajaran yang berharga bagi mereka untuk tetap percaya dan berharap kepada Allah yang hidup. Seharusnya, mereka Terus Percaya kepada Perjanjian Allah dengan nenek moyang mereka melalui peristiwa sejarah Perjalanan di Padang gurun. Allah telah membuktikan kasihNya kepada umat Israel, kebutuhan mereka secara utuh, jasmani dan rohani dipenuhi ketika mereka hidup dalam kesetiaan kepada Allah. Di balik itu, Allah juga ingin agar umat Israel selamat, dapat menikmati kehidupan yang tidak putus-putusnya secara turun-temurun di tanah yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Dalam sebuah pengakuan tulus dan jujur, jika kita menilai kecenderungan kehidupan umat manusia bahkan umat Allah sekarang ini, ternyata kecenderungan hidupnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh umat Tuhan pada masa lalu. Banyak orang – orang percaya yang hidup menurut kemauannya sendiri, tidak mentaati hukum – hukum Allah. Tidak punya rasa takut dan hormat kepada Allah. Ibadah-ibadah bagi sebagian orang sering hanya dijadikan sebuah tradisi dari hari ke hari, Minggu lepas Minggu. Akibatnya Ibadah-ibadah yang sering diikuti tidak membawa dampak yang signifikan bagi pertumbuhan warga Gereja. Ibadah terus berjalan, tetapi perilaku kehidupan sering tidak dijadikan sebagai Ibadah yang sesungguhnya. Pertumbuhan Gereja menjadi lamban. Eksklusivitas atau ketertutupan untuk memahami tugas dan panggilan bersama sebagai satu Gereja kepada dunia menjadi semakin tidak jelas. Padahal Tuhan sangat mengecam bentuk-bentuk Ibadah seperti ini. Tuhan mengecam Ibadah-ibadah umat yang hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi tidak mampu membawa dampak terang bagi dunia ( Yesaya 1:14). Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Saya Percaya bahwa Kita pasti ingin menikmati kehidupan yang penuh kebahagiaan di masa yang akan datang. Saya juga percaya bahwa kita ingin bahkan rindu menjadi pewaris kerajaan sorga kekal sampai selama – lamanya. Sisa umat Israel yang dihancurkan oleh Allah akan bertobat, mereka akan kembali ke negeri mereka (Ibrani :Syear Yasyub). Mereka akan kembali menjadi pewaris Negeri Perjanjian setelah mereka mengalami murka Allah. Umat Tuhan Masa kini yang mau kembali dan terus hidup menurut kehendak Allah, melakukan Ibadah yang sejati, mereka akan menjadi pewaris tahta Kerajaan Sorga. Umat Tuhan yang tidak bergeming dalam melakukan setiap kehendak dan Rencana Tuhan akan diberikan kebahagiaan, kekuatan, kesanggupan untuk menjalani dan menikmati kehidupan di dunia ini. Dan yang lebih indah lagi, bahwa umat Tuhan yang hidup dari firman Allah dan melakukannya akan menjadi pewaris Kanaan yang baru, Yerusalem yang baru yaitu Sorga yang kekal. Jemaat Yang Diberkati Tuhan…… Kita tidak mungkin dapat menikmati kebahagiaan dan hidup kekal jika kita tidak taat kepada hukum – hukum Allah, Hidup dalam kebenaranNya. Hidup menurut Hukum dan jalan – jalan Tuhan memberikan kehidupan. Yesus berkata manusia bukan hidup dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah ( Matius 4 : 4b ). Perkataan yang sama pula dipakai oleh Yesus ketika Iblis hendak menyeretnya untuk melakukan Dosa dalam peristiwa pencobaan di Padang gurun saat Tuhan Yesus memulai pelayananNya. Kita tentu akan gagal menjadi pewaris kerajaan Allah yang kekal, jika kita hanya hidup menurut kemauan kita sendiri. Kita tidak akan pernah menjadi pewaris Kerajaan Allah jika kita tidak memakai hidup kita untuk menjadi pelaku – pelaku Firman. Minggu lalu, kita mengenang peristiwa agung yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. DarahNya tertumpah di bukit Tengkorak. Roti dan anggur yang kita terima melalui Perjamuan Kudus Oikumene saat itu merupakan tanda bahwa jika kita hidup benar, dan jika kita benar-benar mengalami penyelamatan Tuhan bagi kita, maka inilah momentum penting bagi kita, bahwa Ia mau supaya kita menjadi pewaris Kerajaan Allah. Perjamuan Kudus Oikumene yang telah kita laksanakan merupakan seruan supaya secara bersama-sama kita merenungkan perbuatan Allah yang begitu dahsyat melalui penyelamatanNya untuk kita. Karena itu, Jika kita ingin hidup kekal, Maka adalah lebih baik menjadi pelaku Firman, walau harus mengalami cemohan dan mungkin juga kita akan dianggap tidak populer. Kita percaya akan satu hal : Bahwa Kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya tanpa perjuangan. Kebahagiaan, kehidupan kekal tidak akan pernah kita raih jika kita tidak berani menantang badai dan gelombang. Tetapi ingatlah saudara....,Firman Allah berkata bahwa barang siapa yang tahan uji, maka Mahkota kehidupan akan menjadi miliknya, Amin? Amin.



PENGUATAN SDM DALAM PELAYANAN
BACAAN : II Tawarikh 35:1-5 
Thema : TUHAN MEMBERI TUGAS UNTUK MELAYANI 

 Jemaat Yang diberkati Tuhan.....
Melayani dan melakukan tugas-tugas Rohani bukanlah suatu perintah yang baru dikenal pada masa Perjanjian Baru. Melayani dan melakukan tugas-tugas Rohani juga bukan suatu perintah yang baru dikenal dalam Sejarah Gereja. Melayani dan mengerjakan tugas-tugas Rohani, atau melakukan tugas-tugas keimaman adalah sebuah perintah yang sengaja diberikan oleh Tuhan kepada umat Manusia dan ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala, bahkan sejak zaman purbakala. Di lingkungan bangsa Israel, Pemimpin Negara, Pemimpin Agama yaitu Para Imam yang umumnya berasal dari suku Lewi dan Umat Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jatuh-bangunnya kehidupan agama di Israel sangat mempengaruhi kehidupan politis dan tentu juga sangat mempengaruhi kehidupan spiritual umat Tuhan. Ketika tugas-tugas pelayanan berjalan dengan baik, ketika umat Tuhan menjadi pilar pendukung dalam pekerjaan pelayanan terhadap Tuhan berjalan dengan baik, maka umat itu diberikan keamanan dan berkenan diberkati oleh Tuhan. Seluruh Sejarah perjalanan umat Tuhan telah membuktikan hal itu. Umat Israel mengalami perjalanan sejarah yang diwarnai oleh situasi jatuh-bangun sebagai suatu bangsa. Pelayanan terhadap Tuhan dalam kehidupan keagamaan mengalami situasi pasang-surut. Ketika pemimpin umat itu adalah orang yang benar-benar taat kepada Tuhan, maka hidup keagamaan serta penyembahan terhadap Allah juga berjalan dengan baik. Ketika pemimpin umat itu adalah seorang pemimpin yang lalim dan tidak taat kepada Allah, maka kehidupan umat dan penyembahan kepada Allahpun mengalami masa kritis, sehingga tidak jarang murka Allah menimpa umat Israel. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Perikop bacaan kita hari ini memberikan gambaran yang sangat baik tentang betapa pentingnya Relasi antara Pemimpin Umat, pemimpin keagamaan dan umat Tuhan. Tiga komponen ini sangat menentukan tujuan, arah serta sasaran ke mana Israel akan melangkah. Tiga komponen ini juga menjadi penentu tentang tindakan Allah terhadap bangsa itu. Sejak masa terakhir pemerintahan Raja Salomo Tahun 922 SM, Keadaan agama di Israel mengalami masa yang paling kacau. Pelayanan dan penyembahan terhadap Allah tidak mendapat tempat yang penting lagi. Ibadah dan hukum Allah tidak lagi menjadi acuan dalam corak kehidupan bangsa Israel. Ditambah lagi bahwa dengan terjadinya perpecahan di lingkungan kerajaan menjadi 2 bagian yaitu Israel Utara dan Selatan , maka secara otomatis keadaan ini sangat mempengaruhi stabilitas politik yang berlangsung di lingkungan bangsa Israel. Perpecahan Israel menjadi 2 Kerajaan membuat mereka menjadi semakin lemah sehingga bangsa-bangsa besar seperti Asyur, Babel dan Mesir dengan mudah menguasai mereka. Inti dari semua ini adalah karena Pelayanan terhadap Allah tidak lagi mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Para pemimpin baik Pemimpin Politis, agama dan umat tidak lagi solid, mereka tidak lagi bersatu dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, di mana semua tugas dan tanggung jawab itu seharusnya dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Pada masa pemerintahan Raja Yosia (639-609 SM), Ibadah dan pelayanan kepada Tuhan dilakukan dan dihidupkan kembali. Raja Yosia melakukan pembaharuan di bidang keagamaan. Ia merobohkan patung-patung Baal (Pasal 34) dan membawa umat Tuhan untuk kembali menyembah Allah dengan cara yang benar dan berkenan kepada Tuhan. Raja Yosia menetapkan tugas-tugas para Imam, tugas-tugas orang Lewi di Rumah Tuhan dan mendorong mereka agar melakukan tugas pelayanan dengan baik sesuai dengan perintah Tuhan kepada Musa pada masa lampau ketika mereka keluar dari Tanah Mesir. Masing-masing komponen harus melaksanakan Tugas secara maksimal, supaya umat Tuhan benar-benar dipelihara oleh Tuhan. Supaya kehidupan bangsa Israel sebagai umat Tuhan berjalan dengan baik, berjalan berorientasi pada pelayanan bersama di mana nama Tuhan dimuliakan. Yosia menyadari bahwa Tuhan memberi tugas kepada umatNya untuk melayaniNya. Tugas pelayanan ini merupakan respon umat Tuhan terhadap Tuhan sendiri yang telah memilih, membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir, menuntun mereka berjalan di padang gurun dan memberikan Tanah Perjanjian itu kepada bangsa Israel. Raja Yosia adalah seorang Reformator yang mengingatkan kembali tentang hakekat Umat Tuhan bahwa mereka seluruhnya diberikan tugas untuk melayani Tuhan, dan Tuhan mengasihi umat yang melayaniNya. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Dari keseluruhan ayat Bacaan kita saat ini (II Tawarikh 35:1-5), ada 3 (Tiga) hal penting harus menjadi catatan pelayanan kita di tengah-tengah jatuh-bangunnya persekutuan Gereja Tuhan : Pertama : Jatuh bangunnya pelayanan Gereja sangat ditentukan oleh solid atau tidaknya para pelayan dengan pelayan dan Pelayan dengan umat Tuhan. Pelayanan Gereja dapat berjalan efektif, menjadi berkat apabila semua komponen melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan panggilannya. Pendeta, Majelis Jemaat, Komisi Kategorial yang melaksanakan tugas dengan penuh pemberdayaan diri akan membuat pelayanan Gereja benar-benar berjalan sesuai kehendak Tuhan. Jemaat yang memberikan dukungan penuh terhadap pekerjaan pelayanan akan memungkinkan Gereja dapat bertumbuh menjadi Gereja yang Misioner. Sebaik apapun pemimpin, sebaik apapun pelayan-pelayan dalam Gereja, jika tidak memperoleh dukungan maksimal dari warga Jemaat, maka semuanya adalah sia-sia. Demikian pula sebaliknya, sebesar apapun dukungan umat Tuhan terhadap pelayanan, Jika tidak dbarengi dengan pelayanan yang sungguh-sungguh dan kinerja yang baik dari para pelayan Tuhan, maka semuanya bagaikan usaha menjaring angin. Kedua : Di tengah-tengah konteks jatuh-bangunnya pelayanan Gereja di hadapan Tuhan, kita terus dipanggil menjadi reformator (Pembaharu) yang terus-menerus memperbaharui diri untuk pelayanan yang lebih baik. Berdasarkan asumsi inilah maka dalam Gereja dikenal istilah Ekklesia Semper Reformanda, artinya : Gereja yang terus diperbaharui dan memperbaharui diri untuk pelayanan yang lebih baik dari masa ke masa. Kita tidak boleh tertutup untuk terus diperbaharui oleh Tuhan melalui firmanNya. Kita harus selalu siap apabila Misi Pembaharuan itu datang. Ketiga : Pekerjaan Pelayanan adalah tugas dari Tuhan yang selalu dikerjakan secara kolektif, artinya secara bersama-sama. Dalam pekerjaan pelayanan, senantiasa ada pembagian-pembagian tugas, di mana masing-masing melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya (Perhatikan ayat 2 dan 3). Pekerjaan pelayanan tidak ditanggungkan hanya kepada 1 orang saja, sebab jika demikian maka pelayanan tidak akan pernah berjalan efektif. Jika pelayanan itu berhasil, maka sukacita atas pelayanan itu hanya akan dinikmati oleh satu orang saja. Sedangkan jika gagal, akibatnya juga hanya akan ditanggungkan atas satu orang. Tuhan tidak menghendaki model pelayanan seperti itu. Ia mau, bahwa sukacita atas pelayanan dinikmati bersama karena dikerjakan secara bersama-sama. Jemaat Yang Diberkati Tuhan...... Kepada Siapakah Tuhan mempercayakan tugas-tugas pelayanan ? Jawabannya adalah kepada kita semua. Karena itu mari kita lakukan tugas kita masing-masing dengan penuh pemberdayaan diri, maka Tuhan akan terus mengasihi kita. Amin.



PENGUATAN SDM 
BACAAN : MAZMUR 73 : 21 – 24 
NATS : AYAT 23 

 Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Kata “tetapi” sama dengan “namun demikian”, “meskipun demikian”. Kata “tetapi” dalam Nats kita adalah seruan untuk berjuang melawan suatu kuasa atau kekuatan yang mengancam kehidupan kita. Ancaman-ancaman itu dapat berupa pergumulan-pergumulan, sakit-penyakit, beban-beban hidup, tekanan - tekanan, penghalang - penghalang yang akan memisahkan persekutuan kita dengan Tuhan. Merupakan pengalaman hidup kita bahwa di dunia ini orang-orang percaya tidak luput dari kesusahan, penderitaan, bencana, kekacauan yang sering menimpa. Karena harus disadari bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dengan ancaman, mara bahaya dan kadang-kadang ketidakpastian. Keadaan dunia dapat saja membuat kita putus asa, khawatir, takut, gelisah bahkan kehilangan pengharapan. Banyak orang yang dalam keadaan seperti itu bukannya dekat kepada Tuhan tetapi sebaliknya semakin jauh dari Tuhan. Mereka pesimis dan tidak yakin akan penyertaan Tuhan. Malah mereka merasa bahwa Tuhan tidak peduli dan tidak akan melakukan perubahan dalam hidupnya. Orang-orang Pesimis seperti ini sering berpandangan bahwa : “Dekat dengan Tuhan atau tidak dekat dengan Tuhan sama saja”, “mengikuti Tuhan atau tidak, sama saja”. “Mendengar atau tidak mendengar kepada Tuhan sama saja”. Tidak ada bedanya. Demikianlah prinsip mereka. Akibat dari prinsip atau cara berfikir seperti ini menyebabkan banyak orang di zaman ini terbawa arus atau tenggelam oleh arus perubahan dunia. Banyak anak muda yang jatuh ke dalam dosa dan kehilangan masa depan karena terbawa arus perkembangan dunia. Demikian pula dengan keluarga-keluarga Kristen. Keretakan rumah tangga, perselisihan antara suami-isteri bahkan perceraian terjadi karena pengaruh-pengaruh perkembangan dunia saat ini. Banyak pula orang-orang percaya dalam pekerjaan mereka sebagai petani, pegawai Negeri, wiraswasta melakukan pelanggaran-pelanggaran, kesalahan-kesalahan atau dosa. Menyalahgunakan kesempatan dan harta untuk hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan. Semua itu terjadi dan dilakukan karena manusia tidak lagi takut kepada Tuhan, tetapi sebaliknya malah terpengaruh oleh berbagai kepentingan-kepentingan duniawi. Kalau kita melihat pada bentuk, jenis dan latar belakang Mazmur 73 ini, maka kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya pemazmur sedang mengalami pergumulan atau persoalan sehubungan dengan imannya kepada Tuhan. Pemazmur begitu cemburu karena ia melihat keberhasilan yang dialami oleh orang-orang fasik ( ayat 2 dst ). Tetapi Sangat jelas pula tersirat dalam bacaan kita, bahwa meskipun pemazmur mengalami krisis iman, Namun toh pada akhirnya ia berkesimpulan bahwa Allah itu baik ( ayat 1 ). Itulah sebabnya dalam ayat 23 ia berkata : “Tetapi aku tetap didekat-Mu.” Kata “Tetapi” dalam ayat 23 ini, jika secara bebas diberi kesempatan untuk menyambungnya, maka pasti ada yang menyambungnya seperti ini, “Tetapi aku tetap pada prinsipku sendiri, cara hidupku sendiri, pendapatku sendiri dan aku tidak mau dekat pada Tuhan. Aku tidak mau mendengar nasihat dan petunjuk dari Tuhan”. Titik....! Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Pada hari ini, ketika kita datang beribadah, bersekutu, memuji Tuhan di Rumah-Nya yang kudus, tentu itu sangat dilandasi oleh satu keyakinan bahwa kita memerlukan Tuhan. Kita tidak dapat menolong atau menyelamatkan diri kita sendiri. Kalau kita jatuh ke dalam lumpur atau sumur yang dalam kita tidak mungkin menarik tangan kita sendiri supaya kita bisa keluar dari sumur atau lumpur itu. Tetapi kita memerlukan orang lain yang akan menarik tangan kita. Demikian pula dengan kehidupan ini, bahwa dalam seluruh aktivitas setiap hari, sungguh disadari bahwa kita begitu membutuhkan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Hal itu terjadi karena kita sadar bahwa Tuhanlah yang memegang tangan kita. Perlu dicatat bahwa firman Allah menyebutkan : bahwa Yang dipegang oleh Tuhan adalah tangan kanan Kita. Bukan tangan Kiri kita. Sangat Diplomatis bukan? Mengapa Tangan Kanan kita yang dipegang oleh Tuhan? Pada umumnya, Tangan Kanan adalah tangan yang kuat untuk bekerja. Sebagai Petani, tangan Kanan kita adalah tangan yang kuat untuk bekerja mengayun cangkul dan mengarahkan mata bajak di sawah. Tangan Kanan itu pula yang begitu kokoh bekerja di areal perkebunan kita. Itulah Tangan yang berkeringat, tergores bahkan seringkali terluka ketika kita berjuang mengolah Tanah yang Tuhan karuniakan. Sebagai pengawai negeri Sipil; Guru, TNI/POLRI, Pegawai kantor maupun wiraswasta, tangan Kanan adalah tangan yang kuat yang dapat kita pergunakan untuk menulis atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Demikian pula halnya dengan pelajar dan profesi-profesi lainnya. (pengecualian bagi orang-orang kidal yang lebih banyak mengandalkan tangan kiri untuk bekerja, tetapi untuk hal-hal lain, tangan Kanan mereka juga memiliki banyak fungsi). Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Tangan kanan juga adalah tangan yang selalu kita pakai untuk memberi salam, memberi hormat, memberi pertolongan, berjabatan tangan dan berdamai dengan orang lain. Meskipun Pemazmur berada dalam kebingungan, ketidakmengertian tentang Realita atau kenyataan kehidupan yang sering terjadi (ayat 21 – 22), tetapi ia tetap berkomitmen, berkeputusan untuk selalu dekat dengan Tuhan. Ia sungguh percaya bahwa Tuhan yang memegang tangan Kanannya. Tuhan yang memberi nasehat dan menuntun perjalanan hidupnya sehingga ia berkenan diangkat ke dalam kemuliaan. Jemaat yang hadir dalam Ibadah saat ini: Lanjut usia, orang tua, orang muda, laki-laki, perempuan, pribadi maupun keluarga-keluarga, petani pegawai negeri, maupun wiraswasta tentu saja mempunyai pergumulan, persoalan, penderitaan serta beban-beban hidup kita masing-masing. Masalahnya adalah : Apakah kita akan tenggelam atau terbawa arus oleh rupa-rupa persoalan hidup kita? Apakah kita akan mengandalkan kemampuan kita sendiri untuk mengatasi segala macam persoalan-persoalan hidup kita? Ataukah kita akan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidup kita? Tidak saudara...., Jika kita belajar dari pemazmur, maka kita akan selalu dekat dengan Tuhan sebab Tuhan akan terus memegang tangan kita, sehingga di sepanjang hidup kita, kita tidak akan tergoda, kita tidak akan pernah terbawa arus atau tenggelam di dalam masalah-masalah hidup kita. Tetapi sebaliknya bahwa ketika kita dekat dengan Tuhan, kita akan kuat untuk bekerja, kita akan kuat untuk terus berjuang sesuai dengan talenta dan profesi kita masing-masing, dan pada akhirnya Tuhan akan berkenan mengangkat kita ke dalam kemuliaanNya. Amin....? Amin.



PENGUATAN SDM
BACAAN : 1 Petrus 1:1-7 
THEMA : KUAT DALAM PENCOBAAN


Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Proses pemurnian Perak dan Emas menggambarkan proses keimanan kita. Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam proses "pembakaran" seperti apa yang digambarkan oleh Alkitab. Tetapi Tujuannya tidak pernah bermaksud untuk menyiksa kita, tetapi sebaliknya bahwa proses itu bertujuan untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya Emas yang dibakar hingga menjadi Emas murni, iman kita pun terkadang harus melalui proses pemurnian melalui penderitaan-penderitaan yang kita alami. Mungkin penderitaan itu rasanya sangat menyakitkan. Seperti halnya Perak atau Emas yang dimasukkan ke dalam api hingga menjadi murni, demikian pula gambaran Iman kita di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Reaksi dan tindakan seseorang dalam menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup merupakan ukuran, seberapa jauh Iman seseorang itu kepada Tuhan. Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya sepenuhnya pada rancangan Tuhan, dan mereka sungguh percaya akan penyertaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan yang mereka jalani baik ketika susah maupun senang, baik ketika Krisis maupun di saat berkelimpahan. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Kita tahu bahwa pada zaman Rasul Petrus, tampaknya menjadi orang Kristen bukanlah sesuatu yang ringan. Ada banyak tekanan, ancaman dan siksaan bahkan menjadi martyr menjadi konsekuensinya. di tengah situasi ini, Rasul Petrus mengingatkan manfaat dari sebuah pencobaan. Maksudnya adalah supaya orang-orang percaya mampu dan tetap tegar dalam menghadapi pencobaan itu. Rasul Petrus memulainya dengan kalimat yang mengingatkan esensi hidup yang sejati dalam Kristus. "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu." (1 Petrus 1:3-4). Di sini Rasul Petrus menggambarkan bahwa hidup baru dalam Kristus adalah hidup yang penuh dengan pengharapan, yaitu hidup yang dipersiapkan untuk menerima bagian dalam kerajaan Sorga sebagaimana disediakan oleh Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Rasul Petrus kemudian mengingatkan agar Jemaat, warga Gereja tetap kuat ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. Bukan hanya kuat, tapi ia menasehati supaya mereka bergembira. "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan." (ay 6). Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Bagaimana mungkin seseorang bisa mengalami sukacita dan bergembira ditengah-tengah permasalahan kehidupan yang sedang dialami? Oleh karena itu, bahwa Untuk memahami Filosofi ini, Rasul Petrus mengambil contoh tentang pemurnian Emas. "Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." (ayat 7). Perhatikan Saudara...., bagaimana Rasul Petrus membandingkan proses pemurnian Iman dengan proses pemurnian Emas. Jika Emas saja butuh dimurnikan dengan mengalami proses sulit hingga akhirnya menjadi Emas murni yang berharga, apalagi iman kita yang jauh lebih berharga dari Emas. Emas adalah benda fana, yang tidak kekal, sedangkan iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang bersifat kekal (ay 9). Oleh karena itu, semakin Jelaslah bagi kita bahwa iman kita jauh lebih berharga dari Emas. Lalu, Jika Emas saja harus dimurnikan agar bisa menjadi berharga, apalagi Iman kita. Iman itu harus terus dimurnikan, agar dengan Iman yang murni itu, setiap orang yang memilikinya akan dibawa kepada kehidupan yang penuh sukacita dan yang bersifat kekal. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Ayub juga pernah mengalami serangkaian penderitaan yang tak terperikan. bagi Ayub itu sangat berat, tapi pada suatu ketika Ayub pun menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian. "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." (Ayub 23:10). Ayat ini menjelaskan tentang bagaimana Ayub menyadari bahwa Imannya dikuatkan justru ketika ia mengalami ujian. Pesan Rasul Petrus yang menguatkan jemaat di masa kesulitan pada Abad Pertama itu masih relevan dengan kehidupan umat Tuhan di abad 21 ini. Pesan itu bertujuan agar setiap umat Tuhan tidak goyah ketika menghadapi penderitaan yang disebabkan oleh karena Imannya. Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan yang kita hadapi, belum lagi berbagai bentuk godaan duniawi yang setiap saat bisa merontokkan iman kita. setiap hari kita berhadapan dengan berbagai ujian yang bisa menjadi alat ukur kemurnian iman kita. Bagaimana kita menyikapi permasalahan yang kita hadapi, itulah standard, seteguh apa Iman percaya kita kepada Tuhan. Pencobaan yang terkadang membawa kita ke dalam penderitaan yang dalam, adalah alat berharga yang dipakai oleh Tuhan untuk membangkitkan pengharapan serta ketekunan kita. Itu juga menjadi alat untuk melatih Iman kita agar lebih kuat dan kokoh di dalam Tuhan. Proses "pembakaran" iman kita akan melepaskan segala kotoran yang melekat dalam hidup kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni seperti Emas yang murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Umat Tuhan, saudara dan saya memang sedang dipersiapkan oleh Tuhan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi yang bertahan dalam ujian. Apakah hari ini ada diantara kita yang merasa seperti berada di tengah api yang panas oleh sebab pencobaan? Saudara Jangan putus asa, tetapi bersyukurlah dalam melewatinya. Jangan menyerah dan terburu-buru mencari alternatif yang menyesatkan ketika sedang menghadapi proses pemurnian Iman. Sebab di ujung proses itu ada upah besar yang sedang menanti. Percayalah bahwa saat ini Tuhan tengah menanti kita untuk menjadi murni dalam hal Iman, dimana dalam kemurnian Iman itu, Allah Bapa di Sorga dapat melihat cerminan wajahNya di dalam diri kita. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Proses pemurnian Iman kita bisa saja membuat kita merasa begitu sakit. Tetapi jika kita melewatinya bersama Tuhan, maka kita akan menyadari dan memahami; bahwa betapa besar manfaat dari setiap pencobaan yang kita alami. Pencobaan itu akan membuat Iman kita begitu indah bagaikan Emas murni, Amin.



PENGUATAN SDM
BACAAN : ROMA 14:13-23 
THEMA : MENGEJAR APA YANG MENDATANGKAN DAMAI SEJAHTERA 


 Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Ada peribahasa lama yang masih Relevan sampai saat ini : “Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung.” Peribahasa ini mengingatkan kepada kita bahwa kemanapun kita pergi, maka budaya, kebiasaan dan adat istiadat setempatlah yang harus di junjung tinggi. Hal ini bisa berakibat pada dua kemungkinan, yang pertama: orang yang menjadi pemilik budaya akan merasa superior, bahkan kadang-kadang (maaf) mereka mau dan suka menang sendiri. Yang kedua ; pihak pendatang, kadang-kadang menjadi pihak yang selalu mengalah. Demi kenyamanan dan penerimaan tuan rumah, maka kebiasaan tuan rumah terpaksa harus diikuti, walaupun kadang-kadang bertentangan dengan kebiasaan yang dilakukannya selama ini. Jemaat Tuhan di Roma juga mengalami hal serupa. Jemaat ini adalah orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Ada orang Yahudi dan ada juga orang Yunani. Orang Yunani biasa makan makanan yang dianggap haram oleh orang-orang Yahudi, sementara dilingkungan kebudayaan Yunani hal itu dianggap biasa saja. Inilah yang menjadi pokok persoalan dalam jemaat di Roma. Orang Yunani yang merasa mayoritas memaksakan kebiasaan mereka dalam persekutuan dan ini membuat jemaat yang berlatar belakang Yahudi merasa tidak nyaman. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Menghadapi persoalan seperti ini, Paulus memberi nasehat “sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan suka cita oleh Roh Kudus”(ay 17). Artinya, bahwa inti Iman Kristen tidak terletak pada persoalan boleh atau tidaknya mengkonsumsi makanan tertentu. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana mempraktekan kebenaran, menghadirkan damai sejahtera, dan sukacita dalam persekutuan umat Tuhan. Kita boleh membayangkan kalau dalam satu persekutuan sudah ada ketidak nyamanan. Yang ada adalah pemaksaan kehendak, maka pastilah yang namanya kebenaran, sukacita dan damai sejahtera itu secara pelan dan perlahan, tapi pasti akan sirna. Rasul Paulus menyadari bahwa segala sesuatu adalah suci termasuk soal makanan. Tetapi kalau kebiasaan itu menjadikan orang lain tersandung dan goyah imannya, itulah yang membuat seseorang berdosa. Karena itu dengan tegas Paulus mengatakan : “ Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!” (ay 20). Dengan perkataan ini Paulus hendak menyampaikan bahwa alangkah baiknya jika umat Tuhan hidup dalam sikap toleransi, tidak memaksakan kehendak dan saling menghormati satu dengan yang lain. Jangan sampai kebiasaan kita merusak persekutuan. Sikap toleransi tidak hanya dibutuhkan dalam hubungan kita dengan sesama yang tidak seiman, tetapi sikap toleransi juga sangat dibutuhkan dalam lingkungan keluarga dan Persekutuan Jemaat. Pada kenyataannya memang harus diakui dan disadari bahwa ; Lebih mudah memelihara hubungan baik dengan orang-orang yang jarang kita jumpai dari pada dengan mereka yang dekat dengan kita. Dengan orang lain kita dengan mudah menyatakan kepedulian kita, tetapi kepada mereka yang mengasihi kita, betapa seringnya kita tidak terbeban untuk memaksakan kehendak dan kemauan kita tanpa rasa toleransi sedikitpun. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Konteks dan kenyataan hidup Jemaat di Roma ini juga sering terjadi dan masih terus terulang dalam kehidupan berjemaat masa kini. Mungkin yang menjadi persoalan bagi Gereja zaman ini bukan lagi soal makanan. Tetapi mungkin pada soal-soal yang lain. Kenyataannya bahwa masih sering terjadi sikap yang tidak saling menghargai dan semakin berkembangnya perilaku pemaksaan kehendak tanpa alasan yang jelas. Misalnya : Bagi orang-orang tertentu, lalu-lalang diantara orang-orang yang sedang beribadah hal itu dianggap biasa-biasa saja. Tetapi taukah kita bahwa bagi sebagian orang, perlakuan dan perbuatan seperti itu sangat mengganggu, bahkan menyebabkan orang lain merasa tidak nyaman dalam melaksanakan Ibadahnya kepada Tuhan. Atau kebiasaan suka keluar dari ruang ibadah saat orang lain sedang berdoa syafaat. Mungkin bagi sebagian orang, perbuatan itu dianggap biasa, toh tidak ada orang yang melihat. Tetapi tahukah kita bahwa pada saat itu kita sudah menjadi batu sandungan bagi sesama kita karena langkah kaki kita mengganggu kosentrasi mereka yang sedang khusuk berdoa? Demikian juga dalam keluarga, karena merasa punya hak dan wewenang, orang tua sering memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Seberapa seringkah kita meminta anak-anak kita untuk melakukan sesuatu dengan memaksa yang disertai dengan ancaman bahkan perilaku yang begitu kasar? Mungkin hal-hal seperti itu kita anggap biasa, kita anggap wajar, toh kita kan orang tuanya. Tetapi sadarkah kita bahwa kita sudah menjadi batu sandungan bagi mereka? Maksud kita mungkin baik, tetapi karena cara kita kurang tepat, maka yang sering terjadi bukannya kebaikan yang dituai tetapi sebaliknya mereka semakin membangkang, semakin tidak bisa diatur, semakin membuat orang tuanya sakit kepala. Bukannya mereka semakin taat pada aturan yang ditetapkan dalam keluarga, malah mereka semakin menunjukan perlawanan. Karena bagaimana mungkin orang tua dapat mengubah sikap anak yang kasar, kalau mereka mempertontonkan sikap yang sama? Yang mau dikatakan disini; bahwa sebaik apapun maksud kita, jika kita melakukannya dengan metode atau cara yang salah, apalagi disertai dengan pemaksaan kehendak, maka kita tidak dapat berharap banyak. Yang Rasul Paulus mau katakan kepada kita saat ini : bahwa dalam kehidupan persekutuan, perihal penting yang harus diutamakan adalah kebenaran, terciptanya damai sejahtera dan sukacita. Karena itu, yang sangat dibutuhkan dalam situasi ini adalah pentingnya saling memahami. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Mengapa sering terjadi pemaksaan kehendak? Itu karena kita lebih suka mengutamakan kemauan sendiri dengan mengesampingkan damai sejahtera dan suka cita bersama. Untuk mewujudkan kemauan sendiri, kadang kita tidak peduli dengan perasaan orang lain, sering kali atas mana pementingan diri sendiri dan topeng kebenaran, kita menghalalkan pemaksaan kehendak, menekan sesama, mempermalukan orang lain, dan tidak peduli pada keberadaan orang lain. Saudara, Kebenaran harus ditegakan, tapi janganlah sampai menghilangkan damai sejahtera dan sukacita orang lain. Sesuatu yang dipaksakan sebaik apapun tujuannya, akan berdampak kurang baik dalam hubungan dengan sesama, juga dalam kebersamaan di tengah persekutuan jemaat dan masyarakat. Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, kerjakan, atau rencanakan, hendaknya kita mengutamakan kebenaran Firman, mengutamakan kehendak Firman. Dahulukankah kebenaran, damai sejahtera dan suka cita dalam Roh Kudus. Marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. AMIN



MENUJU KEMANDIRIAN DANA
BACAAN : KEJADIAN 27:30-40 
THEMA : USAHA YANG MERUBAH KEADAAN

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
bagaimana perasaan saudara jika sesuatu yang seharusnya menjadi milik saudara apakah itu harta benda, kedudukan, jabatan, atau kesempatan kerja, dan saudara sangat menginginkannya, lalu pada saat saudara seharusnya sudah menikmatinya ternyata hal itu dialihkan menjadi milik orang lain? Pasti kita akan merasa kecewa, sedih, dan marah. Perasaan ini mungkin saja berakibat tidak baik pada hubungan kita dengan orang lain yang menurut kita menjadi penyebab sehingga semuanya ini terjadi. Esau pernah mengalami kejadian dan peristiwa yang sangat memilukan ini. Ketika dengan semangat berkobar-kobar dia mempersiapkan diri untuk menyambut berkat dari ayahnya yang memang sudah seharusnya menjadi haknya sebagai anak sulung, ternyata ia menemukan kenyataan bahwa berkat itu telah dirampas oleh Yakub adiknya sendiri. Meskipun harus diakui, bahwa kejadian ini juga merupakan akibat dari perbuatan Esau sendiri yang sebelumnya telah menjual hak kesulungan kepada Yakub adiknya hanya dengan semangkuk kacang merah (Kej 25:29-34). Tetapi tentu saja kenyataan ini tetap menjadi sebuah kenyataan pahit dan menyedihkan. Bayangkan saudara...., peristiwa itu menyebabkan tidak ada lagi sesuatu kebaikan yang tersisa baginya. Semua berkat yang terbaik telah menjadi milik Yakub, yang tersisa baginya hanyalah kutuk dan penderitaan yang berkepanjangan, yang lebih menyakitkan lagi, bahwa dia akan menjadi hamba dari adiknya sendiri (ay 39-40a). Realitas ini benar-benar membuat Esau seakan-akan tidak memiliki harapan masa depan yang cerah. Maka tidak berlebihan jika Esau menangis meraung-raung ketika mendengar bahwa berkat itu telah diberikan kepada adiknya. Yang menarik dari peristiwa ini adalah bagian terakhir dari perkataan Ishak ayahnya “tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu” . Ini berarti bahwa kutuk yang melekat dalam diri Esau dan berlaku sepanjang hidupnya bahkan mungkin juga akan dialami anak cucunya kelak, itu dapat dipatahkan Esau dengan satu cara yakni berusaha dengan sungguh-sungguh. Tanah yang gersang dan tidak subur dapat saja menghasilkan tanaman yang menghidupkan. Jika Esau mau berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Masa depan yang suram, yang sudah di depan mata sesuai dengan isi kutuk itu, dapat saja berubah menjadi masa depan yang gemilang.................... Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Seberapa seringkah kita mengeluhkan keadaan hidup kita saat ini? Kita mengeluh dan menyesali pendidikan kita yang tidak memadai karena sulitnya berkompetisi dalam mencari pekerjaan sebagai Pegawai? Bagi Jemaat yang hidup di pedesaan; kita mungkin sering mengeluhkan tanah dimana kita bercocok tanam begitu gersang. Kita sering mengeluhkan masa depan yang suram hanya karena kita tinggal di pedesaan atau di tempat yang kita anggap kurang menguntungkan. Kita sering mengeluhkan tingginya biaya hidup sementara kita tidak memiliki pendapatan yang cukup. Jika kenyataan-kenyataan ini menjadi realita kehidupan kita saat ini, pertanyaannya: bagaimana sikap dan tanggapan kita terhadap kenyataan hidup seperti itu? Bukankah kita lebih sering mengeluh, menyalahkan keadaan, pasrah pada kenyataan, dan berdiam diri tanpa mencoba melakukan perubahan? Kita lebih sering berkata “Apa boleh buat, ini sudah kenyataan hidupku” dibandingkan memilih untuk bertanya “Apa yang harus saya lakukan supaya keadaan ini bisa lebih baik?”. Banyak orang cenderung pasrah pada keadaan ketimbang berusaha untuk mengadakan perubahan. Banyak orang lebih sering memilih berdiam diri dan menunggu pengasihan orang lain, bantuan pemerintah yang gratis itu, dibanding berjuang dengan sedikit berlelah dan mengandalkan usaha sendiri untuk mengusahakan perbaikan taraf kehidupan. Akhir-akhir ini dimana-mana terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengkritik kinerja pemerintah yang katanya tidak pro-rakyat, ini terbukti dengan masih banyaknya kaum miskin di Indonesia. Memang pemerintah bertanggung jawab mengupayakan kesejahteraan rakyatnya, tetapi benarkah ini hanya tanggung jawab pemerintah semata? Bukankah sebagai rakyat yang sering mengalami kesulitan hidup juga perlu berjuang? perlu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk keluar dari persoalan kehidupan? Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Belajar dari Firman Tuhan hari ini, kita diajar untuk semakin dan semakin memahami bahwa kenyataan hidup sepahit apapun dapat berubah menjadi lebih baik, asal kita mau membayar harga dari sebuah perubahan itu dengan kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Benar bahwa Tuhan menjanjikan berkat di tengah-tengah keberadaan hidup kita. Janji berkat itu diperuntukan bagi setiap orang yang percaya, tetapi berkat itu tidak datang dengan sendirinya seperti manna yang turun dari langit di zaman keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Tuhan tidak pernah mendidik pengikutNya menjadi orang-orang yang hanya tahu bertadah tangan saja, yang kesukaannya menunggu dan meminta. Tuhan mau agar setiap pengikutNya menjadi pribadi yang aktif, mau bekerja dengan tekun, dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih berkat Tuhan itu. Firman Allah memberikan gambaran serta pengajaran yang jelas bagi kita, bahwa di tengah ancaman kesulitan, kutuk dan masa depan yang suram, ternyata masih ada harapan. Di tengah kerasnya ancaman kutuk yang menimpa Esau dan keturunannya, Tuhan masih menyediakan pintu yang terbuka bagi Esau untuk bisa menggapai serta meraih sebuah masa depan yang gemilang (Ayat 40b). Kata “melemparkan Kuk” dalam teks firman Tuhan ini mengandung pengertian bahwa dengan upaya keras, tekun dan cerdas, maka Esau akan sanggup keluar dari badai serta gelombang kesulitan dalam kehidupannya. Dengan upaya yang keras, tekun dan cerdas, meskipun ia jauh dari tanah-tanah yang subur, meskipun berada dalam keadaan kritis, dapat dipastikan bahwa ia bisa meraih masa depan yang gemilang. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Menjadi catatan penting bagi kita terkait dengan Firman Allah hari ini adalah : bahwa tidak ada klasifikasi tempat yang menguntungkan dan tidak menguntungkan dalam hidup kita. Di Kota, di Desa, di manapun kita berada, di tempat kita masing-masing, Tuhan menyediakan diri untuk memberi dan menyatakan berkat bagi setiap orang yang mau berusaha untuk merubah keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik. Kutuk sekalipun dapat berubah menjadi berkat, asal kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengubahnya. Apa yang disampaikan oleh Firman Allah ternyata tidak diragukan. Karena sejarah mencatat bahwa ternyata Esau dan keturunannya menjadi sebuah bangsa yang besar, bangsa yang benar-benar merdeka, bahkan Esau dan keturunanya yakni bangsa Edom bisa meraih masa depan yang gemilang, sebab mereka berusaha dengan sungguh-sungguh mengubah kutuk menjadi berkat. Karena itu Berhentilah berkeluh-kesah. Berusahalah terus-menerus. Seburuk apapun keadaan kita saat ini, yakinlah bahwa semuanya akan berubah menjadi lebih baik, jika kita terus berusaha dengan sungguh-sungguh sambil terus percaya pada janji Tuhan akan anugerah berkatNya. Amin.



MENUJU KEMANDIRIAN DANA 
BACAAN : KEJADIAN 24:29-40 
THEMA : KESETIAAN MENDATANGKAN BERKAT 

Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Predikat atau gelar atau sebutan sebagai Bapa Orang Beriman yang disandang oleh Abraham bukan sekedar isapan jempol kosong belaka. Predikat ini telah mengalami berbagai pengujian. Iman dan kesetiaan Abraham kepada Tuhan tidak pernah tergoyahkan, meskipun ujian-ujian yang dihadapi oleh Abraham untuk memperoleh predikat sebagai Bapa Orang beriman tidak selalu mudah. Narasai atau cerita-cerita yang menyatakan kesetiaan Abraham kepada Tuhan begitu terang diberitakan dalam Alkitab. Dari meninggalkan keluarga yaitu orang-orang yang dikasihi di tanah kelahirannya ke sebuah negeri yang tidak jelas ujung pangkalnya, sampai ia diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan Ishak anak satu-satunya. Semua perintah Tuhan itu dilakukannya dengan segenap hati tanpa mau berdebat dan melakukan protes apapun terhadap Tuhan. Sekali lagi, ujian-ujian yang dihadapi oleh Abraham adalah ujian yang sangat berat dan melewati batas-batas kemanusiaan. Atas segala perintah Tuhan itu, Abraham hanya tunduk dan melakukannya dengan setia. Abraham hanya memiliki satu hal yaitu keyakinan bahwa Tuhan menyediakan sesuatu yang terbaik baginya dan semua keturunannya. Abraham bukanlah Type orang yang tidak mau keluar dari zona kenyamanan diri sendiri. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Setiap detak nadi dan jantung Abraham berisi gambaran tentang kesetiaan dan ketaatannya kepada Tuhan. Akibatnya, bahwa dengan segala kesetiaan dan ketaatannya kepada Tuhan membawa Abraham pada popularitas diri yang berorientasi pada kemuliaan nama Tuhan. Popularitas Abraham masih berlaku sampai detik ini. popularitas itu belum berubah, bahkan Abraham masih menjadi soko guru bagi setiap umat Tuhan yang mau belajar tentang arti sebuah kesetiaan serta ketaatan kepada Tuhan. Ketokohan Abraham menjadi pelajaran yang berharga bagi setiap umat Tuhan untuk tidak terus bertahan pada zona nyaman yang sedang dinikmati di mana selanjutnya zona nyaman itu berakhir pada pemuasan terhadap diri sendiri. Di zaman sekarang ini, begitu banyak orang merasa tenang jika sudah berada pada zona nyaman yang sedang dinikmatinya. Mereka lebih setia dan menyatakan ketaatan terhadap kemauan serta kehendaknya sendiri. Banyak umat manusia bahkan umat Tuhan lebih suka menikmati kesenangan sendiri tanpa mau berempati pada suara orang lain, apalagi berempati pada suara dan kehendak Tuhan. Berempati pada orang lain dan kepada Tuhan lebih banyak membuat kebanyakan orang “Merasa” begitu terikat, terbeban dan kebebasannya seolah-olah dipenjarakan. Hidup setia dan penuh ketaatan kepada Tuhan sering “Dianggap” sebagai sebuah pilihan yang tidak populer. Padahal, popularitas diri dan zona nyaman yang tidak dilandasi oleh ketaatan serta kesetiaan kepada Tuhan adalah semu dan tidak abadi. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Teks bacaan kita hari ini menyinggung tentang kesetiaan serta ketaatan Abraham kepada Tuhan. Untuk memperoleh seorang Istri bagi anaknya Ishak, Abraham tidak tanggung-tanggung dalam bertindak. Abraham tidak sedikitpun berniat untuk melakukan kesalahan, di mana kesalahan itu pada akhirnya akan berakibat pada berkurangnya kesetiaan dan ketaatan Abraham kepada Tuhan. Ia mengirim utusan ke negeri yang sangat jauh, tempat di mana keluarganya berada. Sebuah keluarga yang juga masih menyatakan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Abraham mau bahwa anaknya Ishak memiliki seorang istri yang baik, istri yang berasal dari keluarga baik-baik dan istri yang juga hidup taat serta setia kepada Tuhan. Jika kita menggali maksud dari tindakan Abraham ini, maka kita akan menemukan pokok pikiran Abraham bahwa : Apabila keluarga anaknya Ishak adalah keluarga yang tetap mewarisi kesetiannya kepada Tuhan, maka Ishak dan keturunannya pasti akan terus diberkati oleh Tuhan. Pengalaman hidup Abraham harus mengalir dalam kehidupan anaknya Ishak beserta seluruh keturunannya. Jika Abraham diberkati dengan kekayaan yang melimpah, itu semua karena Tuhan memperhitungkan seluruh ketaatannya selama ini. Abraham diberikan hikmat dalam bekerja, diberikan kesanggupan-kesanggupan yang dibutuhkannya, sehingga seluruh pekerjaannya berhasil gemilang. Apa yang diungkapkan oleh hamba-hamba Abraham kepada Betuel dan Laban ketika mereka meminang Ribka adalah gambaran dari sebuah kesadaran bahwa Apabila Abraham diberkati oleh Tuhan dengan kekayaan dan kelimpahan, itu semua adalah buah-buah dari ketaatan dan kesetiannya kepada Tuhan, sebab Tuhanlah sumber segala kelimpahan. “TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai.”

Jemaat Yang Diberkati Tuhan......
Kita disadarkan oleh firman Allah saat ini bahwa bekerja bukan sekedar Amanat dari Tuhan. Tetapi seperti Abraham, kita juga terus belajar untuk memahami bahwa bekerja haruslah dilakukan sambil hidup dalam kesetiaan serta ketaatan kepada Tuhan. Kita tidak dapat bekerja hanya dengan mengandalkan tenaga, akal serta pikiran kita sendiri apalagi jauh dari Tuhan. Kerja yang menjadi berkat adalah konsep kerja yang dilandasi oleh ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Konsep serta tindakan kerja seperti ini adalah konsep kerja yang tidak hanya berpusat pada diri sendiri, bertumpu pada zona nyaman kita sendiri, tetapi semuanya bertumpu, berpusat dan berorientasi kepada Allah yang mengaruniakan pekerjaan itu bagi kita. Konsep kerja yang dilandasi ketaatan dan kesetiaan akan menghasilkan akhir sebuah pekerjaan yang diberkati secara berkelimpahan bahkan itu dapat menjadi kesaksian yang hidup tentang berkat-berkat Allah yang kita alami melalui seluruh aspek kerja yang kita lakukan. Berkat kerja yang dilakukan oleh Abraham telah menjadi kesaksian yang begitu indah. Hal itu telah disaksikan dan disampaikan oleh hamba-hambanya kepada Betuel dan Laban. Sehingga Selllllanjutnya dengan sukarela mereka membiarkan Ribka pergi dan diperisteri oleh Ishak. Betuel dan Laban begitu percaya bahwa anak dan saudara mereka tidak akan berkekurangan karena Ribka akan hidup bersama dengan keluarga Abraham yang diberkati secara berkelimpahan. Saudara....maukah kita menjadikan kerja kita sebagai alat penyataan berkat Tuhan dalam hidup kita? Maukah kita, bahwa melalui pekerjaan kita masing-masing, Tuhan menyatakan kelimpahan untuk kita? Maukah kita bahwa pekerjaan kita dapat menjadi alat kesaksian untuk kemuliaan nama Tuhan? Jika kita menghendaki semuanya itu, Mari kita berani mengambil keputusan dengan resiko Tinggi. mungkin keputusan itu tidak populer bagi kebanyakan orang yaitu : bekerjalah dengan tekun, cerdas, ulet, lalu hiduplah dalam kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Karena kesetiaan dan ketaatan itu mendatangkan berkat dan kelimpahan bagi saudara, Amin.


TEOLOGI PENGAMPUNAN
BACAAN : I PETRUS 2:1-10 
THEMA : ANUGERAH ALLAH YANG MENYELAMATKAN

Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Ilustrasi : Tiga orang anak melakukan kesalahan, tetapi ketiga anak ini mendapat pengasihan dan pengampunan dari Ayahnya. Masing-masing mereka memiliki tanggapan yang berbeda dengan kasih itu. Anak pertama : Merasa diri memang layak menerima kasih itu. Ia berpikir bahwa ayahnya mengasihinya karena dia telah menjadi anak yang baik di mata ayahnya sehingga dalam pandangan anak ini bahwa kasih ayahnya sudah merupakan hak yang harus diperoleh karena segala kelebihan yang dimilikinya. Maka ia pun menjadi anak yang angkuh dan suka memegahkan diri. Ia selalu bersikap sombong. Anak kedua: Merasa bahwa ayahnya adalah seorang yang terlalu baik, apapun yang dilakukannya serta bagaimana pun keadaannya, ayahnya akan selalu mencintainya. Ia bertumbuh menjadi anak yang hidup tanpa aturan, tidak menghargai orang tua, tidak takut melakukan kejahatan, baginya yang penting ia bisa berperilaku baik di depan ayahnya, yang lain pasti aman. Di mata ayah boleh terlihat baik tetapi yang lain terserah. Anak ketiga: Ia benar-benar menyadari bahwa kasih dan pengampunan yang diberikan oleh ayahnya adalah sebuah anugerah. Karena itu ia sangat menghargainya, ia selalu bersikap baik kepada ayahnya dan selalu berusaha melakukan kebaikan kepada orang lain untuk mengenang dan menghormati kasih sang ayah kepadanya. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Setiap orang Kristen menerima kasih yang sama dari Bapa yang sama. Hanya persoalannya ADALAH : Bahwa masing-masing memberi respon atau tanggapan yang berbeda terhadap kasih itu. Ada yang menganggap dirinya memang pantas menerima kasih itu, sehingga ia bertumbuh menjadi orang Kristen yang sombong rohani dan menganggap diri paling suci. Ciri-ciri orang seperti ini biasanya paling aktif dalam persekutuan, taat beribadah, hidup saleh, hafal firman Tuhan, jago dalam soal doa, tetapi pada waktu yang bersamaan, ia sangat suka membandingkan dirinya dengan orang lain. Suka mengkritik orang lain tetapi tidak bisa memberi solusi, dan kesukaannya selalu menghakimi orang lain. Ada juga yang menganggap bahwa Anugerah dan kasih Allah itu sesuatu yang murah dan mudah didapatkan. Orang seperti ini biasa disebut Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan). Mengakui Yesus sebagai Tuhannya tetapi perilaku kehidupannya lebih parah dari orang yang tidak mengenal Yesus. Orang seperti ini pandai dalam membagi waktu dalam pengertian : dia sangat lihai dalam membagi waktu kehidupannya. Waktu dalam seminggu dibaginya dengan seksama. Hari Minggu untuk Tuhan = artinya ini waktu untuk ke Gereja, waktu untuk pelayanan, waktu untuk berderma, waktu untuk pengakuan dosa, pokoknya waktu untuk Tuhan. Hari Senin sampai Sabtu itu hariku, pada hari-hari itu berbuat dosa tidak apa-apa, kan nanti ada lagi waktu untuk melakukan pengakuan dosa pada hari Minggu berikutnya. Waktunya untuk setahun juga sudah dibagi dengan seksama, waktu untuk Tuhan itu ya sekitar bulan April dan Desember, kenapa? Karena pada bulan itu ada Paskah dan Natal. Jadi yang namanya ibadah di bulan itu wajib hukumnya. Trus bulan yang lain? Itu tidak terlalu sacral, tidak terlalu kudus, jadi cari Tuhannya bisa bolong-bolong. Ada juga yang bilang, doa dan ibadah itu relative, biar tidak pernah ibadah kan yang penting itu perbuatan baiknya. Kalau sudah bisa berbuat baik, ya cukuplah. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Bagaimana kita akan tahu kalau itu perbuatan baik kalau kita tidak pernah mendengar petunjuk tentang bagaimana perbuatan baik itu harus dilakukan? Dan bagaimana kita bisa mendengar petunjuk tentang kebaikan, jika kita tidak pernah membaca atau mendengar Firman Tuhan? Dalam pandangan Kristen, Antara ibadah dan perbuatan baik memiliki hubungan yang begitu erat. Bacaan kita pada saat ini mau menegaskan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan. 1. Harus mampu berkata tidak terhadap dosa (ay 1). Artinya setiap orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan tahu bahwa hidupnya telah ditebus dari dosa-dosanya. Karena itu dalam segala hal dan suasana ia selalu berusaha menjauhkan diri dari perbuatan - perbuatan dosa, seberapapun itu terlihat menguntungkan dirinya. Tekad untuk selalu hidup baru di bawah kasih karunia Tuhan akan terus berkobar dalam hatinya. 2. Selalu memiliki kerinduan untuk datang kepada Yesus Kristus (ay 4). Memiliki kerinduan kepada Yesus berarti mengakui dan percaya pada Ketuhanan Yesus yang juga berarti bersedia menyerahkan segenap hidup di bawah otoritas kuasa Tuhan. Hal ini juga mengandung pengertian kesediaan dan kesetiaan untuk beribadah kepada Tuhan, karena antara iman dan ibadah memiliki kaitan yang sangat erat. Memang tidak semua orang yang rajin beribadah memiliki iman yang kokoh, tetapi setiap orang yang beriman pasti rajin beribadah. 3. Bersedia menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan damai sejahtera bagi sesama (ay 5). Seorang yang beriman tidak akan membiarkan dirinya hidup sendiri tanpa melakukan sesuatu yang berguna bagi sesamanya. Seorang yang telah menerima kasih karunia Tuhan akan selalu berusaha menghadirkan damai sejahtera kapanpun dan dimanapun dia berada, bukan sebaliknya merampas damai sejahtera orang lain dengan perbuatannya yang tidak bertanggung jawab, baik dengan perkataan yang menyakiti hati, atau dengan pikiran dan gagasan-gagasan yang hanya mencari keuntungan diri sendiri. Jemaat Yang Diberkati Oleh Tuhan.... Ketiga hal ini harus dilakukan dalam keseimbangan, tidak ada yang lebih utama antara satu dengan yang lain. Semua ini dilakukan dengan satu alasan karena kita adalah umat pilihan Allah (ay 9,10). Kita sekalian adalah umat pilihan Allah, bangsa yang terpilih, kita dikhususkan Allah, tidak berarti kita ekslusive, tertutup dari dunia luar, tidak ! Kita dipilih, dikhususkan, dikuduskan, dimerdekakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang besar, perbuatan-perbuatan baik yang memberi pengaruh baik pula kepada orang lain yang ada di sekeliling kita. Baik itu suami/istri, anak-anak, saudara sepersekutuan, juga tetangga dan teman kerja kita. Perbuatan yang akan membuat setiap orang memuliakan nama Tuhan Allah kita. Untuk itulah kita dipanggil menjadi anak-anak tebusan Kristus. Apa yang sudah kita peroleh dari Kristus, bagikanlah itu kepada sesama kita. Jika kita menerima anugerah, bagikanlah anugerah itu kepadsa sesama kita. Dan jika kita telah menerima kebaikan hati Allah melalui pengampunanNya, maka bagikanlah juga kebaikan serta pengampunan itu kepada orang lain. Terpujilah Tuhan atas segala kebaikanNya. AMIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar