Senin, 20 April 2015

BAHAN KHOTBAH EV. KLASIS THEMATIS 2015

Thema Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu Kedua Maret 2015
Bacaan      : Matius 11:1-30 (Pemahaman Alkitab - PA)
Nats          :


A.    Pemahaman Nats.

Perikop Matius 11:1-30 adalah bagian Alkitab yang sangat terkenal dalam Perjanjian Baru.  Bagian ini merupakan bagian dari pekerjaan pelayanan Tuhan Yesus disekitar masyarakat Yahudi yang berada disekitar Galilea terutama masyarakat yang berdomisili dipesisir Danau Galilea. Perikop ini berisi tentang berbagai pandangan negative yang ditujukan kepada Tuhan Yesus oleh para tokoh-tokoh agama yang kurang menyukai karakter serta pengajaran-pengajaranNya kepada orang banyak. Selanjutnya berisi tentang penilaian Tuhan Yesus terhadap penduduk dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang sama sekali tidak mau percaya akan pemberitaanNya meskipun Tuhan Yesus telah melakukan banyak Mujizat di depan mata mereka (Ayat 14-24).
Dalam ayat-ayat  ini Tuhan Yesus juga menyampaikan akibat-akibat fatal yang akan dialami oleh orang-orang yang tinggal di kota-kota pesisir Galilea pada hari penghakiman yang akan datang.
Inti berita dalam perikop ini berada pada akhir perikop yaitu pada ayat 28-30 di mana Tuhan Yesus memberikan garansi atau jaminan kelegaan kepada orang-orang yang dengan sukacita mau datang kepadaNya. Inti Berita yang disampaikan oleh Tuhan Yesus tentang kelegaan sekaligus merupakan proklamasi tentang pembebasan yang disediakanNya. Dalam teks bacaan Matius 11:1-30 setidaknya ada 2 (dua) hal yang sangat mendasar mengapa berita pembebasan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus menjadi sangat penting :

1.     Saat  berita pembebasan (“Marilah KepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan memberi kelegaan kepadamu”)  disampaikan, pada saat yang sama pula bangsa itu sedang berada dibawah tekanan Imperiusm Romawi, sehingga berita tentang pembebasan menjadi sangat penting bagi mereka.
2.     Saat berita pembebasan itu disampaikan, keadaan umat manusia sedang berada dalam belenggu dosa yang sangat besar. Bagi umat manusia yang menyadari kuasa dosa sedang berlangsung atas umat manusia, maka pada saat yang sama berita pembebasan yang memberikan kelegaan itu menjadi sangat penting.

Oleh karena itu ketika umat Tuhan dan umat manusia berada dalam keadaan terbelenggu dengan beratnya beban pergumulan baik karena dikuasai oleh orang lain maupun karena dikuasai oleh dosa, maka pembebasan, perasaan lega dan lepas dari beban menjadi kebutuhan yang sangat pokok dan penting.

B.    Pertanyaan Diskusi.

B.1.  Apakah kita sungguh-sungguh telah mengalami kelegaan dan pembebasan dari tekanan kuasa dosa?

B.3.  Di manakah Perbedaan antara Kuk Iblis dan Kuk yang diberikan oleh Tuhan Yesus?

B.3.  Apakah artinya jika kita sedang memikul kuk yang diberikan oleh Tuhan Yesus?



C.    Kesimpulan Diskusi.

1.     Kelegaan dan pembebasan yang disediakan oleh Tuhan memang telah sempurna melalui kematian dan kebangkitanNya. Tetapi seringkali kita suka memikul beban-beban lain diluar yang disediakan oleh Tuhan. Akibatnya maka sering kali kita kehilangan sukacita, kehilangan kelegaan dan kehilangan begitu banyak waktu-waktu yang indah bersama Tuhan.
2.     Kuk yang dipasang oleh Iblis sangat berat. Penuh dengan beban-beban yang membawa kehancuran bagi kehidupan kita. Sedangkan Kuk yang dipasang oleh Tuhan sangat ringan dan memberikan masa depan yang penuh dengan pengharapan.
3.     Ketika kita memikul kuk yang dipasang oleh Tuhan Yesus itu berarti kita sedang memikul tanggung jawab melayani dan memberitakan berita pembebasan dan kelegaan itu kepada orang lain. Kuk yang berisi tanggung jawab sangat itu ringan jika dipikul bersama Tuhan.  Di tengah-tengah banyaknya orang-orang memilih untuk memikul kuk yang dipasang oleh Iblis, kita senantiasa terpanggil untuk memikul tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan sebagai jawaban Iman atas sengsara, pembebasan, pemulihan dan kelegaan yang telah diberikanNya kepada kita melalui sengsara, kematian dan kebangkitanNya bagi kita.

Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, STh; kembangkan sesuai konteks Jemaat.





Thema Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu Ketiga Maret 2015
Bacaan      :    AMSAL  2:1 – 22 (Dialogis)
Nats          :


A.    Pendahuluan.

Amsal  berasal dari bahasa Ibrani “MESHAI” yang artinya ucapan-ucapan bijak, perumpamaan atau peribahasa atau hikmat. Kitab amsal adalah suatu kumpulan ajaran dalam bentuk petuah, peribahasa dan pepatah. Kebanyakan diantara menyangkut persoalapersoalan yang timbul dalam hidup sehari-hari. Kitab ini mulai dari peringatan ini : “untuk memperoleh pengetahuan, orang harus pertama-tama mempunyai rasa hormat, dan takut kepada Tuhan”. Selain tentang cara-cara hidup yang baik, Kitab ini juga mengajar orang untuk memakai pikiran sehat dan bersopan  santun.

Amsal pasal  2 bacaan kita saat ini merupakan  ajakan orang tua  kepada anaknya  ( ayat 1 ) untuk mengajar dan mencamkan ajaran hikmat, karena dengan beroleh hikmat akan muncul pengenalan akan Allah. Sebab Allah sendirilah sumber hikmat itu. Hikmat itu akan menuntun anak berlaku jujur , tidak bercelah, adil, benar dan setia, sehingga akan langgeng  kehidupannya. Sebaliknya tanpa hikmat, seseorang akan berlaku jahat, hidup penuh tipu muslihat, melakukan sesuatu yang tidak diinginkan sesame dan terlebih Allah, sehingga hidupnya penuh dengan pergumulan dan menjauh dari Allah.


B.    Bahan Diskusi :


1.       Masing-masing membaca ayat  11 – 17, kemudian memberi komentar atau pendapat apa makna yang didapatkan dari ayat-ayat tersebut ?

2.       Apa yang kurang dari muatan/isi pendidikan kita selama ini sehingga banyak orang yang terpelajar tetapi teryata tidak berhikmat?

Pdt. Feri Sentje, STh; Selamat melayani Tuhan Yesus Memberkati.



Thema Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu Keempat Maret 2015 (Alternative 1)
Bacaan             : Markus 14 : 32 – 36  (Dialogis)
Thema Khusus   :


A.    Pengantar.

Teks bacaan kita saat ini adalah salah satu bagian dari kisah masa – masa sengsara Tuhan Yesus dalam mau menyelesaikan Karya Penyelamatan-Nya di bumi ini. Di sini sangat jelas diuraikan bahwa ternyata pada saat – saat itu Tuhan Yesus sangat mengalami yang namanya sengsara. Atau biasa disebut  pergumulan  berat, dalam Injil Lukas 22 : 44 Di jelaskan peluhnya sampai berbentuk tetesan – tetesan darah.

Berada pada posisi hidup yang sengsara adalah keadaan yang sama sekali tidak dinginkan oleh siapapun manusia. Berdasarkan fakta yang ada, berbagai upaya dilakukan oleh manusia agar sekiranya dapat keadaan sengsara itu tidak akan pernah muncul disepanjang perjalanan hidupnya. Sampai pada melakukan hal – hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan pun jika itu memungkinkan pasti dilakukannya.
Padahal sesuai dengan realita kehidupan, setiap waktu, setiap saat manusia tidak pernah luput dari yang namanya sengsara tersebut. Karena keadaan hidup yang sengsara dicari atau tidak pasti suatu saat akan dihadapi oleh manusia. Dan jika kita mau jujur, besar atau kecil yang namanya sengsara,  pasti masing – masing kita, baik secara pribadi, keluarga, dan dalam persekutuan dengan jemaat sudah pernah mengalami keadaan tersebut.


B.    Pertanyaan untuk Percakapan.


1.     Apakah hidup sengsara selalu berisi hukuman ataukah didikan dari Tuhan?, Jelaskan pemahaman anda.

2.     Dari Firman Tuhan yang baru saja kita baca saat ini bagaimanakah model kesengsaraan yang dialami dan dirasakan oleh Tuhan Yesus?

3.     Bagaimanakah tanggapan saudara jika suatu saat ternyata keadaan sengsara itu justru anda atau Keluarga anda yang mengalaminya.



C.    Kesimpulan.

Sengsara yang berarti penderitaan dan kesusahan hidup adalah bagian dari perjalanan hidup manusia dibumi ini dari waktu ke waktu tanpa henti sampai Tuhan Datang meniadakannya. Tiada seorang pun manusia yang bisa  luput dari keadaan sengsara tersebut  sebab pada hakekatnya situasi sengsara berwujud dalam berbagai bentuk dan keadaan seperti : Kelaparan, sakit penyakit, permasalahan dalam rumah tangga, masalah ekonomi, relasi dengan sesama dan lain sebagainya.
Jika saat ini atau suatu saat nanti kita harus berhadapan dengan masa – masa sengsara, hendaklah kita tidak secepatnya berkata bahwa itu adalah hukuman atau teguran dari Tuhan Allah karena dosa yang telah kita perbuat atau dilakukan oleh anggota keluarga kita. Karena tidak menutup kemungkinan itu adalah didikkan dari Tuhan agar Iman percaya kita semakin kuat dan kokoh. Sebab  Tuhan sewaktu – waktu dapat menegur dan menghajar orang – orang yang dikasihi-Nya. ( Bnd. Why. 3 : 19 )  Amin.



Pdt. Harun Dike, STh
Catatan :               Pertanyaan dan Kesimpulan dapat dikembangkan sesuai dengan sikon jemaat masing – masing.


------Selamat berdialog------
                                                                                                                                           





Thema Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu Keempat Maret 2015 (Alternative 2)
Bacaan             : Lukas 19:28-40 (Khotbah)
Thema Khusus   : Damai dan Kasih Sayang Allah Bagi Kita”


Saudara-saudara yang diberkati Tuhan.
Berabad-abad  lamanya orang Kristen telah memiliki Alkitab dan membacanya. Tetapi tidak sedikit orang Kristen yang masih bingung dan berpikiran bahwa Alkitab adalah sebuah barang aneh. Terasa aneh karena banyak peristiwa-peristiwa yang sama tetapi cara penyampaiannya berbeda-beda oleh para penulis kitab.  Salah satu contoh yang dapat dikemukakan di sini adalah kisah tentang “YESUS MEMASUKI KOTA YERUSALEM”.
Menurut kesaksian Injil Lukas, bahwa yang menghamparkan pakaian di jalan dan bersorak-sorai adalah murid-murid Yesus sendiri, sedangkan Injil Matius memberikan kesaksian bahwa yang menghamparkan pakaian dan bersorak-sorai adalah orang banyak yang sangat besar jumlahnya. Sambil bersorak-sorai, orang banyak di kota Yerusalem juga melambaikan daun-daun Palma untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus (Matius 21:8)..  Lebih-lebih lagi Injil Matius dan Lukas menyampaikan kesaksian bahwa Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem menjelang akhir pelayanan atau pemberitaanNya. Sedangkan Yohanes memberitakan bahwa Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem justru pada saat Ia mengawali pelayananNya.
Penulis kitab-kitab Injil adalah orang-orang yang jujur dengan isi pikiran dan cara pandang mereka masing-masing. Apa yang mereka tulis dan pahami tentang sebuah peristiwa bukanlah sebuah rekayasa. Tulisan merekapun tidak melalui proses sensor yang disesuaikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan berita dengan cara penulisan yang sama. Tetapi satu hal yang terpenting adalah bahwa para penulis Injil mau menggambarkan tentang Siapa Yesus sebenarnya. Dengan cara dan pemahaman masing-masing, mereka mau memberitakan satu hal atau pokok yang sama yaitu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang penuh keberanian menurut Matius, Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang penuh pengorbanan dan tabib yang Agung menurut Lukas dan Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang penuh kasih menurut Yohanes yang olehnya Yohanes disebut sebagai Rasul Kasih dalam Alkitab.

Secara khusus tentang Injil Lukas, khususnya perikop bacaan kita hari ini, sebetulnya Lukas ingin menekankan tentang sosok yang penuh dengan kerelaan untuk berkorban. Untuk melaksanakan Misi Allah Ia sama sekali tidak mundur dari semangat berkorban.
Pada saat Ia memasuki kota Yerusalem, Ia benar-benar telah mengetahui bahwa orang-orang yang memusuhiNya telah siap menanti untuk membunuhnya. Para Politisi, penguasa dan tokoh-tokoh agama Yahudi sedang menanti kedatanganNya di sarang orang-orang kuat seperti mereka. Inilah saatnya Yesus akan dihancurkan dengan menggunakan jerat-jerat hukum dan birokrasi yang berlaku.

Saudara-saudara yang diberkati Tuhan.
Gentarkah Yesus menghadapi tantangan ini? Ternyata Ia tidak gentar, Ia tidak menghindar sama sekali. Ia siap menanggung resiko yang terberat sekalipun. Ia siap berkorban demi Misi penyelamatan Allah bagi dunia. Ia mengerjakan apa yang harus dikerjakanNya. Ia harus mengatakan apa yang seharusnya dikatakan.  Dalam diri Tuhan Yesus Tidak pernah ada konsep mundur di saat harus maju.
Lalu Pelajaran atau pendidikan apa yang dapat kita petik dari karakter Yesus pada peristiwa ketika Ia memasuki kota Yerusalem?

Pertama, Dalam perjalanan kehidupan sebagai Gereja, sebagai Jemaat Tuhan, baik sebagai pemimpin maupun warga Jemaat, betapa seringnya kita begitu takut menanggung resiko-resiko dalam pelayanan. Mengkritisi apa yang dilakukan sehubungan dengan pekerjaan pelayanan adalah hal yang terlalu biasa dalam kehidupan bergereja. Tetapi terjun secara langsung secara optimal dalam pekerjaan itu menjadi sesuatu yang begitu sulit bahkan jika perlu itu harus dihindari. Disaat kita seharusnya maju, tetapi kita seringkali justru mundur ke belakang karena di depan banyak resiko. Di depan banyak resiko yaitu resiko-resiko yang berbau pengorbanan, baik pengorbanan harta, waktu, tenaga serta pikira. Ingat saudara untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah membutuhkan keberanian dan kerelaan untuk berkorban. Sebab tanpa keberanian untuk berkorban, maka tanda-tanda kerajaan Allah tidak akan pernah hadir apalagi menjadi nyata dalam kehidupan kita dan dunia.

Kedua,  Ciri yang seharusnya mewarnai kehidupan Gereja atau Jemaat adalah “KERENDAHAN HATI”!  Seringkali salah satu ciri yang harus dimiliki oleh Gereja ini menjadi barang langka. Dalam Gereja tetap saja seperti terbangun kelas-kelas atau strata-strata baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Ada golongan politisi, golongan Manager, golongan Intelektual dan sebagainya. Masing-masing golongan saling menunjukan pengaruhnya. Kelompok yang satu mencoba untuk menggulingkan yang lain, maka yang menjadi korban adalah warga gereja yang berada diluar kelompok-kelompok ini. Mereka yang “Tidak tahu apa-apa” (Dalam Tanda Petik) akhirnya ikut mengalami akibat-akibat buruk dari persaingan yang sama sekali tidak sehat ini. Persekutuan Retak, Misi bersama menjadi gagal. Sebagian besar waktu, tenaga dan energy terkuras untuk melakukan proses-proses rekonsiliasi atau perbaikan terhadap keadaan kisruh yang terjadi dalam Jemaat.
Yesus memasuki kota Yerusalem dengan style atau gaya sebagai seorang Raja, karena Dia memang adalah Raja di atas segala Raja, King Of King, tetapi tidak seperti seorang raja yang datang dengan segala kebesaran dan keangkuhannya. Sebagai seorang Raja di atas segala Raja tidak memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai kuda atau dengan kereta kebesaran. Ia memasuki kota Yerusalem hanya dengan menunggang seekor Keledai. Ya Keledai adalah symbol atau lambang Perdamaian Dan Kasih Sayanng”. Keledai adalah Simbol atau Lambang “Kerendahan Hati”.

Saudara-saudara yang diberkati Tuhan.
Ketika bayang-bayang kematianNya sudah begitu dekat, Tuhan Yesus masih mengingat orang lain. Dari atas Keledai  dan dalam semangat kerendahan hati Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada penduduk Yerusalem : “Selama ini mungkin kamu hanya mendengar tentang Aku. Tetapi kini, kalian telah melihat sendiri. Aku adalah Raja diatas segala Raja, tetapi lihatlah, Aku datang dengan kesederhanaan, Aku datang dengan menunggang seekor Keledai. Aku datang dengan kelemahlembutan dan membawa kabar damai untukmu. Aku datang untuk memulihkan kamu dari penyakit dosa yang selama ini membelenggu hidupmu. Masihkah kamu menolak Aku?”
Inilah Pendidikan dan teladan yang diberikan oleh Yesus bagi kita, bagi saudara dan saya. Kerelaan serta keberanianNya untuk berkorban meski resiko kematian menghadang kiranya menjadi Citra Jemaat Tuhan pada masa kini. Menghadirkan apalagi mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah tidak bisa dilakukan hanya dengan Retorika atau kata-kata belaka! Itu membutuhkan pengorbanan serta kerendahan hati kita sama seperti Kristus.
Amin?........Amin.



Pdt. Ar. Baleona, SmTh; Silahkan kembangkan sesuai konteks Jemaat.




Thema Umum Bulan April :   Pertobatan Dan Pengampunan
Minggu Kedua April 2015
Bacaan                        :    Matius 18:21-35 (Dialogis)
Thema Khusus          :    “Mengampuni Dengan Segenap Hati”



Jika pertanyaan Petrus diperhadapkan kepada kita, kira-kira menurut perasaan kita berapa kali kita harus mengampuni saudara kita?  (diberikan waktu kepada jemaat untuk memberikan pendapatnya). Selain pendapat-pendapat yang kita telah berikan, kita juga bisa melihat sekeliling kita. Mulai dari media massa sampai pada kehidupan kita setiap hari, ada berbagai ungkapan yang kita temukan; “kami telah mengampuni, namun proses hukum harus terus berlangsung”, ‘saya tidak mampu mengampuni karena sudah terlalu sakit hati ini” dan pernyataan-pernyataan lain yang menggambarkan ketidakmampuan kita untuk mengampuni. Bahkan dalam posisi kita sebagai murid Yesus.
               
Pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang berapa kali ia harus mengampuni saudaranya, tujuh kalikah? Sering mewakili kita. Setidak-tidaknya menurut kita harus ada batasan untuk mengampuni. Atau dalam hal apa saja perlu kita mengampuni. Namun jawaban Yesus sungguh di luar dugaan. Yesus meminta kita untuk mengampuni saudara kita dengan tidak terbatas dan dengan kualitas yang sempurna. Yesus mengatakan tujuh puluh kali tujuh kali. Dalam hal ini Yesus tidak berbicara sekedar angka-angka, tetapi tujuh puluh kali tujuh berbicara tentang kualitas sempurna (7 adalah angka yang sempurna) dan dalam jumlah yang tidak terhingga. Artinya sebanyak kita mengampuni saudara kita, kualitas pengampunan itu harus tetap sama. Bukan makin lama makin menurun.
               
Kemudian berpindah dari pertanyaan Petrus kepada perumpamaan tentang pengampunan Allah. Yesus memberikan cerita tentang orang yang berutang 10.000 talenta kepada raja (merupakan utang yang tidak mungkin dibayar)
Pertanyaan selanjutnya: menurut kita mengapa orang yang sudah dihapus hutangnya tidak mau menghapus hutang temannya yang sangat sedikit itu? (yang hanya 1% dari hutangnya). (beri kesempatan jemaat memberikan pendapat).
Yesus memberitakan kehendak Bapa bahwa kita sebagai murid-murid-Nya untuk meneladani kasih Bapa, walaupun sebenarnya pengampunan kita berikan kepada sesama kita,  tidak seberapa dibandingkan dengan pengampunan yang kita terima. Tetapi Allah menginginkan kita melakukannya dengan sepenuh hati.
Berikut ini sebuah kisah yang langka namun patut kita renungkan secara mendalam:
Pertanyaan terakhir adalah mengapa wanita tua ini mampu mengampuni pembunuh suami dan anaknya? (berikan kesempatan kepada jemaat menjawab). Dari kisah ini kemampuan wanita ini mengampuni adalah karena ia merasa telah diampuni oleh Allah. Kekuatan kita untuk mengampuni adalah ketika kita merasa telah diampuni oleh Allah. Ketika kita tidak pernah merasa diampuni oleh Allah, kitapun tidak akan mampu mengampuni. Akan muncul berbagai alasan untuk tidak mengampuni.

Seorang wanita berkulit hitam yang telah renta dengan pelahan bangkit berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun. Di depan, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, ia telah dinyatakan bersalah telah membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu.
Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Kemudian, van der Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia melihat suaminya diikat dan disiksa. Mereka memaksa suaminya berdiri di tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”
Belum lama berselang, Mr. Van den Broek ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya untuk menentukan hukumannya. Ketika wanita itu berdiri, hakim bertanya, “Jadi, apa yang Anda inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini yang secara brutal telah menghabisi keluarga Anda?”
Wanita itu menjawab, “Saya menginginkan tiga hal. Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan mengumpulkan debunya untuk menguburkannya secara terhormat.” Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga saya. Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto (perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”
“Dan, akhirnya,” ia berkata, “permintaan saya yang ketiga. Saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni. Begitu juga dengan permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya meminta seseorang membantu saya ke depan hingga saya dapat membawa Mr. Van den Broek ke dalam pelukan saya dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya maafkan.”
Ketika petugas pengadilan membawa wanita tua itu ke depan, Mr. van den Broek sangat terharu dengan apa yang didengarnya hingga pingsan. Kemudian, mereka yang berada d gedung pengadilan –teman, keluarga, dan tetangga, -korban penindasan dan ketidakadilan serupa –berdiri dan bernyanyi “Ajaib benar anugerah”

Pertanyaan terakhir adalah mengapa wanita tua ini mampu mengampuni pembunuh suami dan anaknya? (berikan kesempatan kepada jemaat menjawab). Dari kisah ini kemampuan wanita ini mengampuni adalah karena ia merasa telah diampuni oleh Allah. Kekuatan kita untuk mengampuni adalah ketika kita merasa telah diampuni oleh Allah. Ketika kita tidak pernah merasa diampuni oleh Allah, kitapun tidak akan mampu mengampuni. Akan muncul berbagai alasan untuk tidak mengampuni. Mari kita saling mengampuni dengan segenap hati.  Amin





Pdt. Onesimus Lantigimo, MTh, Dialog Dapat dikembangkan sesuai konteks



Thema Umum Bulan April :   Pertobatan Dan Pengampunan
Minggu Ketiga April 2015
Bacaan                 :    Hosea  5: 15 – 6:3 (PA)
Thema Khusus   :   



Pengantar   :

Hosea adalah nabi yang menyampaikan pesan Tuhan kepada orang2 israel di kerajaan utara. Hosea sangat prihatin dengan keadaan umat yang menyembah berhala. Umat tidak setia kepada Tuhan.  Hosea menggambarkan ketidak setiaan umat berdasarkan pada kehidupan rumah tangganya.seperti istrinya Gomer yang tidak setia dalam perkawinan dengan Hosea  demikian juga Israel tidak setia kepada Allah.Dalam ketidak setiaan umat Allah memanggil mereka untuk bertobat.Tetapi umat yang telah diikat oleh nafsu dosa sulit menyadari dan menghayati ajakan Tuhan sampai pada akhirnya Tuhan menghukum umat. Walaupun demikian Tuhan tidak pernah berubh dalam kehidupan mereka.Allah memperbaiki hubungan itu kembali karena kasihNya. (lih.Hosea 11:8).


Uraian Prikop  :

Ayat 15 ----  Umat yang jatuh kedalam dosa sulit untuk kembali kepada Tuhan. Karena keterikatannya dengan dosa  sebab itu Tuhan membiarkan umat berada didalam penderitaan. Allah melakukan itu bukan karena Allah tidak mengasihi mereka, tetapi Allah mau menyadarkan mereka terhadap kesalahannya. Penderitaan menjadi cambuk agar umat sadar dan diharapkan termotivasi/terdorong untuk datang mendapatkan Tuhan.  Dan Tuhan  menantikan umat sampai mereka bertobat.
Psl 6 :1-2 ----   Ternyata umat belum sungguh2 mau datang kepada Tuhan Allah dan bertobat.Tetapi yang terlihat adalah justru tanda2 pementingan diri sendiri .Pengaruh2 Baal telah mewarnai kehidupan umat dan itulah yang telah membelenggu umat untuk mau datang kepada Tuhan.
Ayat 3 ----    Umat amat menyadari bahwa mereka tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah. Namun umat berpikir kalau mereka mencari Tuhan dengan sungguh2 Tuhan pasti muncul seperti fajar, Tuhan akan datang seperti hujan mengairi bumi.
Saudara-saudara! Seringkali Allah mengizinkan kita berada dalam penderitaan/kesulitan. Hal ini dilakukan Tuhan  bukan karena tidak mengasihi kita tetapi, justru karena kasihNya.

Pertanyaannya:  Bagaimana kita mengerti hal ini dalam kehidupan kita?
Banyak orang Kristen yang belum sungguh-sungguh bertobat. Kekristenannya hanya merupakan baju luar yang indah yang membungkus kejahatannya,kebenciannya dsb.

Pertanyaannya : Apa Yang dapat kita lakukan agar sungguh-sungguh bertobat?

 -------Pdt. AY. Sapasuru, STh--------





Thema Umum Bulan April :   Pertobatan Dan Pengampunan
Minggu Keempat April 2015
Bacaan                 : KISAH PARA RASUL   20 : 17 – 27  (Pemahaman Alkitab PA)
Thema Khusus   : “Mengasihi dengan Kasih yang rela berkorban, sebagaimana Kristus mengasihi murid-murid-Nya”.


A.    Pendahuluan.
Perikop ini sesungguhnya merupakan sebuah kata-kata perpisahan antara Paulus dengan para penatua dari Efesus yang dimintanya untuk dating ke meletus (sekurang-kurangnya membutuhkan waktu perjalanan 2 hari lamanya). Tak heran, jika selain berisi nasihat-nasihat untuk tetap setia menggembalakan jemaat sebagai kawanan domba Allah (ay. 28), perikop ini juga kemudian diakhiri dengan sebuah adegan perpisahan yang sangat mengharukan. Mereka menangis tersedu-sedu sambil memeluk dan mencium Paulus berulang-ulang, sebelum kemudian mengantarkan Paulus ke kapal (ay. 37 – 38).
Dalam kata-kata perpisahan ini, satu hal penting yang dikemukakan Paulus, adalah sebuah refleksi mengenai riwayat perjalanan pelayanannya. Seperti yang juga diketahui oleh para penatua, Paulus sungguh-sungguh member hidupnya bagi pekerjaan Tuhan. Betapa tidak dalam pelayanan tersebut Paulus tidak hanya banyak mencucurkan air mata, tetapi juga sering menempatkan hidupnya dalam ancaman pembunuhan dari sejumlah pihak Yahudi (ay. 19-24). Namun demikian, semua penderitaan tersebut tidak pernah ia hiraukan, sebab bagi Paulus hal yang sesungguhnya paling penting, adalah mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan kepadanya (ay. 24).
Penceritaan kembali kisah pelayanan Paulus tentu saja tidak dimaksudkan untuk membanggakan diri. Namun sebaliknya, yang dikemukakan adalah sebuah wujud cinta kasih dan kesetiaan Tuhan melalui diri Paulus kepada jemaat di Efesus. Dengan kisah ini para penatua diharapkan bisa menyadari dengan sungguh besarnya cintah kasih Tuhan yang mau menjangkau hidup mereka, kemudian juga memiliki komitmen pelayanan seperti Paulus, yakni pelayanan dengan kasih yang rela untuk mengorbankan dirinya.         

B.    Pertanyaan untuk didiskusikan.

B.1.  Ditengah kehidupan jemaat sekarang ini, dalam hal-hal apakah kesediaan untuk berkorban itu bisa diwujudkan?

B.2.  Apakah kesediaan untuk berkorban ini masih jelas dalam hidup kita, ataukah yang terjadi justru sebaliknya, yakni keengganan untuk berkorban? Percakapkanlah.








Pdt. Hertince Dondo, SPAK; Selamat melayani Tuhan Yesus Memberkati.





Thema Umum Bulan Mei :   Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu Pertama Mei 2015
Bacaan                     :    Matius 25: 14 – 30
Thema Khusus          :    “ Melayani  sesuai dengan karunia yang diberikan “



A.    Pendahuluan.


Perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta yangntelah kita baca dan dengar pada saat ini sudah tidak asing bagi kita. Kita pasti sudah pernah membaca atau mendengar melalui khotbah dalam ibadah yang pernah kita hadiri atau ikuti.
Perumpamaan tentang talenta menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesetiaan dan ketekunan dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan.
Sebagai hamba Tuhan, kita masing-masing mendapatkan karunia dari Tuhan sebagai modal melayani-Nya. Karunia-karunia yang kita dapatkan dari Tuhan ini digambarkan sebagai talenta. Yang pasti sebagai hamba Tuhan tidak ada satu pun yang mendapatkan nol talenta atau sama sekali tidak mempunyai talenta untuk melayani Tuhan.
Talenta berbicara tentang kecakapan, kemampuan, kemahiran, waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita.

Pertanyaan kepada warga jemaat :

Ø  Sebutkan rupa-rupa talenta / karunia yang diberikan Tuhan kepada kita untuk melayani-Nya!

Setiap talenta yang dipercayakan Tuhan telah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“ yang seorang diberikan lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu “, masing-masing menurut kesanggupannya ( Matius 25 : 15 ).
Meski besarnya talenta berbeda-beda. Setiap orang memiliki kewajiban yang sama untuk menjadi hamba yang baik dan setia. Setiap talenta adalah kepercayaan. Berapa pun talenta yang diberikan kepada kita, apakah lima, dua, atau satu sekalipun adalah kepercayaan.


B.    Pertanyaan – Pertanyaan Dialogis

1.     Bagaimanakah seharusnya respon kita terhadap setiap talenta yang diberikan Tuhan ?
2.     Apakah ada kecenderungan tanpa kita sadari bahwa kita “ menguburkan “ talenta yang diberikan Tuhan ? Kalau ada, mengapa ?
3.     Apakah tanggapan tuan terhadap hambanya yang menerima dan mengembangkan talenta yang diberikan ?
4.     Apakah tanggapan tuan terhadap hambanya yang menyembunyikan talenta dalam tanah ?

Setiap warga jemaat adalah hamba Tuhan. Kepada kita Tuhan memberikan talenta yang berbeda-beda. Tuhan memberikan tugas dan tanggungjawab yang harus kita kerjakan dengan tekun dan setia.
Banyak diantara kita yang pada awalnya begitu menyala-nyala dalam melayani Tuhan, namun seiring berjalannya waktu, terlebih-lebih saat menghadapi masalah dan ujian, semangat perlahan-lahan mengendor, makin hari makin merosot dan mengalami kemunduran . mereka telah kehilangan kasih mula-mula kepada Tuhan, lari dari tanggung jawab dan akhirnya meninggalkan pelayanan. Janganlah kita lupa bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia ini pada saatnya harus kita pertanggung jawabkan kepada Tuhan.
Tidak semua orang beroleh kepercayaan dari Tuhan. Maka adalah berkat dan anugerah yang tak ternilai jika saat ini kita dipercayakan Tuhan untuk mengembangkan talenta itu. Tuhan akan memperlengkapi kita ( 2 Timotius 3 : 17 ) dengan kuat kuasa Roh Kudus. Amin.




Pdt. Margaretha Tandumai, STh; kembangkan sesuai konteks Jemaat.





Thema Umum Bulan Mei :   Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu Kedua Mei 2015
Bacaan                  :    Kisah Para Rasul 6 : 8 – 15.  (PA)
Tujuan Khusus   :
                       
1.  Jemaat termotivasi untuk meneladani sikap dan karakter Stefanus.
2.  Jemaat  mewujudkan karakter melayani, setia dan berani sebagai wujud kehidupan yang dipimpin oleh Roh Kudus.


A.    Pengantar.

Di zaman yang semakin modern dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih ini, roh materialisme, individualisme dan hedonisme semakin mempengaruhi dan menguasai kehidupan manusia, terutama para generasi muda. Banyak kaum muda remaja yang menjadi egois, matrealis dan hedonis sehingga menjadi miskin di dalam melayani. Pekerjaan-pekerjaan rumah tangga, kegiatan gereja dan masyarakat seringkali tidak disentuhnya, karena mereka berpikir itu pekerjaan atau tugas orang tua/dewasa.
Tugas kaum muda adalah belajar, hura-hura, bermain, nyantai, atau apapun yang tidak bersinggungan dengan pekerjaan/kegiatan pelayanan yang identik dengan kerendahan bahkan membuang waktu sia-sia dan tidak gaul. Karena pengaruh dunia global dengan budaya hedonisnya, maka banyak pemuda yang terjebak pada dunia pergaulan yang hurahura, mengejar kepuasan hawa nafsu, mencari kesenangan diri, dsb. Oleh karena itu nilai kesetiaan dalam diri orang kristen juga mudah luntur. Setia terhadap pasangan (berganti-ganti pacar), setia terhadap tugas pekerjaan (studi, pelayanan gereja dan masyarakat) serta rasa tanggung jawab yang semakin melemah.

Dengan demikian maka tugas dan peran orang kristen dalam membangun bangsa, masyarakat dan jemaat mengalami kemerosotan bahkan bisa tidak ada lagi. Padahal sebagai orang beriman (termasuk kaum muda-remaja) kita dipanggil untuk bersaksi di tengah dunia ini, serta di dalam mensejahterakan kota atau bangsa dimanapun kita ditempatkan. Dalam situasi kondisi seperti inilah manusia sesungguhnya sangat membutuhkan semangat dan pembaharuan hidup. Roh Kudus telah diberikan kepada orang-orang percaya untuk memberi daya kekuatan (Kis 1:8), oleh karena itu merefleksikan dan menelaah kisah Stefanus ini kiranya sangat bermakna bagi orang kristen, dan bisa menjadi model gaya hidup Kristen yang berperan aktif dalam pelayanan terhadap masyarakat dan jemaat.
   


B.    Bebeberapa pertanyaan dapat kita diskusikan bersama.

1.     Apakah Roh Kudus masih berkarya dalam membangun karakter orang kristen saat ini, apakah buktinya?

2.     Teladan apa yang bisa kita ambil dari kisah Tokoh Stefanus ini bagi generasi muda sekarang dalam kaitannya dengan peran membangun jemaat dan bangsa?

3.   Mengapa Roh Kudus tidak meloloskan Stefanus dari lemparan batu?
Benarkah Roh Kudus tidak menolong?






Pnt. Yulce Moningka, SPAK; kembangkan sesuai konteks Jemaat.









Thema Umum Bulan Mei :   Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu Ketiga Mei 2015
Bacaan                        : I Tesalonika 1:1-10 (Buka Gali Alkitab - BGA)
Thema Khusus          :   



A.    Pengantar.

Dalam sejarah Alkitab, Tesalonika adalah Ibu Kota Makedonia salah satu Provinsi Kerajaan Romawi. Jemaat di Tesalonika didirikan oleh Paulus  sesudah ia meninggalkan kota Filipi (Kis 16:1-40). Belum beberapa lama Paulus berada di Tesalonika, ternyata orang-orang Yahudi yang iri hati mulai menentang usaha Paulus dalam memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Padahal banyak orang-orang non Yahudi mulai berminat kepada berita Injil yang disampaikan kepada mereka (Kis 17:5). Akhirnya Paulus meninggalkan Tesalonika dan pergi ke Berea (Kis 17:10).
Dalam perikop ini tergambar suasana hati Paulus yang dipenuhi oleh rasa syukur dan sukacita karena ternyata Jemaat tetap kuat dalam mempertahankan Iman mereka. Inti Surat I Tesalonika ini ditulis oleh Paulus adalah untuk mendorong dan terus memotivasi jemaat Tesalonika agar mereka terus mempertahankan Iman mereka yang baik kepada Tuhan.


B.    Gali Isi Alkitab Dalam I Tesalonika 1:1-10.

B.1   Apa yang kita baca tentang Jemaat di Tesalonika ? Berikan Pandangan kita.

Ø Paulus Bersyukur karena keadaan Jemaat Tesalonika yang masih tetap kuat dalam mempertahankan Iman mereka dan Paulus senantiasa mendoakan mereka (Ayat 2).
Ø Paulus senantiasa mengingat Jemaat di Tesalonika karena perbuatan-perbuatan baik yang mereka lakukan (Ayat 3).
Ø Jemaat Tesalonika telah menuruti Tuhan dengan segenap hati mereka bahkan telah menjadi teladan bagi semua orang (Ayat 6-7).
Ø Iman dan Perbuatan baik yang dilakukan oleh Jemaat Tesalonika telah tersiar dan tersebar ke mana-mana, bukan saja di Makedonia dan Akhaya, tetapi di semua tempat  (Ayat 8)
Ø Jemaat di Tesalonika benar-benar telah meninggalkan berhala-berhala mereka dan percaya kepada Allah serta melayaniNya sambil terus menantikan kedatangan Tuhan  (Ayat 10).

B.2.  Apa yang kita Baca tentang Roh Kudus ?  Berikan Pandangan kita.

Ø  Roh Kudus memberikan kekuatan baik bagi Paulus maupun bagi Jemaat untuk terus dan tetap melayani Tuhan meskipun keadaan sangat sulit. Roh Kudus memberikan sukacita bagi Paulus dan Jemaat di Tesalonika meskipun mereka senantiasa berada dalam ancaman (Ayat 5).

B.3.  Pelajaran apa yang dapat kita petik dari perikop I Tesalonika 1:1-10 bandingkan Kis 17:5 ?  Berikan Pandangan Kita.

Ø  Kita tidak boleh Iri hati dan dengki kepada orang-orang yang suka melakukan kebaikan apalagi kepada orang-orang yang suka melayani Tuhan.
Ø  Kita harus belajar menjadi Jemaat yang dapat dijadikan teladan oleh orang lain dalam hal melayani Tuhan dan keteguhan Iman.
Ø  Kita harus berani dan belajar untuk meninggalkan berhala-berhala modern (Berikan contoh-contohnya) yang seringkali menjauhkan kita dari Tuhan.
Ø  Kita harus bersabar menantikan Tuhan sambil terus melayaniNya, meskipun banyak tantangan yang kita hadapi ketika kita melayani Tuhan.



-------Selamat Melayani Tuhan-------


Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, STh; dapat dikembangkan sesuai konteks Jemaat.





Thema Umum Bulan Mei :   Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu Keempat Mei 2015
Bacaan                        : Kisah Para Rasul 13:1-13
Thema Khusus          : “Roh Kudus Memberi Kuasa Untuk Menjadi Saksi”


A.    Pengantar.

Sebelum peristiwa Pentakosta atau pencurahan Roh Kudus, khususnya para Murid Yesus yang selanjutnya disebut Rasul-rasul diliputi oleh ketakutan yang besar untuk memberitakan Injil. Jangankan untuk memberitakan Injil, keluar rumah dan bergabung dengan masyarakat luas saja mereka tidak memiliki keberanian sama sekali. Pada masa Pra-Pentakosta Lebih banyak waktu mereka dipakai untuk bersembunyi.
Tetapi satu hal yang sangat menarik setelah Peristiwa Pentakosta, rasa takut dari para murid berubah menjadi sebuah keberanian yang luar biasa untuk memberitakan Injil. Kebiasaan bersembunyi pada masa-masa sebelum Pentakosta kini berubah menjadi tindakan yang terang-terangan di mana para Rasul berani memberitakan Injil secara terbuka di depan umum. Sedikitpun tidak ada rasa takut, bahkan mereka berani berhadapan dengan para penguasa demi supaya berita Injil itu dapat didengar, diketahui dan dipercayai oleh semua kalangan.
Sejak Peristiwa Pentakosta, Jemaat-jemaat yang baru terbentuk sudah mulai melakukan pekerjaan Misi penginjilan secara teratur dan terorganisir dengan baik (Ayat 1-3). Kenyataan-kenyataan yang baru sehubungan dengan konsep Misi penginjilan ini menimbulkan pertanyaan : “Apakah yang mendrive (Menggerakkan) para Rasul dan Jemaat yang masih muda ini sehingga terjadi perubahan-perubahan sikap radikal seperti itu?” Rasa takut kini berubah menjadi berani. Dari yang terpecah-pecah menjadi terorganisir dan berjalan lebih teratur.
Jika kita membaca dan memahami dengan baik perikop Kisah Para Rasul 13:1-13, maka semakin jelaslah bagi kita bahwa Driver atau penggerak dari semua bentuk perubahan-perubahan sikap dan pandangan tentang Misi dilingkungan Para Rasul dan Jemaat adalah kuasa Roh Kudus.


B.    Pokok-pokok Isi Khotbah – Aplikasi.

1.     Begitu besarnya Peran Roh Kudus bagi Para Rasul dan Jemaat-jemaat sehingga   pekerjaan penginjilan berjalan begitu luas bukan saja terbatas pada lingkungan orang-orang Yahudi tetapi keluar melampaui  lintas batas lingkungan Yahudi. Perikop Bacaan menyebutkan  beberapa tempat penting  yaitu : Anthiokia, Seleukia, Siprus, Pafos, Perga dan tempat-tempat lain.

2.     Oleh peranan Roh Kudus berita Injil disampaikan bukan saja kepada orang-orang biasa, tetapi juga kepada para penguasa dan mereka menjadi percaya (Ayat 12).

3.     Pekerjaan Pelayanan dan Penginjilan  yang terorganisir dengan baik dan dilandasi oleh semangat Persekutuan juga menjadi kunci di mana Roh Kudus mau menyatakan kehendakNya. Roh Kudus mengarahkan  untuk melakukan apa yang dikehendakiNya dan apa yang seharusnya dilakukan (Ayat 2 dan 4). Roh Kudus adalah Roh Allah, Roh Kristus yang senantiasa mempersatukan, sehingga di mana terdapat Persektuan yang Indah, maka di sana Roh Kudus pasti akan bekerja dan menyatakan kuasa serta kehendakNya.

4.     Gereja, Jemaat  perlu memikirkan sebuah sistem pelayanan yang terorganisir dengan baik dan tidak terpecah-pecah. Pembagian-pembagian tugas yang jelas di mana masing-masing pelayan dan jemaat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka Roh Kudus akan bekerja di dalamnya. Pelayanan perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan baik sehingga pelayanan Jemaat memiliki Otoritas, kewibawaan dan berita Injil bisa diterima oleh semua orang dari semua kalangan.

5.     Ketika masing-masing umat Tuhan dan Pelayan Tuhan memberikan dirinya untuk melayani Tuhan, maka Roh Kudus akan memberikan kuasa untuk menjadi saksi. Roh Kudus akan memberikan kemampuan kepada Jemaat untuk dapat melakukan perkara-perkara yang besar dalam pelayanan (Ayat 9-12).



------Selamat Melayani------

Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, STh; Kembangkan sesuai konteks Jemaat.







Thema Umum Bulan Mei :   Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu Kelima Mei 2015
Bacaan                        : Roma 8:13-14
Thema Khusus          : “Roh Kudus Mengubah Hidup dan Cara Kita Melayani Tuhan”


A.    Pendahuluan.

Pengetahuan kebanyakan orang Kristen tentang Roh Kudus sangat kurang. Kebanyakan khotbah adalah mengenai Allah Bapa dan Allah Putra, sedang khotbah mengenai Roh Kudus sangat jarang. Dalam hal esensi, Roh Kudus sama dengan Allah Bapa dan Allah Putra. Adalah kehadiran Roh Kudus atau ketidakhadiran-Nya dalam kehidupan seseorang yang membedakan seseorang hidup secara rohani atau mati secara rohani. Kelahiran baru atau kelahiran rohani seseorang adalah karya Roh Kudus dalam dirinya (Yohanes 3:1-8). Roh Kudus adalah Pribadi ketiga Allah Tritunggal: Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus. Roh Kudus bukanlah suatu bayangan atau roh halus yang samar-samar, bukan pula suatu kekuatan atau pengaruh gaib yang samar-samar. Roh Kudus adalah Pribadi yang memiliki kepribadian, yang memiliki "pemikiran" (yang mengetahui apa yang dipikirkan manusia -- 1 Korintus 2:11), memiliki "perasaan" (Ia mengasihi -- Roma 15:30), dan memiliki "kemauan" (yang mengerjakan atau melaksanakan segala sesuatu menurut kemauan-Nya -- 1 Korintus 12:11). Roh Kudus adalah Pribadi yang dalam segala hal sama dengan Allah Bapa dan Allah Putra. Keseluruhan sifat ilahi Allah Bapa dan Allah Putra ada pada-Nya.
Roh Kudus adalah Roh Allah, karena itu Roh Kudus adalah Roh Kehidupan (Roma 8:2, "Roh yang memberi hidup"), Roh Kebenaran (Yohanes 16:13, "apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran"), Roh Kasih Karunia (Ibrani 10:29), Roh Kekudusan (Roma 1:4). Fungsi-Nya atau peranan-Nya adalah "mengajar dan menguatkan" (Yohanes 14:26), "mendiami" batin setiap orang percaya (1 Korintus 3:16), "menuntun" ke dalam seluruh kebenaran, dan memberitakan hal-hal yang diterimanya dari Kristus (Yohanes 16:13, 14).

B.    Pokok-pokok Khotbah – Aplikasi.

1.     Roh Kudus Mengubah Hidup Kita.
Ciri yang harus ada pada diri anak-anak Allah adalah pimpinan Roh Allah dalam kehidupan mereka (8:14). Bila Roh Allah memimpin hidup kita, hidup kita pasti berubah. Perhatikanlah perubahan hidup yang terjadi pada diri murid-murid Tuhan Yesus antara sebelum dan sesudah Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta. Sikap para murid berubah dari sikap mementingkan diri sendiri menjadi sikap rela menanggung risiko, bahkan rela mati demi mempertahankan iman. Perhatikanlah perubahan hidup yang terjadi pada diri Rasul Paulus antara sebelum dan sesudah dia bertobat. Sebelum bertobat, dia adalah penganiaya jemaat. Sesudah bertobat, dia adalah seorang yang berusaha keras memberitakan Injil dan membangun jemaat, sambil tetap bekerja keras membuat kemah agar tidak menjadi beban bagi jemaat yang dia layani.
Dalam sejarah gereja, kita menemukan banyak orang yang hidupnya berubah secara total saat Roh Kudus mengubah hidupnya. Roh Kudus sanggup mengubah seorang yang tadinya adalah seorang pembunuh atau penipu atau koruptor menjadi seorang yang rela berkorban untuk kepentingan pemberitaan Injil. Roh Kudus sanggup mengubah seorang yang egois menjadi seorang yang murah hati. Roh Kudus sanggup mengubah seorang yang semula gagap dalam berbicara menjadi seorang yang fasih dalam berkhotbah.
Pada masa kini, salah satu bahaya terbesar bagi gereja adalah bila kehidupan bergereja berubah menjadi rutinitas yang amat sibuk, namun tidak menghasilkan perubahan hidup. Amat berbahaya bila orang Kristen mulai mencari khotbah yang enak didengar dan tidak berusaha mengoreksi diri untuk menampilkan hidup yang berubah!

2.     Roh Kudus Memberikan kebahagiaan dalam melayani.

Orang-orang percaya, bukan saja berbahagia karena didiami Roh Kudus, tetapi berbahagia terutama karena adanya komunikasi antara kita dengan Roh Kudus. Sesungguhnya, yang memberikan kebahagiaan abadi kepada kita adalah komunikasi kita dengan Roh Kudus. Sejak saat kita percaya sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus, mulailah Roh-Nya mendiami roh kita, dan Ia akan tinggal bersama kita untuk selama-lamanya. Akan tetapi, kebahagiaan abadi kita, kita peroleh dari kehidupan kita yang "berkomunikasi" dengan Dia. Sehingga, secara singkat, dapatlah dikatakan "kediaman" Roh Kudus dalam roh kita adalah "kehadiran kekal" Allah dengan kita. Sedang "pemenuhan" Roh Kudus atas kita adalah keadaan "saling komunikasi" antara Allah dengan kita. Sesungguhnya kebahagiaan kita, orang-orang percaya, diperoleh dari komunikasi terus-menerus kita dengan Allah. Begitu banyak orang Kristen, yang walaupun sudah benar-benar lahir baru dalam Kristus, tetapi terus-menerus merasa sengsara dalam kehidupannya. Mengapa? Karena komunikasi mereka dengan Allah adalah komunikasi secara mekanis saja. Tidak sungguh-sungguh.
Apabila Roh Kudus berkuasa atas hidup kita, maka kita akan mengalami kebahagiaan dalam melayani Tuhan. Kesulitan-kesulitan dalam pelayanan bersama akan dilihat sebagai bentuk penguatan sehingga Iman dalam melayani Tuhan menjadi semakin kokoh dan kuat.
Seperti halnya suatu kehidupan perkawinan yang memang menunjukkan suatu kebersamaan, tetapi tidak selalu berarti ada kebersamaan yang bahagia, tidak selalu berarti ada komunikasi mesra, tidak selalu berarti ada harmoni dalam pemikiran dan perasaan antara suami istri. Demikian pula banyak orang Kristen yang hidup bersama dengan Allah, tetapi tidak berkomunikasi dengan Dia. Dalam kebaktian-kebaktian gereja, tampaknya hubungan mereka dengan Allah beres-beres saja, tetapi kenyataan yang sesungguhnya adalah sudah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan mereka tidak lagi berkomunikasi dari hati ke hati dengan Allah. Sehingga tidaklah mengherankan apabila kehidupan keseharian mereka dipenuhi dengan frustrasi dan ketidakmampuan dalam melayani.
Kunci kebahagiaan orang-orang percaya tidak saja terletak dalam kebersamaan kita dengan Allah melalui Roh Kudus-Nya. Bahkan tidak saja terletak pada pengintegrasian (Penyatuan) emosional antara kehendak kita dengan kehendak Allah, tetapi pada "pergantian" dari kehendak kita kepada kehendak Allah. Karena apabila kita mencoba mengizinkan kedua kehendak (kehendak kita dan kehendak Allah) menguasai kehidupan kita, maka hasilnya adalah kehidupan Kristen yang frustrasi. Apabila kita mengizinkan kehendak kita bersaing dengan kehendak Allah atas kehidupan kita, maka Roh Kudus tidak dapat memenuhi kehidupan kita. Apabila kita dipenuhi oleh diri kita, Roh Kudus tidak dapat memenuhi diri kita, sebagaimana kita tidak dapat memenuhi sebuah gelas sepenuhnya dengan susu dan sepenuhnya dengan air. Roh Kudus hanya dapat memenuhi kehidupan kita apabila kita mengesampingkan kehendak dan cita-cita kita dan bersuka cita dengan peranan kita sebagai pelayan-pelayan dan Jemaat Allah. Mentaati kehendak Allah berarti menjalani kehidupan Kristen yang benar dan berkenan kepadaNya. Komunikasi yang hidup dan terus menerus dengan Allah melalui Roh Kudus akan memungkinkan semua umat Tuhan akan mengalami sebuah kehidupan yang diubahkan. Komunikasi yang terus menerus dengan Allah melalui Roh Kudus akan memungkinkan semua pelayan dan Jemaat Tuhan tidak lagi melihat pekerjaan pelayanan bersama sebagai beban tetapi pelayanan bersama akan dilihat, dipahami dan dilakukan sebagai sebuah kebahagiaan, Amin.


Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, STh; Kembangkan sesuai konteks Jemaat.



Thema Umum Bulan Juni :  Keluarga Kristen Membangun Komunikasi
Minggu Pertama Juni 2015
Bacaan                 :    2 Sam 13:1-22   (Pemahaman Alkitab – PA)
Thema Khusus   :    “Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohon”


A.    Pengantar.

Tema ini merupakan istilah yang tidak asing lagi yg menggambarkan kehidupan orang  tua dan anak.  Suatu hal yang harus kita ketahui  bahwa dalam diri manusia ada 2 sisi kehidupan yaitu baik dan buruk ,  dan seorang anak pun memiliki kesempatan untuk mengikuti keduanya atau diantaranya. Suatu hal yang perlu kita waspadai  ialah ketika sikap buruk orang tua yang  memberi pengaruh besar dalam kehidupan sang anak.
Pembacaan kita menceritakan tentang kehidupan anak-anak  Daud  yang  melakukan tindakan yang buruk . Hal ini tidak terlepas dari kehidupan Daud di masa lalu yang merusak keluarga Uria  dengan  mengambil  istrinya  (Batsyeba) dengan cara yang licik sangat licik dan kejam.
Kehidupan yang baik dari Daud ternyata tidak menjadi pilihan  cara hidup anak-anaknya,  melainkan sebaliknya. Masa lalu  Daud yang buruk telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anaknya juga.
Yang ada hanyalah sebuah penyesalan dan kemarahan yang dialami oleh  Daud.   masa lalu Daud  yang buruk yang telah  melemahkan  Daud dalam mendisiplinkan anak-anaknya serta menghilangkan wibawanya untuk menegur  moral buruk yang dilakukan oleh anak-anaknya .
Sebagai orang tua kita tentu tidak menginginkan hal yang dialami oleh Daud  terjadi  dalam kehidupan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus menemukan cara untuk meminimalisir, mengurangi jika ada sikap-sikap buruk yang kita miliki sebagai orang tua,  agar sikap-sikap buruk yang mungkin  kita miliki tidak menjadi contoh contoh yang merusak dan menghancurkan masa depan anak-anak kita.

B.    Pertanyaan untuk didiskusikan.

1.     Sifat- sifat  buruk apa saja yang  pernah kita jumpai  dan kerap kali ditiru oleh anak-anak kita?  Pertanyan Umum
2.     Selaku anak  atau  seorang yang belum berkeluarga apa yang anda  akan lakukan untuk mencegah  agar sikap-sikap  buruk yang kerap kita lakukan tidak dicontohi oleh anak-anak ?   Pertanyaan bagi pemuda
3.     Selaku orang tua, Jika mungkin kita telah terlanjur memberikan contoh yang buruk bagi anak-anak, apa yang  harus kita  lakukan ?   Pertanyaan bagi Orang tua

C.    Refleksi dan Kesimpulan.

Dari Hasil Diskusi ada Beberapa hal pokok dan penting yang harus kita lakukan :

1.     Kata-kata kasar, kekerasan dan sikap-sikap buruk lainnya penting untuk dihindari.
2.     Keluarga  harus berani memohon ampun kepada Tuhan dan memperbaharui sikap hidup dan keteladanan kita terhadap anak-anak.
3.     Harus jujur mengakui  kesalahan, kelemahan dan kekurangan kita di masa lalu dan berani melakukan perubahan-perubahan cara hidup yang lebih baik dan dapat diteladani bukan saja oleh anak-anak kita, tetapi juga oleh orang lain yang berada disekitar kita.
4.     Harus berani menegur tindakan buruk yang dilakukan oleh anak
5.     Menunjukan Perubahan hidup yang positif
(Dapat ditambahkan dari  Hasil diskusi jemaat)

Tema bulan ini membimbing kita pada komunikasi  yang  kristiani dalam sebuah keluarga.  Tindakan-tindakan di atas inilah  yang merupakan  cara berkomunikasi  dalam keluarga. Mengkomunikasikan setiap tindakan di atas  merupakan usaha untuk membangun masa depan generasi menjadi lebih baik, yaitu generasi yang memiliki kerohanian  yang berkualitas.
Setiap tindakan baik dan buruk memiliki potensi untuk berkembang dan berpindah dalam kehidupan orang-orang yang kita kasihi. Oleh karena itu setiap hal yang baik penting dan harus terus dipupuk agar dapat berbuah manis dan setiap hal yang buruk dipangkas sedikit  demi  sedikt  agar dari dalamnya dapat tumbuh tunas baru yang lebih baik. Amin
“ setiap hal yang buruk dapat kita hindari jika kita memutuskan mengambil tindakan yang benar dan baik ”


Silva, SPAK, Kembangkan sesuai konteks Jemaat.







Thema Umum Bulan Juni :  Keluarga Kristen Membangun Komunikasi
Minggu Ketiga Juni  2015
Bacaan             :    Mazmur 133:1-3  (Buka Gali Alkitab - BGA)
Thema Khusus   :   


A.    Pendahuluan.

Di satu daerah wilayah konflik, petugas keamanan membentangkan spanduk di mana-mana dengan tulisan “ Damai Itu Indah “ atau “ Ternyata Damai Itu Indah “. Seorang tokoh politik dari Negara kita berkata, “ Damai atau kerukunan adalah sesuatu yang mahal dan langka “. Setiap hari kita disuguhi berita-berita tentang perselisihan, perseteruan, ketidak harmonisan bahkan kerusuhan dan peperangan. Bahkan kalau kita mempelajari sejarah, kita akan tahu bahwa lebih dari separuh sejarah dunia adalah sejarah peperangan.

B.    Tafsiran Perikop.

Bangsa Israel pada zaman dahulu mempraktekan hidup komunal ( berkelompok ) dalam keluarga besar. Misalnya : Tanah warisan dikerjakan bersama dan dinikmati bersama. Ternak ( Kambing, Domba, dan lain-lain ) adalah milik bersama, digembalakan bersama, dan hasilnya dinikmati bersama dalam keluarga besar. Inilah keindahan persekutuan, walaupun sistim ini mengandung potensi konflik. ( Contoh : Konflik antara hamba-hamba Abraham dan Lot memperebutkan padang rumput yang menyebabkan Abraham dan Lot berpisah ).
Mazmur 133 ini, mengungkapkan adanya dua manfaat dan berkat dari kerukunan itu. Pertama, “ Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut .”
Mengurapi kepala dengan minyak, merupakan tradisi orang Timur Tengah, terutama ketika upacara perjamuan atau pelantikan seorang imam. Mungkin, karena iklim yang panas, badan manusia sering mengeluarkan bau yang tidak sedap, maka peranan minyak wangi ( parfum ) seperti minyak narwastu yang sangat mahal itu, sangat diperlukan. Minyak yang wangi melambangkan nama baik dan kemasyuran. Keluarga ataupun masyarakat yang hidup rukun, harmonis, utuh dan bersatu adalah seperti minyak yang wangi dan baik, yang harum, yang  masyur, yang mempunyai nama baik, mempunyai harga diri dan menjadi berkat.
Buah kerukunan kedua ialah, “ Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.”
Tanah yang dibasahi embun pastilah gembur, di mana buah-buahan dan berbagai jenis tanaman tumbuh subur. Embun gunung Hermon melambangkan kesuburan, kemakmuran serta kelimpahan. Kelimpahan panen adalah sumber kemakmuran sebuah bangsa agraris.


C.    Pertanyaan Gali Alkitab.

1.     Dari perikop Mazmur 133 : 1 -3 ini, adakah perintah / janji / nasihat untuk kita ?
2.     Apakah yang dimaksud dengan hidup rukun ?
3.     Berkat apakah yang kita dapatkan dari kehidupan yang rukun ?



Catatan :        a. Rukun bukan hanya sekedar tidak berselisih, tidak berkelahi, tidak rusuh, tidak berbeda pendapat, atau tidak melakukan kekerasan.
                     Semua unsur dalam keluarga, harus secara aktif menciptakan suasana hidup rukun dengan mengasihi, mengampuni, memberi perhatian, menghargai, menolong, menasehati, memberi semangat, membangun komunikasi dan menunjukkan keteladanan.
                         b.   Apa yang terjadi jika Mazmur 133 : 1a kita terjemahkan dalam kalimat negatif,” Sungguh alangkah tidak baiknya dan tidak indahnya bila saudara-saudara diam bersama dengan tidak rukun.”
                         c.   Buah dari persekutuan Keluarga yang  rukun adalah keberhasilan dalam usaha, pekerjaan, ketenteraman, damai sejahtera dalam keluarga.



Pdt. Yarman Mosau, STh; kembangkan sesuai konteks Jemaat.
                        



Thema Umum Bulan Juni :  Keluarga Kristen Membangun Komunikasi
Minggu  Keempat Juni 2015
Bacaan                 :    I Raja-raja 2:1-9   (Buka Gali Alkitab - BGA)
Thema Khusus   :   


A.    Pengantar.

Perikop I Raja-raja 2:1-9  berbicara tentang masa-masa terakhir dari kehidupan Raja Daud.  Pada pasal  ini Raja Daud menyampaikan hal-hal penting sehubungan dengan masa kepemimpinannya dan penyerahan tongkat estafet tugas kepemimpinan dari dirinya kepada Salomo anaknya.
Sebagai seorang pemimpin sekaligus dalam  statusnya sebagai seorang ayah bagi Salomo, apalagi selama  40 tahun masa kepemimpinannya sebagai seorang Raja Israel Raya, Daud telah mengalami berbagai ssituasi pasang surutnya suhu politik yang terjadi ditengah-tengah perjalanan kehidupan Israel sebagai sebuah bangsa. Segala strategi serta kebijakan telah ditempuh oleh Daud untuk membawa bangsa Israel untuk menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan berwibawa diantara bangsa-bangsa yang ada disekitarnya. Dengan segudang pengalaman sebagai seorang pemimpin, sebagai seorang Raja, maka secara alamiah ia harus mengakhiri seluruh tanggung jawabnya lalu menyerahkan tahta kerajaan kepada orang yang dianggap tepat.
Untuk itu Raja Daud mempersiapkan Salomo dengan sebaik-baiknya, agar kelak ketika ia memerintah Israel, ia dapat melakukan tugas dan tanggung jawab itu dengan sebaik-baiknya, agar bangsa itu tetap taat dan takut akan Tuhan sebagai kunci kokoh dan kuatnya Kerajaan Israel. Daud melaksanakan peran serta tanggung jawabnya dengan baik sebagai orang tua. Daud melakukan proses pengkaderan bagi Salomo dan menanamkan nilai-nilai yang baik  agar kelak anaknya Salomo dapat  menjadi seorang pemimpin yang baik dan umat Allah diberkati.
Sebagai orang tua yang baik dan bijaksana, kita juga bertanggung jawab untuk mempersiapkan anak-anak kita, agar sebelum kita meninggal dunia, dalam diri anak-anak kita telah tertanam nilai-nilai kehidupan yang baik dan benar. Kita juga memiliki harapan-harapan akan masa depan yang cemerlang bagi anak-anak kita melalui kesanggupan mereka dalam berkarya. Kita berharap bahwa anak-anak kita dapat mengembangkan kreativitas dan karya-karya yang jauh lebih baik dari apa yang pernah kita lakukan.
Secara umum tidak satupun orang tua memiliki cita-cita kehancuran bagi anak-anaknya. Setiap orang tua seharusnya berpikir tentang masa depan anak-anak yang penuh harapan di mana kehidupan mereka jauh lebih baik dari apa yang kita alami.


B.    Gali Isi Alkitab.

1.     Berbicara tentang harapan masa depan anak-anak, Adakah bagian Alkitab 1 Raja-raja 2:1-9 yang berbicara tentang        Nasehat untuk masa depan? Berikan Pandangan kita.

2.     Ayat-ayat Alkitab mana saja yang menurut Saudara berkesan bagi saudara pribadi maupun bagi keluarga? Berikan      Pandangan kita.


C.    Kesimpulan.


Sangat keliru dan fatal apabila ada orang tua yang berharap bahwa anak-anaknya akan hidup dengan masa depan yang jauh lebih buruk dari dirinya. Lebih fatal lagi jika ada orang tua yang mengharapkan masa depan anak-anaknya tetapi mereka sama sekali tidak mempersiapkan hal-hal yang baik bagi anak-anak.
Jika kita ingin melihat, mengalami dan menikmati hal-hal yang baik, maka mulai sekarang taburlah hal-hal yang baik dalam kehidupan anak-anak kita. Apabila kita mengharapkan kehidupn anak-anak kita lebih baik dari kehidupan kita sekarang, maka tambahkanlah kerja keras, ketekunan serta minat yang lebih besar dalam menanamkan hal-hal yang baik bagi anak-anak kita.
Bagi keluarga-keluarga yang mempunyai anak-anak perempuan, tentulah mereka mengharapkan anak-anak perempuan mereka menjadi perempuan yang baik. Bagi keluarga-keluarga yang memiliki anak-anak laki-laki tentulah mereka mengharapkan anak-anak laki-laki mereka dapat ,menjadi laki-laki yang baik. Oleh karena itu seiring dengan harapan-harapan yang ada dalam pikiran kita, maka pada saat yang sama juga dibuthkan usaha-usaha  yang baik sehingga setiap harapan tentang masa depan anak-anak kita dapat terwujud dengan baik. Amin.



Pdt. Nurlian Wati Lengka, STh; kembangkan sesuai konteks Jemaat.





Team Penulis Khotbah, PA Dan BGA Bulan Maret-Juni :

1.      Pdt. Onesimus Lantigimo, MTh
2.      Pdt. Margaretha Tandumai, STh
3.      Pdt. Doni Semuel Randabunga, STh
4.      Pdt. A.Y. Sapasuru, STh
5.      Pdt. Hertince Dondo, SPAK
6.      Pdt. Feri Sentje, STh
7.      Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, STh
8.      Pdt. Arcun Baleona, SmTh
9.      Pdt. Harun Dike, STh
10.   Pdt. Yarman Mosau, STh
11.   Pnt. Yulce Moningka, SPAK
12.   Sdri. Silva, SPAK
13.   Pdt. Nurlian Wati Lengka, STh





















Explosion 1: Siap Sedialah, beritakanlah Firman, baik atau tidak baik waktunya
 

















































.....BERDOALAH SENANTIASA UNTUK TUGAS-TUGAS PEMBERITAAN FIRMAN AGAR SETIAP FIRMAN ALLAH YANG DIBERITAKAN DAPAT MENJADI BERKAT BAGI BANYAK ORANG.......


 





















                                                                       





 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar