Thema
Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu
Kedua Maret 2015
Bacaan : Matius 11:1-30 (Pemahaman Alkitab - PA)
Nats :
A.
Pemahaman Nats.
Perikop Matius
11:1-30 adalah bagian Alkitab yang sangat terkenal dalam Perjanjian Baru. Bagian ini merupakan bagian dari pekerjaan
pelayanan Tuhan Yesus disekitar masyarakat Yahudi yang berada disekitar Galilea
terutama masyarakat yang berdomisili dipesisir Danau Galilea. Perikop ini
berisi tentang berbagai pandangan negative yang ditujukan kepada Tuhan Yesus
oleh para tokoh-tokoh agama yang kurang menyukai karakter serta
pengajaran-pengajaranNya kepada orang banyak. Selanjutnya berisi tentang
penilaian Tuhan Yesus terhadap penduduk dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang sama
sekali tidak mau percaya akan pemberitaanNya meskipun Tuhan Yesus telah
melakukan banyak Mujizat di depan mata mereka (Ayat 14-24).
Dalam
ayat-ayat ini Tuhan Yesus juga
menyampaikan akibat-akibat fatal yang akan dialami oleh orang-orang yang
tinggal di kota-kota pesisir Galilea pada hari penghakiman yang akan datang.
Inti berita
dalam perikop ini berada pada akhir perikop yaitu pada ayat 28-30 di mana Tuhan
Yesus memberikan garansi atau jaminan kelegaan kepada orang-orang yang dengan
sukacita mau datang kepadaNya. Inti Berita yang disampaikan oleh Tuhan Yesus
tentang kelegaan sekaligus merupakan proklamasi tentang pembebasan yang
disediakanNya. Dalam teks bacaan Matius 11:1-30 setidaknya ada 2 (dua) hal yang
sangat mendasar mengapa berita pembebasan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus menjadi
sangat penting :
1.
Saat
berita pembebasan (“Marilah KepadaKu
semua yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan memberi kelegaan
kepadamu”) disampaikan, pada saat yang
sama pula bangsa itu sedang berada dibawah tekanan Imperiusm Romawi, sehingga
berita tentang pembebasan menjadi sangat penting bagi mereka.
2.
Saat
berita pembebasan itu disampaikan, keadaan umat manusia sedang berada dalam
belenggu dosa yang sangat besar. Bagi umat manusia yang menyadari kuasa dosa
sedang berlangsung atas umat manusia, maka pada saat yang sama berita
pembebasan yang memberikan kelegaan itu menjadi sangat penting.
Oleh karena itu
ketika umat Tuhan dan umat manusia berada dalam keadaan terbelenggu dengan
beratnya beban pergumulan baik karena dikuasai oleh orang lain maupun karena
dikuasai oleh dosa, maka pembebasan, perasaan lega dan lepas dari beban menjadi
kebutuhan yang sangat pokok dan penting.
B.
Pertanyaan
Diskusi.
B.1. Apakah kita sungguh-sungguh telah mengalami
kelegaan dan pembebasan dari tekanan kuasa dosa?
B.3. Di manakah Perbedaan antara Kuk Iblis dan Kuk
yang diberikan oleh Tuhan Yesus?
B.3. Apakah artinya jika kita sedang memikul kuk
yang diberikan oleh Tuhan Yesus?
C.
Kesimpulan
Diskusi.
1. Kelegaan dan
pembebasan yang disediakan oleh Tuhan memang telah sempurna melalui kematian
dan kebangkitanNya. Tetapi seringkali kita suka memikul beban-beban lain diluar
yang disediakan oleh Tuhan. Akibatnya maka sering kali kita kehilangan
sukacita, kehilangan kelegaan dan kehilangan begitu banyak waktu-waktu yang
indah bersama Tuhan.
2. Kuk yang
dipasang oleh Iblis sangat berat. Penuh dengan beban-beban yang membawa
kehancuran bagi kehidupan kita. Sedangkan Kuk yang dipasang oleh Tuhan sangat
ringan dan memberikan masa depan yang penuh dengan pengharapan.
3.
Ketika
kita memikul kuk yang dipasang oleh Tuhan Yesus itu berarti kita sedang memikul
tanggung jawab melayani dan memberitakan berita pembebasan dan kelegaan itu
kepada orang lain. Kuk yang berisi tanggung jawab sangat itu ringan jika
dipikul bersama Tuhan. Di tengah-tengah
banyaknya orang-orang memilih untuk memikul kuk yang dipasang oleh Iblis, kita
senantiasa terpanggil untuk memikul tanggung jawab yang diberikan oleh Tuhan
sebagai jawaban Iman atas sengsara, pembebasan, pemulihan dan kelegaan yang
telah diberikanNya kepada kita melalui sengsara, kematian dan kebangkitanNya
bagi kita.
Pdt. I Wayan
Norsa Adiwijaya, STh; kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema
Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu
Ketiga Maret 2015
Bacaan : AMSAL 2:1 – 22 (Dialogis)
Nats :
A.
Pendahuluan.
Amsal
berasal dari bahasa Ibrani “MESHAI” yang artinya ucapan-ucapan bijak,
perumpamaan atau peribahasa atau hikmat. Kitab amsal adalah suatu kumpulan
ajaran dalam bentuk petuah, peribahasa dan pepatah. Kebanyakan diantara
menyangkut persoalapersoalan yang timbul dalam hidup sehari-hari. Kitab ini
mulai dari peringatan ini : “untuk memperoleh pengetahuan, orang harus
pertama-tama mempunyai rasa hormat, dan takut kepada Tuhan”. Selain tentang
cara-cara hidup yang baik, Kitab ini juga mengajar orang untuk memakai pikiran
sehat dan bersopan santun.
Amsal pasal 2 bacaan kita saat ini merupakan ajakan orang tua kepada anaknya ( ayat 1 ) untuk mengajar dan mencamkan
ajaran hikmat, karena dengan beroleh hikmat akan muncul pengenalan akan Allah.
Sebab Allah sendirilah sumber hikmat itu. Hikmat itu akan menuntun anak berlaku
jujur , tidak bercelah, adil, benar dan setia, sehingga akan langgeng kehidupannya. Sebaliknya tanpa hikmat,
seseorang akan berlaku jahat, hidup penuh tipu muslihat, melakukan sesuatu yang
tidak diinginkan sesame dan terlebih Allah, sehingga hidupnya penuh dengan
pergumulan dan menjauh dari Allah.
B.
Bahan Diskusi :
1. Masing-masing
membaca ayat 11 – 17, kemudian memberi
komentar atau pendapat apa makna yang didapatkan dari ayat-ayat tersebut ?
2. Apa
yang kurang dari muatan/isi pendidikan kita selama ini sehingga banyak orang
yang terpelajar tetapi teryata tidak berhikmat?
Pdt. Feri Sentje, STh; Selamat melayani
Tuhan Yesus Memberkati.
Thema
Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu
Keempat Maret 2015 (Alternative 1)
Bacaan : Markus 14 : 32 – 36
(Dialogis)
Thema Khusus :
A. Pengantar.
Teks bacaan kita saat ini adalah salah satu bagian dari kisah masa –
masa sengsara Tuhan Yesus dalam mau menyelesaikan Karya Penyelamatan-Nya di
bumi ini. Di sini sangat jelas diuraikan bahwa ternyata pada saat – saat itu
Tuhan Yesus sangat mengalami yang namanya sengsara. Atau biasa disebut pergumulan
berat, dalam Injil Lukas 22 : 44 Di jelaskan peluhnya sampai berbentuk
tetesan – tetesan darah.
Berada pada posisi hidup yang sengsara adalah keadaan yang sama sekali
tidak dinginkan oleh siapapun manusia. Berdasarkan fakta yang ada, berbagai
upaya dilakukan oleh manusia agar sekiranya dapat keadaan sengsara itu tidak
akan pernah muncul disepanjang perjalanan hidupnya. Sampai pada melakukan hal –
hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan pun jika itu memungkinkan pasti
dilakukannya.
Padahal sesuai dengan realita kehidupan, setiap waktu, setiap saat
manusia tidak pernah luput dari yang namanya sengsara tersebut. Karena keadaan
hidup yang sengsara dicari atau tidak pasti suatu saat akan dihadapi oleh
manusia. Dan jika kita mau jujur, besar atau kecil yang namanya sengsara, pasti masing – masing kita, baik secara pribadi,
keluarga, dan dalam persekutuan dengan jemaat sudah pernah mengalami keadaan
tersebut.
B. Pertanyaan untuk
Percakapan.
1.
Apakah
hidup sengsara selalu berisi hukuman ataukah didikan dari Tuhan?, Jelaskan pemahaman anda.
2. Dari Firman Tuhan yang baru saja kita baca saat ini
bagaimanakah model kesengsaraan yang dialami dan dirasakan oleh Tuhan Yesus?
3.
Bagaimanakah
tanggapan saudara jika suatu saat ternyata keadaan sengsara itu justru anda
atau Keluarga anda yang mengalaminya.
C. Kesimpulan.
Sengsara yang berarti penderitaan dan kesusahan hidup adalah bagian dari
perjalanan hidup manusia dibumi ini dari waktu ke waktu tanpa henti sampai
Tuhan Datang meniadakannya. Tiada seorang pun manusia yang bisa luput dari keadaan sengsara tersebut sebab pada hakekatnya situasi sengsara
berwujud dalam berbagai bentuk dan keadaan seperti : Kelaparan, sakit penyakit,
permasalahan dalam rumah tangga, masalah ekonomi, relasi dengan sesama dan lain
sebagainya.
Jika saat ini atau suatu saat nanti kita harus berhadapan dengan masa –
masa sengsara, hendaklah kita tidak secepatnya berkata bahwa itu adalah hukuman
atau teguran dari Tuhan
Allah karena dosa yang telah kita perbuat atau dilakukan
oleh anggota keluarga kita. Karena tidak menutup kemungkinan itu adalah didikkan dari Tuhan agar
Iman percaya kita semakin kuat dan kokoh. Sebab
Tuhan sewaktu – waktu dapat menegur dan menghajar orang – orang yang
dikasihi-Nya. ( Bnd. Why. 3 : 19 ) Amin.
Pdt.
Harun Dike, STh
Catatan : Pertanyaan dan Kesimpulan dapat dikembangkan sesuai
dengan sikon jemaat masing – masing.
------Selamat berdialog------
Thema
Umum Bulan Maret : “KESENGSARAAN TUHAN DAN PENDIDIKAN”
Minggu
Keempat Maret 2015 (Alternative 2)
Bacaan : Lukas 19:28-40
(Khotbah)
Thema Khusus : “Damai dan Kasih Sayang Allah Bagi Kita”
Saudara-saudara yang diberkati Tuhan.
Berabad-abad lamanya orang Kristen telah memiliki Alkitab
dan membacanya. Tetapi tidak sedikit orang Kristen yang masih bingung dan
berpikiran bahwa Alkitab adalah sebuah barang aneh. Terasa aneh karena banyak
peristiwa-peristiwa yang sama tetapi cara penyampaiannya berbeda-beda oleh para
penulis kitab. Salah satu contoh yang
dapat dikemukakan di sini adalah kisah tentang “YESUS MEMASUKI KOTA YERUSALEM”.
Menurut
kesaksian Injil Lukas, bahwa yang menghamparkan pakaian di jalan dan
bersorak-sorai adalah murid-murid Yesus sendiri, sedangkan Injil Matius
memberikan kesaksian bahwa yang menghamparkan pakaian dan bersorak-sorai adalah
orang banyak yang sangat besar jumlahnya. Sambil bersorak-sorai, orang banyak
di kota Yerusalem juga melambaikan daun-daun Palma untuk menyambut kedatangan
Tuhan Yesus (Matius 21:8).. Lebih-lebih
lagi Injil Matius dan Lukas menyampaikan kesaksian bahwa Tuhan Yesus memasuki
kota Yerusalem menjelang akhir pelayanan atau pemberitaanNya. Sedangkan Yohanes
memberitakan bahwa Tuhan Yesus memasuki kota Yerusalem justru pada saat Ia
mengawali pelayananNya.
Penulis
kitab-kitab Injil adalah orang-orang yang jujur dengan isi pikiran dan cara
pandang mereka masing-masing. Apa yang mereka tulis dan pahami tentang sebuah
peristiwa bukanlah sebuah rekayasa. Tulisan merekapun tidak melalui proses
sensor yang disesuaikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan berita dengan
cara penulisan yang sama. Tetapi satu hal yang terpenting adalah bahwa para
penulis Injil mau menggambarkan tentang Siapa Yesus sebenarnya. Dengan cara dan
pemahaman masing-masing, mereka mau memberitakan satu hal atau pokok yang sama
yaitu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang penuh keberanian menurut
Matius, Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang penuh pengorbanan dan tabib
yang Agung menurut Lukas dan Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat yang penuh
kasih menurut Yohanes yang olehnya Yohanes disebut sebagai Rasul Kasih dalam
Alkitab.
Secara khusus
tentang Injil Lukas, khususnya perikop bacaan kita hari ini, sebetulnya Lukas
ingin menekankan tentang sosok yang penuh dengan kerelaan untuk berkorban.
Untuk melaksanakan Misi Allah Ia sama sekali tidak mundur dari semangat
berkorban.
Pada saat Ia
memasuki kota Yerusalem, Ia benar-benar telah mengetahui bahwa orang-orang yang
memusuhiNya telah siap menanti untuk membunuhnya. Para Politisi, penguasa dan
tokoh-tokoh agama Yahudi sedang menanti kedatanganNya di sarang orang-orang
kuat seperti mereka. Inilah saatnya Yesus akan dihancurkan dengan menggunakan
jerat-jerat hukum dan birokrasi yang berlaku.
Saudara-saudara
yang diberkati Tuhan.
Gentarkah Yesus
menghadapi tantangan ini? Ternyata Ia tidak gentar, Ia tidak menghindar sama
sekali. Ia siap menanggung resiko yang terberat sekalipun. Ia siap berkorban
demi Misi penyelamatan Allah bagi dunia. Ia mengerjakan apa yang harus
dikerjakanNya. Ia harus mengatakan apa yang seharusnya dikatakan. Dalam diri Tuhan Yesus Tidak pernah ada
konsep mundur di saat harus maju.
Lalu Pelajaran atau
pendidikan apa yang dapat kita petik dari karakter Yesus pada peristiwa ketika
Ia memasuki kota Yerusalem?
Pertama, Dalam perjalanan
kehidupan sebagai Gereja, sebagai Jemaat Tuhan, baik sebagai pemimpin maupun
warga Jemaat, betapa seringnya kita begitu takut menanggung resiko-resiko dalam
pelayanan. Mengkritisi apa yang dilakukan sehubungan dengan pekerjaan pelayanan
adalah hal yang terlalu biasa dalam kehidupan bergereja. Tetapi terjun secara
langsung secara optimal dalam pekerjaan itu menjadi sesuatu yang begitu sulit
bahkan jika perlu itu harus dihindari. Disaat kita seharusnya maju, tetapi kita
seringkali justru mundur ke belakang karena di depan banyak resiko. Di depan
banyak resiko yaitu resiko-resiko yang berbau pengorbanan, baik pengorbanan harta,
waktu, tenaga serta pikira. Ingat saudara untuk menghadirkan tanda-tanda
Kerajaan Allah membutuhkan keberanian dan kerelaan untuk berkorban. Sebab tanpa
keberanian untuk berkorban, maka tanda-tanda kerajaan Allah tidak akan pernah
hadir apalagi menjadi nyata dalam kehidupan kita dan dunia.
Kedua, Ciri yang seharusnya mewarnai kehidupan Gereja
atau Jemaat adalah “KERENDAHAN HATI”! Seringkali salah satu ciri yang harus dimiliki
oleh Gereja ini menjadi barang langka. Dalam Gereja tetap saja seperti terbangun
kelas-kelas atau strata-strata baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Ada
golongan politisi, golongan Manager, golongan Intelektual dan sebagainya.
Masing-masing golongan saling menunjukan pengaruhnya. Kelompok yang satu
mencoba untuk menggulingkan yang lain, maka yang menjadi korban adalah warga
gereja yang berada diluar kelompok-kelompok ini. Mereka yang “Tidak tahu
apa-apa” (Dalam Tanda Petik) akhirnya ikut mengalami akibat-akibat buruk dari
persaingan yang sama sekali tidak sehat ini. Persekutuan Retak, Misi bersama
menjadi gagal. Sebagian besar waktu, tenaga dan energy terkuras untuk melakukan
proses-proses rekonsiliasi atau perbaikan terhadap keadaan kisruh yang terjadi
dalam Jemaat.
Yesus memasuki
kota Yerusalem dengan style atau gaya sebagai seorang Raja, karena Dia memang
adalah Raja di atas segala Raja, King Of King, tetapi tidak seperti seorang
raja yang datang dengan segala kebesaran dan keangkuhannya. Sebagai seorang
Raja di atas segala Raja tidak memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai kuda
atau dengan kereta kebesaran. Ia memasuki kota Yerusalem hanya dengan
menunggang seekor Keledai. Ya Keledai adalah symbol atau lambang “Perdamaian
Dan Kasih Sayanng”. Keledai adalah Simbol atau Lambang “Kerendahan
Hati”.
Saudara-saudara
yang diberkati Tuhan.
Ketika
bayang-bayang kematianNya sudah begitu dekat, Tuhan Yesus masih mengingat orang
lain. Dari atas Keledai dan dalam
semangat kerendahan hati Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada penduduk
Yerusalem : “Selama ini mungkin kamu hanya mendengar tentang Aku. Tetapi kini,
kalian telah melihat sendiri. Aku adalah Raja diatas segala Raja, tetapi
lihatlah, Aku datang dengan kesederhanaan, Aku datang dengan menunggang seekor
Keledai. Aku datang dengan kelemahlembutan dan membawa kabar damai untukmu. Aku
datang untuk memulihkan kamu dari penyakit dosa yang selama ini membelenggu
hidupmu. Masihkah kamu menolak Aku?”
Inilah Pendidikan
dan teladan yang diberikan oleh Yesus bagi kita, bagi saudara dan saya.
Kerelaan serta keberanianNya untuk berkorban meski resiko kematian menghadang
kiranya menjadi Citra Jemaat Tuhan pada masa kini. Menghadirkan apalagi
mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah tidak bisa dilakukan hanya dengan
Retorika atau kata-kata belaka! Itu membutuhkan pengorbanan serta kerendahan
hati kita sama seperti Kristus.
Amin?........Amin.
Pdt. Ar.
Baleona, SmTh; Silahkan kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan April : Pertobatan Dan Pengampunan
Minggu Kedua
April 2015
Bacaan : Matius
18:21-35 (Dialogis)
Thema Khusus : “Mengampuni
Dengan Segenap Hati”
Jika pertanyaan Petrus diperhadapkan
kepada kita, kira-kira menurut perasaan kita berapa kali kita harus mengampuni saudara kita? (diberikan waktu kepada jemaat untuk
memberikan pendapatnya). Selain pendapat-pendapat yang kita telah berikan, kita
juga bisa melihat sekeliling kita. Mulai dari media massa sampai pada kehidupan
kita setiap hari, ada berbagai ungkapan yang kita temukan; “kami telah
mengampuni, namun proses hukum harus terus berlangsung”, ‘saya tidak mampu mengampuni
karena sudah terlalu sakit hati ini” dan pernyataan-pernyataan lain yang
menggambarkan ketidakmampuan kita untuk mengampuni. Bahkan dalam posisi kita
sebagai murid Yesus.
Pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang
berapa kali ia harus mengampuni saudaranya, tujuh kalikah? Sering mewakili
kita. Setidak-tidaknya menurut kita harus ada batasan untuk mengampuni. Atau
dalam hal apa saja perlu kita mengampuni. Namun jawaban Yesus sungguh di luar
dugaan. Yesus meminta kita untuk mengampuni saudara kita dengan tidak terbatas
dan dengan kualitas yang sempurna. Yesus mengatakan tujuh puluh kali tujuh kali. Dalam hal ini Yesus tidak berbicara
sekedar angka-angka, tetapi tujuh puluh kali tujuh berbicara tentang kualitas
sempurna (7 adalah angka yang sempurna) dan dalam jumlah yang tidak terhingga.
Artinya sebanyak kita mengampuni saudara kita, kualitas pengampunan itu harus
tetap sama. Bukan makin lama makin menurun.
Kemudian berpindah dari pertanyaan
Petrus kepada perumpamaan tentang pengampunan Allah. Yesus memberikan cerita
tentang orang yang berutang 10.000 talenta kepada raja (merupakan utang yang
tidak mungkin dibayar)
Pertanyaan
selanjutnya:
menurut kita mengapa orang yang sudah dihapus hutangnya tidak mau menghapus
hutang temannya yang sangat sedikit itu? (yang hanya 1% dari hutangnya). (beri
kesempatan jemaat memberikan pendapat).
Yesus memberitakan kehendak Bapa bahwa
kita sebagai murid-murid-Nya untuk meneladani kasih Bapa, walaupun sebenarnya
pengampunan kita berikan kepada sesama kita,
tidak seberapa dibandingkan dengan pengampunan yang kita terima. Tetapi
Allah menginginkan kita melakukannya dengan sepenuh hati.
Berikut ini sebuah kisah yang langka
namun patut kita renungkan secara mendalam:
Pertanyaan terakhir adalah mengapa
wanita tua ini mampu mengampuni pembunuh suami dan anaknya? (berikan kesempatan
kepada jemaat menjawab). Dari kisah ini kemampuan wanita ini mengampuni adalah
karena ia merasa telah diampuni oleh Allah. Kekuatan kita untuk mengampuni
adalah ketika kita merasa telah diampuni oleh Allah. Ketika kita tidak pernah
merasa diampuni oleh Allah, kitapun tidak akan mampu mengampuni. Akan muncul
berbagai alasan untuk tidak mengampuni.
Seorang wanita berkulit hitam yang telah
renta dengan pelahan bangkit berdiri di suatu ruang pengadilan di Afrika
Selatan. Umurnya kira-kira 70, di wajahnya tergores penderitaan yang dialaminya
bertahun-tahun. Di depan, di kursi terdakwa, duduk Mr. Van der Broek, ia telah
dinyatakan bersalah telah membunuh anak laki-laki dan suami wanita itu.
Beberapa tahun yang lalu laki-laki itu
datang ke rumah wanita itu. Ia mengambil anaknya, menembaknya dan membakar
tubuhnya. Beberapa tahun kemudian, ia kembali lagi. Ia mengambil suaminya. Dua
tahun wanita itu tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Kemudian, van der
Broek kembali lagi dan mengajak wanita itu ke suatu tempat di tepi sungai. Ia
melihat suaminya diikat dan disiksa. Mereka memaksa suaminya berdiri di
tumpukan kayu kering dan menyiramnya dengan bensin. Kata-kata terakhir yang
didengarnya ketika ia disiram bensin adalah, “Bapa, ampunilah mereka.”
Belum lama berselang, Mr. Van den Broek
ditangkap dan diadili. Ia dinyatakan bersalah, dan sekarang adalah saatnya
untuk menentukan hukumannya. Ketika wanita itu berdiri, hakim bertanya, “Jadi,
apa yang Anda inginkan? Apa yang harus dilakukan pengadilan terhadap orang ini
yang secara brutal telah menghabisi keluarga Anda?”
Wanita itu menjawab, “Saya menginginkan
tiga hal. Pertama, saya ingin dibawa ke tempat suami saya dibunuh dan saya akan
mengumpulkan debunya untuk menguburkannya secara terhormat.” Setelah berhenti
sejenak, ia melanjutkan, “Suami dan anak saya adalah satu-satunya keluarga
saya. Oleh karena itu permintaan saya kedua adalah, saya ingin Mr. Van den
Broek menjadi anak saya. Saya ingin dia datang dua kali sebulan ke ghetto
(perumahan orang kulit hitam) dan melewatkan waktu sehari bersama saya hingga
saya dapat mencurahkan padanya kasih yang masih ada dalam diri saya.”
“Dan, akhirnya,” ia berkata, “permintaan
saya yang ketiga. Saya ingin Mr. Van den Broek tahu bahwa saya memberikan maaf
bagi dia karena Yesus Kristus mati untuk mengampuni. Begitu juga dengan
permintaan terakhir suami saya. Oleh karena itu, bolehkah saya meminta
seseorang membantu saya ke depan hingga saya dapat membawa Mr. Van den Broek ke
dalam pelukan saya dan menunjukkan padanya bahwa dia benar-benar telah saya
maafkan.”
Ketika petugas pengadilan membawa wanita
tua itu ke depan, Mr. van den Broek sangat terharu dengan apa yang didengarnya
hingga pingsan. Kemudian, mereka yang berada d gedung pengadilan –teman,
keluarga, dan tetangga, -korban penindasan dan ketidakadilan serupa –berdiri
dan bernyanyi “Ajaib benar anugerah”
Pertanyaan terakhir adalah mengapa
wanita tua ini mampu mengampuni pembunuh suami dan anaknya? (berikan kesempatan
kepada jemaat menjawab). Dari kisah ini kemampuan wanita ini mengampuni adalah
karena ia merasa telah diampuni oleh Allah. Kekuatan kita untuk mengampuni
adalah ketika kita merasa telah diampuni oleh Allah. Ketika kita tidak pernah
merasa diampuni oleh Allah, kitapun tidak akan mampu mengampuni. Akan muncul
berbagai alasan untuk tidak mengampuni. Mari kita saling mengampuni dengan
segenap hati. Amin
Pdt. Onesimus Lantigimo, MTh, Dialog
Dapat dikembangkan sesuai konteks
Thema Umum
Bulan April : Pertobatan Dan Pengampunan
Minggu Ketiga
April 2015
Bacaan : Hosea 5: 15 – 6:3 (PA)
Thema Khusus :
Pengantar :
Hosea adalah nabi yang menyampaikan
pesan Tuhan kepada orang2 israel di kerajaan utara. Hosea sangat prihatin
dengan keadaan umat yang menyembah berhala. Umat tidak setia kepada Tuhan. Hosea menggambarkan ketidak setiaan umat
berdasarkan pada kehidupan rumah tangganya.seperti istrinya Gomer yang tidak
setia dalam perkawinan dengan Hosea
demikian juga Israel tidak setia kepada Allah.Dalam ketidak setiaan umat
Allah memanggil mereka untuk bertobat.Tetapi umat yang telah diikat oleh nafsu
dosa sulit menyadari dan menghayati ajakan Tuhan sampai pada akhirnya Tuhan
menghukum umat. Walaupun demikian Tuhan tidak pernah berubh dalam kehidupan
mereka.Allah memperbaiki hubungan itu kembali karena kasihNya. (lih.Hosea
11:8).
Uraian Prikop :
Ayat 15 ---- Umat yang jatuh kedalam dosa sulit untuk
kembali kepada Tuhan. Karena keterikatannya dengan dosa sebab itu Tuhan membiarkan umat berada
didalam penderitaan. Allah melakukan itu bukan karena Allah tidak mengasihi
mereka, tetapi Allah mau menyadarkan mereka terhadap kesalahannya. Penderitaan
menjadi cambuk agar umat sadar dan diharapkan termotivasi/terdorong untuk
datang mendapatkan Tuhan. Dan Tuhan menantikan umat sampai mereka bertobat.
Psl 6 :1-2 ---- Ternyata umat belum sungguh2 mau datang
kepada Tuhan Allah dan bertobat.Tetapi yang terlihat adalah justru tanda2
pementingan diri sendiri .Pengaruh2 Baal telah mewarnai kehidupan umat dan
itulah yang telah membelenggu umat untuk mau datang kepada Tuhan.
Ayat 3 ---- Umat amat menyadari bahwa mereka tidak
memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah. Namun umat berpikir kalau mereka
mencari Tuhan dengan sungguh2 Tuhan pasti muncul seperti fajar, Tuhan akan
datang seperti hujan mengairi bumi.
Saudara-saudara! Seringkali Allah
mengizinkan kita berada dalam penderitaan/kesulitan. Hal ini dilakukan
Tuhan bukan karena tidak mengasihi kita
tetapi, justru karena kasihNya.
Pertanyaannya: Bagaimana kita mengerti hal ini dalam
kehidupan kita?
Banyak orang Kristen yang belum
sungguh-sungguh bertobat. Kekristenannya hanya merupakan baju luar yang indah
yang membungkus kejahatannya,kebenciannya dsb.
Pertanyaannya
: Apa
Yang dapat kita lakukan agar sungguh-sungguh bertobat?
-------Pdt.
AY. Sapasuru, STh--------
Thema Umum
Bulan April : Pertobatan Dan Pengampunan
Minggu
Keempat April 2015
Bacaan : KISAH
PARA RASUL 20 : 17 – 27 (Pemahaman Alkitab PA)
Thema Khusus : “Mengasihi dengan Kasih yang rela
berkorban, sebagaimana Kristus mengasihi murid-murid-Nya”.
A.
Pendahuluan.
Perikop ini
sesungguhnya merupakan sebuah kata-kata perpisahan antara Paulus dengan para
penatua dari Efesus yang dimintanya untuk dating ke meletus (sekurang-kurangnya
membutuhkan waktu perjalanan 2 hari lamanya). Tak heran, jika selain berisi
nasihat-nasihat untuk tetap setia menggembalakan jemaat sebagai kawanan domba
Allah (ay. 28), perikop ini juga kemudian diakhiri dengan sebuah adegan
perpisahan yang sangat mengharukan. Mereka menangis tersedu-sedu sambil memeluk
dan mencium Paulus berulang-ulang, sebelum kemudian mengantarkan Paulus ke
kapal (ay. 37 – 38).
Dalam kata-kata
perpisahan ini, satu hal penting yang dikemukakan Paulus, adalah sebuah refleksi
mengenai riwayat perjalanan pelayanannya. Seperti yang juga diketahui oleh para
penatua, Paulus sungguh-sungguh member hidupnya bagi pekerjaan Tuhan. Betapa
tidak dalam pelayanan tersebut Paulus tidak hanya banyak mencucurkan air mata,
tetapi juga sering menempatkan hidupnya dalam ancaman pembunuhan dari sejumlah
pihak Yahudi (ay. 19-24). Namun demikian, semua penderitaan tersebut tidak
pernah ia hiraukan, sebab bagi Paulus hal yang sesungguhnya paling penting,
adalah mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh
Tuhan kepadanya (ay. 24).
Penceritaan
kembali kisah pelayanan Paulus tentu saja tidak dimaksudkan untuk membanggakan
diri. Namun sebaliknya, yang dikemukakan adalah sebuah wujud cinta kasih dan
kesetiaan Tuhan melalui diri Paulus kepada jemaat di Efesus. Dengan kisah ini
para penatua diharapkan bisa menyadari dengan sungguh besarnya cintah kasih
Tuhan yang mau menjangkau hidup mereka, kemudian juga memiliki komitmen
pelayanan seperti Paulus, yakni pelayanan dengan kasih yang rela untuk
mengorbankan dirinya.
B.
Pertanyaan untuk
didiskusikan.
B.1. Ditengah kehidupan jemaat sekarang ini, dalam
hal-hal apakah kesediaan untuk berkorban itu bisa diwujudkan?
B.2. Apakah kesediaan untuk berkorban ini masih
jelas dalam hidup kita, ataukah yang terjadi justru sebaliknya, yakni
keengganan untuk berkorban? Percakapkanlah.
Pdt. Hertince Dondo, SPAK; Selamat
melayani Tuhan Yesus Memberkati.
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu Pertama
Mei 2015
Bacaan : Matius 25: 14 – 30
Thema Khusus : “ Melayani sesuai dengan karunia yang diberikan “
A.
Pendahuluan.
Perumpamaan
Tuhan Yesus tentang talenta yangntelah kita baca dan dengar pada saat ini sudah
tidak asing bagi kita. Kita pasti sudah pernah membaca atau mendengar melalui
khotbah dalam ibadah yang pernah kita hadiri atau ikuti.
Perumpamaan tentang talenta
menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesetiaan dan ketekunan dalam
melaksanakan tugas-tugas pelayanan.
Sebagai hamba Tuhan, kita masing-masing
mendapatkan karunia dari Tuhan sebagai modal melayani-Nya. Karunia-karunia yang
kita dapatkan dari Tuhan ini digambarkan sebagai talenta. Yang pasti sebagai
hamba Tuhan tidak ada satu pun yang mendapatkan nol talenta atau sama sekali
tidak mempunyai talenta untuk melayani Tuhan.
Talenta berbicara tentang kecakapan,
kemampuan, kemahiran, waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita.
Pertanyaan
kepada warga jemaat :
Ø Sebutkan
rupa-rupa talenta / karunia yang diberikan Tuhan kepada kita untuk
melayani-Nya!
Setiap talenta yang dipercayakan Tuhan
telah disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“ yang seorang diberikan lima talenta,
yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu “, masing-masing menurut
kesanggupannya ( Matius 25 : 15 ).
Meski besarnya talenta berbeda-beda.
Setiap orang memiliki kewajiban yang sama untuk menjadi hamba yang baik dan
setia. Setiap talenta adalah kepercayaan. Berapa pun talenta yang diberikan
kepada kita, apakah lima, dua, atau satu sekalipun adalah kepercayaan.
B.
Pertanyaan –
Pertanyaan Dialogis
1. Bagaimanakah
seharusnya respon kita terhadap setiap talenta yang diberikan Tuhan ?
2. Apakah
ada kecenderungan tanpa kita sadari bahwa kita “ menguburkan “ talenta yang
diberikan Tuhan ? Kalau ada, mengapa ?
3.
Apakah tanggapan tuan terhadap hambanya
yang menerima dan mengembangkan talenta yang diberikan ?
4. Apakah
tanggapan tuan terhadap hambanya yang menyembunyikan talenta dalam tanah ?
Setiap
warga jemaat adalah hamba Tuhan. Kepada kita Tuhan memberikan talenta yang
berbeda-beda. Tuhan memberikan tugas dan tanggungjawab yang harus kita kerjakan
dengan tekun dan setia.
Banyak
diantara kita yang pada awalnya begitu menyala-nyala dalam melayani Tuhan,
namun seiring berjalannya waktu, terlebih-lebih saat menghadapi masalah dan
ujian, semangat perlahan-lahan mengendor, makin hari makin merosot dan
mengalami kemunduran . mereka telah kehilangan kasih mula-mula kepada Tuhan,
lari dari tanggung jawab dan akhirnya meninggalkan pelayanan. Janganlah kita
lupa bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia ini pada saatnya harus
kita pertanggung jawabkan kepada Tuhan.
Tidak
semua orang beroleh kepercayaan dari Tuhan. Maka adalah berkat dan anugerah
yang tak ternilai jika saat ini kita dipercayakan Tuhan untuk mengembangkan talenta
itu. Tuhan akan memperlengkapi kita ( 2 Timotius 3 : 17 ) dengan kuat kuasa Roh
Kudus. Amin.
Pdt. Margaretha
Tandumai, STh; kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu Kedua
Mei 2015
Bacaan : Kisah
Para Rasul 6 : 8 – 15. (PA)
Tujuan Khusus :
1. Jemaat termotivasi untuk meneladani sikap dan
karakter Stefanus.
2. Jemaat
mewujudkan karakter melayani, setia dan berani sebagai wujud kehidupan
yang dipimpin oleh Roh Kudus.
A.
Pengantar.
Di zaman yang semakin modern dengan
kemajuan teknologi yang semakin canggih ini, roh materialisme, individualisme
dan hedonisme semakin mempengaruhi dan menguasai kehidupan manusia, terutama
para generasi muda. Banyak kaum muda remaja yang menjadi egois, matrealis dan
hedonis sehingga menjadi miskin di dalam melayani. Pekerjaan-pekerjaan rumah
tangga, kegiatan gereja dan masyarakat seringkali tidak disentuhnya, karena
mereka berpikir itu pekerjaan atau tugas orang tua/dewasa.
Tugas kaum muda adalah belajar, hura-hura,
bermain, nyantai, atau apapun yang tidak bersinggungan dengan
pekerjaan/kegiatan pelayanan yang identik dengan kerendahan bahkan membuang
waktu sia-sia dan tidak gaul. Karena pengaruh dunia global dengan budaya
hedonisnya, maka banyak pemuda yang terjebak pada dunia pergaulan yang
hurahura, mengejar kepuasan hawa nafsu, mencari kesenangan diri, dsb. Oleh
karena itu nilai kesetiaan dalam diri orang kristen juga mudah luntur. Setia
terhadap pasangan (berganti-ganti pacar), setia terhadap tugas pekerjaan (studi,
pelayanan gereja dan masyarakat) serta rasa tanggung jawab yang semakin
melemah.
Dengan demikian maka tugas dan peran
orang kristen dalam membangun bangsa, masyarakat dan jemaat mengalami
kemerosotan bahkan bisa tidak ada lagi. Padahal sebagai orang beriman (termasuk
kaum muda-remaja) kita dipanggil untuk bersaksi di tengah dunia ini, serta di
dalam mensejahterakan kota atau bangsa dimanapun kita ditempatkan. Dalam
situasi kondisi seperti inilah manusia sesungguhnya sangat membutuhkan semangat
dan pembaharuan hidup. Roh Kudus telah diberikan kepada orang-orang percaya
untuk memberi daya kekuatan (Kis 1:8), oleh karena itu merefleksikan dan
menelaah kisah Stefanus ini kiranya sangat bermakna bagi orang kristen, dan
bisa menjadi model gaya hidup Kristen yang berperan aktif dalam pelayanan
terhadap masyarakat dan jemaat.
B.
Bebeberapa
pertanyaan dapat kita diskusikan bersama.
1.
Apakah
Roh Kudus masih berkarya dalam membangun karakter orang kristen saat ini,
apakah buktinya?
2.
Teladan
apa yang bisa kita ambil dari kisah Tokoh Stefanus ini bagi generasi muda
sekarang dalam kaitannya dengan peran membangun jemaat dan bangsa?
3. Mengapa Roh Kudus tidak meloloskan Stefanus
dari lemparan batu?
Benarkah Roh
Kudus tidak menolong?
Pnt. Yulce
Moningka, SPAK; kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu
Ketiga Mei 2015
Bacaan : I Tesalonika 1:1-10 (Buka Gali Alkitab - BGA)
Thema Khusus :
A.
Pengantar.
Dalam sejarah Alkitab, Tesalonika adalah
Ibu Kota Makedonia salah satu Provinsi Kerajaan Romawi. Jemaat di Tesalonika
didirikan oleh Paulus sesudah ia
meninggalkan kota Filipi (Kis 16:1-40). Belum beberapa lama Paulus berada di
Tesalonika, ternyata orang-orang Yahudi yang iri hati mulai menentang usaha
Paulus dalam memberitakan Injil kepada orang-orang non-Yahudi. Padahal banyak
orang-orang non Yahudi mulai berminat kepada berita Injil yang disampaikan
kepada mereka (Kis 17:5). Akhirnya Paulus meninggalkan Tesalonika dan pergi ke
Berea (Kis 17:10).
Dalam perikop ini tergambar suasana hati
Paulus yang dipenuhi oleh rasa syukur dan sukacita karena ternyata Jemaat tetap
kuat dalam mempertahankan Iman mereka. Inti Surat I Tesalonika ini ditulis oleh
Paulus adalah untuk mendorong dan terus memotivasi jemaat Tesalonika agar
mereka terus mempertahankan Iman mereka yang baik kepada Tuhan.
B.
Gali Isi Alkitab
Dalam I Tesalonika 1:1-10.
B.1 Apa yang kita baca tentang Jemaat di
Tesalonika ? Berikan Pandangan kita.
Ø
Paulus
Bersyukur karena keadaan Jemaat Tesalonika yang masih tetap kuat dalam
mempertahankan Iman mereka dan Paulus senantiasa mendoakan mereka (Ayat 2).
Ø
Paulus
senantiasa mengingat Jemaat di Tesalonika karena perbuatan-perbuatan baik yang
mereka lakukan (Ayat 3).
Ø
Jemaat
Tesalonika telah menuruti Tuhan dengan segenap hati mereka bahkan telah menjadi
teladan bagi semua orang (Ayat 6-7).
Ø
Iman
dan Perbuatan baik yang dilakukan oleh Jemaat Tesalonika telah tersiar dan
tersebar ke mana-mana, bukan saja di Makedonia dan Akhaya, tetapi di semua
tempat (Ayat 8)
Ø
Jemaat
di Tesalonika benar-benar telah meninggalkan berhala-berhala mereka dan percaya
kepada Allah serta melayaniNya sambil terus menantikan kedatangan Tuhan (Ayat 10).
B.2. Apa yang kita Baca tentang Roh Kudus ? Berikan Pandangan kita.
Ø Roh Kudus memberikan
kekuatan baik bagi Paulus maupun bagi Jemaat untuk terus dan tetap melayani
Tuhan meskipun keadaan sangat sulit. Roh Kudus memberikan sukacita bagi Paulus
dan Jemaat di Tesalonika meskipun mereka senantiasa berada dalam ancaman (Ayat
5).
B.3. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari
perikop I Tesalonika 1:1-10 bandingkan Kis 17:5 ? Berikan Pandangan Kita.
Ø Kita tidak boleh
Iri hati dan dengki kepada orang-orang yang suka melakukan kebaikan apalagi
kepada orang-orang yang suka melayani Tuhan.
Ø Kita harus
belajar menjadi Jemaat yang dapat dijadikan teladan oleh orang lain dalam hal
melayani Tuhan dan keteguhan Iman.
Ø Kita harus
berani dan belajar untuk meninggalkan berhala-berhala modern (Berikan
contoh-contohnya) yang seringkali menjauhkan kita dari Tuhan.
Ø Kita harus
bersabar menantikan Tuhan sambil terus melayaniNya, meskipun banyak tantangan
yang kita hadapi ketika kita melayani Tuhan.
-------Selamat
Melayani Tuhan-------
Pdt. I Wayan
Norsa Adiwijaya, STh; dapat dikembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu
Keempat Mei 2015
Bacaan : Kisah Para Rasul 13:1-13
Thema Khusus : “Roh
Kudus Memberi Kuasa Untuk Menjadi Saksi”
A.
Pengantar.
Sebelum
peristiwa Pentakosta atau pencurahan Roh Kudus, khususnya para Murid Yesus yang
selanjutnya disebut Rasul-rasul diliputi oleh ketakutan yang besar untuk
memberitakan Injil. Jangankan untuk memberitakan Injil, keluar rumah dan
bergabung dengan masyarakat luas saja mereka tidak memiliki keberanian sama
sekali. Pada masa Pra-Pentakosta Lebih banyak waktu mereka dipakai untuk
bersembunyi.
Tetapi satu hal
yang sangat menarik setelah Peristiwa Pentakosta, rasa takut dari para murid
berubah menjadi sebuah keberanian yang luar biasa untuk memberitakan Injil.
Kebiasaan bersembunyi pada masa-masa sebelum Pentakosta kini berubah menjadi
tindakan yang terang-terangan di mana para Rasul berani memberitakan Injil
secara terbuka di depan umum. Sedikitpun tidak ada rasa takut, bahkan mereka
berani berhadapan dengan para penguasa demi supaya berita Injil itu dapat
didengar, diketahui dan dipercayai oleh semua kalangan.
Sejak Peristiwa
Pentakosta, Jemaat-jemaat yang baru terbentuk sudah mulai melakukan pekerjaan
Misi penginjilan secara teratur dan terorganisir dengan baik (Ayat 1-3).
Kenyataan-kenyataan yang baru sehubungan dengan konsep Misi penginjilan ini
menimbulkan pertanyaan : “Apakah yang mendrive (Menggerakkan) para Rasul dan
Jemaat yang masih muda ini sehingga terjadi perubahan-perubahan sikap radikal
seperti itu?” Rasa takut kini berubah menjadi berani. Dari yang terpecah-pecah
menjadi terorganisir dan berjalan lebih teratur.
Jika kita
membaca dan memahami dengan baik perikop Kisah Para Rasul 13:1-13, maka semakin
jelaslah bagi kita bahwa Driver atau penggerak dari semua bentuk
perubahan-perubahan sikap dan pandangan tentang Misi dilingkungan Para Rasul
dan Jemaat adalah kuasa Roh Kudus.
B.
Pokok-pokok Isi
Khotbah – Aplikasi.
1.
Begitu
besarnya Peran Roh Kudus bagi Para Rasul dan Jemaat-jemaat sehingga pekerjaan penginjilan berjalan begitu luas bukan
saja terbatas pada lingkungan orang-orang Yahudi tetapi keluar melampaui lintas batas lingkungan Yahudi. Perikop Bacaan
menyebutkan beberapa tempat penting yaitu : Anthiokia, Seleukia, Siprus, Pafos,
Perga dan tempat-tempat lain.
2.
Oleh
peranan Roh Kudus berita Injil disampaikan bukan saja kepada orang-orang biasa,
tetapi juga kepada para penguasa dan mereka menjadi percaya (Ayat 12).
3.
Pekerjaan
Pelayanan dan Penginjilan yang
terorganisir dengan baik dan dilandasi oleh semangat Persekutuan juga menjadi
kunci di mana Roh Kudus mau menyatakan kehendakNya. Roh Kudus mengarahkan untuk melakukan apa yang dikehendakiNya dan
apa yang seharusnya dilakukan (Ayat 2 dan 4). Roh Kudus adalah Roh Allah, Roh
Kristus yang senantiasa mempersatukan, sehingga di mana terdapat Persektuan
yang Indah, maka di sana Roh Kudus pasti akan bekerja dan menyatakan kuasa
serta kehendakNya.
4.
Gereja,
Jemaat perlu memikirkan sebuah sistem
pelayanan yang terorganisir dengan baik dan tidak terpecah-pecah. Pembagian-pembagian
tugas yang jelas di mana masing-masing pelayan dan jemaat melaksanakan tugasnya
dengan baik, maka Roh Kudus akan bekerja di dalamnya. Pelayanan perlu
direncanakan dan dilaksanakan dengan baik sehingga pelayanan Jemaat memiliki
Otoritas, kewibawaan dan berita Injil bisa diterima oleh semua orang dari semua
kalangan.
5.
Ketika
masing-masing umat Tuhan dan Pelayan Tuhan memberikan dirinya untuk melayani
Tuhan, maka Roh Kudus akan memberikan kuasa untuk menjadi saksi. Roh Kudus akan
memberikan kemampuan kepada Jemaat untuk dapat melakukan perkara-perkara yang
besar dalam pelayanan (Ayat 9-12).
------Selamat
Melayani------
Pdt. I Wayan
Norsa Adiwijaya, STh; Kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Mei : Roh Kudus Dan Pelayanan
Minggu
Kelima Mei 2015
Bacaan : Roma 8:13-14
Thema
Khusus : “Roh Kudus Mengubah Hidup dan Cara Kita Melayani Tuhan”
A.
Pendahuluan.
Pengetahuan kebanyakan
orang Kristen tentang Roh Kudus sangat kurang. Kebanyakan khotbah adalah
mengenai Allah Bapa dan Allah Putra, sedang khotbah mengenai Roh Kudus sangat
jarang. Dalam hal esensi, Roh Kudus sama dengan Allah Bapa dan Allah Putra.
Adalah kehadiran Roh Kudus atau ketidakhadiran-Nya dalam kehidupan seseorang
yang membedakan seseorang hidup secara rohani atau mati secara rohani.
Kelahiran baru atau kelahiran rohani seseorang adalah karya Roh Kudus dalam
dirinya (Yohanes 3:1-8). Roh Kudus adalah Pribadi ketiga Allah Tritunggal:
Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus. Roh Kudus bukanlah suatu bayangan
atau roh halus yang samar-samar, bukan pula suatu kekuatan atau pengaruh gaib
yang samar-samar. Roh Kudus adalah Pribadi yang memiliki kepribadian, yang
memiliki "pemikiran" (yang mengetahui apa yang dipikirkan manusia --
1 Korintus 2:11), memiliki "perasaan" (Ia mengasihi -- Roma 15:30),
dan memiliki "kemauan" (yang mengerjakan atau melaksanakan segala
sesuatu menurut kemauan-Nya -- 1 Korintus 12:11). Roh Kudus adalah Pribadi yang
dalam segala hal sama dengan Allah Bapa dan Allah Putra. Keseluruhan sifat
ilahi Allah Bapa dan Allah Putra ada pada-Nya.
Roh Kudus
adalah Roh Allah, karena itu Roh Kudus adalah Roh Kehidupan (Roma 8:2,
"Roh yang memberi hidup"), Roh Kebenaran (Yohanes 16:13,
"apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam
seluruh kebenaran"), Roh Kasih Karunia (Ibrani 10:29), Roh Kekudusan (Roma
1:4). Fungsi-Nya atau peranan-Nya adalah "mengajar dan menguatkan"
(Yohanes 14:26), "mendiami" batin setiap orang percaya (1 Korintus
3:16), "menuntun" ke dalam seluruh kebenaran, dan memberitakan
hal-hal yang diterimanya dari Kristus (Yohanes 16:13, 14).
B. Pokok-pokok Khotbah –
Aplikasi.
1.
Roh
Kudus Mengubah Hidup Kita.
Ciri yang
harus ada pada diri anak-anak Allah adalah pimpinan Roh Allah dalam kehidupan
mereka (8:14). Bila Roh Allah memimpin hidup kita, hidup kita pasti berubah.
Perhatikanlah perubahan hidup yang terjadi pada diri murid-murid Tuhan Yesus
antara sebelum dan sesudah Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta. Sikap
para murid berubah dari sikap mementingkan diri sendiri menjadi sikap rela
menanggung risiko, bahkan rela mati demi mempertahankan iman. Perhatikanlah
perubahan hidup yang terjadi pada diri Rasul Paulus antara sebelum dan sesudah
dia bertobat. Sebelum bertobat, dia adalah penganiaya jemaat. Sesudah bertobat,
dia adalah seorang yang berusaha keras memberitakan Injil dan membangun jemaat,
sambil tetap bekerja keras membuat kemah agar tidak menjadi beban bagi jemaat
yang dia layani.
Dalam
sejarah gereja, kita menemukan banyak orang yang hidupnya berubah secara total
saat Roh Kudus mengubah hidupnya. Roh Kudus sanggup mengubah seorang yang
tadinya adalah seorang pembunuh atau penipu atau koruptor menjadi seorang yang
rela berkorban untuk kepentingan pemberitaan Injil. Roh Kudus sanggup mengubah
seorang yang egois menjadi seorang yang murah hati. Roh Kudus sanggup mengubah
seorang yang semula gagap dalam berbicara menjadi seorang yang fasih dalam
berkhotbah.
Pada
masa kini, salah satu bahaya terbesar bagi gereja adalah bila kehidupan
bergereja berubah menjadi rutinitas yang amat sibuk, namun tidak menghasilkan
perubahan hidup. Amat berbahaya bila orang Kristen mulai mencari khotbah yang
enak didengar dan tidak berusaha mengoreksi diri untuk menampilkan hidup yang
berubah!
2. Roh Kudus Memberikan
kebahagiaan dalam melayani.
Orang-orang percaya, bukan saja berbahagia karena
didiami Roh Kudus, tetapi berbahagia terutama karena adanya komunikasi antara
kita dengan Roh Kudus. Sesungguhnya, yang memberikan kebahagiaan abadi kepada
kita adalah komunikasi kita dengan Roh Kudus. Sejak saat kita percaya
sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus, mulailah Roh-Nya mendiami roh kita, dan
Ia akan tinggal bersama kita untuk selama-lamanya. Akan tetapi, kebahagiaan
abadi kita, kita peroleh dari kehidupan kita yang "berkomunikasi"
dengan Dia. Sehingga, secara singkat, dapatlah dikatakan "kediaman"
Roh Kudus dalam roh kita adalah "kehadiran kekal" Allah dengan kita.
Sedang "pemenuhan" Roh Kudus atas kita adalah keadaan "saling
komunikasi" antara Allah dengan kita. Sesungguhnya kebahagiaan kita,
orang-orang percaya, diperoleh dari komunikasi terus-menerus kita dengan Allah.
Begitu banyak orang Kristen, yang walaupun sudah benar-benar lahir baru dalam
Kristus, tetapi terus-menerus merasa sengsara dalam kehidupannya. Mengapa?
Karena komunikasi mereka dengan Allah adalah komunikasi secara mekanis saja.
Tidak sungguh-sungguh.
Apabila Roh Kudus berkuasa atas hidup kita, maka kita
akan mengalami kebahagiaan dalam melayani Tuhan. Kesulitan-kesulitan dalam
pelayanan bersama akan dilihat sebagai bentuk penguatan sehingga Iman dalam
melayani Tuhan menjadi semakin kokoh dan kuat.
Seperti halnya suatu kehidupan perkawinan
yang memang menunjukkan suatu kebersamaan, tetapi tidak selalu berarti ada
kebersamaan yang bahagia, tidak selalu berarti ada komunikasi mesra, tidak
selalu berarti ada harmoni dalam pemikiran dan perasaan antara suami istri.
Demikian pula banyak orang Kristen yang hidup bersama dengan Allah, tetapi
tidak berkomunikasi dengan Dia. Dalam kebaktian-kebaktian gereja, tampaknya
hubungan mereka dengan Allah beres-beres saja, tetapi kenyataan yang
sesungguhnya adalah sudah berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan mereka tidak
lagi berkomunikasi dari hati ke hati dengan Allah. Sehingga tidaklah
mengherankan apabila kehidupan keseharian mereka dipenuhi dengan frustrasi dan
ketidakmampuan dalam melayani.
Kunci kebahagiaan
orang-orang percaya tidak saja terletak dalam kebersamaan kita dengan Allah
melalui Roh Kudus-Nya. Bahkan tidak saja terletak pada pengintegrasian (Penyatuan)
emosional antara kehendak kita dengan kehendak Allah, tetapi pada
"pergantian" dari kehendak kita kepada kehendak Allah. Karena apabila
kita mencoba mengizinkan kedua kehendak (kehendak kita dan kehendak Allah)
menguasai kehidupan kita, maka hasilnya adalah kehidupan Kristen yang
frustrasi. Apabila kita mengizinkan kehendak kita bersaing dengan kehendak
Allah atas kehidupan kita, maka Roh Kudus tidak dapat memenuhi kehidupan kita.
Apabila kita dipenuhi oleh diri kita, Roh Kudus tidak dapat memenuhi diri kita,
sebagaimana kita tidak dapat memenuhi sebuah gelas sepenuhnya dengan susu dan
sepenuhnya dengan air. Roh Kudus hanya dapat memenuhi kehidupan kita apabila
kita mengesampingkan kehendak dan cita-cita kita dan bersuka cita dengan
peranan kita sebagai pelayan-pelayan dan Jemaat Allah. Mentaati kehendak Allah
berarti menjalani kehidupan Kristen yang benar dan berkenan kepadaNya.
Komunikasi yang hidup dan terus menerus dengan Allah melalui Roh Kudus akan
memungkinkan semua umat Tuhan akan mengalami sebuah kehidupan yang diubahkan.
Komunikasi yang terus menerus dengan Allah melalui Roh Kudus akan memungkinkan
semua pelayan dan Jemaat Tuhan tidak lagi melihat pekerjaan pelayanan bersama
sebagai beban tetapi pelayanan bersama akan dilihat, dipahami dan dilakukan
sebagai sebuah kebahagiaan, Amin.
Pdt. I Wayan Norsa
Adiwijaya, STh; Kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Juni : Keluarga Kristen Membangun
Komunikasi
Minggu
Pertama Juni 2015
Bacaan : 2 Sam 13:1-22 (Pemahaman Alkitab – PA)
Thema Khusus : “Buah
Jatuh Tidak Jauh Dari Pohon”
A.
Pengantar.
Tema ini merupakan istilah yang tidak
asing lagi yg menggambarkan kehidupan orang
tua dan anak. Suatu hal yang
harus kita ketahui bahwa dalam diri
manusia ada 2 sisi kehidupan yaitu baik dan buruk , dan seorang anak pun memiliki kesempatan
untuk mengikuti keduanya atau diantaranya. Suatu hal yang perlu kita
waspadai ialah ketika sikap buruk orang
tua yang memberi pengaruh besar dalam
kehidupan sang anak.
Pembacaan kita menceritakan tentang
kehidupan anak-anak Daud yang
melakukan tindakan yang buruk . Hal ini tidak terlepas dari kehidupan
Daud di masa lalu yang merusak keluarga Uria
dengan mengambil istrinya
(Batsyeba) dengan cara yang licik sangat licik dan kejam.
Kehidupan yang baik dari Daud ternyata
tidak menjadi pilihan cara hidup
anak-anaknya, melainkan sebaliknya. Masa
lalu Daud yang buruk telah menjadi
bagian dari kehidupan anak-anaknya juga.
Yang ada hanyalah sebuah penyesalan dan
kemarahan yang dialami oleh Daud. masa lalu Daud yang buruk yang telah melemahkan
Daud dalam mendisiplinkan anak-anaknya serta menghilangkan wibawanya
untuk menegur moral buruk yang dilakukan
oleh anak-anaknya .
Sebagai orang tua kita tentu tidak
menginginkan hal yang dialami oleh Daud terjadi
dalam kehidupan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus menemukan cara
untuk meminimalisir, mengurangi jika ada sikap-sikap buruk yang kita miliki
sebagai orang tua, agar sikap-sikap
buruk yang mungkin kita miliki tidak
menjadi contoh contoh yang merusak dan menghancurkan masa depan anak-anak kita.
B.
Pertanyaan untuk
didiskusikan.
1. Sifat-
sifat buruk apa saja yang pernah kita jumpai dan kerap kali ditiru oleh anak-anak kita? Pertanyan
Umum
2. Selaku
anak atau seorang yang belum berkeluarga apa yang
anda akan lakukan untuk mencegah agar sikap-sikap buruk yang kerap kita lakukan tidak dicontohi
oleh anak-anak ? Pertanyaan bagi pemuda
3. Selaku
orang tua, Jika mungkin kita telah terlanjur memberikan contoh yang buruk bagi
anak-anak, apa yang harus kita lakukan ?
Pertanyaan bagi Orang tua
C.
Refleksi dan
Kesimpulan.
Dari Hasil Diskusi ada Beberapa hal
pokok dan penting yang harus kita lakukan :
1.
Kata-kata
kasar, kekerasan dan sikap-sikap buruk lainnya penting untuk dihindari.
2. Keluarga harus berani memohon ampun kepada Tuhan dan
memperbaharui sikap hidup dan keteladanan kita terhadap anak-anak.
3. Harus
jujur mengakui kesalahan, kelemahan dan
kekurangan kita di masa lalu dan berani melakukan perubahan-perubahan cara
hidup yang lebih baik dan dapat diteladani bukan saja oleh anak-anak kita,
tetapi juga oleh orang lain yang berada disekitar kita.
4. Harus
berani menegur tindakan buruk yang dilakukan oleh anak
5. Menunjukan
Perubahan hidup yang positif
(Dapat ditambahkan dari Hasil diskusi jemaat)
Tema bulan ini membimbing kita pada
komunikasi yang kristiani dalam sebuah keluarga. Tindakan-tindakan di atas inilah yang merupakan cara berkomunikasi dalam keluarga. Mengkomunikasikan setiap
tindakan di atas merupakan usaha untuk
membangun masa depan generasi menjadi lebih baik, yaitu generasi yang memiliki
kerohanian yang berkualitas.
Setiap tindakan baik dan buruk memiliki
potensi untuk berkembang dan berpindah dalam kehidupan orang-orang yang kita
kasihi. Oleh karena itu setiap hal yang baik penting dan harus terus dipupuk
agar dapat berbuah manis dan setiap hal yang buruk dipangkas sedikit demi
sedikt agar dari dalamnya dapat
tumbuh tunas baru yang lebih baik. Amin
“ setiap hal
yang buruk dapat kita hindari jika kita memutuskan mengambil tindakan yang
benar dan baik ”
Silva, SPAK, Kembangkan sesuai konteks
Jemaat.
Thema Umum
Bulan Juni : Keluarga Kristen Membangun
Komunikasi
Minggu Ketiga
Juni 2015
Bacaan : Mazmur 133:1-3 (Buka Gali Alkitab - BGA)
Thema Khusus :
A.
Pendahuluan.
Di satu daerah wilayah konflik, petugas
keamanan membentangkan spanduk di mana-mana dengan tulisan “ Damai Itu Indah “
atau “ Ternyata Damai Itu Indah “. Seorang tokoh politik dari Negara kita
berkata, “ Damai atau kerukunan adalah sesuatu yang mahal dan langka “. Setiap
hari kita disuguhi berita-berita tentang perselisihan, perseteruan, ketidak
harmonisan bahkan kerusuhan dan peperangan. Bahkan kalau kita mempelajari
sejarah, kita akan tahu bahwa lebih dari separuh sejarah dunia adalah sejarah
peperangan.
B.
Tafsiran
Perikop.
Bangsa Israel pada zaman dahulu
mempraktekan hidup komunal ( berkelompok ) dalam keluarga besar. Misalnya :
Tanah warisan dikerjakan bersama dan dinikmati bersama. Ternak ( Kambing,
Domba, dan lain-lain ) adalah milik bersama, digembalakan bersama, dan hasilnya
dinikmati bersama dalam keluarga besar. Inilah keindahan persekutuan, walaupun
sistim ini mengandung potensi konflik. ( Contoh : Konflik antara hamba-hamba
Abraham dan Lot memperebutkan padang rumput yang menyebabkan Abraham dan Lot
berpisah ).
Mazmur 133 ini, mengungkapkan adanya dua
manfaat dan berkat dari kerukunan itu. Pertama, “ Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut .”
Mengurapi kepala dengan minyak,
merupakan tradisi orang Timur Tengah, terutama ketika upacara perjamuan atau
pelantikan seorang imam. Mungkin, karena iklim yang panas, badan manusia sering
mengeluarkan bau yang tidak sedap, maka peranan minyak wangi ( parfum ) seperti
minyak narwastu yang sangat mahal itu, sangat diperlukan. Minyak yang wangi
melambangkan nama baik dan kemasyuran. Keluarga ataupun masyarakat yang hidup
rukun, harmonis, utuh dan bersatu adalah seperti minyak yang wangi dan baik,
yang harum, yang masyur, yang mempunyai
nama baik, mempunyai harga diri dan menjadi berkat.
Buah kerukunan kedua ialah, “ Seperti embun gunung Hermon yang turun ke
atas gunung-gunung Sion.”
Tanah yang dibasahi embun pastilah
gembur, di mana buah-buahan dan berbagai jenis tanaman tumbuh subur. Embun
gunung Hermon melambangkan kesuburan, kemakmuran serta kelimpahan. Kelimpahan
panen adalah sumber kemakmuran sebuah bangsa agraris.
C.
Pertanyaan Gali
Alkitab.
1. Dari
perikop Mazmur 133 : 1 -3 ini, adakah perintah / janji / nasihat untuk kita ?
2. Apakah
yang dimaksud dengan hidup rukun ?
3. Berkat
apakah yang kita dapatkan dari kehidupan yang rukun ?
Catatan : a. Rukun
bukan hanya sekedar tidak berselisih, tidak berkelahi, tidak rusuh, tidak
berbeda pendapat, atau tidak melakukan kekerasan.
Semua unsur
dalam keluarga, harus secara aktif menciptakan suasana hidup rukun dengan
mengasihi, mengampuni, memberi perhatian, menghargai, menolong, menasehati,
memberi semangat, membangun komunikasi dan menunjukkan keteladanan.
b. Apa yang terjadi jika Mazmur 133 : 1a kita
terjemahkan dalam kalimat negatif,” Sungguh alangkah tidak baiknya dan tidak
indahnya bila saudara-saudara diam bersama dengan tidak rukun.”
c. Buah dari persekutuan Keluarga yang rukun adalah keberhasilan dalam usaha,
pekerjaan, ketenteraman, damai sejahtera dalam keluarga.
Pdt. Yarman Mosau, STh; kembangkan
sesuai konteks Jemaat.
Thema Umum
Bulan Juni : Keluarga Kristen Membangun
Komunikasi
Minggu Keempat Juni 2015
Bacaan : I Raja-raja
2:1-9 (Buka Gali Alkitab - BGA)
Thema Khusus :
A.
Pengantar.
Perikop I
Raja-raja 2:1-9 berbicara tentang
masa-masa terakhir dari kehidupan Raja Daud. Pada pasal
ini Raja Daud menyampaikan hal-hal penting sehubungan dengan masa
kepemimpinannya dan penyerahan tongkat estafet tugas kepemimpinan dari dirinya
kepada Salomo anaknya.
Sebagai seorang
pemimpin sekaligus dalam statusnya
sebagai seorang ayah bagi Salomo, apalagi selama 40 tahun masa kepemimpinannya sebagai seorang
Raja Israel Raya, Daud telah mengalami berbagai ssituasi pasang surutnya suhu
politik yang terjadi ditengah-tengah perjalanan kehidupan Israel sebagai sebuah
bangsa. Segala strategi serta kebijakan telah ditempuh oleh Daud untuk membawa
bangsa Israel untuk menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan berwibawa
diantara bangsa-bangsa yang ada disekitarnya. Dengan segudang pengalaman
sebagai seorang pemimpin, sebagai seorang Raja, maka secara alamiah ia harus
mengakhiri seluruh tanggung jawabnya lalu menyerahkan tahta kerajaan kepada
orang yang dianggap tepat.
Untuk itu Raja
Daud mempersiapkan Salomo dengan sebaik-baiknya, agar kelak ketika ia
memerintah Israel, ia dapat melakukan tugas dan tanggung jawab itu dengan
sebaik-baiknya, agar bangsa itu tetap taat dan takut akan Tuhan sebagai kunci
kokoh dan kuatnya Kerajaan Israel. Daud melaksanakan peran serta tanggung
jawabnya dengan baik sebagai orang tua. Daud melakukan proses pengkaderan bagi
Salomo dan menanamkan nilai-nilai yang baik
agar kelak anaknya Salomo dapat
menjadi seorang pemimpin yang baik dan umat Allah diberkati.
Sebagai orang
tua yang baik dan bijaksana, kita juga bertanggung jawab untuk mempersiapkan
anak-anak kita, agar sebelum kita meninggal dunia, dalam diri anak-anak kita
telah tertanam nilai-nilai kehidupan yang baik dan benar. Kita juga memiliki
harapan-harapan akan masa depan yang cemerlang bagi anak-anak kita melalui
kesanggupan mereka dalam berkarya. Kita berharap bahwa anak-anak kita dapat
mengembangkan kreativitas dan karya-karya yang jauh lebih baik dari apa yang
pernah kita lakukan.
Secara umum
tidak satupun orang tua memiliki cita-cita kehancuran bagi anak-anaknya. Setiap
orang tua seharusnya berpikir tentang masa depan anak-anak yang penuh harapan
di mana kehidupan mereka jauh lebih baik dari apa yang kita alami.
B.
Gali Isi Alkitab.
1.
Berbicara
tentang harapan masa depan anak-anak, Adakah bagian Alkitab 1 Raja-raja 2:1-9
yang berbicara tentang Nasehat untuk masa depan? Berikan Pandangan kita.
2.
Ayat-ayat
Alkitab mana saja yang menurut Saudara berkesan bagi saudara pribadi maupun
bagi keluarga? Berikan Pandangan kita.
C.
Kesimpulan.
Sangat
keliru dan fatal apabila ada orang tua yang berharap bahwa anak-anaknya akan
hidup dengan masa depan yang jauh lebih buruk dari dirinya. Lebih fatal lagi
jika ada orang tua yang mengharapkan masa depan anak-anaknya tetapi mereka sama
sekali tidak mempersiapkan hal-hal yang baik bagi anak-anak.
Jika
kita ingin melihat, mengalami dan menikmati hal-hal yang baik, maka mulai
sekarang taburlah hal-hal yang baik dalam kehidupan anak-anak kita. Apabila
kita mengharapkan kehidupn anak-anak kita lebih baik dari kehidupan kita
sekarang, maka tambahkanlah kerja keras, ketekunan serta minat yang lebih besar
dalam menanamkan hal-hal yang baik bagi anak-anak kita.
Bagi
keluarga-keluarga yang mempunyai anak-anak perempuan, tentulah mereka
mengharapkan anak-anak perempuan mereka menjadi perempuan yang baik. Bagi
keluarga-keluarga yang memiliki anak-anak laki-laki tentulah mereka
mengharapkan anak-anak laki-laki mereka dapat ,menjadi laki-laki yang baik.
Oleh karena itu seiring dengan harapan-harapan yang ada dalam pikiran kita,
maka pada saat yang sama juga dibuthkan usaha-usaha yang baik sehingga setiap harapan tentang
masa depan anak-anak kita dapat terwujud dengan baik. Amin.
Pdt.
Nurlian Wati Lengka, STh; kembangkan sesuai konteks Jemaat.
Team
Penulis Khotbah, PA Dan BGA Bulan Maret-Juni :
1. Pdt.
Onesimus Lantigimo, MTh
2. Pdt.
Margaretha Tandumai, STh
3. Pdt.
Doni Semuel Randabunga, STh
4. Pdt.
A.Y. Sapasuru, STh
5. Pdt.
Hertince Dondo, SPAK
6. Pdt.
Feri Sentje, STh
7. Pdt.
I Wayan Norsa Adiwijaya, STh
8. Pdt.
Arcun Baleona, SmTh
9. Pdt.
Harun Dike, STh
10. Pdt.
Yarman Mosau, STh
11. Pnt.
Yulce Moningka, SPAK
12. Sdri.
Silva, SPAK
13. Pdt.
Nurlian Wati Lengka, STh
![]() |
.....BERDOALAH
SENANTIASA UNTUK TUGAS-TUGAS PEMBERITAAN FIRMAN AGAR SETIAP FIRMAN ALLAH YANG
DIBERITAKAN DAPAT MENJADI BERKAT BAGI BANYAK ORANG.......
![]() |
![]() |


