Klasis Malili-Nuha adalah salah satu Klasis di wilayah pelayanan GKST yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Luwu Timur. Secara kwantitas Klasis Malili-Nuha termasuk salah satu Klasis GKST yang tergolong kecil yang terdiri atas 9 ( Sembilan ) jemaat yaitu Jemaat Tiberias Matompi, Jemaat Pniel Lioka, Jemaat Sion Wasuponda, Jemaat Eirene Togo, Jemaat Imanuel Malili, Jemaat Maranatha Kawata, Jemaat Sion Landangi, Jemaat Efrata Koropansu, Jemaat Moria Angkona dengan ditambah 1 ( Satu ) kelompok kebaktian yaitu kelompok kebaktian Atue. Secara keseluruhan, warga Jemaat di Klasis Malili-Nuha terdiri dari 449 ( Empat Ratus Empat Puluh Sembilan ) Kepala Keluarga. Sejarah Klasis Malili-Nuha dimulai sejak Gereja Protestan Indonesia atau Indische Kerk melakukan pekerjaan Zending dari Makasar dengan utusan Injil GPI R.W.F. Kijftenbelt. Pekerjaan ini tidak membawa hasil yang memuaskan karena kebijakan-kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang banyak merugikan pekerjaan Zending. Tidak ada Jemaat yang berhasil didirikan di wilayah Tana Nuha. Kijftenbelt pada akhirnya hanya memelihara beberapa warga gereja anggota GPI, Indische Kerk di Onder Afdeeling Malili yang jumlahnya tidak begitu banyak karena mereka adalah sebagian kecil pegawai pemerintah yang mungkin terdiri atas orang-orang Belanda dan juga Minahasa. Disamping itu terdapat juga beberapa pegawai perusahaan tambang Nickel MMC milik pemerintah Hindia Belanda.
Pada Tahun 1915 pekerjaan Zending Indische Kerk diserahkan kepada NZG dan digabungkan dengan Zending Poso di bawah pimpinan Dr. Albertus Christian Kruyt. Pada tahun 1915 untuk pertama kali Kruyt menempatkan Pos Zending (penginjilan) darurat untuk wilayah Tana Nuha, Malili dan sekitarnya di See-see, Togo. Pos Zending ini belum definitif sebab selanjutnya akan mengalami mutasi sesuai dengan kebutuhan pekerjaan Zending. Kruyt memulai pekerjaan Zendingnya dikalangan orang-orang see-see Togo, Pae-pae, Sinongko dan Dongi, Sorowako. Pada tahun 1915 Jemaat See-see Togo, Pae-pae dan Dongi akhirnya terbentuk. Sejak tahun 1926 Kruyt menyerahkan pekerjaan Zending kepada Pdt. Adrian Kooistra selanjutnya kepada Pdt. Jacob Ritsema tenaga Zending yang sedang bekerja di Resort Taripa tetapi juga sedang melakukan orientasi di Tana Nuha, Malili dan sekitarnya. Sementara itu di Kawata sedang dibangun sebuah rumah Zending untuk mengatur pekerjaan Zending yang lebih luas. Pada tahun 1926 orang-orang Tabarano, Lioka, Wawondula dan Matompi menerima baptisan dari Pdt. Jacob Ritsema meskipun ketika itu ia baru melakukan masa orientasi di wilayah ini.
Pada tanggal 1 Februari 1927 Secara resmi Pdt. Jacob Ritsema menerima tugas sebagai tenaga Zending di wilayah Tana Nuha, Malili dan sekitarnya dan Pdt. Jacob Ritsema menempati rumah Zending di Kawata. Sejak saat itu Resort Kawata secara resmi berdiri di mana Pdt. Jacob Ritsema menjadi Ketua atau pimpinan Resort Kawata yang pertama. Resort Kawata menjadi pusat pekerjaan Zending untuk wilayah Tana Nuha, Malili dan sekitarnya. Tahun 1927 Jemaat Kawata berdiri disusul pada tahun 1928 berdiri pula Jemaat Landangi, Koropansu dan Korolansa. Selanjutnya sekitar tahun 1930an berdiri pula Jemaat Angkona. Semua Jemaat-jemaat yang terbentuk setelah tahun 1915 adalah buah karya penginjilan Pdt. Jacob Ritsema. Pada tahun 1939 Pdt. Jacob Ritsema kembali ke negeri Belanda dan jabatan Ketua Resort Kawata digantikan oleh guru F. Mokalu yang memegang jabatan ini sampai dengan tahun 1946. Pada tahun 1947 jabatan sebagai ketua Resort-Klasis Kawata dipegang oleh Guru T. Komile sampai meletusnya pemberontakan DI/TII pimpinan Kahar Mudzakhar.
Pada tanggal 18 Oktober 1947 dilaksanakan Proto Sinode di Tentena di mana Jemaat-jemaat yang telah terbentuk di wilayah Tana Nuha, Tana Poso dan semua Jemaat yang terbentuk sebagai buah kerja Zending ( NZG ) yang dipelopori oleh Dr. Albertus Christian Kruyt disatukan dalam sebuah Sinode Gereja yang diberi nama Gereja Kristen Sulawesi Tengah. Resort-resort ketika itu berubah nama menjadi Klasis, termasuk Resort Kawata yang selanjutnya berubah menjadi Klasis Malili-Nuha dengan pusat Klasis di Kawata.
Pada tahun 1950-1965 terjadi pemberontakan Darul Islam Tentara Islam Indonesia ( DI/TII ) di Sulawesi Selatan pimpinan Kahar Mudzakhar yang menghendaki terbentuknya negara Islam di Sulawesi Selatan. Tana Nuha, Malili dan sekitarnya menjadi salah satu basis para pemberontak. Jemaat-jemaat di Tana Nuha, Malili dan sekitarnya terpaksa mengungsi meninggalkan Tanah kelahiran. Sebagian ke Padang Alifan Palopo, Pakatan dan akhirnya berdiaspora ke Sulawesi Tengah : Mayakeli, Taliwan, Poso, Tiwa’a dan Lanumor.
Meskipun sejak tanggal 1 Juni 1964 sampai dengan 03 Desember 1966 Pdt. S. Peruge ditunjuk sebagai penanggungjawab pelayanan di wilayah Klasis Lembo, Mangkutana yang meliputi wilayah Mangkutana, Malili-Nuha dan Wotu, tetapi arus balik secara besar-besaran warga Jemaat ke Tana Nuha, Malili dan sekitarnya baru terjadi pada tahun 1970an. Sebab situasi politik telah mengalami stabilitas dengan dipadamkannya pemberontakan DI/TII pada tanggal 3 Februari 1965. Sebagian warga Jemaat juga masih memilih untuk tetap tinggal di kampung-kampung pengungsian di Sulawesi Tengah. Sementara itu sebagian memilih untuk kembali lagi ke Pakatan. Jemaat-jemaat yang kembali ke Tana Nuha seperti Matompi, Lioka, Togo, Malili, Kawata, Koropansu, Landangi dan Angkona kembali membangun persekutuan Jemaat seperti sediakala. Jemaat Sinongko dan Pae-pae selanjutnya membentuk Jemaat Wasuponda, sedangkan Jemaat Wawondula, Tabarano dan Dongi Sorowako lebih memilih bergabung dengan gereja-gereja yang kemudian datang di daerah mereka seperti Gereja Protestan Indonesia Luwu ( GPIL ), Pantekosta dan juga POUK yang kemudian dibentuk karena hadirnya Perusahaan Tambang Nickel Inco milik negara Kanada di Sorowako. Setelah seluruh Jemaat diTana Nuha, Resort Kawata yang selanjutnya disebut Klasis Malili-Nuha benar-benar telah terbentuk kembali pasca pengungsian, maka sejak saat itu Pdt. S. Peruge ditunjuk secara khusus untuk melayani Jemaat-jemaat dan bertanggung jawab sebagai Pendeta Klasis Malili-Nuha sampai dengan Tahun 1989. Pusat Klasis Malili-Nuha dipindahkan ke Wasuponda, + 3 KM dari See-see Togo. Rumah Zending yang pernah ditempati oleh Pdt. Ritsema di Kawata telah berhasil membangun Sejarah Gereja di Tana Nuha, sebuah Sejarah perjalanan Gereja dengan posisi jatuh dan bangunnya Iman orang-orang yang telah meninggalkan agama lama mereka yaitu agama suku Mpe LahuMoa seelanjutnya menjadi penganut agama Kristen.Kepemimpinan Pdt. S. Peruge dilanjutkan oleh Pdt. M. Ag. Podengge sejak Tahun 1989-2001. Pasca kerusuhan Poso yaitu terhitung tanggal 1 April 2001-Februari 2009 Majelis Sinode menempatkan Pdt. Ny. H. Lombu’u-Mbatono, SmTh sebagai Pendeta Klasis Malili-Nuha menggantikan Pdt. M. Ag. Podengge. Seiring dengan terjadinya perubahan Tata Gereja GKST hasil SSI Tahun 2006 di mana Majelis Klasis dipilih oleh peserta Rapat Klasis, maka pada pemilihan Majelis Klasis yang dilaksanakan pada Rapat Klasis tahun 2009 di Jemaat Moria Angkona, Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya terpilih sebagai Ketua Majelis Klasis Malili-Nuha untuk Periode 2009-2013 dan melanjutkan Periode selanjutnya yaitu sejak 2013-2017. Pada Rapat Klasis Malili-Nuha Januari Tahun 2010 yang dilaksanakan di Jemaat Eirene Togo, salah satu pokok Program Rapat Klasis adalah merencanakan pembangunan kantor Klasis di kota Malili. Program rencana pembangunan ini sekaligus bagian dari paket rencana pemindahan kantor Klasis dari Wasuponda ke Malili, mengingat bahwa Malili adalah Ibu Kota Kabupaten Luwu Timur dan letaknya sangat strategis. Menurut Rencana bahwa mutasi kantor Klasis Malili-Nuha ke kota Malili praktis berlaku sejak tahun 2016 ketika Ritual pengresmian kantor yang baru tersebut dilaksanakan.
| MAJELIS KLASIS MALILI-NUHA 2009-2017 : Pdt. I Wayan Norsa Adiwijaya, STh ( Ketua ), M.M. Malotu, BA ( Sekretaris ), Pdt. H. Lombu'u, SmTh ( Bendahara ) |
![]() |
| Doha Mia Kawata 1911 |
![]() |
| Doha Ro Mia Koropansu, Wiwirono, 1911 |
![]() |
| Mia Ntambee i Pansu, Landangi 1911 |






.jpg)