DOSA MENDATANGKAN MURKA ALLAH”
Jemaat Tuhan Yang Diberkati...
Jika kita merenungkan setiap peristiwa bencana alam yang begitu sering terjadi, baik gempa, tsunami, banjir bandang dan bencana letusan gunung, tentunya akan ada pertanyaan, mengapa itu harus terjadi ? mengapa Tuhan begitu kejam?, apa salah dan dosa manusia? Selanjutnya masih banyak lagi pertanyaan – pertanyaan yang keluar dari mulut kita sehubungan dengan semua peristiwa bencana yang dialami oleh umat manusia. Jemaat Yang Diberkati Tuhan.... Pemusnahan sekaligus ancaman kemusnahan Alam semesta dan Manusia sebetulnya telah terjadi sejak zaman purbakala sebagaimana yang diberitakan oleh Alkitab Perjanjian Lama. Peristiwa air bah yang baru saja kita baca, secara terang menjelaskan tentang bagaimana kekesalan dan kekecewaan Allah terhadap semua yang telah diciptakanNya. Yang Allah sesalkan bukan karena Ia telah menciptakan alam semesta, makhluk hidup termasuk juga manusia. Tetapi yang disesali oleh Allah adalah Sikap, tindakan dan cara hidup dari apa yang diciptakanNya itu. Manusia sebagai ciptaan yang termulia, diciptakan menurut rupa dan gambar Allah telah mencemari dirinya dengan berbagai perbuatan dosa yang sama sekali tidak disenangi bahkan menyakiti hati Allah. Allah melihat semua itu sangat tidak sesuai dengan rencana dan kehendakNya semula. Dari semua Manusia yang hidup pada masa itu, hanya ada satu yang masih setia, yaitu Nuh dan keluarganya. Kesetiaan Nuh dan keluarganya telah mendatangkan belas kasihan Allah, sehingga ketika Allah berkeputusan untuk memusnahkan semuanya, Allah memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera dan masuk ke dalam bahtera itu bersama – sama dengan semua anak – anaknya dan semua jenis binatang yang jumlahnya masing – masing satu pasang. Maksudnya adalah agar ketika masa bencana dan pemusnahan secara total itu berakhir, maka keberlangsungan dan perkembangan makhluk hidup masih dapat terjadi. Jemaat Yang Diberkati.... Pelajaran apa yang dapat kita petik dari peristiwa bencana besar ini ? Hal mendasar dan Teologis yang dapat kita petik dan pelajari dari perisriwa ini adalah : Allah bisa murka jika Manusia tidak lagi mau hidup dalam ketaatan kepadaNya. Allah bisa saja memusnahakan ciptaanNya jika hal itu tidak dapat menciptakan damai sejahtera seperti yang kehendakiNya. Gejolak kejahatan manusia sebelum air bah dapat saja terjadi dimana – mana, bahkan dalam kehidupan orang – orang percayapun itu bisa terjadi. Karena Kejahatan tidak memandang muka, tidak memandang suku, status sosial, bahkan kejahatan terjadi tidak memandang agama. Kenyataannya bahwa pada masa sekarang ini; misalnya di tengah-tengah kehidupan Rumah Tangga, Perselingkuhan terjadi tidak hanya dalam lingkungan non Kristen, tetapi di lingkungan orang – orang Kristen pun kenyataan seperti itu tidak jarang terjadi. Kenyataan tentang Pementingan diri sendiri, korupsi, pemerkosaan dan masih banyak lagi jenis kejahatan lain yang sering dan banyak dipraktekan oleh umat manusia pada masa sekarang ini, termasuk oleh warga Gereja yang tidak bertanggung jawab. Jemaat Yang Diberkati Tuhan…… Penyesalan Allah menciptakan manusia dapat terjadi jika umat manusia semakin bobrok. Oleh karena itu, Sebelum semua peristiwa yang menyakiti Allah itu terjadi, sebelum kita melakukan tindakan-tindakan jahat seperti itu, mari kita terus memeriksa diri kita, apakah kita masih hidup dalam koridor kehendak Allah atau tidak. Mari kita terus mengarahkan kehidupan kita dan berjalan dalam kebenaran serta kesucian yang dikehendaki oleh Allah. Mari kita terus berusaha untuk memperbaiki hubungan kita dengan sesama terlebih-lebih hubungan kita dengan Allah. Suasana kekacauan, kebencian, iri hati, dendam dan kejahatan – kejahatan lainnya kita gantikan dengan syalom yang datangnya dari Allah. Ketidaksetiaan dan ketidaktaatan marilah terus kita upayakan untuk diganti dengan kehidupan yang terus taat dan setia pada firman dan kehendak Allah. Ia menghendaki hal-hal itu untuk tidak pernah berhenti kita buat dan lakukan bagiNya. Untuk itulah Ia menciptakan Alam semesta, seluruh ciptaan, dan untuk tujuan ketaatan dan kesetiaan itulah Allah menciptakan kita. Ketika kesetiaan dan ketaatan itu berubah, maka Allah akan sangat menyesal karena telah menciptakan kita. Jemaat Yang Diberkati Tuhan……. Setiap anak-anak Allah memiliki pemahaman yang terang di dalam Iman bahwa segala sesuatu Yang rusak dapat diperbaiki, yang putus dapat disambung. Hubungan yang indah bersama Tuhan dapat terus terjalin ketika ketaatan dan kesetiaan mengalir dari kehidupan setiap anak-anak Allah. Ketaatan dan kesetiaan itu akan membuat Allah terus-menerus bersukacita serta berpihak kepada anak-anakNya. Allah tidak pernah menyesal menciptakan kita, jika hidup ini dipakai untuk melakukan apa yang berkenan kepadaNya. Teks Bacaan kita menjelaskan tentang bagaimana Kejamnya akibat-akibat yang ditimbulkan oleh dosa. Ia melahirkan kehancuran bahkan kemusnahan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Alam semesta beserta dengan segala isinya termasuk umat Manusia mengalami kebinasaan total tanpa bisa diselamatkan lagi. Ketika pintu pertobatan yang masih terbuka disia-siakan, ketika ruang dan waktu untuk kembali ke dalam hidup penuh ketaatan tidak lagi dihiraukan, maka kebinasaan itu segera akan terjadi! Penghukuman Allah atas dosa dan ketidaktaatan itu harus dilaksanakan, sebab Allah selalu menyesal jika dosa dan Pelanggaran merajalela. Jemaat Yang Diberkati Tuhan..... Allah tidak kejam. Allah tidak bertindak semena-mena. Tetapi akibat dosalah yang menyebabkan semua bentuk kehancuran dan kebinasaan itu harus terjadi. Allah memberi waktu, Allah memberi kesempatan, Allah membuka pintu pertobatan begitu lebarnya, supaya melalui pertobatan itu kasih Allah mengalir seperti mata air yang melimpah-limpah. Perikop dan teks bacaan kita juga menjelaskan bahwa Allah begitu berpihak kepada orang-orang yang masih hidup dalam ketaatan dan kesetian kepadaNya. Nuh dan keluargaNya selamat dari bencana kebinasaan bukan karena mereka begitu kuat dan mampu bertahan dalam menghadapi bencana itu. Nuh dan keluargaNya selamat dari bencana hanya karena satu hal : Bahwa ketika dunia ini hiruk-pikuk, bergelut dalam dosa dan tidak mau bertobat. Keluarga Nuh tetap setia dan hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Atas dasar inilah Allah berpihak kepada mereka dan keluarga ini diselamatkan dari arus kebinasaan. Saudara....”Dosa Mendatangkan Murka Allah,” Tetapi ketaatan mendatang kehidupan&Keselamatan, Amin.
TEOLOGI TENTANG DOSA
BACAAN : MAZMUR 95 : 1-11
TEMA : BERTOBAT? JANGAN MENUNGGU SAMPAI BESOK!
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Hidup memang tidak mudah. Selalu saja ada tantangan, masalah dan pergumulan yang siap menghadang kehidupan seseorang. Masalah ekonomi dan keuangan sering kali membuat seseorang kebingungan bahkan sampai bisa berputus asa. Bagaimana tidak, untuk bisa memenuhi tuntutan hidup, setiap orang dituntut untuk bekerja keras kapan dan dimana saja. Bagi orang yang berpikir positif, ia akan berjuang mengatasi setiap tantangan dan masalah yang ada. Kesulitan apapun tidak akan menyurutkan langkahnya untuk terus berjuang. Tetapi bagi yang berpikiran negative akan menyerah dan mencari jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya.
Salah satu jalan pintas yang sering diberitakan di media massa adalah dengan cara menjual diri. Sebut saja seperti yang dileh seorang remaja putri bernama Dina, gadis kampong yang cantik, tetapi saying, ia bukan tipe orang yang mau berjuang secara positif. Dengan mengandalkan parasnya yang cantik, Dina menjadi seorang “wanita panggilan” sejak berusia 17 tahun. Karena iming-iming uang yang cukup banyak ia tidak segan-segan terjun ke lembah hitam. Uangpun mengalir lancar ke kantong “pundi-pundi”nya. Bukan hanya uang, mobil mewah pun dengan mudah didapatkannya tanpa perlu bersusah-susah berusaha.
Keadaan yang menyenangkan inilah yang membuat Dina betah berlama-lama dengan profesinya ini. Pada suatu hari seseorang bertanya kepadanya: “Sampai kapan kamu akan bertahan dengan pekerjaanmu ini?” Dengan enteng Dina menjawab “saya punya target untuk berubah pada usia 30 tahun. Sekarang mengumpulkan modal dulu, maunya nanti buka usaha sendiri”. Pertanyaan orang tadi yang sebenarnya bertujuan untuk memberi nasehat, ternyata tidak dihiraukan oleh Dina. Menyedihkan sekali, untuk bertobat saja, Dina harus menunggu bertahun-tahun.
Apa yang dilakukan Dina hanya salah satu respon negative dari kesulitan hidup. Masih banyak lagi bentuk respon negative seseorang terhadap kesulitan hidup yang dihadapi, misalkan saja korupsi, mencuri, menculik dan menjual anak, menipu, dan lain-lain. Sering kali seorang pencuri yang tertangkap akan membela diri dengan berkata, “kami butuh makan pak.
Anak kami butuh biaya sekolah. Mau kerja tidak ada lowongan…” dst. Masih banyak lagi jawaban serta alasan yang dikemukakan.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Apapun alasannya, respon negative terhadap kesulitan tidak dibenarkan oleh hukum bahkan juga oleh Tuhan, Apalagi jika hal itu menimbulkan kerugian kepada pihak lain. Untuk itu, jika masih ada kecenderungan dalam hidup kita ketika merespon kesulitan hidup dengan cara yang salah sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan dosa, maka marilah kita berubah!
Jauhi dan hilangkan kecenderungan-kecenderungan pemikiran seperti itu. Keadaan kita tidak akan lebih baik jika disikapi dengan cara yang tidak benar, malah justru itu akan menimbulkan kesalahan baru yang justru akan menjerumuskan diri kita semakin jauh ke dalam kesulitan hidup. Berbalik dan berubahlah saat ini juga, jangan menunggu hari esok, karena sesungguhnya tidak ada waktu yang lebih baik dan tidak ada kesempatan yang lebih tepat untuk berbalik dan bertobat dari kesalahan dan dosa kita kecuali hari ini juga.
Kita menyadari dengan sungguh bahwa tidak satupun manusia bahkan saudara dan saya yang bersih dari pelanggaran dan dosa di hadapan Allah. Kita sadar bahwa secara sengaja maupun tidak sengaja, kita begitu sering menimbulkan penyesalan dan kekecewaan Tuhan. Ketika kita mengambil keputusan untuk bertobat, ketika itulah kita kembali membuka serta membangun hubungan yang baik dengan Allah Sang Maha penuh kasih dan berkat, pada saat yang sama Ia akan menyertai dan menolong kita. Kasih dan penyertaan Allah itu akan senantiasa memampukan kita untuk selalu bersikap positif terhadap berbagai kesulitan dan serta kesusahan hidup yang kita alami. Jika saat ini kita berada dalam kecenderungan dosa dalam menghadapi kesulitan, Masih adakah kesediaan kita untuk Bertobat? Lakukan sekarang juga, Jangan tunda sampai hari esok. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok.
Jemaat Yang diberkati Tuhan.....
Keseluruhan Perikop dalam Mazmur 95:1-11 merupakan panggilan Pemazmur kepada semua orang untuk memyembah dan memuliakan Tuhan. Penyembahan dan pemuliaan terhadap Tuhan tidak dapat dilakukan ketika dosa masih melekat dalam hidup para penyembahNya. Orang yang menyembah Tuhan adalah orang yang hidup dalam kekudusan.
Hidup dalam kekudusan merupakan kunci bahwa setiap penyembahan, pujian dan pemuliaan terhadap Tuhan akan berkenan dihadapanNya.
Pemazmur sungguh menyadari bahwa setiap manusia bahkan dirinya tidak dapat melarikan diri dari hadapan Tuhan. Ia adalah penguasa. Ia adalah Allah yang besar. Ia adalah Raja yang besar dan mengatasi segala allah, artinya; Meskipun ada begitu banyak ilah-ilah lain yang mungkin memiliki kuasa, tetapi kebesaran Allah tidak dapat tertandingi oleh kuasa dan penguasa manapun juga (Ayat 2 dan 3). Terlalu banyak hal-hal yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh ilah-ilah lain, tetapi bagi Allah, segala sesuatu tidak ada yang tersembunyi. Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tanganNya (Ayat 4). Allah Maha tahu. Allah maha kuasa. Dialah yang empunya segala sesuatu dan pencipta segala sesuatu(ayat 5).
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Dosa yang kelihatan dan yang tidak kelihatan seluruhnya ada dalam pengetahuan Allah. Jika kita adalah penyembah-penyembah Allah yang benar, maka dosa tidak akan melekat lagi dalam kehidupan kita. Jika dosa itu masih ada, mari kita membersihkannya. Jika masih ada dosa kebencian, dosa Egoisme, dosa permusuhan, dosa perzinahan, dosa ketidakadilan dan semua bentuk dosa lainnya, mari kita bawa di hadapan Tuhan dalam sebuah pengakuan, sebuah Convesi, sambil memohon pengampunanNya, maka kita akan benar-benar diampuniNya.
“Pada hari ini, sekiraNya kamu mendengar suaraNya, jangan keraskan hatimu” Kata firman Allah. Kita bergegas datang kepada Allah dan meminta pengampunanNya. Ketika ucapan Pengakuan dosa (Convesi) di hadapan Allah keluar dari mulut kita dan keluar dari hati yang tulus, maka saat itu juga Tuhan mengampuni kita. Dalam pengampunanNya, kita akan dikuduskanNya, dijadikanNya manusia baru dan menjadi penyembah-penyembah yang benar dan berkenan dihadapanNya. Ia begitu mengasihi kita, karena kita adalah umatNya dan kawanan domba tuntunan tanganNya. Ia tidak mau satupun dari antara kita hilang karena dosa. Tuhan mau setiap umatNya yaitu saudara dan saya bisa masuk ke dalam perhentianNya. Tetapi jika kita terus berkajang dalam dosa, Tuhan berfirman : “Sebab itu Aku bersumpah dalam murkaKu, mereka takkan masuk ke tempat perhentianKu.” Terpujilah Tuhan dengan janji-janjiNya, Amin.
TEOLOGI TENTANG ROH KUDUS
BACAAN : Kisah Para Rasul 9:19b-31
TEMA : ROH KUDUS ADALAH KEKUATAN KITA
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Sebelum Tuhan Yesus naik ke Sorga, Ia pernah berpesan dan berjanji kepada murid-muridNya seperti ini : “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8).
Pesan penting ini mengandung pengertian bahwa Allah bekerja dan terus bekerja untuk menyatakan Misi keselamatan bagi dunia. Pekerjaan Misi penyelamatan dunia tidak berhenti hanya sampai ketika Tuhan Yesus naik ke Sorga. Dunia harus diselamatkan sebelum waktu, ruang dan masa di dunia ini berakhir. Ketika Manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), Allah mencari dan memanggil Manusia untuk kembali ke dalam dekapan anugerah dan kasih sayangNya yang besar. Ia berkenan memperbaharui kehidupan mereka dengan memberi Manusia janji-janji yang baru. Ketika seluruh kehidupan di bumi ini dimusnahkan, Allah masih berkenan menyelamatkan keluarga Nuh dan menyisakan kehidupan yang lain agar masih ada kehidupan berlangsung di dunia ini. Ketika Israel umatNya gagal menjadi berkat dan gagal menjadi alat Penyataan keselamatan Allah bagi bangsa-bangsa, Ia sendiri datang dalam diri Yesus Kristus Sang Anak. Sampai ketika puncak penyelamatan Allah di kayu salib dan pasca kebangkitanNya, Allah di dalam Yesus Kristus masih memberikan perintah kepada murid-muridNya; Untuk memberitakan Kabar keselamatan itu kepada bangsa-bangsa, kepada semua orang, baik jauh maupun dekat, supaya mereka percaya dan selanjutnya menerima keselamatan yang ditawarkan dan disediakan oleh Allah. Realitas ini menggambarkan kepada kita bahwa kasih Allah tidak dibatasi oleh Ruang, waktu dan masa, sepanjang Ruang, waktu dan masa itu masih ada. Kasih itu terus bergerak dan berlangsung Jutaan bahkan Milyaran Tahun sampai Ruang, waktu dan masa di dunia ini berakhir. Allah bekerja dalam Trinitas yaitu dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus. Ia adalah Allah yang Esa yang terus bertindak dalam kasih, kebenaran dan Keadilan.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Setelah Saulus mengalami pertobatan, ia benar-benar menjadi seorang sosok yang luar biasa dalam pengajaran dan pemberitaan Injil. Saulus yang selanjutnya menjadi Paulus adalah Rasul terbesar meskipun dia bukan salah satu dari kedua belas murid Tuhan Yesus. Pekerjaan-pekerjaan pemberitaan Injil yang dilakukannya terus mengalami perkembangan pesat. Spirit atau semangatnya dalam memberitakan Injil begitu tidak tertandingi oleh siapapun juga. Ia memberitakan Injil dengan penuh kuasa, sehingga, begitu banyak orang yang datang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Amanat untuk memberitakan Injil sebagaimana yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus dilakukannya tanpa takut menanggung dan menghadapi resiko, bahkan Paulus tidak pernah merasa ragu, gentar dan takut meskipun ia berada dalam ancaman bayang-bayang kematian (Ayat 23,24). Dalam segala situasi dan keadaan, Paulus tetap konsisten dengan tugas yang harus dikerjakannya yaitu memberitakan dan membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Mesias (Ayat 22).
Mungkin kita bertanya : “Mengapa Paulus begitu berani bahkan tidak pernah mundur meski menghadapi bayang-bayang kematian dalam memberitakan Injil?”
Jawabannya singkat! karena Roh Kudus yang memberinya kuasa. Roh Kudus memberikan keberanian kepada Paulus. Roh Kuduslah yang terus menghibur dan menolongnya ketika ia mengalami saat-saat kritis, sedih dan berada dalam goncangan serta gelombang tantangan pencobaan. Roh Kudus itu juga yang terus memberikannya hikmat ketika ia membutuhkannya.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Apa yang dialami dan dilakukan oleh Paulus menimbulkan rasa heran bahkan Kejadian itu menuai banyak kontroversi atau mengundang perbedaan pendapat di kalangan banyak pihak.
Pertama : Ada sebagian pihak yang memandang Negatip terhadap perubahan yang terjadi dalam hidup Paulus. Kalangan ini merasa bahwa Paulus telah mengkhianati komitment mereka selama ini untuk memusnahkan pengikut Tuhan. Dahulu Paulus adalah pimpinan mereka, tetapi sekarang Paulus meninggalkan mereka bahkan hidup bersama dan mengasihi orang-orang yang dahulunya sangat mereka benci. Kelompok ini selanjutnya berusaha untuk membunuh Paulus.
Kedua : Ada sebagian pihak yang memandang positip tentang apa yang terjadi dalam kehidupan Paulus, terutama tentang perubahan perilaku kehidupannya. Orang-orang ini diliputi oleh rasa heran oleh sebab perubahan itu. Paulus yang dahulunya begitu membenci Tuhan Yesus dan murid-muridNya, selanjutnya dengan penuh amarah dan kebenciannya, Paulus menghancurkan para pengikut Tuhan. Paulus juga yang begitu setuju dan memprovokasi masa Yahudi dalam peristiwa pembunuhan terhadap Stefanus (Kis 6-7). Tetapi dalam waktu sekejap, Paulus berubah menjadi seorang Rasul yang begitu mencintai Tuhan dan memberitakan Injil tanpa rasa takut sedikitpun. Kalangan ini menerima Paulus dengan tangan terbuka dan bergabung bersama Paulus dalam Pelayanan (Ayat 25,27).
Ketiga : Ada juga sebagian Pihak yang menjadi Skeptis atau Ragu-ragu sehubungan dengan perubahan dalam hidup Paulus. Golongan ini berada pada sebuah persimpangan Antara percaya dan tidak. Sikap Ragu-ragu ini menyebabkan mereka merasa takut untuk bergabung dan bergaul dengan Paulus. Tetapi toh pada akhirnya kelompok ini bersedia juga menerima Paulus sebagai saudara dalam persekutuan.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Pekerjaan Allah Roh Kudus memang banyak menimbulkan keragu-raguan dan Kontroversi atau perbedaan pandangan di lingkungan umat Manusia bahkan di lingkungan warga Gereja. Hal itu disebabkan karena begitu banyak orang yang tidak sanggup memahami pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa itu. Roh Kudus dapat mengubah seseorang yang begitu jahat menjadi orang yang begitu baik. Roh Kudus sanggup mengubah ketakutan menjadi keberanian untuk memberitakan Injil.
Jemaat mula-mula yang diliputi oleh rasa takut akan ancaman penganiayaan dan kematian, sekarang mereka berubah menjadi berani karena mereka dipimpin, dituntun dan dihibur oleh Roh Kudus.
Kenyataan ini semakin membuktikan bahwa Roh itu adalah Roh yang penuh dengan kuasa. Kenyataan ini juga semakin membuktikan bahwa ucapan serta janji Tuhan Yesus adalah Ya dan Amin, sungguh-sungguh benar. Bahwa Apabila Roh Kudus turun ke atas setiap orang yang membuka diri untuk dituntunNya, maka mereka akan menerima kuasa, karena Roh Kudus itu adalah Allah sendiri. Roh Kudus itu adalah Allah Trinitas. Allah yang bekerja dalam Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Saudara......mungkin ada begitu banyak hal yang tidak sanggup kita pikirkan dan lakukan dalam hidup kita selaku Gereja, selaku keluarga bahkan selaku pribadi. Selaku Persekutuan dilingkup Klasis ini, banyak rencana yang akan kita dan terus kita kerjakan sehubungan dengan Program-program Kemandirian. Mungkin kita ragu : akankah semua Rencana itu akan terwujud?
Kita tidak perlu Ragu! Alkitab membuktikan bahwa Roh Kudus sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan Manusia. Tugas kita adalah membuka diri, membuka hati untuk dituntun, dipimpin dan diatur oleh Roh Kudus. Maka Niscaya segala sesuatu yang tidak mungkin bagi kita, akan dibuat menjadi mungkin oleh Allah Roh Kudus. Percayalah : Roh Kudus adalah kekuatan kita, Amin.
TEOLOGI TENTANG KESELAMATAN
BACAAN : YOHANES 8:30-36
TEMA : KESELAMATAN ADALAH SEBUAH PILIHAN
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Di lingkungan orang Israel atau Yahudi, Yang biasanya disebut sebagai Hamba adalah seseorang yang seluruh hidupnya diabdikan kepada seseorang atau kepada orang lain yang disebut sebagai “Tuan”. Seseorang biasanya menjadi hamba bagi orang lain, itu disebabkan karena lilitan hutang yang tidak terbayar atau karena memang dia adalah keturunan hamba atau budak (Ibrani : Eved). Tetapi selanjutnya Seorang hamba akan lepas dari lingkaran perbudakan, atau statusnya sebagai Budak akan berubah menjadi orang Merdeka, jika ada seseorang yang mau, Rela dan bersedia membayarkan sejumlah uang sebagai tebusan atas Budak itu kepada tuannya.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang kemerdekaan dari dosa, orang-orang Yahudi tidak dapat memahami maksud Tuhan Yesus. Kemerdekaan yang dikatakan Tuhan Yesus dipahami oleh orang Yahudi sebagai kemerdekaan dari perbudakan yang lazimnya mereka pahami. Oleh karena itu mereka menolak tawaran Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan kemerdekaan, karena sebagai keturunan Abraham mereka adalah orang-orang yang telah merdeka, padahal yang dimaksud Yesus adalah kemerdekaan dari perbudakan dosa.
Dalam bacaan ini Yesus mengemukakan 2 (Dua) langkah untuk bisa benar-benar merdeka dari perbudakan dosa.
Yang pertama, Tetap dalam FirmanNya (ayat 31). Kata tetap dalam Firman mengandung pengertian setia pada kehendak Tuhan, tidak mudah terpengaruh dengan pengajaran-pengajaran di luar Firman Tuhan, selalu bersedia menyatakan kebenaran Firman Tuhan meskipun tidak baik waktunya, serta memegang erat Firman Tuhan sebagai satu-satunya pedoman dalam menjalani kehidupan.
Seseorang yang setia kepada Firman Tuhan tidak akan pernah berpaling, dia tidak akan lari atau meninggalkan kebenaran Firman Tuhan hanya karena tekanan hidup atau tawaran yang menggiurkan. Seseorang yang setia pada
kebenaran firman Tuhan, akan tetap tinggal dan memegang erat keyakinannya kepada kebenaran Firman Tuhan itu, meskipun situasi sering kali tidak menguntungkan baginya.
Sikap setia pada Firman ini akan membawa setiap pelaku Firman Tuhan pada langkah yang kedua yaitu :
Mengetahui kebenaran yang memerdekakan (ayat 32). Seperti apakah kebenaran yang mampu memerdekakan itu? Kebenaran yang memerdekakan itu adalah Yesus, Anak Allah yang hidup, yang bersedia mengorbankan diriNya untuk menebus setiap orang percaya dari perbudakan dosa. Realitas ini menguatkan sebuah keyakinan bahwa Tidak ada seorangpun manusia yang oleh usahanya sendiri mampu menebus dan memerdekakan dirinya dari perbudakan dosa. Setiap orang yang hidup dalam perbudakan dosa membutuhkan orang lain yang benar-benar bebas dari dosa, yang tidak terbelenggu oleh dosa, dan yang benar-benar merdeka. Hanya sosok seperti inilah yang bisa membebaskan setiap orang berdosa dapat keluar dari lingkaran belenggu dosa.
Dalam catatan Sejarah kehidupan umat Manusia di atas bumi ini, tidak ada seorangpun yang memenuhi syarat itu kecuali Yesus, karena Dia adalah Anak Allah yang menghapus dosa umatNya bahkan dosa dunia (band. Mat 1:21; Yoh 1:29). Inilah kebenaran itu, dan Kebenaran inilah yang sanggup menyelamatkan setiap orang yang mau percaya kepada kebenaran itu. Di luar itu, tidak ada kebenaran yang sanggup menyelamatkan.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Seperti yang dilakukanNya kepada orang-orang Yahudi saat itu, kini pun Tuhan Yesus tetap menawarkan kemerdekaan abadi dari perbudakan dosa kepada setiap orang, juga kepada saudara dan saya. Melalui pemberitaan Gereja, Injil yang memerdekakan itu terus dikumandangkan, terus diserukan. Banyak orang yang telah percaya dan menerima kebenaran itu, tetapi tidak sedikit yang menolak. Bagaimana dengan saudara dan saya? Bersungguh-sungguh hatikah saudara dan saya menerima tawaran Yesus ini, atau sekedar hanya menerimanya sebagai sesuatu yang tidak begitu penting dalam hidup kita? Atau kita menolaknya sama sekali?
Saudara....Benar sekali bahwa keselamatan adalah anugerah dari Allah. Tetapi menerima atau menolak keselamatan itu adalah sebuah pilihan. Jika saudara dan saya bersedia menerima tawaran Yesus atas penebusan dosa, maka tetaplah di dalam FirmanNya. Tinggallah dalam Kristus (Yunani : en
kristo ) Jadilah murid Yesus yang setia. Tetapi jika saudara menolak untuk tinggal dibawah otoritas FirmanNya, jika saudara lebih memilih setia pada kehendak hati sendiri dari pada kehendak Allah, maka itu berarti saudara telah memutuskan untuk tetap hidup di bawah perbudakan dosa, yang juga berarti bahwa saudara sedang mempersiapkan diri untuk sebuah penghukuman kekal, yaitu tempat yang disediakan bagi orang-orang yang memilih hidup dalam perbudakan dosa yaitu jalan menuju kebinasaan.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Dalam kaitan dengan kemerdekaan atas kuasa dosa, Tuhan Yesus dengan sangat tegas mengatakan : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal di dalam Rumah, tetapi anak tetap tinggal di dalam Rumah” (Ayat 34,35). ” Ucapan Tuhan Yesus ini merupakan ketegasan bahwa tidak ada tempat bagi hamba-hamba dosa di rumah Bapa di Sorga. Hanya anak-anak Allah yang telah menerima Kemerdekaan dari dosa, itulah yang diberikan hak untuk tinggal dalam Rumah Bapa di sorga.
Tuhan Yesus adalah Anak Allah sekaligus pemilik Rumah di sorga. Ia tidak pernah menjadi hamba apalagi budak dosa. Oleh karena itu, Hanya Dialah yang sanggup membeli dan membayar status kehambaan kita atas kuasa dosa. Harganya sudah dibayar tunai dengan darahNya sendiri, itulah darahNya yang suci dan tidak ternoda oleh dosa. Hanya darah yng suci itulah yang sanggup menghapus dosa-dosa kita. Hanya darah Anak Allah itulah yang mampu memerdekakan kita dari perbudakan dosa. Atas dasar ini, Tuhan Yesus berani dan sanggup memberikan garansi atau jaminan dengan mengatakan : “Jadi apabila Anak itu (Tuhan Yesus) memerdekakan kamu, kamupun benar-benar Merdeka.” (Ayat 36).
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Kemerdekaan dari dosa adalah anugerah bagi setiap orang, bahkan anugerah itu adalah anugerah yang sangat mahal (Expencive Grace).
Tetapi mau hidup dalam kemerdekaan yang disediakan oleh Allah atau tetap hidup dalam dosa, itu adalah sebuah pilihan. Tentu saja pilihan itu berjalan dengan konsekwensinya masing-masing.
Bagaimana dengan pilihan saudara saat ini? hanya orang yang bijak yang akan memilih dengan kesadaran penuh untuk hidup dalam kemerdekaan. Amin.
TEOLOGI TENTANG ESKATOLOGY
BACAAN : YESAYA 10 : 20 – 27a
Thema : “ KEHIDUPAN KEKAL”
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Saya sungguh percaya akan satu hal yaitu : Seluruh umat Tuhan sepakat untuk mengatakan bahwa “kehadiran (Presensia)” dan pengorbanan Allah di dalam Yesus Kristus adalah untuk kepentingan seluruh umat Manusia, yaitu menawarkan dan menyediakan suatu kehidupan yang kekal pada masa akhir zaman (Eskatology Yunani : eschaton). Pengorbanan Allah dalam sepanjang sejarah penyelamatan membuktikan bahwa Allah sama sekali tidak rela, kalau satupun dari umat Manusia harus mengalami kebinasaan. Ia mau, bahwa semua umat Manusia yang adalah gambar diriNya (Imago Dei), yang dikasihi dan dipeliharaNya sebagai biji mataNya mengalami keselamatan.
Seluruh isi hati Allah tentang kecintaanNya kepada umat Manusia telah dinyatakanNya melalui tindakan-tindakan penyelamatan yang dikerjakanNya. Keselamatan adalah kontra (Lawan) Kebinasaan. Jika seluruh umat Manusia yang hilang oleh karena dosa dapat menerima keselamatan yang tersedia sudah dikerjakan oleh Allah, maka betapa besarnya sukacita hati Allah (Band. Lukas 15:5-6). Sebaliknya jika ada diantara umatNya yang hilang dalam kebinasaan, betapa berdukacitanya hati Allah. Ia akan berusaha keras untuk mencari dan menemukan umatNya yang hilang itu (Band. Lukas 15:8).
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Persoalan yang banyak menjadi pergumulan pelayanan Gereja pada masa ini adalah betapa banyaknya umat manusia bahkan umat Tuhan yang lebih suka malah cenderung hidup menurut kemauannya sendiri. Padahal tidak ada satupun umat manusia termasuk umat Tuhan mampu memperoleh berkat serta menikmati kebahagiaan di tengah-tengah keberhasilan sejati jika hidup tanpa menurut jalan dan kehendak Tuhan.
Menjelang memasuki tanah Kanaan yaitu Tanah Perjanjian, umat Israel diingatkan supaya mereka terus berjalan menurut jalan yang dikehendaki oleh Tuhan. Pengalaman perjalanan di padang gurun seharusnya menjadi
pelajaran yang berharga bagi mereka untuk tetap percaya dan berharap kepada Allah yang hidup. Seharusnya, mereka Terus Percaya kepada Perjanjian Allah dengan nenek moyang mereka melalui peristiwa sejarah Perjalanan di Padang gurun. Allah telah membuktikan kasihNya kepada umat Israel, kebutuhan mereka secara utuh, jasmani dan rohani dipenuhi ketika mereka hidup dalam kesetiaan kepada Allah. Di balik itu, Allah juga ingin agar umat Israel selamat, dapat menikmati kehidupan yang tidak putus-putusnya secara turun-temurun di tanah yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Dalam sebuah pengakuan tulus dan jujur, jika kita menilai kecenderungan kehidupan umat manusia bahkan umat Allah sekarang ini, ternyata kecenderungan hidupnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh umat Tuhan pada masa lalu. Banyak orang – orang percaya yang hidup menurut kemauannya sendiri, tidak mentaati hukum – hukum Allah. Tidak punya rasa takut dan hormat kepada Allah.
Ibadah-ibadah bagi sebagian orang sering hanya dijadikan sebuah tradisi dari hari ke hari, Minggu lepas Minggu. Akibatnya Ibadah-ibadah yang sering diikuti tidak membawa dampak yang signifikan bagi pertumbuhan warga Gereja. Ibadah terus berjalan, tetapi perilaku kehidupan sering tidak dijadikan sebagai Ibadah yang sesungguhnya. Pertumbuhan Gereja menjadi lamban. Eksklusivitas atau ketertutupan untuk memahami tugas dan panggilan bersama sebagai satu Gereja kepada dunia menjadi semakin tidak jelas. Padahal Tuhan sangat mengecam bentuk-bentuk Ibadah seperti ini. Tuhan mengecam Ibadah-ibadah umat yang hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi tidak mampu membawa dampak terang bagi dunia ( Yesaya 1:14).
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Saya Percaya bahwa Kita pasti ingin menikmati kehidupan yang penuh kebahagiaan di masa yang akan datang. Saya juga percaya bahwa kita ingin bahkan rindu menjadi pewaris kerajaan sorga kekal sampai selama – lamanya. Sisa umat Israel yang dihancurkan oleh Allah akan bertobat, mereka akan kembali ke negeri mereka (Ibrani :Syear Yasyub). Mereka akan kembali menjadi pewaris Negeri Perjanjian setelah mereka mengalami murka Allah. Umat Tuhan Masa kini yang mau kembali dan terus hidup menurut kehendak Allah, melakukan Ibadah yang sejati, mereka akan
menjadi pewaris tahta Kerajaan Sorga. Umat Tuhan yang tidak bergeming dalam melakukan setiap kehendak dan Rencana Tuhan akan diberikan kebahagiaan, kekuatan, kesanggupan untuk menjalani dan menikmati
kehidupan di dunia ini. Dan yang lebih indah lagi, bahwa umat Tuhan yang hidup dari firman Allah dan melakukannya akan menjadi pewaris Kanaan yang baru, Yerusalem yang baru yaitu Sorga yang kekal.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan……
Kita tidak mungkin dapat menikmati kebahagiaan dan hidup kekal jika kita tidak taat kepada hukum – hukum Allah, Hidup dalam kebenaranNya. Hidup menurut Hukum dan jalan – jalan Tuhan memberikan kehidupan. Yesus berkata manusia bukan hidup dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah ( Matius 4 : 4b ). Perkataan yang sama pula dipakai oleh Yesus ketika Iblis hendak menyeretnya untuk melakukan Dosa dalam peristiwa pencobaan di Padang gurun saat Tuhan Yesus memulai pelayananNya.
Kita tentu akan gagal menjadi pewaris kerajaan Allah yang kekal, jika kita hanya hidup menurut kemauan kita sendiri. Kita tidak akan pernah menjadi pewaris Kerajaan Allah jika kita tidak memakai hidup kita untuk menjadi pelaku – pelaku Firman.
Minggu lalu, kita mengenang peristiwa agung yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. DarahNya tertumpah di bukit Tengkorak. Roti dan anggur yang kita terima melalui Perjamuan Kudus Oikumene saat itu merupakan tanda bahwa jika kita hidup benar, dan jika kita benar-benar mengalami penyelamatan Tuhan bagi kita, maka inilah momentum penting bagi kita, bahwa Ia mau supaya kita menjadi pewaris Kerajaan Allah. Perjamuan Kudus Oikumene yang telah kita laksanakan merupakan seruan supaya secara bersama-sama kita merenungkan perbuatan Allah yang begitu dahsyat melalui penyelamatanNya untuk kita.
Karena itu, Jika kita ingin hidup kekal, Maka adalah lebih baik menjadi pelaku Firman, walau harus mengalami cemohan dan mungkin juga kita akan dianggap tidak populer. Kita percaya akan satu hal : Bahwa Kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya tanpa perjuangan. Kebahagiaan, kehidupan kekal tidak akan pernah kita raih jika kita tidak berani menantang badai dan gelombang. Tetapi ingatlah saudara....,Firman Allah berkata bahwa barang siapa yang tahan uji, maka Mahkota kehidupan akan menjadi miliknya, Amin? Amin.
PENGUATAN SDM DALAM PELAYANAN
BACAAN : II Tawarikh 35:1-5
Thema : TUHAN MEMBERI TUGAS UNTUK MELAYANI
Jemaat Yang diberkati Tuhan.....
Melayani dan melakukan tugas-tugas Rohani bukanlah suatu perintah yang baru dikenal pada masa Perjanjian Baru. Melayani dan melakukan tugas-tugas Rohani juga bukan suatu perintah yang baru dikenal dalam Sejarah Gereja. Melayani dan mengerjakan tugas-tugas Rohani, atau melakukan tugas-tugas keimaman adalah sebuah perintah yang sengaja diberikan oleh Tuhan kepada umat Manusia dan ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala, bahkan sejak zaman purbakala.
Di lingkungan bangsa Israel, Pemimpin Negara, Pemimpin Agama yaitu Para Imam yang umumnya berasal dari suku Lewi dan Umat Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jatuh-bangunnya kehidupan agama di Israel sangat mempengaruhi kehidupan politis dan tentu juga sangat mempengaruhi kehidupan spiritual umat Tuhan.
Ketika tugas-tugas pelayanan berjalan dengan baik, ketika umat Tuhan menjadi pilar pendukung dalam pekerjaan pelayanan terhadap Tuhan berjalan dengan baik, maka umat itu diberikan keamanan dan berkenan diberkati oleh Tuhan. Seluruh Sejarah perjalanan umat Tuhan telah membuktikan hal itu. Umat Israel mengalami perjalanan sejarah yang diwarnai oleh situasi jatuh-bangun sebagai suatu bangsa. Pelayanan terhadap Tuhan dalam kehidupan keagamaan mengalami situasi pasang-surut. Ketika pemimpin umat itu adalah orang yang benar-benar taat kepada Tuhan, maka hidup keagamaan serta penyembahan terhadap Allah juga berjalan dengan baik. Ketika pemimpin umat itu adalah seorang pemimpin yang lalim dan tidak taat kepada Allah, maka kehidupan umat dan penyembahan kepada Allahpun mengalami masa kritis, sehingga tidak jarang murka Allah menimpa umat Israel.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Perikop bacaan kita hari ini memberikan gambaran yang sangat baik tentang betapa pentingnya Relasi antara Pemimpin Umat, pemimpin keagamaan dan umat Tuhan. Tiga komponen ini sangat menentukan tujuan, arah serta sasaran ke mana Israel akan melangkah. Tiga komponen ini juga menjadi penentu tentang tindakan Allah terhadap bangsa itu.
Sejak masa terakhir pemerintahan Raja Salomo Tahun 922 SM, Keadaan agama di Israel mengalami masa yang paling kacau. Pelayanan dan penyembahan terhadap Allah tidak mendapat tempat yang penting lagi. Ibadah dan hukum Allah tidak lagi menjadi acuan dalam corak kehidupan bangsa Israel. Ditambah lagi bahwa dengan terjadinya perpecahan di lingkungan kerajaan menjadi 2 bagian yaitu Israel Utara dan Selatan , maka secara otomatis keadaan ini sangat mempengaruhi stabilitas politik yang berlangsung di lingkungan bangsa Israel. Perpecahan Israel menjadi 2 Kerajaan membuat mereka menjadi semakin lemah sehingga bangsa-bangsa besar seperti Asyur, Babel dan Mesir dengan mudah menguasai mereka. Inti dari semua ini adalah karena Pelayanan terhadap Allah tidak lagi mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Para pemimpin baik Pemimpin Politis, agama dan umat tidak lagi solid, mereka tidak lagi bersatu dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, di mana semua tugas dan tanggung jawab itu seharusnya dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Pada masa pemerintahan Raja Yosia (639-609 SM), Ibadah dan pelayanan kepada Tuhan dilakukan dan dihidupkan kembali. Raja Yosia melakukan pembaharuan di bidang keagamaan. Ia merobohkan patung-patung Baal (Pasal 34) dan membawa umat Tuhan untuk kembali menyembah Allah dengan cara yang benar dan berkenan kepada Tuhan. Raja Yosia menetapkan tugas-tugas para Imam, tugas-tugas orang Lewi di Rumah Tuhan dan mendorong mereka agar melakukan tugas pelayanan dengan baik sesuai dengan perintah Tuhan kepada Musa pada masa lampau ketika mereka keluar dari Tanah Mesir.
Masing-masing komponen harus melaksanakan Tugas secara maksimal, supaya umat Tuhan benar-benar dipelihara oleh Tuhan. Supaya kehidupan bangsa Israel sebagai umat Tuhan berjalan dengan baik, berjalan berorientasi pada pelayanan bersama di mana nama Tuhan dimuliakan. Yosia menyadari bahwa Tuhan memberi tugas kepada umatNya untuk melayaniNya. Tugas pelayanan ini merupakan respon umat Tuhan terhadap Tuhan sendiri yang telah memilih, membawa mereka keluar dari perbudakan di Mesir, menuntun mereka berjalan di padang gurun dan memberikan Tanah Perjanjian itu kepada bangsa Israel.
Raja Yosia adalah seorang Reformator yang mengingatkan kembali tentang hakekat Umat Tuhan bahwa mereka seluruhnya diberikan tugas untuk melayani Tuhan, dan Tuhan mengasihi umat yang melayaniNya.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Dari keseluruhan ayat Bacaan kita saat ini (II Tawarikh 35:1-5), ada 3 (Tiga) hal penting harus menjadi catatan pelayanan kita di tengah-tengah jatuh-bangunnya persekutuan Gereja Tuhan :
Pertama : Jatuh bangunnya pelayanan Gereja sangat ditentukan oleh solid atau tidaknya para pelayan dengan pelayan dan Pelayan dengan umat Tuhan. Pelayanan Gereja dapat berjalan efektif, menjadi berkat apabila semua komponen melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan panggilannya. Pendeta, Majelis Jemaat, Komisi Kategorial yang melaksanakan tugas dengan penuh pemberdayaan diri akan membuat pelayanan Gereja benar-benar berjalan sesuai kehendak Tuhan. Jemaat yang memberikan dukungan penuh terhadap pekerjaan pelayanan akan memungkinkan Gereja dapat bertumbuh menjadi Gereja yang Misioner. Sebaik apapun pemimpin, sebaik apapun pelayan-pelayan dalam Gereja, jika tidak memperoleh dukungan maksimal dari warga Jemaat, maka semuanya adalah sia-sia. Demikian pula sebaliknya, sebesar apapun dukungan umat Tuhan terhadap pelayanan, Jika tidak dbarengi dengan pelayanan yang sungguh-sungguh dan kinerja yang baik dari para pelayan Tuhan, maka semuanya bagaikan usaha menjaring angin.
Kedua : Di tengah-tengah konteks jatuh-bangunnya pelayanan Gereja di hadapan Tuhan, kita terus dipanggil menjadi reformator (Pembaharu) yang terus-menerus memperbaharui diri untuk pelayanan yang lebih baik. Berdasarkan asumsi inilah maka dalam Gereja dikenal istilah Ekklesia Semper Reformanda, artinya : Gereja yang terus diperbaharui dan memperbaharui diri untuk pelayanan yang lebih baik dari masa ke masa. Kita tidak boleh tertutup untuk terus diperbaharui oleh Tuhan melalui firmanNya. Kita harus selalu siap apabila Misi Pembaharuan itu datang.
Ketiga : Pekerjaan Pelayanan adalah tugas dari Tuhan yang selalu dikerjakan secara kolektif, artinya secara bersama-sama. Dalam pekerjaan pelayanan, senantiasa ada pembagian-pembagian tugas, di mana masing-masing melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya (Perhatikan ayat 2 dan 3). Pekerjaan pelayanan tidak ditanggungkan hanya kepada 1 orang saja, sebab jika demikian maka pelayanan tidak akan pernah berjalan efektif. Jika pelayanan itu berhasil, maka sukacita atas pelayanan itu hanya akan dinikmati oleh satu orang saja. Sedangkan jika gagal, akibatnya juga hanya akan ditanggungkan atas satu orang. Tuhan tidak menghendaki model pelayanan seperti itu. Ia mau, bahwa sukacita atas pelayanan dinikmati bersama karena dikerjakan secara bersama-sama.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan......
Kepada Siapakah Tuhan mempercayakan tugas-tugas pelayanan ? Jawabannya adalah kepada kita semua. Karena itu mari kita lakukan tugas kita masing-masing dengan penuh pemberdayaan diri, maka Tuhan akan terus mengasihi kita. Amin.
PENGUATAN SDM
BACAAN : MAZMUR 73 : 21 – 24
NATS : AYAT 23
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Kata “tetapi” sama dengan “namun demikian”, “meskipun demikian”. Kata “tetapi” dalam Nats kita adalah seruan untuk berjuang melawan suatu kuasa atau kekuatan yang mengancam kehidupan kita. Ancaman-ancaman itu dapat berupa pergumulan-pergumulan, sakit-penyakit, beban-beban hidup, tekanan - tekanan, penghalang - penghalang yang akan memisahkan persekutuan kita dengan Tuhan.
Merupakan pengalaman hidup kita bahwa di dunia ini orang-orang percaya tidak luput dari kesusahan, penderitaan, bencana, kekacauan yang sering menimpa. Karena harus disadari bahwa kita hidup dalam dunia yang penuh dengan ancaman, mara bahaya dan kadang-kadang ketidakpastian. Keadaan dunia dapat saja membuat kita putus asa, khawatir, takut, gelisah bahkan kehilangan pengharapan.
Banyak orang yang dalam keadaan seperti itu bukannya dekat kepada Tuhan tetapi sebaliknya semakin jauh dari Tuhan. Mereka pesimis dan tidak yakin akan penyertaan Tuhan. Malah mereka merasa bahwa Tuhan tidak peduli dan tidak akan melakukan perubahan dalam hidupnya.
Orang-orang Pesimis seperti ini sering berpandangan bahwa : “Dekat dengan Tuhan atau tidak dekat dengan Tuhan sama saja”, “mengikuti Tuhan atau tidak, sama saja”. “Mendengar atau tidak mendengar kepada Tuhan sama saja”. Tidak ada bedanya. Demikianlah prinsip mereka.
Akibat dari prinsip atau cara berfikir seperti ini menyebabkan banyak orang di zaman ini terbawa arus atau tenggelam oleh arus perubahan dunia. Banyak anak muda yang jatuh ke dalam dosa dan kehilangan masa depan karena terbawa arus perkembangan dunia. Demikian pula dengan keluarga-keluarga Kristen. Keretakan rumah tangga, perselisihan antara suami-isteri bahkan perceraian terjadi karena pengaruh-pengaruh perkembangan dunia saat ini. Banyak pula orang-orang percaya dalam pekerjaan mereka sebagai petani, pegawai Negeri, wiraswasta melakukan pelanggaran-pelanggaran, kesalahan-kesalahan atau dosa. Menyalahgunakan kesempatan dan harta untuk hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan.
Semua itu terjadi dan dilakukan karena manusia tidak lagi takut kepada Tuhan, tetapi sebaliknya malah terpengaruh oleh berbagai kepentingan-kepentingan duniawi.
Kalau kita melihat pada bentuk, jenis dan latar belakang Mazmur 73 ini, maka kita akan mengetahui bahwa sesungguhnya pemazmur sedang mengalami pergumulan atau persoalan sehubungan dengan imannya kepada Tuhan. Pemazmur begitu cemburu karena ia melihat keberhasilan yang dialami oleh orang-orang fasik ( ayat 2 dst ). Tetapi Sangat jelas pula tersirat dalam bacaan kita, bahwa meskipun pemazmur mengalami krisis iman, Namun toh pada akhirnya ia berkesimpulan bahwa Allah itu baik ( ayat 1 ). Itulah sebabnya dalam ayat 23 ia berkata : “Tetapi aku tetap didekat-Mu.”
Kata “Tetapi” dalam ayat 23 ini, jika secara bebas diberi kesempatan untuk menyambungnya, maka pasti ada yang menyambungnya seperti ini, “Tetapi aku tetap pada prinsipku sendiri, cara hidupku sendiri, pendapatku sendiri dan aku tidak mau dekat pada Tuhan. Aku tidak mau mendengar nasihat dan petunjuk dari Tuhan”. Titik....!
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Pada hari ini, ketika kita datang beribadah, bersekutu, memuji Tuhan di Rumah-Nya yang kudus, tentu itu sangat dilandasi oleh satu keyakinan bahwa kita memerlukan Tuhan. Kita tidak dapat menolong atau menyelamatkan diri kita sendiri. Kalau kita jatuh ke dalam lumpur atau sumur yang dalam kita tidak mungkin menarik tangan kita sendiri supaya kita bisa keluar dari sumur atau lumpur itu. Tetapi kita memerlukan orang lain yang akan menarik tangan kita.
Demikian pula dengan kehidupan ini, bahwa dalam seluruh aktivitas setiap hari, sungguh disadari bahwa kita begitu membutuhkan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Hal itu terjadi karena kita sadar bahwa Tuhanlah yang memegang tangan kita. Perlu dicatat bahwa firman Allah menyebutkan : bahwa Yang dipegang oleh Tuhan adalah tangan kanan Kita. Bukan tangan Kiri kita. Sangat Diplomatis bukan?
Mengapa Tangan Kanan kita yang dipegang oleh Tuhan?
Pada umumnya, Tangan Kanan adalah tangan yang kuat untuk bekerja. Sebagai Petani, tangan Kanan kita adalah tangan yang kuat untuk bekerja mengayun cangkul dan mengarahkan mata bajak di sawah. Tangan Kanan itu pula yang begitu kokoh bekerja di areal perkebunan kita. Itulah Tangan yang berkeringat, tergores bahkan seringkali terluka ketika kita berjuang mengolah Tanah yang Tuhan karuniakan.
Sebagai pengawai negeri Sipil; Guru, TNI/POLRI, Pegawai kantor maupun wiraswasta, tangan Kanan adalah tangan yang kuat yang dapat kita pergunakan untuk menulis atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Demikian pula halnya dengan pelajar dan profesi-profesi lainnya.
(pengecualian bagi orang-orang kidal yang lebih banyak mengandalkan tangan kiri untuk bekerja, tetapi untuk hal-hal lain, tangan Kanan mereka juga memiliki banyak fungsi).
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Tangan kanan juga adalah tangan yang selalu kita pakai untuk memberi salam, memberi hormat, memberi pertolongan, berjabatan tangan dan berdamai dengan orang lain.
Meskipun Pemazmur berada dalam kebingungan, ketidakmengertian tentang Realita atau kenyataan kehidupan yang sering terjadi (ayat 21 – 22), tetapi ia tetap berkomitmen, berkeputusan untuk selalu dekat dengan Tuhan. Ia sungguh percaya bahwa Tuhan yang memegang tangan Kanannya. Tuhan yang memberi nasehat dan menuntun perjalanan hidupnya sehingga ia berkenan diangkat ke dalam kemuliaan.
Jemaat yang hadir dalam Ibadah saat ini: Lanjut usia, orang tua, orang muda, laki-laki, perempuan, pribadi maupun keluarga-keluarga, petani pegawai negeri, maupun wiraswasta tentu saja mempunyai pergumulan, persoalan, penderitaan serta beban-beban hidup kita masing-masing.
Masalahnya adalah : Apakah kita akan tenggelam atau terbawa arus oleh rupa-rupa persoalan hidup kita?
Apakah kita akan mengandalkan kemampuan kita sendiri untuk mengatasi segala macam persoalan-persoalan hidup kita?
Ataukah kita akan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hidup kita?
Tidak saudara...., Jika kita belajar dari pemazmur, maka kita akan selalu dekat dengan Tuhan sebab Tuhan akan terus memegang tangan kita, sehingga di sepanjang hidup kita, kita tidak akan tergoda, kita tidak akan pernah terbawa arus atau tenggelam di dalam masalah-masalah hidup kita. Tetapi sebaliknya bahwa ketika kita dekat dengan Tuhan, kita akan kuat untuk bekerja, kita akan kuat untuk terus berjuang sesuai dengan talenta dan profesi kita masing-masing, dan pada akhirnya Tuhan akan berkenan mengangkat kita ke dalam kemuliaanNya. Amin....? Amin.
PENGUATAN SDM
BACAAN : 1 Petrus 1:1-7
THEMA : KUAT DALAM PENCOBAAN
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Proses pemurnian Perak dan Emas menggambarkan proses keimanan kita. Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam proses "pembakaran" seperti apa yang digambarkan oleh Alkitab. Tetapi Tujuannya tidak pernah bermaksud untuk menyiksa kita, tetapi sebaliknya bahwa proses itu bertujuan untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya Emas yang dibakar hingga menjadi Emas murni, iman kita pun terkadang harus melalui proses pemurnian melalui penderitaan-penderitaan yang kita alami. Mungkin penderitaan itu rasanya sangat menyakitkan. Seperti halnya Perak atau Emas yang dimasukkan ke dalam api hingga menjadi murni, demikian pula gambaran Iman kita di hadapan Tuhan. Oleh karena itu, Reaksi dan tindakan seseorang dalam menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup merupakan ukuran, seberapa jauh Iman seseorang itu kepada Tuhan.
Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya sepenuhnya pada rancangan Tuhan, dan mereka sungguh percaya akan penyertaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan yang mereka jalani baik ketika susah maupun senang, baik ketika Krisis maupun di saat berkelimpahan.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Kita tahu bahwa pada zaman Rasul Petrus, tampaknya menjadi orang Kristen bukanlah sesuatu yang ringan. Ada banyak tekanan, ancaman dan siksaan bahkan menjadi martyr menjadi konsekuensinya. di tengah situasi ini, Rasul Petrus mengingatkan manfaat dari sebuah pencobaan. Maksudnya adalah supaya orang-orang percaya mampu dan tetap tegar dalam menghadapi pencobaan itu. Rasul Petrus memulainya dengan kalimat yang mengingatkan esensi hidup yang sejati dalam Kristus. "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu." (1 Petrus 1:3-4).
Di sini Rasul Petrus menggambarkan bahwa hidup baru dalam Kristus adalah hidup yang penuh dengan pengharapan, yaitu hidup yang dipersiapkan untuk menerima bagian dalam kerajaan Sorga sebagaimana disediakan oleh Allah melalui Tuhan Yesus Kristus. Rasul Petrus kemudian mengingatkan agar Jemaat, warga Gereja tetap kuat ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. Bukan hanya kuat, tapi ia menasehati supaya mereka bergembira. "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan." (ay 6).
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Bagaimana mungkin seseorang bisa mengalami sukacita dan bergembira ditengah-tengah permasalahan kehidupan yang sedang dialami?
Oleh karena itu, bahwa Untuk memahami Filosofi ini, Rasul Petrus mengambil contoh tentang pemurnian Emas. "Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." (ayat 7).
Perhatikan Saudara...., bagaimana Rasul Petrus membandingkan proses pemurnian Iman dengan proses pemurnian Emas. Jika Emas saja butuh dimurnikan dengan mengalami proses sulit hingga akhirnya menjadi Emas murni yang berharga, apalagi iman kita yang jauh lebih berharga dari Emas.
Emas adalah benda fana, yang tidak kekal, sedangkan iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang bersifat kekal (ay 9). Oleh karena itu, semakin Jelaslah bagi kita bahwa iman kita jauh lebih berharga dari Emas. Lalu, Jika Emas saja harus dimurnikan agar bisa menjadi berharga, apalagi Iman kita. Iman itu harus terus dimurnikan, agar dengan Iman yang murni itu, setiap orang yang memilikinya akan dibawa kepada kehidupan yang penuh sukacita dan yang bersifat kekal.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Ayub juga pernah mengalami serangkaian penderitaan yang tak terperikan. bagi Ayub itu sangat berat, tapi pada suatu ketika Ayub pun menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian. "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." (Ayub 23:10). Ayat ini menjelaskan tentang bagaimana Ayub menyadari bahwa Imannya dikuatkan justru ketika ia mengalami ujian.
Pesan Rasul Petrus yang menguatkan jemaat di masa kesulitan pada Abad Pertama itu masih relevan dengan kehidupan umat Tuhan di abad 21 ini. Pesan itu bertujuan agar setiap umat Tuhan tidak goyah ketika menghadapi penderitaan yang disebabkan oleh karena Imannya.
Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan yang kita hadapi, belum lagi berbagai bentuk godaan duniawi yang setiap saat bisa merontokkan iman kita. setiap hari kita berhadapan dengan berbagai ujian yang bisa menjadi alat ukur kemurnian iman kita. Bagaimana kita menyikapi permasalahan yang kita hadapi, itulah standard, seteguh apa Iman percaya kita kepada Tuhan. Pencobaan yang terkadang membawa kita ke dalam penderitaan yang dalam, adalah alat berharga yang dipakai oleh Tuhan untuk membangkitkan pengharapan serta ketekunan kita. Itu juga menjadi alat untuk melatih Iman kita agar lebih kuat dan kokoh di dalam Tuhan.
Proses "pembakaran" iman kita akan melepaskan segala kotoran yang melekat dalam hidup kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni seperti Emas yang murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Umat Tuhan, saudara dan saya memang sedang dipersiapkan oleh Tuhan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi yang bertahan dalam ujian.
Apakah hari ini ada diantara kita yang merasa seperti berada di tengah api yang panas oleh sebab pencobaan? Saudara Jangan putus asa, tetapi bersyukurlah dalam melewatinya. Jangan menyerah dan terburu-buru mencari alternatif yang menyesatkan ketika sedang menghadapi proses pemurnian Iman. Sebab di ujung proses itu ada upah besar yang sedang menanti. Percayalah bahwa saat ini Tuhan tengah menanti kita untuk menjadi murni dalam hal Iman, dimana dalam kemurnian Iman itu, Allah Bapa di Sorga dapat melihat cerminan wajahNya di dalam diri kita.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Proses pemurnian Iman kita bisa saja membuat kita merasa begitu sakit. Tetapi jika kita melewatinya bersama Tuhan, maka kita akan menyadari dan memahami; bahwa betapa besar manfaat dari setiap pencobaan yang kita alami. Pencobaan itu akan membuat Iman kita begitu indah bagaikan Emas murni, Amin.
PENGUATAN SDM
BACAAN : ROMA 14:13-23
THEMA : MENGEJAR APA YANG MENDATANGKAN DAMAI SEJAHTERA
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Ada peribahasa lama yang masih Relevan sampai saat ini : “Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung.” Peribahasa ini mengingatkan kepada kita bahwa kemanapun kita pergi, maka budaya, kebiasaan dan adat istiadat setempatlah yang harus di junjung tinggi. Hal ini bisa berakibat pada dua kemungkinan, yang pertama: orang yang menjadi pemilik budaya akan merasa superior, bahkan kadang-kadang (maaf) mereka mau dan suka menang sendiri. Yang kedua ; pihak pendatang, kadang-kadang menjadi pihak yang selalu mengalah. Demi kenyamanan dan penerimaan tuan rumah, maka kebiasaan tuan rumah terpaksa harus diikuti, walaupun kadang-kadang bertentangan dengan kebiasaan yang dilakukannya selama ini.
Jemaat Tuhan di Roma juga mengalami hal serupa. Jemaat ini adalah orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Ada orang Yahudi dan ada juga orang Yunani. Orang Yunani biasa makan makanan yang dianggap haram oleh orang-orang Yahudi, sementara dilingkungan kebudayaan Yunani hal itu dianggap biasa saja. Inilah yang menjadi pokok persoalan dalam jemaat di Roma. Orang Yunani yang merasa mayoritas memaksakan kebiasaan mereka dalam persekutuan dan ini membuat jemaat yang berlatar belakang Yahudi merasa tidak nyaman.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Menghadapi persoalan seperti ini, Paulus memberi nasehat “sebab kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan suka cita oleh Roh Kudus”(ay 17). Artinya, bahwa inti Iman Kristen tidak terletak pada persoalan boleh atau tidaknya mengkonsumsi makanan tertentu. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana mempraktekan kebenaran, menghadirkan damai sejahtera, dan sukacita dalam persekutuan umat Tuhan. Kita boleh membayangkan kalau dalam satu persekutuan sudah ada ketidak nyamanan. Yang ada adalah pemaksaan kehendak, maka pastilah yang namanya kebenaran, sukacita dan damai sejahtera itu secara pelan dan perlahan, tapi pasti akan sirna.
Rasul Paulus menyadari bahwa segala sesuatu adalah suci termasuk soal makanan. Tetapi kalau kebiasaan itu menjadikan orang lain tersandung dan goyah imannya, itulah yang membuat seseorang berdosa. Karena itu dengan tegas Paulus mengatakan : “ Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!” (ay 20).
Dengan perkataan ini Paulus hendak menyampaikan bahwa alangkah baiknya jika umat Tuhan hidup dalam sikap toleransi, tidak memaksakan kehendak dan saling menghormati satu dengan yang lain. Jangan sampai kebiasaan kita merusak persekutuan. Sikap toleransi tidak hanya dibutuhkan dalam hubungan kita dengan sesama yang tidak seiman, tetapi sikap toleransi juga sangat dibutuhkan dalam lingkungan keluarga dan Persekutuan Jemaat. Pada kenyataannya memang harus diakui dan disadari bahwa ; Lebih mudah memelihara hubungan baik dengan orang-orang yang jarang kita jumpai dari pada dengan mereka yang dekat dengan kita. Dengan orang lain kita dengan mudah menyatakan kepedulian kita, tetapi kepada mereka yang mengasihi kita, betapa seringnya kita tidak terbeban untuk memaksakan kehendak dan kemauan kita tanpa rasa toleransi sedikitpun.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Konteks dan kenyataan hidup Jemaat di Roma ini juga sering terjadi dan masih terus terulang dalam kehidupan berjemaat masa kini. Mungkin yang menjadi persoalan bagi Gereja zaman ini bukan lagi soal makanan. Tetapi mungkin pada soal-soal yang lain. Kenyataannya bahwa masih sering terjadi sikap yang tidak saling menghargai dan semakin berkembangnya perilaku pemaksaan kehendak tanpa alasan yang jelas.
Misalnya : Bagi orang-orang tertentu, lalu-lalang diantara orang-orang yang sedang beribadah hal itu dianggap biasa-biasa saja. Tetapi taukah kita bahwa bagi sebagian orang, perlakuan dan perbuatan seperti itu sangat mengganggu, bahkan menyebabkan orang lain merasa tidak nyaman dalam melaksanakan Ibadahnya kepada Tuhan. Atau kebiasaan suka keluar dari ruang ibadah saat orang lain sedang berdoa syafaat. Mungkin bagi sebagian orang, perbuatan itu dianggap biasa, toh tidak ada orang yang melihat. Tetapi tahukah kita bahwa pada saat itu kita sudah menjadi batu sandungan bagi sesama kita karena langkah kaki kita mengganggu kosentrasi mereka yang sedang khusuk berdoa?
Demikian juga dalam keluarga, karena merasa punya hak dan wewenang, orang tua sering memaksakan kehendak kepada anak-anaknya. Seberapa seringkah kita meminta anak-anak kita untuk melakukan sesuatu dengan memaksa yang disertai dengan ancaman bahkan perilaku yang begitu kasar? Mungkin hal-hal seperti itu kita anggap biasa, kita anggap wajar, toh kita kan orang tuanya.
Tetapi sadarkah kita bahwa kita sudah menjadi batu sandungan bagi mereka? Maksud kita mungkin baik, tetapi karena cara kita kurang tepat, maka yang sering terjadi bukannya kebaikan yang dituai tetapi sebaliknya mereka semakin membangkang, semakin tidak bisa diatur, semakin membuat orang tuanya sakit kepala. Bukannya mereka semakin taat pada aturan yang ditetapkan dalam keluarga, malah mereka semakin menunjukan perlawanan. Karena bagaimana mungkin orang tua dapat mengubah sikap anak yang kasar, kalau mereka mempertontonkan sikap yang sama? Yang mau dikatakan disini; bahwa sebaik apapun maksud kita, jika kita melakukannya dengan metode atau cara yang salah, apalagi disertai dengan pemaksaan kehendak, maka kita tidak dapat berharap banyak.
Yang Rasul Paulus mau katakan kepada kita saat ini : bahwa dalam kehidupan persekutuan, perihal penting yang harus diutamakan adalah kebenaran, terciptanya damai sejahtera dan sukacita. Karena itu, yang sangat dibutuhkan dalam situasi ini adalah pentingnya saling memahami.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Mengapa sering terjadi pemaksaan kehendak? Itu karena kita lebih suka mengutamakan kemauan sendiri dengan mengesampingkan damai sejahtera dan suka cita bersama. Untuk mewujudkan kemauan sendiri, kadang kita tidak peduli dengan perasaan orang lain, sering kali atas mana pementingan diri sendiri dan topeng kebenaran, kita menghalalkan pemaksaan kehendak, menekan sesama, mempermalukan orang lain, dan tidak peduli pada keberadaan orang lain.
Saudara, Kebenaran harus ditegakan, tapi janganlah sampai menghilangkan damai sejahtera dan sukacita orang lain. Sesuatu yang dipaksakan sebaik apapun tujuannya, akan berdampak kurang baik dalam hubungan dengan sesama, juga dalam kebersamaan di tengah persekutuan jemaat dan masyarakat. Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, kerjakan, atau rencanakan, hendaknya kita mengutamakan kebenaran Firman, mengutamakan kehendak Firman. Dahulukankah kebenaran, damai sejahtera dan suka cita dalam Roh Kudus. Marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. AMIN
MENUJU KEMANDIRIAN DANA
BACAAN : KEJADIAN 27:30-40
THEMA : USAHA YANG MERUBAH KEADAAN
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
bagaimana perasaan saudara jika sesuatu yang seharusnya menjadi milik saudara apakah itu harta benda, kedudukan, jabatan, atau kesempatan kerja, dan saudara sangat menginginkannya, lalu pada saat saudara seharusnya sudah menikmatinya ternyata hal itu dialihkan menjadi milik orang lain? Pasti kita akan merasa kecewa, sedih, dan marah. Perasaan ini mungkin saja berakibat tidak baik pada hubungan kita dengan orang lain yang menurut kita menjadi penyebab sehingga semuanya ini terjadi.
Esau pernah mengalami kejadian dan peristiwa yang sangat memilukan ini. Ketika dengan semangat berkobar-kobar dia mempersiapkan diri untuk menyambut berkat dari ayahnya yang memang sudah seharusnya menjadi haknya sebagai anak sulung, ternyata ia menemukan kenyataan bahwa berkat itu telah dirampas oleh Yakub adiknya sendiri.
Meskipun harus diakui, bahwa kejadian ini juga merupakan akibat dari perbuatan Esau sendiri yang sebelumnya telah menjual hak kesulungan kepada Yakub adiknya hanya dengan semangkuk kacang merah (Kej 25:29-34). Tetapi tentu saja kenyataan ini tetap menjadi sebuah kenyataan pahit dan menyedihkan. Bayangkan saudara...., peristiwa itu menyebabkan tidak ada lagi sesuatu kebaikan yang tersisa baginya. Semua berkat yang terbaik telah menjadi milik Yakub, yang tersisa baginya hanyalah kutuk dan penderitaan yang berkepanjangan, yang lebih menyakitkan lagi, bahwa dia akan menjadi hamba dari adiknya sendiri (ay 39-40a).
Realitas ini benar-benar membuat Esau seakan-akan tidak memiliki harapan masa depan yang cerah. Maka tidak berlebihan jika Esau menangis meraung-raung ketika mendengar bahwa berkat itu telah diberikan kepada adiknya. Yang menarik dari peristiwa ini adalah bagian terakhir dari perkataan Ishak ayahnya “tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu” . Ini berarti bahwa kutuk yang melekat dalam diri Esau dan berlaku sepanjang hidupnya bahkan mungkin juga akan dialami anak cucunya kelak, itu dapat dipatahkan Esau dengan satu cara yakni berusaha dengan sungguh-sungguh. Tanah yang gersang dan tidak subur dapat saja menghasilkan tanaman yang menghidupkan. Jika Esau mau berusaha dengan sungguh-sungguh, maka Masa depan yang suram, yang sudah di depan mata sesuai dengan isi kutuk itu, dapat saja berubah menjadi masa depan yang gemilang....................
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Seberapa seringkah kita mengeluhkan keadaan hidup kita saat ini? Kita mengeluh dan menyesali pendidikan kita yang tidak memadai karena sulitnya berkompetisi dalam mencari pekerjaan sebagai Pegawai? Bagi Jemaat yang hidup di pedesaan; kita mungkin sering mengeluhkan tanah dimana kita bercocok tanam begitu gersang. Kita sering mengeluhkan masa depan yang suram hanya karena kita tinggal di pedesaan atau di tempat yang kita anggap kurang menguntungkan. Kita sering mengeluhkan tingginya biaya hidup sementara kita tidak memiliki pendapatan yang cukup.
Jika kenyataan-kenyataan ini menjadi realita kehidupan kita saat ini, pertanyaannya: bagaimana sikap dan tanggapan kita terhadap kenyataan hidup seperti itu? Bukankah kita lebih sering mengeluh, menyalahkan keadaan, pasrah pada kenyataan, dan berdiam diri tanpa mencoba melakukan perubahan? Kita lebih sering berkata “Apa boleh buat, ini sudah kenyataan hidupku” dibandingkan memilih untuk bertanya “Apa yang harus saya lakukan supaya keadaan ini bisa lebih baik?”.
Banyak orang cenderung pasrah pada keadaan ketimbang berusaha untuk mengadakan perubahan. Banyak orang lebih sering memilih berdiam diri dan menunggu pengasihan orang lain, bantuan pemerintah yang gratis itu, dibanding berjuang dengan sedikit berlelah dan mengandalkan usaha sendiri untuk mengusahakan perbaikan taraf kehidupan. Akhir-akhir ini dimana-mana terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengkritik kinerja pemerintah yang katanya tidak pro-rakyat, ini terbukti dengan masih banyaknya kaum miskin di Indonesia.
Memang pemerintah bertanggung jawab mengupayakan kesejahteraan rakyatnya, tetapi benarkah ini hanya tanggung jawab pemerintah semata? Bukankah sebagai rakyat yang sering mengalami kesulitan hidup juga perlu berjuang? perlu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk keluar dari persoalan kehidupan?
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Belajar dari Firman Tuhan hari ini, kita diajar untuk semakin dan semakin memahami bahwa kenyataan hidup sepahit apapun dapat berubah menjadi lebih baik, asal kita mau membayar harga dari sebuah perubahan itu dengan kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh.
Benar bahwa Tuhan menjanjikan berkat di tengah-tengah keberadaan hidup kita. Janji berkat itu diperuntukan bagi setiap orang yang percaya, tetapi berkat itu tidak datang dengan sendirinya seperti manna yang turun dari langit di zaman keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Tuhan tidak pernah mendidik pengikutNya menjadi orang-orang yang hanya tahu bertadah tangan saja, yang kesukaannya menunggu dan meminta. Tuhan mau agar setiap pengikutNya menjadi pribadi yang aktif, mau bekerja dengan tekun, dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih berkat Tuhan itu.
Firman Allah memberikan gambaran serta pengajaran yang jelas bagi kita, bahwa di tengah ancaman kesulitan, kutuk dan masa depan yang suram, ternyata masih ada harapan. Di tengah kerasnya ancaman kutuk yang menimpa Esau dan keturunannya, Tuhan masih menyediakan pintu yang terbuka bagi Esau untuk bisa menggapai serta meraih sebuah masa depan yang gemilang (Ayat 40b). Kata “melemparkan Kuk” dalam teks firman Tuhan ini mengandung pengertian bahwa dengan upaya keras, tekun dan cerdas, maka Esau akan sanggup keluar dari badai serta gelombang kesulitan dalam kehidupannya. Dengan upaya yang keras, tekun dan cerdas, meskipun ia jauh dari tanah-tanah yang subur, meskipun berada dalam keadaan kritis, dapat dipastikan bahwa ia bisa meraih masa depan yang gemilang.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Menjadi catatan penting bagi kita terkait dengan Firman Allah hari ini adalah : bahwa tidak ada klasifikasi tempat yang menguntungkan dan tidak menguntungkan dalam hidup kita. Di Kota, di Desa, di manapun kita berada, di tempat kita masing-masing, Tuhan menyediakan diri untuk memberi dan menyatakan berkat bagi setiap orang yang mau berusaha untuk merubah keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik. Kutuk sekalipun dapat berubah menjadi berkat, asal kita berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengubahnya. Apa yang disampaikan oleh Firman Allah ternyata tidak diragukan. Karena sejarah mencatat bahwa ternyata Esau dan keturunannya menjadi sebuah bangsa yang besar, bangsa yang benar-benar merdeka, bahkan Esau dan keturunanya yakni bangsa Edom bisa meraih masa depan yang gemilang, sebab mereka berusaha dengan sungguh-sungguh mengubah kutuk menjadi berkat. Karena itu Berhentilah berkeluh-kesah. Berusahalah terus-menerus.
Seburuk apapun keadaan kita saat ini, yakinlah bahwa semuanya akan berubah menjadi lebih baik, jika kita terus berusaha dengan sungguh-sungguh sambil terus percaya pada janji Tuhan akan anugerah berkatNya. Amin.
MENUJU KEMANDIRIAN DANA
BACAAN : KEJADIAN 24:29-40
THEMA : KESETIAAN MENDATANGKAN BERKAT
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Predikat atau gelar atau sebutan sebagai Bapa Orang Beriman yang disandang oleh Abraham bukan sekedar isapan jempol kosong belaka. Predikat ini telah mengalami berbagai pengujian. Iman dan kesetiaan Abraham kepada Tuhan tidak pernah tergoyahkan, meskipun ujian-ujian yang dihadapi oleh Abraham untuk memperoleh predikat sebagai Bapa Orang beriman tidak selalu mudah.
Narasai atau cerita-cerita yang menyatakan kesetiaan Abraham kepada Tuhan begitu terang diberitakan dalam Alkitab. Dari meninggalkan keluarga yaitu orang-orang yang dikasihi di tanah kelahirannya ke sebuah negeri yang tidak jelas ujung pangkalnya, sampai ia diminta oleh Tuhan untuk mempersembahkan Ishak anak satu-satunya. Semua perintah Tuhan itu dilakukannya dengan segenap hati tanpa mau berdebat dan melakukan protes apapun terhadap Tuhan. Sekali lagi, ujian-ujian yang dihadapi oleh Abraham adalah ujian yang sangat berat dan melewati batas-batas kemanusiaan. Atas segala perintah Tuhan itu, Abraham hanya tunduk dan melakukannya dengan setia. Abraham hanya memiliki satu hal yaitu keyakinan bahwa Tuhan menyediakan sesuatu yang terbaik baginya dan semua keturunannya. Abraham bukanlah Type orang yang tidak mau keluar dari zona kenyamanan diri sendiri.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan.....
Setiap detak nadi dan jantung Abraham berisi gambaran tentang kesetiaan dan ketaatannya kepada Tuhan. Akibatnya, bahwa dengan segala kesetiaan dan ketaatannya kepada Tuhan membawa Abraham pada popularitas diri yang berorientasi pada kemuliaan nama Tuhan. Popularitas Abraham masih berlaku sampai detik ini. popularitas itu belum berubah, bahkan Abraham masih menjadi soko guru bagi setiap umat Tuhan yang mau belajar tentang arti sebuah kesetiaan serta ketaatan kepada Tuhan. Ketokohan Abraham menjadi pelajaran yang berharga bagi setiap umat Tuhan untuk tidak terus bertahan pada zona nyaman yang sedang dinikmati di mana selanjutnya zona nyaman itu berakhir pada pemuasan terhadap diri sendiri.
Di zaman sekarang ini, begitu banyak orang merasa tenang jika sudah berada pada zona nyaman yang sedang dinikmatinya. Mereka lebih setia dan menyatakan ketaatan terhadap kemauan serta kehendaknya sendiri.
Banyak umat manusia bahkan umat Tuhan lebih suka menikmati kesenangan sendiri tanpa mau berempati pada suara orang lain, apalagi berempati pada suara dan kehendak Tuhan. Berempati pada orang lain dan kepada Tuhan lebih banyak membuat kebanyakan orang “Merasa” begitu terikat, terbeban dan kebebasannya seolah-olah dipenjarakan. Hidup setia dan penuh ketaatan kepada Tuhan sering “Dianggap” sebagai sebuah pilihan yang tidak populer. Padahal, popularitas diri dan zona nyaman yang tidak dilandasi oleh ketaatan serta kesetiaan kepada Tuhan adalah semu dan tidak abadi.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Teks bacaan kita hari ini menyinggung tentang kesetiaan serta ketaatan Abraham kepada Tuhan.
Untuk memperoleh seorang Istri bagi anaknya Ishak, Abraham tidak tanggung-tanggung dalam bertindak. Abraham tidak sedikitpun berniat untuk melakukan kesalahan, di mana kesalahan itu pada akhirnya akan berakibat pada berkurangnya kesetiaan dan ketaatan Abraham kepada Tuhan. Ia mengirim utusan ke negeri yang sangat jauh, tempat di mana keluarganya berada. Sebuah keluarga yang juga masih menyatakan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Abraham mau bahwa anaknya Ishak memiliki seorang istri yang baik, istri yang berasal dari keluarga baik-baik dan istri yang juga hidup taat serta setia kepada Tuhan.
Jika kita menggali maksud dari tindakan Abraham ini, maka kita akan menemukan pokok pikiran Abraham bahwa : Apabila keluarga anaknya Ishak adalah keluarga yang tetap mewarisi kesetiannya kepada Tuhan, maka Ishak dan keturunannya pasti akan terus diberkati oleh Tuhan. Pengalaman hidup Abraham harus mengalir dalam kehidupan anaknya Ishak beserta seluruh keturunannya. Jika Abraham diberkati dengan kekayaan yang melimpah, itu semua karena Tuhan memperhitungkan seluruh ketaatannya selama ini. Abraham diberikan hikmat dalam bekerja, diberikan kesanggupan-kesanggupan yang dibutuhkannya, sehingga seluruh pekerjaannya berhasil gemilang.
Apa yang diungkapkan oleh hamba-hamba Abraham kepada Betuel dan Laban ketika mereka meminang Ribka adalah gambaran dari sebuah kesadaran bahwa Apabila Abraham diberkati oleh Tuhan dengan kekayaan dan kelimpahan, itu semua adalah buah-buah dari ketaatan dan kesetiannya kepada Tuhan, sebab Tuhanlah sumber segala kelimpahan.
“TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya; TUHAN telah memberikan kepadanya kambing domba dan lembu sapi, emas dan perak, budak laki-laki dan perempuan, unta dan keledai.”
Jemaat Yang Diberkati Tuhan......
Kita disadarkan oleh firman Allah saat ini bahwa bekerja bukan sekedar Amanat dari Tuhan. Tetapi seperti Abraham, kita juga terus belajar untuk memahami bahwa bekerja haruslah dilakukan sambil hidup dalam kesetiaan serta ketaatan kepada Tuhan. Kita tidak dapat bekerja hanya dengan mengandalkan tenaga, akal serta pikiran kita sendiri apalagi jauh dari Tuhan. Kerja yang menjadi berkat adalah konsep kerja yang dilandasi oleh ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan. Konsep serta tindakan kerja seperti ini adalah konsep kerja yang tidak hanya berpusat pada diri sendiri, bertumpu pada zona nyaman kita sendiri, tetapi semuanya bertumpu, berpusat dan berorientasi kepada Allah yang mengaruniakan pekerjaan itu bagi kita. Konsep kerja yang dilandasi ketaatan dan kesetiaan akan menghasilkan akhir sebuah pekerjaan yang diberkati secara berkelimpahan bahkan itu dapat menjadi kesaksian yang hidup tentang berkat-berkat Allah yang kita alami melalui seluruh aspek kerja yang kita lakukan.
Berkat kerja yang dilakukan oleh Abraham telah menjadi kesaksian yang begitu indah. Hal itu telah disaksikan dan disampaikan oleh hamba-hambanya kepada Betuel dan Laban. Sehingga Selllllanjutnya dengan sukarela mereka membiarkan Ribka pergi dan diperisteri oleh Ishak. Betuel dan Laban begitu percaya bahwa anak dan saudara mereka tidak akan berkekurangan karena Ribka akan hidup bersama dengan keluarga Abraham yang diberkati secara berkelimpahan.
Saudara....maukah kita menjadikan kerja kita sebagai alat penyataan berkat Tuhan dalam hidup kita? Maukah kita, bahwa melalui pekerjaan kita masing-masing, Tuhan menyatakan kelimpahan untuk kita? Maukah kita bahwa pekerjaan kita dapat menjadi alat kesaksian untuk kemuliaan nama Tuhan? Jika kita menghendaki semuanya itu, Mari kita berani mengambil keputusan dengan resiko Tinggi. mungkin keputusan itu tidak populer bagi kebanyakan orang yaitu : bekerjalah dengan tekun, cerdas, ulet, lalu hiduplah dalam kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan. Karena kesetiaan dan ketaatan itu mendatangkan berkat dan kelimpahan bagi saudara, Amin.
TEOLOGI PENGAMPUNAN
BACAAN : I PETRUS 2:1-10
THEMA : ANUGERAH ALLAH YANG MENYELAMATKAN
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Ilustrasi :
Tiga orang anak melakukan kesalahan, tetapi ketiga anak ini mendapat pengasihan dan pengampunan dari Ayahnya. Masing-masing mereka memiliki tanggapan yang berbeda dengan kasih itu.
Anak pertama : Merasa diri memang layak menerima kasih itu. Ia berpikir bahwa ayahnya mengasihinya karena dia telah menjadi anak yang baik di mata ayahnya sehingga dalam pandangan anak ini bahwa kasih ayahnya sudah merupakan hak yang harus diperoleh karena segala kelebihan yang dimilikinya. Maka ia pun menjadi anak yang angkuh dan suka memegahkan diri. Ia selalu bersikap sombong.
Anak kedua: Merasa bahwa ayahnya adalah seorang yang terlalu baik, apapun yang dilakukannya serta bagaimana pun keadaannya, ayahnya akan selalu mencintainya. Ia bertumbuh menjadi anak yang hidup tanpa aturan, tidak menghargai orang tua, tidak takut melakukan kejahatan, baginya yang penting ia bisa berperilaku baik di depan ayahnya, yang lain pasti aman. Di mata ayah boleh terlihat baik tetapi yang lain terserah.
Anak ketiga: Ia benar-benar menyadari bahwa kasih dan pengampunan yang diberikan oleh ayahnya adalah sebuah anugerah. Karena itu ia sangat menghargainya, ia selalu bersikap baik kepada ayahnya dan selalu berusaha melakukan kebaikan kepada orang lain untuk mengenang dan menghormati kasih sang ayah kepadanya.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Setiap orang Kristen menerima kasih yang sama dari Bapa yang sama. Hanya persoalannya ADALAH : Bahwa masing-masing memberi respon atau tanggapan yang berbeda terhadap kasih itu. Ada yang menganggap dirinya memang pantas menerima kasih itu, sehingga ia bertumbuh menjadi orang Kristen yang sombong rohani dan menganggap diri paling suci. Ciri-ciri orang seperti ini biasanya paling aktif dalam persekutuan, taat beribadah, hidup saleh, hafal firman Tuhan, jago dalam soal doa, tetapi pada waktu yang bersamaan, ia sangat suka membandingkan dirinya dengan orang lain. Suka mengkritik orang lain tetapi tidak bisa memberi solusi, dan kesukaannya selalu menghakimi orang lain.
Ada juga yang menganggap bahwa Anugerah dan kasih Allah itu sesuatu yang murah dan mudah didapatkan. Orang seperti ini biasa disebut Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan). Mengakui Yesus sebagai Tuhannya tetapi perilaku kehidupannya lebih parah dari orang yang tidak mengenal Yesus. Orang seperti ini pandai dalam membagi waktu dalam pengertian : dia sangat lihai dalam membagi waktu kehidupannya. Waktu dalam seminggu dibaginya dengan seksama. Hari Minggu untuk Tuhan = artinya ini waktu untuk ke Gereja, waktu untuk pelayanan, waktu untuk berderma, waktu untuk pengakuan dosa, pokoknya waktu untuk Tuhan. Hari Senin sampai Sabtu itu hariku, pada hari-hari itu berbuat dosa tidak apa-apa, kan nanti ada lagi waktu untuk melakukan pengakuan dosa pada hari Minggu berikutnya. Waktunya untuk setahun juga sudah dibagi dengan seksama, waktu untuk Tuhan itu ya sekitar bulan April dan Desember, kenapa? Karena pada bulan itu ada Paskah dan Natal. Jadi yang namanya ibadah di bulan itu wajib hukumnya. Trus bulan yang lain? Itu tidak terlalu sacral, tidak terlalu kudus, jadi cari Tuhannya bisa bolong-bolong. Ada juga yang bilang, doa dan ibadah itu relative, biar tidak pernah ibadah kan yang penting itu perbuatan baiknya. Kalau sudah bisa berbuat baik, ya cukuplah.
Jemaat Yang Diberkati Tuhan....
Bagaimana kita akan tahu kalau itu perbuatan baik kalau kita tidak pernah mendengar petunjuk tentang bagaimana perbuatan baik itu harus dilakukan? Dan bagaimana kita bisa mendengar petunjuk tentang kebaikan, jika kita tidak pernah membaca atau mendengar Firman Tuhan?
Dalam pandangan Kristen, Antara ibadah dan perbuatan baik memiliki hubungan yang begitu erat.
Bacaan kita pada saat ini mau menegaskan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan.
1. Harus mampu berkata tidak terhadap dosa (ay 1). Artinya setiap orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan tahu bahwa hidupnya telah ditebus dari dosa-dosanya. Karena itu dalam segala hal dan suasana ia selalu berusaha menjauhkan diri dari perbuatan - perbuatan dosa, seberapapun itu terlihat menguntungkan dirinya. Tekad untuk selalu hidup baru di bawah kasih karunia Tuhan akan terus berkobar dalam hatinya.
2. Selalu memiliki kerinduan untuk datang kepada Yesus Kristus (ay 4). Memiliki kerinduan kepada Yesus berarti mengakui dan percaya pada Ketuhanan Yesus yang juga berarti bersedia menyerahkan segenap hidup di bawah otoritas kuasa Tuhan. Hal ini juga mengandung pengertian kesediaan dan kesetiaan untuk beribadah kepada Tuhan, karena antara iman dan ibadah memiliki kaitan yang sangat erat. Memang tidak semua orang yang rajin beribadah memiliki iman yang kokoh, tetapi setiap orang yang beriman pasti rajin beribadah.
3. Bersedia menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan damai sejahtera bagi sesama (ay 5). Seorang yang beriman tidak akan membiarkan dirinya hidup sendiri tanpa melakukan sesuatu yang berguna bagi sesamanya. Seorang yang telah menerima kasih karunia Tuhan akan selalu berusaha menghadirkan damai sejahtera kapanpun dan dimanapun dia berada, bukan sebaliknya merampas damai sejahtera orang lain dengan perbuatannya yang tidak bertanggung jawab, baik dengan perkataan yang menyakiti hati, atau dengan pikiran dan gagasan-gagasan yang hanya mencari keuntungan diri sendiri.
Jemaat Yang Diberkati Oleh Tuhan....
Ketiga hal ini harus dilakukan dalam keseimbangan, tidak ada yang lebih utama antara satu dengan yang lain. Semua ini dilakukan dengan satu alasan karena kita adalah umat pilihan Allah (ay 9,10).
Kita sekalian adalah umat pilihan Allah, bangsa yang terpilih, kita dikhususkan Allah, tidak berarti kita ekslusive, tertutup dari dunia luar, tidak !
Kita dipilih, dikhususkan, dikuduskan, dimerdekakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang besar, perbuatan-perbuatan baik yang memberi pengaruh baik pula kepada orang lain yang ada di sekeliling kita. Baik itu suami/istri, anak-anak, saudara sepersekutuan, juga tetangga dan teman kerja kita. Perbuatan yang akan membuat setiap orang memuliakan nama Tuhan Allah kita. Untuk itulah kita dipanggil menjadi anak-anak tebusan Kristus. Apa yang sudah kita peroleh dari Kristus, bagikanlah itu kepada sesama kita. Jika kita menerima anugerah, bagikanlah anugerah itu kepadsa sesama kita. Dan jika kita telah menerima kebaikan hati Allah melalui pengampunanNya, maka bagikanlah juga kebaikan serta pengampunan itu kepada orang lain. Terpujilah Tuhan atas segala kebaikanNya. AMIN


Tidak ada komentar:
Posting Komentar