| KONTEKSTUAL TORAJA MALILI |
Adiwijaya
| KONTEKSTUAL LINTAS BUDAYA |
| KONTEKSTUAL TAMBEE |
| IBADAH KONTEKSTUAL TAMBEE, LANDANGI 10 NOV 2014 |
| IBADAH KONTEKSTUAL TORAJA DI JEMAAT IMANUEL MALILI |
Allah memberikan mandat berbudaya kepada Manusia sejak Ia menempatkan Manusia di Taman Eden. Allah menciptakan Manusia untuk mengelolah, mengusahakan dan memelihara Taman Eden (Kejadian 2:15). Allah bermaksud agar Manusia yang diciptakanNya itu akan menjadi kawan sekerjaNya untuk mengusahakan Bumi (Taman Eden) sehingga bumi ini menjadi lebih baik. Tugas mengusahakan Taman Eden sekaligus merupakan Mandat untuk berbudaya.
Dalam perjalanan berbudaya yang baru saja berlangsung di Taman Eden, sebuah malapetaka begitu cepat terjadi. Manusia jatuh ke dalam dosa oleh sebab ia ingin menjadi sama dengan Allah. Sebetulnya peran Iblis dalam peristiwa kejatuhan itu sangat kecil, tetapi peran manusialah yang memegang peranan utama. Keinginan Manusia untuk menjadi sama dengan Allah jauh lebih besar ketimbang ketaatannya dalam menjalankan mandat Allah.
Kejatuhan Manusia ke dalam dosa membawa akibat di mana seluruh eksistensi Manusia dan juga dunia mengalami kerusakan termasuk kebudayaannya. Sebelum Manusia jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3), kebudayaan masih merupakan sarana yang dipakai untuk memuliakan Allah. tetapi sejak peristiwa kejatuhan Manusia ke dalam dosa, maka kebudayaan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati Allah sebab budaya sudah dirusak dan dirasuk oleh Dosa.
Akhirnya melalui Inkarnasi Allah di dalam Yesus Kristus, Allah sendiri mereformasi kebudayaan agar kebudayaan dapat kembali menjadi alat-alat untuk memuliakan Tuhan. Hal-hal yang jahat dari unsur kebudayaan dinyatakan "Tidak" atau ditolak oleh Alkitab, sedangkan unsur-unsur yang masih dapat diperbaiki dan memiliki karakter dasar yang baik Alkitab mengatakan "Ya" artinya unsur-unsur ini dapat dikembangkan dalam kehidupan Iman Kristen dan dalam kehidupan Bergereja sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan, sehingga dalam posisi ini kebudayaan kembali pada fungsinya yang semula yaitu untuk kemuliaan Tuhan.
Suku To Ulu Uwoi Tambee telah eksist di Tana Nuha selama ratusan bahkan ribuan tahun. Eksistensi suku To Ulu Uwoi Tambee di Tana Nuha adalah dalam evolusi peradaban serta kebudayaan yang dianut secara turun-temurun. Demikian pula kearifan-kearifan lokal yang dimilikinya merupakan warisan yang tidak dapat dilupakan begitu saja. Sebab bagi suku To Ulu Uwoi Tambee bahwa semua bentuk, unsur kebudayaan serta kearifan-kearifan lokal masyarakat ini adalah warisan dari para leluhur.
Unsur kebudayaan tersebut sangat disadari telah banyak mengalami kerusakan oleh karena dosa. Tetapi Kristus telah memperbaharui semua unsur-unsur yang dirusak oleh dosa. Kehidupan kebudayaan yang "Lama" kini telah menjadi baru oleh Kristus. Sehingga kebudayaan dalam bentuknya yang baru tersebut kembali dapat menjadi alat kemuliaan bagi Tuhan yang mengaruniakan kemampuan berbudaya bagi orang-orang Tambee.
Pada tanggal 10 November 2014 bertempat di GKST Jemaat Sion Landangi dilaksanakan Kegiatan Hari Ulang Tahun Bapak GKST se-Klasis Malili-Nuha. Dalam Ibadah pembukaan dilaksanakan Ibadah kontekstual dalam Budaya suku To Ulu Uwoi Tambee. Ini adalah ibadah kontekstual perdana yang dilaksanakan dengan menggunakan Budaya Tambee terutama sejak berdirinya GKST pada tahun 1947 bahkan sejak pertama kali orang-orang Tambee menerima Baptisan pada tanggal 15 Februari 1928.
Beribadah serta mengkontemplasikan Iman dalam konteks budaya lokal merupakan sebuah panggilan bagi seluruh warga GKST khususnya di Klasis Malili-Nuha. Sebab dengan demikian warga Gereja dapat menikmati kehadiran Allah serta memahami Allah dalam konteks budayanya sendiri. Inilah yang disebut sebagai Kontekstualisasi dalam ilmu-lmu Misiologi Gereja.
Upaya membangun Teologi yang kontekstual merupakan salah satu cara untuk mengarahkan warga Gereja supaya melestarikan budayanya sehingga kebudayaan lokal masih eksist bahkan dapat berperan dalam memuliakan Tuhan.
Injil hadir dalam konteks budaya (Yahudi). Itu berarti bahwa Injil dapat dipenetrasi ke dalam semua bentuk kebudayaan lokal bukan saja dalam konteks Yahudi tetapi juga dalam konteks kebudayaan Tambee dan semua suku yang ada di muka bumi ini.
Program ini diharapkan terus berkelanjutan sehingga Program Kemandirian Teologi di Klasis Malili-Nuha pada akhirnya dapat terwujud sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) yang telah ditetapkan. Ibadah-ibadah kontekstual seperti ini juga telah dilaksanakan di Jemaat Imanuel Malili dalam budaya Toraja dan Padoe, sedangkan di Jemaat Moria Angkona ibadah Kontekstual seperti ini dilaksanakan dalam budaya suku Pamona. Mari kita kembalikan kebudayaan kita untuk memuliakan nama Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar